Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 66 Hidup Baru Tanpa Dia (Part 1)


__ADS_3

Cleantha berjalan gontai keluar dari rumah Raja. Melewati para pelayan yang menatapnya penuh tanda tanya. Hanya Bi Dewi, mata-mata Zevira, yang tampak senang melihat Cleantha dalam keadaan tidak berdaya.


"Nyonya, Anda mau kemana malam-malam begini?" tanya Pak Darma mencegah Cleantha yang berjalan keluar dari gerbang rumah Raja.


Cleantha menoleh kepada Pak Darma. Melayangkan pandangan sendu ke arah pelayan setia Raja yang selalu baik padanya. Bahkan selama ini, Cleantha telah menganggap Pak Darma sebagai pengganti ayahnya di dalam rumah besar itu.


"Pak, terima kasih karena sudah melayani dan menjaga saya selama ini. Saya pasti akan merindukan Bapak," kata Cleantha menyalami tangan Pak Darma.


"Nyonya, kenapa Anda bicara begitu?" tanya Pak Darma merasa bingung.


"Pak, mulai sekarang saya bukan lagi Nyonya di rumah ini. Saya juga tidak akan tinggal disini lagi. Kalau suatu hari kita bertemu, panggil saja nama saya Clea. Sekali lagi terima kasih, Pak. Jaga kesehatan Bapak baik-baik," ucap Cleantha sebelum melangkah keluar dari pintu gerbang yang menjulang tinggi itu.


"Nyonya...."


Pak Darma ingin menahan Cleantha. Tapi statusnya yang sebatas seorang pelayan, membuatnya tidak mampu berbuat lebih.


Mendengar ucapan perpisahan dari Cleantha, Pak Darma baru mengerti apa yang baru terjadi antara nyonya mudanya itu dengan tuannya. Pasalnya, ia sempat mendengar keributan dari ruang kerja Raja. Sepertinya berlangsung sebuah pertengkaran besar antara Raja, Cleantha, dan Alvian.


Dan keyakinannya bertambah ketika melihat adik tuannya itu keluar dengan bekas darah yang mengering pada sudut bibirnya.


"Pak Darma dimana Cleantha?" tanya Alvian terlihat cemas.


"Nyonya baru saja berjalan keluar dari gerbang."


Setengah berlari, Alvian menuju mobilnya yang terparkir di pekarangan rumah Raja. Ia bergegas mengemudikan mobilnya untuk mengejar Cleantha. Khawatir terjadi sesuatu pada kakak iparnya yang sedang patah hati itu. Lagipula ia merasa sangat bersalah karena turut andil dalam menambah penderitaan Cleantha.


...****************...


Kelamnya kegelapan malam turut menyelimuti tubuh Cleantha. Ia berjalan lambat menyusuri tepi jalan sambil menunggu kedatangan Keyla yang akan menjemputnya.


Suara klakson mobil dari belakang, membuat Cleantha berhenti. Dilihatnya mobil milik Alvian mengikutinya. Tak lama, lelaki itu menepikan mobilnya dan berjalan keluar.


"Clea, mau kemana malam-malam begini? Kembalilah ke rumah Kak Raja," ucap Alvian menghampiri Cleantha.


"Saya akan pulang ke rumah saya, Pak. Saya bukan istri Tuan Raja lagi. Tidak pantas jika saya hidup seatap dengannya."


"Kalau begitu aku akan mengantarmu. Berbahaya bagimu pulang sendirian."


"Saya mohon, Pak. Jangan pedulikan saya dan jangan terlalu baik pada saya. Sudah banyak orang yang salah paham dengan hubungan kita. Bapak sendiri terluka dan sekarang dibenci oleh Tuan Raja. Mungkin tunangan Bapak juga akan salah paham. Untuk apa mempertaruhkan nama baik dan hubungan Bapak hanya demi menolong saya?" tanya Cleantha memandang Alvian dengan ekspresi datar.


"Aku adalah penyebab perpisahanmu dengan kakakku. Tidak mungkin lepas tanggungjawab begitu saja. Aku akan menjagamu dan berusaha menyatukanmu lagi dengan suamimu."


"Bapak tidak usah berusaha apapun untuk saya. Dan tidak perlu merasa bersalah. Perpisahan ini terjadi karena keinginan saya sendiri. Bapak hanya bagian kecil dari takdir yang telah digariskan untuk saya," jawab Cleantha berjalan pergi meninggalkan Alvian.


Entah kenapa Alvian tergerak untuk mengejar Cleantha. Ia berhasil menghadang Cleantha dan menghalanginya untuk pergi.

__ADS_1


"Clea, tidak bisakah kamu berhenti keras kepala untuk sebentar saja? Hentikan kebodohanmu itu. Aku tahu kamu membutuhkan seseorang untuk berada di sampingmu. Dan Kak Raja adalah orang yang paling tepat untuk itu. Renungkanlah baik-baik perkataanku ini," tegas Alvian.


"Tidak, Pak! Saya sudah bilang tidak ada yang bisa mengubah pendirian saya. Saya lelah dan tidak ingin berebut cinta dengan wanita lain. Satu pria semestinya hanya mencintai satu wanita. Tidak boleh ada dua wanita sekaligus dalam hidupnya."


"Clea!" desis Alvian geram dengan sifat kepala batu Cleantha.


"Mungkin aku harus sedikit memaksamu supaya kamu sadar!" kata Alvian menarik tangan Cleantha agar ikut dengannya kembali ke rumah Raja.


Karena tubuh Cleantha sedang lemah, ia hampir jatuh terhuyung karena tarikan keras Alvian.


