Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 18 Bulan Madu Tak Terduga (Part 2)


__ADS_3

Cleantha mengencangkan tali sepatunya lalu berjalan menghampiri Pak Darma.


"Pak, apa vila ini dikelilingi hutan dan pegunungan?"


"Iya, Nyonya. Tuan Raja membeli vila ini dua tahun yang lalu karena lokasinya dekat hutan. Jadi cocok untuk berpetualang. Sejak remaja Tuan memang suka menghabiskan waktu dengan mendaki gunung. Kadang juga berburu atau sekedar menjelajahi hutan bersama teman-temannya."


"Apa ada binatang buas di sekitar sini, Pak? Dan apakah hutan ini angker? Maksud saya apakah ada hantu atau penunggunya?" tanya Cleantha was-was.


"Tidak ada binatang buas, Nyonya. Tapi untuk cerita hantu saya tidak tahu. Coba tanyakan saja pada Mang Jaya yang menjaga vila ini."


"Clea, kenapa kamu malah bergosip disitu?" teriak Raja dari halaman rumah. Ia kelihatan tidak sabar menunggu Cleantha.


"Nyonya, lebih baik Anda berangkat sekarang. Menjelang petang hutan akan semakin gelap," ucap Pak Darma memberikan nasehat.


"Iya, Pak. Saya pergi dulu."


Seraya berlari kecil, Cleantha keluar dari pintu depan. Ia mulai terbiasa melihat wajah Raja yang selalu masam saat bertemu dengannya.


"Apa kamu sengaja mengulur-ngulur waktu? Aku memberimu kesempatan untuk bersiap-siap, tapi kamu malah mengobrol seenaknya."


"Maaf, Tuan," jawab Cleantha mengikuti langkah Raja.


"Maaf dan maaf. Cuma itu yang bisa kamu katakan. Aku sampai bosan mendengarnya. Kamu kira dengan meminta maaf semua persoalan akan selesai."


Dengan langkah lebar, Raja berjalan mendahului Cleantha memasuki hutan.


Seolah sudah sangat mengenali seluk beluk hutan tersebut, Raja menjejakkan kaki dengan lincah di antara semak dan ranting pohon. Berbanding terbalik dengan Cleantha yang berjalan pelan-pelan sambil mengamati sekitarnya penuh kewaspadaan.


Perbedaan ini menyebabkan Cleantha tertinggal cukup jauh di belakang Raja.


Matahari yang mulai bergerak ke arah barat, membuat Cleantha semakin takut. Ia merasa bagai pengembara yang sedang tersesat di rimba belantara.


"Tuan, tunggu saya!" seru Cleantha memanggil Raja.


Pria itu tidak menoleh sama sekali. Entah ia tidak mendengar panggilan Cleantha atau sengaja mengabaikannya.


"Tuan, jangan tinggalkan saya," seru Cleantha untuk kedua kalinya.


Cleantha berusaha mempercepat langkahnya, namun ia tidak mampu mengimbangi kegesitan Raja.


Dalam sekejap saja pria itu telah lenyap dari jarak pandangnya.


"Bagaimana kalau aku terkurung di hutan ini dan tidak bisa menemukan jalan keluar,"


pikir Cleantha putus asa.


"Tuan Raja, Anda ada dimana?" panggil Cleantha berteriak sekeras mungkin.


Sunyi senyap. Tidak terdengar apapun, kecuali suara gemerisik daun dan beberapa bunyi serangga yang menghuni hutan.


Karena usahanya tidak membuahkan hasil, Cleantha memutuskan berjalan lurus ke depan. Ia hanya punya dua pilihan saat ini, jalan terus atau menyerah.


Dengan menggunakan intuisinya, Cleantha mencoba mencari arah yang benar.


Bentuk pepohonan yang hampir sama membuatnya kebingungan apakah jalan yang diambilnya sudah benar.


Setelah mempertimbangkan sejenak, Cleantha berjalan lurus ke depan.


Pikirannya yang kalut, membuatnya tidak menyadari ada sebuah ranting pohon yang melintang di depan kakinya.

__ADS_1


"Aduh," pekik Cleantha kesakitan.


Kaki kanannya tersandung ranting itu sehingga ia jatuh terduduk di tanah.


Cleantha berusaha bangkit berdiri, namun rasa nyeri di pergelangan kaki menghalanginya untuk bergerak.


Dengan tangannya, Cleantha mengusap-usap kakinya yang berdenyut karena nyeri.


"Apa yang harus kulakukan sekarang? Matahari akan terbenam dan aku tertinggal sendirian di hutan ini tanpa bisa berbuat apa-apa. Berjalan pun aku tidak sanggup."


Cleantha pun pasrah dengan nasibnya. Belum pernah ia terjebak dalam kondisi mencekam seperti sekarang.


Kini yang bisa dilakukannya hanyalah menangis, sebagai pelampiasan dari rasa putus asa yang mendalam.


Cleantha membenamkan wajah pada kedua lututnya sambil terisak pelan. Sungguh ia berharap seseorang akan datang untuk menyelamatkannya. Jika itu terjadi, ia pasti akan sangat berterima kasih dan membalas kebaikan hati orang tersebut.


Cleantha masih terisak dalam tangisnya, ketika ia merasakan sebuah tangan menyentuh bahunya.


"Baru tersesat sebentar sudah menangis seperti anak kecil. Dimana hilangnya sikap barbarmu?" ucap suara berat yang sangat dikenal Cleantha.


