
Setelah Ana dan Keyla pergi, Cleantha mengunci pintu kamar rapat-rapat. Ia menuju ke lemari baju dan mengeluarkan tasnya.
"Aku akan berkemas malam ini juga. Besok sepulang kantor, aku akan mencari kost dan mengambil semua bajuku dari sini,"
gumam Cleantha.
Tanpa membuang waktu, Cleantha mengemasi baju-bajunya ke dalam tas. Ia memandang kamarnya sekali lagi.
Kendatipun kamar itu kecil dan sederhana, tapi ia telah menghabiskan bertahun-tahun hidupnya di kamar itu. Pastilah nanti ia akan sangat merindukannya.
Cleantha mengambil foto bundanya yang dia letakkan di atas meja. Memandangnya sebentar sebelum memasukkannya ke dalam tas.
"Bunda, doakan aku supaya aku selalu tabah dan kuat. Aku berjanji akan menjadi ibu yang baik untuk anakku nanti,"
ucap Cleantha di dalam hati.
...****************...
Keesokan paginya, Cleantha kembali muntah. Namun ia berusaha mengatasinya dengan cepat agar tidak terlambat masuk ke kantor.
"Kamu akan berangkat bekerja?" tanya Keyla memandang Cleantha.
"Iya, Kak."
Cleantha berjalan menghampiri ayahnya dan mencium tangannya.
"Ayah, Clea, pergi bekerja dulu. Jangan lupa makan dan minum obatnya."
Tuan Sigit menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Kak, Tante, aku pergi," ucap Cleantha berlalu pergi.
"Clea, tunggu, aku ikut denganmu," kata Keyla mengikuti Cleantha ke dalam taksi.
"Apa kamu yakin mampu bekerja seharian dengan kondisimu yang sedang hamil muda? Apalagi hari ini kita ada meeting awal bulan dengan Pak Alvian dan Pak Setyo."
"Tidak usah cemaskan aku, Kak. Aku bisa mengatasinya," jawab Cleantha dingin.
Keyla melirik ke arah Cleantha. Diam-diam, ia merasa sedikit iba pada adiknya itu. Di usia muda, Cleantha harus menghadapi kehamilannya seorang diri tanpa suami. Ditambah lagi ia harus tetap bekerja untuk menafkahi dirinya sendiri. Hal itu pasti tidak mudah untuk dijalani.
Cleantha dan Keyla tidak saling bicara lagi, hingga taksi yang mereka tumpangi tiba di kantor.
Kedatangan Cleantha di gedung Adhiyaksa Group, memancing perhatian para karyawan.
Semenjak ia melangkah ke lobi hingga memasuki lift, entah berapa banyak pasang mata yang memperhatikannya. Cleantha yakin jika rasa penasaran mereka berkaitan dengan insiden yang terjadi di pesta dua hari lalu. Tapi kali ini ia tidak mau ambil pusing.
"Selamat pagi, semuanya. Saya ingin mengingatkan kalian. Setelah makan siang kita ada meeting dengan Pak Alvian. Maka dari itu kalian harus bekerja lebih cepat, supaya pekerjaan kalian selesai sebelum jam makan siang," seru Pak Setyo di tengah-tengah ruangan.
"Siap, Pak," jawab para staf berbarengan.
__ADS_1
Karena Nurma sudah dimutasi ke kantor cabang, Cleantha harus mengerahkan segenap kemampuannya. Menyesuaikan diri dengan banyaknya pekerjaan yang harus dihandle. Ditambah karyawan dari divisi lain silih berganti menemuinya untuk mengajukan permohonan petty cash.
"Ayo makan dulu, Clea. Ini sudah jam dua belas siang. Jangan sampai kita terlambat meeting," ajak Keyla menghampiri Cleantha.
"Kakak makan duluan saja. Aku mau menyimpan uang di brankas," jawab Cleantha berjalan meninggalkan mejanya.
Setibanya di kantin, Cleantha melihat suasana sudah ramai. Sebenarnya ia sedang tidak berselera untuk makan. Tapi demi bayi di dalam rahimnya, ia memaksakan diri untuk menelan makanan.
"Kenapa kamu hanya makan sedikit? Apa kamu mual lagi?" tanya Keyla.
"Tidak, Kak."
"Clea, jangan sampai kamu muntah di kantor. Nanti orang-orang akan tahu kamu sedang hamil. Tahanlah sebisa mungkin jika kamu mual," ucap Keyla setengah berbisik.
Cleantha tidak menjawab. Ia hanya berharap perutnya tidak akan mual setelah menyantap makan siang.
...****************...
Para staf finance duduk dengan tegak di kursi masing-masing. Mengelilingi meja panjang yang ada di ruang meeting.
Wajah mereka nampak tegang. Sedangkan tangan mereka membawa sebuah map file yang berisi laporan.
Mereka sedang harap-harap cemas menanti kedatangan sang direktur. Rasanya sudah seperti seorang mahasiswa yang akan menghadapi sidang akhir dengan dosennya.
Pak Setyo memandang jam tangannya yang menunjukkan pukul satu lewat sepuluh menit. Biasanya Alvian tidak pernah terlambat, namun entah kenapa hari ini dia belum muncul juga.
