Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 38 Hilang Akal


__ADS_3

Alvian menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Raja.


"Turunlah. Aku langsung pulang karena ini sudah malam," ujar Alvian.


"Sekali lagi terima kasih atas bantuan Bapak," kata Cleantha sebelum keluar dari mobil.


Alvian segera melajukan mobilnya meninggalkan Cleantha.


Dengan langkah gontai, Cleantha berjalan ke dalam rumah.


Andai ada kesempatan, rasanya ia ingin berlari pulang dan memeluk ayahnya. Namun Cleantha sadar keinginannya itu sangat mustahil untuk dilakukan.


Karena larut dalam kepedihannya, Cleantha tidak sadar bila mobil Raja sudah memasuki halaman rumah.


Dari jendela mobilnya, Raja menatap tajam ke arah Cleantha.


Ia meminta supirnya untuk menghentikan mobil dengan segera.


"Kenapa dia kelihatan malas sekali masuk ke dalam rumah. Apa belum puas dia menghabiskan waktu bersama Alvian?"


pikir Raja semakin kesal.


Raja melangkah cepat ke dalam rumah.


"Clea, akhirnya kamu pulang juga. Kemana saja kamu sampai selarut ini?" tanya Zevira pura-pura khawatir.


Zevira melihat Raja berjalan menyusul di belakang Cleantha. Dari ekspresi wajahnya, Zevira tahu bahwa suaminya itu sedang dikuasai kemarahan. Dan hal itu justru membuatnya sangat senang.


"Saya dari..."


"Ayo ikut aku ke kamar!" bentak Raja tiba-tiba menarik lengan Cleantha. Membuat Cleantha terperanjat sekaligus merasakan nyeri di lengannya.


"Tuan, kenapa menyeret saya seperti ini?" tanya Cleantha tidak mengerti dengan tindakan Raja yang kasar.


"Jangan banyak bertanya! Seharusnya kamu sadar dosa apa yang baru saja kamu perbuat."


"Dosa? Saya tidak mengerti, Tuan."


Raja tidak memberikan jawaban. Ia hanya terus menyeret Cleantha masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu dari dalam.


"Cekrek!"


Melihat aura menyeramkan yang terpancar dari wajah Raja, nyali Cleantha menciut. Belum pernah ia melihat Raja semurka ini sebelumnya. Entah apa penyebabnya sehingga pria itu seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.


Cleantha bergerak mundur, berusaha untuk menjauhi Raja. Tapi pria itu tidak mau melepaskan dirinya.


"Tu...an, Anda mau apa?" tanya Cleantha merapatkan tubuhnya ke dinding.


"Kenapa kamu takut? Apa kamu tidak memikirkan dampaknya saat kamu tadi menggoda adikku?" dengus Raja.

__ADS_1


Cleantha terkesiap mendengar tuduhan tidak masuk akal yang dilemparkan Raja padanya.


"Tuan sudah salah sangka. Saya tidak pernah menggoda adik Anda."


"Lalu kemana kalian berdua pergi?"


"Sa..ya ke butik untuk membeli baju," jawab Cleantha menunjukkan tas yang masih dipegangnya erat-erat.


Raja memandang tas itu dan merebutnya dari tangan Cleantha.


Ia merobek pembungkusnya menjadi dua lalu mengeluarkan isinya.


Sambil memicingkan mata, Raja mengamati gaun dan sepasang sepatu berwarna keperakan di dalamnya.


"Aku yakin seleramu tidak sebagus ini. Siapa yang memilihkan gaun ini untukmu? Apa Alvian?" tanya Raja dingin."


"Iya, Pak Alvian yang memilihkannya untuk saya," jawab Cleantha berterus terang.


Raja kembali bergerak mendekat sambil membawa gaun panjang itu.


Ia melemparkan gaun itu ke tubuh Cleantha.


"Kamu pikir dengan memakai gaun mahal kamu akan terlihat anggun dan berkelas? Kamu salah besar! Betapapun gemerlapnya gaun yang kamu pakai tidak akan bisa menyembunyikan jati dirimu yang sebenarnya. Kamu hanyalah seorang wanita yang rela menjual harga diri demi uang. Bahkan kamu berniat merayu adik dari suamimu sendiri. Sungguh murahan!" hardik Raja menghina Cleantha.


"Cukup, Tuan! Anda tidak tahu alasan di balik keputusan saya menjadi isteri kontrak Anda," ucap Cleantha terisak.


Entah mendapat kekuatan dari mana, keberanian Cleantha tiba-tiba bangkit. Ia merasa harus melawan pria arogan di hadapannya.


Hinaan Raja telah melukai hati Cleantha dan membuatnya teringat akan masa lalunya yang menyakitkan. Dimana dulu ia selalu diejek dan dituduh sebagai pembawa masalah dan kesialan.


"Saya akui kalau saya sering menyusahkan Tuan. Mungkin benar yang dikatakan keluarga saya bahwa saya adalah seorang pembawa sial."


Sambil berurai air mata, Cleantha menantang balik Raja.


"Jika memang Tuan sebegitu bencinya pada saya, maka Tuan bisa mengusir saya sekarang juga dari kehidupan Tuan. Untuk uang seratus juta yang telah Tuan berikan, saya berjanji akan mencicilnya. Saya bersedia bekerja tanpa dibayar sampai hutang saya lunas."


