Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 77 Cinta Tanpa Rasa Percaya (Part 1)


__ADS_3

Begitu turun dari mobil, Raja membawa Cleantha ke dalam kamarnya.


"Tidurlah disini supaya aku lebih mudah menjagamu."


"Tapi Tuan, saya ingin kembali ke rumah saya sebentar. Saya ingin menemui Ayah saya," kata Cleantha nampak khawatir.


"Nanti kita akan kesana setelah aku bicara dengan pengacaraku. Sekarang istirahatlah dulu," ucap Raja menyelimuti Cleantha.


Raja mempercepat langkahnya, mencari Pak Darma yang masih berada di dapur. Para pelayan pun termangu karena melihat bos besar mereka sampai rela masuk ke dapur.


"Pak, mulai hari ini persiapkan makanan khusus untuk Cleantha. Sediakan bahan makanan organik. Buat menu rendah gula dan mengandung gizi yang seimbang. Cleantha sedang hamil, jadi dia tidak boleh sembarangan mengkonsumsi makanan," titah Raja.


"Oh, Nyonya hamil. Selamat, Tuan, Anda akan menjadi seorang ayah," ucap Pak Darma ikut terharu.


Pasalnya, setelah sekian lama ia baru melihat sinar kebahagiaan yang terpancar dari wajah Raja. Karena mengasuh Raja sejak kecil, Pak Darma menganggap majikannya itu layaknya anak kandung sendiri.


"Terima kasih, Pak. Jangan lupa perhatikan baik-baik asupan makanan untuk Cleantha. Tolong suruh pelayan wanita membuatkan segelas susu hangat dan antarkan ke kamar Cleantha."


"Baik, Tuan."


Bi Dewi yang ada disitu bergegas pergi diam-diam untuk memberikan informasi terbaru pada junjungannya, Zevira.


Ia masuk ke dalam kamar Zevira dan menutup pintu.


"Gawat, Nyonya, saya ada berita buruk untuk Anda," ujarnya panik.


"Berita buruk apa? Mengenai Cleantha? Apa dia benar-benar hamil?" tanya Zevira santai.


Bi Dewi keheranan melihat reaksi Zevira yang biasa-biasa saja. Bahkan dia bisa menebak dengan tepat kabar yang hendak disampaikannya.


"Iya, Nyonya. Dia hamil dan Tuan Raja terlihat sangat bahagia. Tuan Raja tadi ke dapur, memberitahu Pak Darma untuk menyiapkan makanan khusus bagi Nyonya Cleantha. Saya yakin mereka tidak jadi bercerai."


Zevira mendengus kesal.


"Raja terlalu berlebihan. Dia sudah punya Ivyna dariku, masih saja mendambakan anak dari gadis kampung itu. Aku akan mengambil tindakan sekarang juga supaya Raja tidak jadi membatalkan proses perceraiannya. Walaupun nanti aku juga harus keluar dari rumah ini, tapi itu resiko yang mesti kutanggung."


"Nyonya kenapa Anda bicara begitu? Tindakan apa yang mau Anda lakukan?" tanya Bi Dewi cemas.

__ADS_1


"Aku akan membuat kebahagiaan Raja dan istri mudanya hancur dalam sekejap. Jika aku menderita, maka Cleantha dan Raja juga harus menderita. Paling tidak kami bertiga akan mengalami hal yang sama. Aku tidak bisa memiliki Raja, maka Cleantha pun tidak."


"Raja akan tinggal sendirian tanpa istri, dan Cleantha akan hamil tanpa suami. Bukankah itu ironis? Sedangkan aku akan memulai hidup baru bersama Fendi dan Ivyna. Aku tetap menjadi pemenang dalam permainan hati ini," sambung Zevira.


Raut wajah Bi Dewi berubah keruh. Tidak percaya dengan apa yang diucapkan Zevira barusan.


"Nyonya, apa Anda ingin meminta cerai dari Tuan Raja?"


"Bukan meminta, tapi aku sengaja membuat Raja menceraikan aku. Lagipula aku juga tidak betah lagi hidup bersama suami yang membenciku."


Zevira membuka pintu kamarnya.


"Bi Dewi, tolong kemasi semua baju dan barang-barangku dalam koper sekarang juga. Itu akan memudahkan aku saat Raja mengusirku keluar dari rumah ini. Bi Dewi juga harus ikut denganku nanti."


"Satu lagi, hubungi supir pribadi papaku. Katakan padanya untuk menjemputku di rumah Raja," perintah Zevira.


"Baa...ik, Nyonya," jawab Bi Dewi terbata-bata.


Ia merasa was-was melihat api dendam yang menyala di mata Zevira.


Zevira menggerakkan kursi rodanya dengan mantap menuju ke ruang kerja Raja. Ia yakin suaminya itu sedang menghubungi pengacaranya untuk membatalkan proses perceraian dengan Cleantha.


Raja yang sedang menelpon Tuan Mateo, terkejut melihat kehadiran Zevira.


