
***HAPPY READING
Jangan lupa beri comment, like, dan votenya ya***.
Setelah sampai di depan mobil, Alvian baru melepaskan tangan Cleantha.
"Masuklah," kata Alvian membukakan pintu.
Cleantha ingin protes tapi urung dilakukannya.
Sadar saat ini dirinya telah menjadi bahan tontonan oleh rekan-rekannya, Cleantha memilih bungkam. Apabila ia menolak perintah Alvian, mungkin drama yang dilakoninya akan semakin memancing perhatian.
Tanpa menunggu lama, Alvian duduk di depan kemudi lalu menjalankan mobilnya keluar dari basement.
Dari jendela, Cleantha melihat semua teman kerjanya tak lepas menatap mobilnya hingga menghilang dari pandangan.
Ketika sudah berada di jalan raya, Cleantha dan Alvian baru angkat bicara.
"Clea..."
"Pak,..." ucap Cleantha bersamaan dengan Alvian.
"Kamu duluan yang bicara."
"Tidak, Bapak saja," ucap Cleantha memberikan kesempatan lebih dulu pada Alvian.
"Hufffft, baiklah..." desis Alvian sembari menghela nafas panjang.
"Kemarin kenapa tidak masuk kerja? Aku yakin kamu tidak sakit, buktinya kamu bisa pergi makan malam. Apa kamu bertengkar dengan kakakku?"
"Dari mana Pak Alvian tahu kalau aku bertengkar dengan Tuan Raja? Apa Tuan Raja yang mengatakannya,"
gumam Cleantha.
"Aku bisa menebaknya karena Kak Raja juga marah padaku. Karena itu jangan coba-coba berdekatan dengan pria lain seperti tadi. Kalau padaku saja dia cemburu, apalagi dengan orang lain yang tidak ada hubungan keluarga," jelas Alvian memperingatkan Cleantha.
Cleantha terkesiap. Ternyata bukan hanya dirinya yang terkena amarah Raja. Suaminya itu juga marah pada adiknya, Alvian. Dan kesalahpahaman itu terjadi gara-gara dia memaksa Alvian untuk mengantarnya menjenguk ayahnya.
Alvian meneruskan ucapannya.
"Kak Raja sudah pernah dikhianati karena itu dia sangat sensitif. Jagalah perasaannya. Berpikirlah baik-baik sebelum melakukan sesuatu. Ingatlah identitasmu sebagai istri dari Raja Adhiyaksa."
"Kamu belum tahu bagaimana jika kakakku sedang marah. Tidak ada yang bisa menghalanginya melampiaskan amarahnya," lanjut Alvian.
"I...iya, Pak saya mengerti," jawab Cleantha ragu-ragu.
Tentu saja dia mengerti apa yang dimaksud oleh Alvian, karena dia sudah menjadi korban kemarahan Raja. Namun mana mungkin ia mengaku pada Alvian bahwa Raja telah merenggut kesuciannya secara paksa.
Di sisi lain, Cleantha merasa malu karena sempat berpikir macam-macam ketika Alvian menggandeng tangannya. Padahal Alvian melakukan semua itu demi kebaikan kakaknya.
Jauh di lubuk hatinya, Cleantha berharap suatu hari nanti bisa memiliki suami yang penuh pengertian seperti Alvian. Berbeda dari Raja yang mudah sekali tersulut emosi.
Yang jelas di masa depan, ia hanya akan membangun biduk rumah tangga dengan pria yang masih lajang. Dan tentu saja pria itu harus setia dan tidak membagikan cinta pada wanita lain.
"Sekarang giliranmu yang bicara," kata Alvian memberikan kesempatan pada Cleantha.
"Sa...ya tidak ada yang mau dibicarakan, Pak," jawab Cleantha.
Alvian mengernyitkan dahinya.
"Tidak ada? Bukannya tadi kamu mau mengatakan sesuatu?"
"Itu...saya sudah lupa, Pak," jawab Cleantha berpura-pura.
Tadinya Cleantha bermaksud menanyakan alasan Alvian menarik tangannya. Namun pertanyaannya kini telah terjawab.
Alvian menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa sehari-hari kamu juga pelupa seperti ini? Pantas saja Kak Raja sering memarahimu."