Raja berdecih mendengar ucapan Cleantha.


"Kamu pikir semudah itu aku akan melepaskanmu? Sepertinya kamu sudah tidak sabar untuk bersama adikku," jawab Raja tersulut api cemburu.


"Tadinya aku hanya bermaksud menggunakanmu sebagai alat untuk membalas dendam pada Vira. Tapi ternyata kamu sama murahannya dengan istri pertamaku itu," tutur Raja penuh kebencian.


Kenangan akan perselingkuhan Zevira masih membekas di hati Raja. Dan kini luka lama itu menganga kembali bahkan mengeluarkan nanah akibat kelakuan Cleantha.


"Apa maksud Tuan? Kenapa Tuan mengatakan istri Tuan sendiri sebagai wanita murahan?"


"Vira pantas mendapat sebutan seperti itu. Dia sudah menjalin hubungan gelap dengan sepupuku di belakangku. Aku pikir perbuatan Vira adalah sejarah paling memalukan dalam hidupku. Nyatanya masih ada yang lebih buruk daripada itu. Yaitu perselingkuhanmu dengan adikku sendiri!" tunjuk Raja ke wajah Cleantha.


"Kak Vira mengkhianati Tuan Raja? Menurut Kak Vira Tuan Raja-lah yang mencampakkan dirinya? Kenapa cerita ini saling bertolak belakang?"

__ADS_1


pikir Cleantha tidak mengerti.


"Saya tidak pernah berselingkuh dengan Pak Alvian. Pak Alvian adalah pria yang baik, tidak mungkin dia mengkhianati kakaknya sendiri. Tanyakan saja pada Pak Alvian kemana saya pergi," ujar Cleantha membela diri.


"Lalu apa yang melekat di tubuhmu ini? Bukankah ini jaket milik Alvian? Apa kalian sudah tidur bersama? Atau kamu begitu membutuhkan uang sehingga kamu menjual tubuhmu pada adikku?" tanya Raja membelalakkan matanya.


Dada Cleantha terasa sesak, menahan kepedihan bercampur rasa sakit. Tak pernah diduganya bila Raja menuduhnya sekejam itu.


"Dengar, Tuan. Saya memang membutuhkan banyak uang, tapi bukan berarti saya akan menjual kehormatan saya pada laki-laki. Pak Alvian meminjamkan jaket ini hanya supaya saya tidak kedinginan," jawab Cleantha dengan suara bergetar.


Pikiran Raja seolah tertutup awan tebal. Api dendam membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia tidak mau mendengarkan penjelasan apapun dari Cleantha.


"Aku sering mendengar dalih klasik semacam itu. Mulutmu memang manis, tapi sayang sekali itu tidak berperngaruh padaku. Aku tahu kamu pandai berbohong seperti Vira."


"Terserah Tuan mau menganggap saya apa. Biarkan saya pergi dari sini," pinta Cleantha putus asa.


"Berapa kali aku bilang, aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja. Kali ini aku akan memberikan hukuman yang tidak akan kamu lupakan seumur hidup."


Dalam keadaan emosi, Raja mengusap kasar bibir Cleantha dengan jemarinya.


"Kalau kamu begitu ingin disentuh pria, sekarang aku memberikanmu kesempatan untuk memuaskan aku. Aku sudah membayarmu sebagai istriku, jadi aku berhak atas tubuhmu," tutur Raja tanpa belas kasihan.


Bibir Raja mulai melahap bibir istri mudanya itu dengan ganas. Mengulum dan memagutnya dengan buas.


"Jangan, Tuan, lepas, hemmpt!" pekik Cleantha.


Ia tidak mampu berkata-kata lagi karena bibirnya dibungkam oleh bibir Raja.


Tubuh Cleantha menggigil menahan rasa takut yang luar biasa. Ditambah ia sudah kehilangan tenaga akibat semua masalah yang bertubi-tubi menderanya. Saat ini ia merasa begitu lemah dan tidak berdaya.


Kini penderitaannya kian bertambah karena Raja tiba-tiba menuntut haknya sebagai suami. Padahal sebelumnya, mereka sepakat untuk tidak saling berhubungan di atas ranjang layaknya sepasang suami istri.


Namun ketika perjanjian mereka belum seumur jagung, Raja justru memaksakan kehendaknya hanya karena sebuah kesalahpahaman.


Mengetahui nafas Cleantha yang terengah-engah, Raja melepas ciumannya sejenak.


"Tidak usah sok suci di hadapanku. Buka mulutmu maka aku akan memberikan apa yang kamu inginkan."


Cleantha tergagap tak percaya. Yang ada di hadapannya ini bukanlah Raja Adhiyaksa.


Kemarahan telah menumpulkan akal sehat Raja. Saat ini Raja tengah melampiaskan rasa frustasi dan seluruh kebenciannya yang terpendam pada Cleantha.


Detik berikutnya, Cleantha merasakan Raja sudah membuka kancing kemejanya dengan kasar. Setelah terlpas, ia melempar kemeja itu sembarang arah ke atas lantai.


Dengan leluasa, tangannya masuk ke dalam tanktop putih yang dipakai Cleantha. Tanpa ampun, ia merenggut baju dalam gadis itu dengan sekali sentak.


Cleantha hanya bisa menjerit dan menangis. Meratapi hidupnya yang sebentar lagi akan porak poranda.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2