"Vira, kenapa kamu kesini?"


"Raja, aku mau membicarakan hal yang penting denganmu," sela Zevira.


"Nanti saja, aku sedang sibuk," jawab Raja acuh tak acuh.


"Kamu akan menyesal kalau kamu tidak mendengarkan aku. Apa yang kukatakan ini berkaitan dengan Cleantha," kata Zevira memancing perhatian Raja.


"Tuan Mateo, kita bicara lagi nanti," ucap Raja menutup telponnya.


Raja memicingkan matanya, menatap Zevira dengan rasa tidak suka.


"Apa maumu? Aku peringatkan padamu, jangan coba-coba mengganggu Cleantha. Dia sedang hamil. Kalau kamu berbuat macam-macam, aku akan membuatmu menyesal. Mulai hari ini juga, aku akan menyuruh para pelayan untuk mengawasi gerak-gerikmu," tandas Raja menekankan intonasi suaranya.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu repot-repot mengawasiku, Raja. Karena aku juga akan pergi dari sini. Bukankah itu yang kamu mau, supaya kita segera berpisah? Tapi sebelum aku pergi, aku akan memberikan hadiah perpisahan yang tidak akan kamu lupakan."


Raja terperanjat mendengar perkataan Zevira. Biasanya wanita itu selalu memohon padanya agar tidak diceraikan. Namun kali ini ia justru menantang balik.


"Apa lagi yang kamu rencanakan?" tanya Raja membelalakkan matanya.


"Apa kamu tahu anak siapa yang ada di kandungan Cleantha?"


"Tentu saja anakku," jawab Raja cepat.


"Anakmu? Sayang sekali, kamu terlalu naif, Raja. Apa kamu masih ingat foto-foto Alvian dan Cleantha? Kamu sudah menuduhku sebagai dalang penjebakan mereka. Aku akan mengaku padamu sekarang. Memang aku yang menyuruh Fendi melakukannya. Kamu tidak perlu susah payah mencari Fendi hanya untuk menanyakan hal itu," ujar Zevira dengan nada mengejek.


Mendengar pengakuan Zevira, mata Raja memanas. Amarah yang begitu dahsyat membakar dadanya.


Bila saja ia tidak ingat Zevira seorang wanita dan ibu dari Ivyna, mungkin ia akan menampar wajah perempuan licik ini. Ia menyesal mengapa dulu pernah mencintai wanita jahat seperti Zevira. Bahkan mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya selama bertahun-tahun.


Paras Zevira memang cantik, tapi hatinya lebih kotor dari kubangan lumpur hitam.


"Keterlaluan sekali kamu! Aku akan menceraikanmu sekarang juga! Dan aku akan mengambil hak asuh atas Ivyna!" teriak Raja menggebrak mejanya.


"Aku sudah bilang padamu. Aku tidak peduli lagi jika kamu menceraikan aku. Soal Ivyna, kita lihat saja nanti siapa yang akan memenangkan hak asuh atas putri kita," tantang Zevira.


Zevira memajukan kursi rodanya dengan tatapan tajam.


"Aku akan menjelaskan detik-detik penjebakan itu. Kamu tahu obat apa yang dimasukkan Fendi ke dalam minuman Alvian? Itu adalah obat perangsang dosis tinggi. Aku sendiri yang membelinya secara online karena obat itu langka di pasaran. Lihat saja jika kamu tidak percaya," ujar Zevira menunjukkan ponselnya kepada Raja.


Dengan tangan gemetar karena menahan amarah, Raja membaca riwayat orderan yang dilakukan Zevira. Dan benar saja, Zevira telah memesan satu botol obat perangsang pria dengan harga yang cukup mahal.


Dada Raja mendadak terasa sesak, seolah dihantam oleh ribuan palu gada.


"Ka...mu pasti bohong! Kamu seorang wanita licik, Vira. Aku tidak percaya dengan tipu muslihatmu. Kamu hanya ingin menghancurkan kebahagiaanku!" seru Raja mengacungkan jarinya ke muka Zevira.


Sudut mata Zevira mulai basah. Ia tahu kebencian Raja kini berlipat ganda padanya. Namun ibarat menyeberangi lautan, ia sudah berada di tengah-tengah. Tidak mungkin baginya untuk mundur lagi ke belakang.


"Kamu bisa membayangkan bagaimana pria yang berada dalam pengaruh obat perangsang? Meskipun Alvian lelaki yang baik dan bermoral, tapi ia tidak akan mampu melawan efek obat yang diberikan Fendi. Apalagi di sampingnya ada Cleantha, seorang gadis muda yang sedang tidak sadarkan diri. Bisa kamu tebak apa yang terjadi selanjutnya antara Alvian dan Cleantha," sambung Zevira dengan gaya provokasinya.


**BERSAMBUNG

__ADS_1


Jangan tegang ya. Nantikan next episode yang bikin baper 😊**


__ADS_2