"Bila perlu minumlah vitamin penambah daya ingat. Aku tidak mau punya staf kasir yang daya ingatnya lemah. Bisa-bisa kamu lupa dimana meletakkan uang petty cash," gerutu Alvian sambil menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Wajah Cleantha memerah karena malu. Terbayang di benaknya bagaimana Raja acapkali menjelek-jelekkannya di depan Alvian. Pastilah reputasinya sudah sangat buruk di mata adik iparnya itu.
...****************...
Beberapa orang staf yang mengendarai motor sudah tiba terlebih dahulu di restoran Green Leaves. Mereka menunggu kedatangan mobil Alvian dan Pak Setyo di depan resto.
"Clea, masuklah dulu dan katakan kepada teman-temanmu untuk memesan makanan. Nanti aku menyusul. Aku harus menerima panggilan dari Tuan Marcel," kata Alvian memegang ponselnya.
"Baik, Pak," ucap Cleantha bergegas keluar dari mobil.
Begitu Cleantha berjalan menuju pintu restoran, semua perhatian tertuju padanya. Seolah-olah ia adalah seorang selebritis ternama.
"Clea, dimana Pak Alvian?" tanya Keyla membuntuti adiknya dari belakang
"Masih di mobil, Kak."
"Katakan sejujurnya, Clea. Apa sekarang kamu berpacaran dengan Pak Alvian? Atau kalian sedang dalam proses pendekatan?" tanya Keyla mengecilkan suaranya.
"Kak, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Pak Alvian."
"Ah, bohong. Mana mungkin Pak Alvian menggandeng tanganmu di hadapan semua orang bila kalian bukan sepasang kekasih."
"Percayalah, Kak, aku..."
Penjelasan Cleantha terpotong karena Pak Setyo tergopoh-gopoh datang menghampiri mereka.
"Cleantha, kamu tidak bersama Pak Alvian?"
"Pak Alvian sedang menerima telpon. Dia menyuruh kita memesan makanan dulu, Pak."
"Oh, baiklah. Terima kasih sudah memberitahu kami, Cleantha."
Cleantha keheranan melihat gaya bicara Pak Setyo yang berubah sangat sopan kepadanya.
"Ayo kita masuk ke dalam," ajak Pak Setyo kepada semua anak buahnya.
Sambil mengobrol, mereka bergiliran masuk ke dalam restoran.
Mereka semua telah duduk mengelilingi meja ketika Cleantha masuk.
Masih tersisa dua kursi di bagian tengah dan satu kursi lagi di dekat Keyla. Nampaknya kursi di bagian tengah tersebut dipersiapkan untuk Alvian. Sedangkan kursi satu lagi entah untuk siapa.
Cleantha langsung menuju ke kursi di sebelah kakaknya. Sebelum Cleantha menggeser kursi itu, Pak Setyo menegurnya.
"Cleantha, jangan duduk disitu. Pindahlah ke kursi tengah. Saya sudah meminta pelayan untuk menyiapkan kursimu di samping Pak Alvian," kata Pak Setyo seraya memberikan arahan dengan jarinya.
"Saya disini saja. Lebih baik Bapak yang duduk di samping Pak Alvian," tolak Cleantha.
"Masa Pak Setyo yang di samping Pak Alvian. Nanti Beliau bisa memarahi kita semua, Mbak. Beliau pasti maunya duduk dekat-dekat dengan pacarnya. Uuppss, salah ngomong," celetuk Galih.
Anya yang duduk di sebelah Galih, menginjak kaki pemuda itu agar tidak kelepasan bicara.
"Aduh, sakit Mbak Anya," keluh Galih.
"Turuti saja perintah Pak Setyo, supaya kita bisa segera memesan makanan," sahut Keyla tidak sabar.
"Tapi, Kak...."
"Sudah sana," tegas Keyla mendorong adiknya.
Daripada suasana menjadi canggung, Cleantha terpaksa berpindah ke kursi yang dimaksud Pak Setyo.
Tak pernah diduganya bila Pak Setyo dan para seniornya mengambil kesimpulan sendiri.
Hanya karena Alvian memegang tangannya, mereka berasumsi bahwa ia adalah kekasih Alvian. Pantas saja Pak Setyo begitu menjaga sikap di hadapannya.
Tak lama, dua orang pelayan resto datang dan menyodorkan menu makanan.