Cleantha mendongakkan wajahnya dan melihat Raja sudah berjongkok di sampingnya.


"Tuan, kenapa Anda meninggalkan saya? Saya takut sekali berada sendirian di hutan," isak Cleantha dengan nafas tersengal.


Tangisan Cleantha justru semakin pecah saat mengetahui Raja berhasil menemukannya.


Sorot mata Raja yang semula tajam berubah menjadi redup.


Air mata yang membasahi pipi Cleantha ditambah keputusasaan yang terpancar dari matanya, menimbulkan rasa iba di hati Raja. Bagaimanapun ia merasa bersalah karena sengaja membiarkan Cleantha tertinggal di belakang.


Awalnya ia hanya bermaksud untuk menakut-nakuti gadis itu. Tak disangka, Cleantha benar-benar ketakutan setengah mati.


"Tenanglah, aku sekarang ada disini. Aku tidak akan meninggalkanmu."


"Tolong bawa saya keluar dari sini, Tuan," ucap Cleantha membenamkan wajahnya di dekapan Raja.


Cleantha tidak mempedulikan lagi rasa malunya. Yang dia tahu saat ini Raja adalah satu-satunya tempat perlindungan baginya.


"Baiklah, ayo kita pulang."


Masih memeluk Cleantha, Raja menopang gadis itu agar berdiri. Namun, Cleantha berdesis menahan rasa nyeri di pergelangan kakinya.


"Apa kakimu terkilir?"


"Iya, saya tadi tersandung ranting pohon."


"Duduk dulu disini. Aku akan memijat kakimu."


Setelah Cleantha duduk, Raja meraba pergelangan kaki gadis itu.


"Sebelah sini yang sakit?" tanya Raja memegang pergelangan kaki kanan Cleantha yang terlihat bengkak.


"Iya, Tuan."


Dengan sigap, Raja memberikan pijatan pada pergelangan kaki Cleantha. Tangannya yang terampil menunjukkan bahwa ia terbiasa menangani masalah semacam ini.


"Ternyata Tuan Raja masih punya hati nurani. Dia bahkan mau menyentuh kakiku,"


pikir Cleantha lega.

__ADS_1


"Coba gerakkan kakimu. Apa sakitnya sudah berkurang?"


Cleantha mengangguk. Ia mencoba menggerakkan pergelangan kakinya. Memang masih terasa nyeri tapi tidak sesakit tadi.


"Sudah lebih baik, Tuan."


"Kalau begitu kita coba berjalan pulang ke vila. Sebentar lagi disini gelap."


Raja memapah Cleantha dan mengajaknya berjalan perlahan-lahan ke arah vila.


Kaki Cleantha yang pincang, membuat mereka membutuhkan waktu lama untuk bisa keluar dari hutan itu.


"Maaf, Tuan, gara-gara saya Anda tidak bisa melihat air terjun," ucap Cleantha.


"Tidak usah pikirkan hal itu. Aku bisa pergi sendiri besok. Dulu pertama kali aku menjelajah hutan, aku juga pernah terkilir sepertimu."


"Tuan, apa vilanya masih jauh?" tanya Cleantha.


Meski ditopang oleh Raja, Cleantha mulai merasa kelelahan karena harus berjalan dengan kaki pincang.


"Tidak lama lagi kita akan sampai. Apa kamu lelah?"


"Sedikit, Tuan."


Raja menghela nafas panjang.


Detik selanjutnya tiba-tiba saja ia meraih tubuh ramping Cleantha.


Raja menggendong istrinya itu dengan kedua lengannya sambil tetap berjalan menuju ke vila.


"Tuan apa yang Anda lakukan? Kenapa Anda menggendong saya?" tanya Cleantha tercengang.


"Aku hanya tidak ingin melihatmu pingsan. Wajahmu sudah pucat seperti kertas," sahut Raja terus melangkah.


"Tapi saya tidak mau merepotkan Anda."


"Sudah diam saja. Kalau kamu banyak bicara, kamu justru semakin merepotkan aku. Walaupun badanmu kurus, ternyata kamu berat juga. Mungkin karena porsi makanmu terlalu banyak," keluh Raja.


Cleantha hanya bisa menurut. Terlebih lagi kondisinya saat ini sedang lemah.


Tak bisa dipungkiri berdekatan dengan Raja, membuatnya merasa aman dan tenang.


Diam-diam Cleantha mencuri pandang kepada Raja.


Saat mereka sedekat ini, ia baru menyadari betapa tampannya suami pura-puranya itu. Dibalik keangkuhan serta sifatnya yang pemarah, Raja adalah sosok pria yang memiliki sejuta pesona.


Sangat disayangkan ketampanannya itu tidak ditunjang dengan perilaku yang baik. Ia telah bersikap tidak adil pada istrinya sendiri.


Meskipun begitu Cleantha yakin Raja masih memiliki sisi lembut di dalam dirinya.


"Kenapa?" tanya Raja saat pandangan mata mereka tak sengaja saling beradu.


"Deg."


Degup jantung Cleantha melesat cepat. Tatapan Raja yang sedalam samudera menimbulkan desiran yang tak biasa di hatinya.


"Tidak apa-apa, Tuan," jawab Cleantha segera menunduk.


"Kenapa aku malah merasa aneh seperti ini? Tidak, sadarlah Cleantha! Tuan Raja adalah milik Kak Vira. Kamu tidak boleh memikirkan hal yang tidak pantas terhadap suami wanita lain,"

__ADS_1


batin Cleantha menyadarkan dirinya.


__ADS_2