Melihat hal itu, secara refleks Alvian menyangga tubuh Cleantha, hingga mereka bersitatap untuk beberapa saat.


"Kenapa perasaan ini muncul lagi saat aku berada di dekat Cleantha? Apa aku sudah kehilangan akal sehat? Aku memang pantas mendapat pukulan dari Kak Raja,"


gumam Alvian menyesali perasaannya sendiri.


"Ehhmmm," ucap Alvian lekas melepaskan tangannya.


"Pak, biarkan saya pergi," kata Cleantha mencairkan suasana canggung di antara mereka.


Bertepatan dengan saat itu, taksi yang ditumpangi Keyla datang. Melihat adiknya sedang bersama Alvian, ekspresi wajahnya berubah tidak suka.


Keyla buru-buru membuka jendela taksinya dan berteriak kepada Cleantha.


"Iya, Kak."


Cleantha memandang Alvian sekali lagi sebelum ia masuk ke dalam taksi.


"Pak, mulai sekarang anggap saya hanya sebagai staf Bapak. Bawahan Bapak di kantor. Saya bukan kakak ipar Bapak lagi. Selamat malam," ujar Cleantha berjalan meninggalkan Alvian yang masih terpaku di tempatnya.


...****************...


Zevira sengaja tidak keluar kamar agar tidak terlibat dalam pertengkaran suami dan madunya. Namun di dalam hati, ia dilanda keresahan. Menunggu kabar apakah rencananya memisahkan Cleantha dari Raja membuahkan hasil.


Ketukan di pintu membuat Zevira bergegas duduk di kursi rodanya.


"Sampai kapan aku harus berakting cacat begini?"


gerutu Zevira.


Ia membuka pintu dan melihat Bi Dewi masuk dengan wajah secerah mentari.


"Nyonya, akhirnya Anda akan menjadi satu-satunya istri Tuan Raja. Gadis kampung itu telah pergi meninggalkan rumah ini. Wajahnya kusut dan muram. Saya yakin dia sudah diceraikan oleh Tuan Raja," ucap Bi Dewi berapi-api.


Senyum kemenangan mengembang di wajah Zevira.

__ADS_1


"Tidak ada yang bisa melawan Zevira Adhiyaksa. Aku wanita yang cerdik, tidak mungkin dikalahkan oleh gadis ingusan yang miskin itu."


"Tapi Nyonya, tadi saya melihat Tuan Muda Alvian bicara pada Pak Darma. Dia kelihatan panik. Sepertinya Tuan Muda Alvian sangat peduli pada gadis kampung itu."


"Biarkan saja. Yang penting Raja sekarang hanya menjadi milikku. Seumpama Alvian benar-benar jatuh cinta pada Cleantha, maka aku tinggal mengabari tunangannya Alvian. Cleantha pasti akan dimaki habis-habisan."


"Dia akan selalu menyandang predikat "pelakor". Pertama merebut suami orang, lalu kedua merebut tunangan orang. Ccckkk, cckkkk...buruk sekali reputasinya," decih Zevira penuh ejekan.


"Nyonya, kalau begitu saya permisi ke kamar saya supaya tidak ada yang curiga."


"Iya, Bi Dewi, istirahatlah."


Setelah Bi Dewi pergi, Zevira mengirimkan pesan untuk Fendi bahwa rencana mereka telah berhasil.


"Selamat Sayang, kamu memang wanita yang cerdas. Kamu akan menjadi ratu lagi di rumah Raja. Tapi jangan pernah lupakan aku, Sayang,"


tulis Fendi.


Zevira tersenyum sendiri.


"Maaf, Fendi. Aku memang cinta padamu, tapi aku juga masih mencintai Raja. Hanya dia yang pantas menjadi suamiku. Mulai sekarang aku akan berjuang untuk merebut hati suamiku. Raja sedang kesepian dan terluka. Aku akan menghiburnya setiap hari sampai dia jatuh ke dalam pelukanku."


Zevira mulai menyusun strateginya.


"Besok adalah akhir pekan. Aku bisa menggunakan Ivyna untuk mendekati Raja. Bila perlu aku akan memberikan anak kedua bagi Raja. Dan jika hal itu terjadi, aku akan meninggalkan Fendi untuk selamanya,"


batin Zevira bahagia.


Sementara Raja keluar dari ruang kerjanya dengan emosi yang naik turun. Ia sudah tidak memiliki selera untuk makan.


Namun menginjakkan kaki di dalam kamar, sontak mengingatkannya pada Cleantha.


"Besok aku harus menata ulang kamar ini dan menghapuskan jejak Cleantha."


Kepala Raja mendadak berdenyut-denyut. Ia merasa pusing dan tegang di otot lehernya akibat menahan kemarahan yang luar biasa.


Raja memijat pelipisnya sendiri untuk mengenyahkan rasa pusing itu. Sambil merebahkan kepala di atas bantal, ia coba memejamkan mata. Tapi lagi-lagi, ia teringat pada Cleantha. Biasanya gadis itu selalu tidur di sampingnya dan menemaninya sepanjang malam.


Dengan gusar, Raja melemparkan bantal yang biasa dipakai Cleantha ke lantai.


"Kenapa aku berlebihan seperti anak remaja yang putus cinta? Clea hanya istri kontrakku. Aku yang terlalu naif sehingga berharap hubunganku dengannya akan berjalan lama. Cleantha sendiri yang menginginkan perpisahan ini. Jika nanti aku membutuhkan istri, maka aku bisa mencari wanita lain. Mereka akan berebut untuk menjadi pendampingku,"


gumam Raja di dalam hati.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2