"Silakan pesan makanannya, Cleantha," ucap Pak Setyo menyerahkan wewenang kepada Cleantha.
Teman-temannya yang lain juga mengarahkan tatapan penuh harap pada Cleantha. Seakan sedang menantikan keputusan dari Ibu pimpinan divisi finance.
__ADS_1
"Maaf, Mbak, bisa pesan gurami terbang satu porsi. Itu makanan kesukaan saya," celetuk Galih untuk kedua kalinya.
Kali ini Galih mendapat cubitan keras dari Anya pada lengan kanannya.
"Hush, jaga bicaramu," tandas Anya sambil melotot pada Galih.
Melihat teman satu divisinya nampak segan padanya, Cleantha merasa risih.
"Nanti aku akan minta tolong pada Pak Alvian untuk meluruskan kesalahpahaman ini,"
pikir Cleantha sambil membaca buku menu.
"Saya pesan paket ayam bakar madu saja, Mbak. Minumnya es jeruk," kata Cleantha buru-buru menyelesaikan pesanannya.
Pak Setyo baru berani memesan makanan setelah Cleantha selesai. Begitu pula dengan teman-temannya yang lain.
Alvian memasuki restoran beberapa menit kemudian, setelah mereka selesai memesan makanan.
Tanpa basa basi, dia langsung duduk di sebelah Cleantha.
"Clea, apa kalian semua sudah pesan makanan?" tanya Alvian.
"Sudah, Pak."
"Kalau begitu tolong panggilkan pelayan dan pesankan juga untukku," kata Alvian kembali sibuk dengan ponselnya.
Bukannya mengurangi kesalahpahaman, permintaan Alvian malah menambah kesan adanya kisah asmara di antara mereka. Cleantha bisa melihat hal itu dengan jelas dari roman muka teman-temannya. Walaupun secara lahiriah mereka diam seribu bahasa.
"Pak, Anda mau pesan apa?" tanya Cleantha kebingungan.
"Samakan saja dengan pesananmu," kata Alvian seraya mengetik di layar ponselnya.
Untuk kesekian kalinya, mereka dibuat terkesima dengan pernyataan Alvian. Bahkan bos mereka itu telah menyerahkan keputusannya pada Cleantha.
Dengan perasaan serba salah, Cleantha akhirnya memesan makanan yang sama untuk Alvian.
Selesai dengan kesibukannya, Alvian mengobrol dengan Pak Setyo. Sesekali ia juga mengajak bicara para staf secara bergantian, sehingga suasana makan itu menjadi akrab.
Sementara Cleantha memilih untuk menyantap makanannya dalam keheningan.
...****************...
Suara dering ponsel Alvian mengejutkan Cleantha yang duduk di sampingnya. Pria itu mengangkat telpon sambil mengerutkan kedua alisnya.
"Halo, Kak, ada apa?" jawab Alvian.
"Kak? Apa Pak Alvian sedang bicara dengan Tuan Raja?"
pikir Cleantha terkejut.
Alvian diam sejenak. Sepertinya ia sedang mendengarkan kata-kata yang disampaikan Raja.
"Iya, dia ada disini. Aku sedang makan malam bersama semua stafku."
Alvian kembali terdiam. Sekejap kemudian, ia mengangguk perlahan.
"Baiklah, Kak. Aku akan mengantarnya pulang," ucap Alvian sebelum mematikan ponselnya.
"Clea, kita pulang sekarang. Aku akan menyelesaikan pembayaran ke kasir dulu," kata Alvian berdiri dari kursinya.
"Kenapa, Pak?" tanya Cleantha terkejut. Ia melihat Alvian bahkan belum menghabiskan makanannya.
"Lihat saja sendiri ke ponselmu," kata Alvian berjalan menuju kasir.
Dengan jantung berdebar, Cleantha mengambil ponselnya dari dalam tas. Sejak siang ia memang mematikan nada dering dan getar ponselnya, supaya tidak mengganggu konsentrasi.
"Ada enam panggilan tak terjawab dari Tuan Raja. Kenapa dia menghubungiku? Apa dia menelpon Pak Alvian gara-gara aku tidak menerima panggilannya,"
pikir Cleantha gelisah.
BERSAMBUNG
__ADS_1