Seolah mengetahui keresahan anak buahnya, Pak Setyo mencoba memberikan wejangan.
"Baik, Pak," jawab Galih dengan suara keras.
"Yah, kenapa saya sendiri yang menjawab?" celetuk Galih keheranan melihat teman-temannya membisu.
Suasana di ruang meeting itu sudah hampir sama dengan pemakaman.
Kecemasan yang sama pun dirasakan oleh Cleantha. Ini adalah pengalaman pertamanya harus memberikan laporan secara langsung kepada Alvian.
Meskipun ia sudah mengenal Alvian, tapi ia tahu bahwa atasannya itu seorang yang profesional. Dia akan bersikap tegas dan tidak pandang bulu jika menyangkut soal pekerjaan. Dan Cleantha takut bila tanpa sengaja ia telah melakukan kesalahan.
"Cekrek."
Suara pintu ruangan yang terbuka, membuat jantung para staf hendak meloncat keluar.
Serentak, mereka memandang kepada Alvian yang masuk bersama asistennya.
"Selamat siang, Pak Alvian," sapa Pak Setyo buru-buru berdiri dari kursinya, diikuti oleh semua staf.
"Siang. Maaf saya terlambat karena harus menerima telpon penting. Silakan langsung kita mulai meetingnya," ucap Alvian datar.
"Baik, Pak. Laporan yang pertama akan disampaikan oleh Irna, kemudian Cleantha, dan Anya."
__ADS_1
Pak Setyo mengedipkan mata kepada Irna. Memberikan tanda pada gadis itu untuk segera membacakan laporannya.
Irna bergegas membuka file laporan yang dipegangnya dan menerangkan isi laporan itu satu per satu. Sedangkan Pak Setyo sibuk mengoperasikan laptop, agar bisa memunculkan slide laporan milik Irna pada layar LCD.
Sambil mendengarkan Irna, Cleantha merasa was-was. Setelah ini adalah gilirannya. Ia harus bisa mempresentasikan laporannya dengan baik di hadapan Alvian dan Pak Setyo.
Entah karena rasa cemas yang berlebih atau akibat makan siangnya, perut Cleantha mulai bergejolak. Rasa mualnya makin lama makin bertambah.
Cleantha berusaha keras menahannya, hingga keringat dingin membasahi dahinya.
"Kenapa aku harus mual di saat seperti ini. Tidak, aku harus bertahan. Setelah ini giliranku,"
batin Cleantha seraya meremas jari jemarinya.
Irna sudah hampir menyelesaikan presentasi, namun rasa mual Cleantha makin hebat. Bila tidak cepat menyingkir dari ruangan itu, pastilah ia akan muntah di depan semua orang.
"Hoek," Cleantha menutup mulutnya.
Irna pun menoleh dan berhenti bicara.
Spontan, Cleantha berdiri dari kursi. Tak ayal lagi semua mata memandang kepadanya.
"Maaf, Pak, saya permisi dulu ke toilet," kata Cleantha kepada Alvian sambil menutup mulutnya.
Setengah berlari, ia meninggalkan ruang meeting.
Semua orang terkejut melihat Cleantha, tak terkecuali Alvian. Terlebih suara Cleantha yang hendak muntah terdengar sampai di telinganya.
Para staf saling pandang dan berbisik lirih karena kejadian itu. Sementara Keyla menundukkan kepalanya di meja karena malu.
"Cleantha tadi sepertinya mau muntah. Apa jangan-jangan dia hamil?" bisik Anya kepada Irna.
Irna menggelengkan kepala, pertanda ia tidak bisa memberikan jawaban.
Pak Setyo yang menyaksikan keributan itu, segera berdehem untuk menenangkan anak buahnya.
"Ehemmmm, cukup. Mari kita lanjutkan meetingnya. Irna silakan diteruskan. Dan jika Cleantha belum keluar dari toilet, kita akan lanjut dengan Anya."
"Apa benar Cleantha sedang hamil? Aku harus menanyakan langsung padanya. Kalau dia hamil, aku akan bicara pada Kak Raja supaya Cleantha tinggal saja di rumah,"
pikir Alvian.
Alvian pun berdiri dari kursinya dan menghentikan meeting itu.
"Maaf, Pak Setyo. Meeting kita lanjutkan besok saja jam satu siang. Saya permisi," ucap Alvian meninggalkan ruang meeting.
Para karyawan kembali berkasak-kusuk melihat kepergian Alvian. Mereka langsung mengambil kesimpulan sendiri mengenai hubungan muntahnya Cleantha dengan reaksi Alvian.
"Aku yakin Cleantha hamil. Dan jika itu benar, pasti ayah bayinya adalah Pak Alvian. Makanya Pak Alvian gelisah sampai menghentikan meeting hari ini," bisik Anya di telinga Irna.
__ADS_1
"Belum tentu. Kemarin saat di pesta, Tuan Raja juga bersikap mesra pada Cleantha. Jadi kalau Cleantha memang hamil, entah siapa ayah bayinya. Bisa Pak Alvian bisa juga Tuan Raja," balas Irna.
BERSAMBUNG