
Melihat kepergian Cleantha, Raja hanya mematung di tempatnya. Ia sendiri belum bisa menyelami bagaimana perasaannya saat ini.
Cinta tak pernah mau berpihak padanya. Bahkan hanya membawa badai penderitaan yang tak berkesudahan. Memaksanya selalu berdiri di antara dua persimpangan jalan.
Sisi malaikat dalam dirinya mengatakan bahwa ia harus mengejar Cleantha. Memeluknya penuh kasih sayang lalu membawanya kembali ke sisinya. Namun sisi iblisnya melarangnya untuk menerima Cleantha karena ia telah ternoda. Cleantha sudah tidak layak lagi mendampinginya sebagai seorang istri.
"Aku tidak bisa membiarkan hidupku kacau hanya karena persoalan cinta. Sebaiknya aku tetap berdiam disini sampai Cleantha pergi. Aku tidak mau masalah ini semakin rumit. Sekarang aku harus fokus untuk menghadapi Zevira dan mendapatkan hak asuh putriku, Ivyna,"
pikir Raja mengambil keputusan.
Cleantha berjalan ke ruang tengah. Ia melihat Ivyna sudah berhenti menangis, tapi wajahnya masih bermuram durja.
Cleantha mendekati gadis kecil yang tengah dilanda kedukaan itu. Cleantha ingin meringankan sedikit beban di hati Ivyna sebelum dia pergi.
"Ivy, jangan sedih. Ivy pasti bisa bertemu Mommy Vira lagi," ucap Cleantha menangkupkan kedua tangannya di pipi Ivyna.
Ivyna mengerjapkan matanya yang masih basah oleh bekas air mata.
"Mommy Clea, Mommyku pergi karena Daddy lebih sayang Mommy Clea. Tolong buat Daddy sayang lagi pada Mommyku. Aku mau Mommy Vira kembali kesini," rengek Ivyna dengan sorot mata memohon.
Melihat penderitaan anak yang tidak bersalah itu, Cleantha semakin mantap untuk menutup lembaran hidupnya bersama Raja. Ia berharap setelah kepergiannya nanti, Ivyna akan mendapatkan keluarga yang utuh.
Meskipun Zevira telah berbuat banyak kejahatan, namun Cleantha tidak ingin menyimpan dendam. Baginya keceriaan Ivyna lebih penting daripada sekedar perbuatan keliru dari kedua orang tuanya.
"Ivy, mulai seterusnya Mommy Clea akan tinggal di rumah ayahnya Mommy Clea. Mommy Clea tidak akan bertemu Daddy lagi."
"Mommy Clea juga akan pergi?"
"Iya. Ivy tidak perlu khawatir. Berdoa saja supaya Daddy sayang lagi pada Mommy Vira. Dan Ivy harus tetap semangat belajar. Be a good girl for Daddy and Mommy Vira."
"Okey, Mommy Clea. Aku akan berdoa untuk Mommy dan Daddy."
"Bye, Ivy. Semoga kita bisa bertemu lagi," ucap Cleantha memeluk Ivyna.
Sebelum pergi, Cleantha mencari Pak Darma dan Narti yang terbiasa melayaninya. Ia merasa harus berterima kasih sekaligus mengucapkan salam perpisahan pada mereka.
"Pak Darma, Narti, saya pamit. Saya akan kembali ke rumah orang tua saya," ucap Cleantha meredam kepedihannya.
"Tapi Nyonya Anda sedang hamil. Kenapa Nyonya tidak tinggal bersama Tuan Raja?" tanya Pak Darma keheranan.
"Tidak bisa, Pak. Saya bukan lagi istri Tuan Raja. Terima kasih atas semua yang sudah Bapak lakukan untuk saya," kata Cleantha memegang tangan lelaki tua itu.
Narti menangis mendengar salam perpisahan dari Cleantha. Baru saja ia melihat kemesraan antara Raja dan Cleantha, kini tiba-tiba istri muda tuannya itu memutuskan untuk pergi dari rumah.
"Nyonya,...hati-hati, jaga kandungan Anda baik-baik," ucap Narti terisak.
"Iya, Mbak, terima kasih," kata Cleantha memeluk Narti.
Dengan tekad yang kuat, Cleantha melangkah pergi meninggalkan rumah Raja.
__ADS_1
Yang pasti ia tidak ingin menginjakkan kaki lagi di tempat yang hanya menyisakan penderitaan untuknya.
...****************...
"Clea, akhirnya kamu pulang juga. Kamu ini seperti hantu, datang dan pergi sesuka hatimu. Kamu pikir rumah ayahmu ini rumah singgah?" cerocos Ana melihat kedatangan Cleantha.
Seperti biasa, Cleantha memilih diam dan tidak menggubris omelan Ana. Ia berjalan lurus menuju ke kamar, namun Keyla dengan cepat menghadangnya.
"Clea, kita harus bicara," ucap Keyla menarik tangan adiknya.
Ana yang melihat gerak-gerik mencurigakan kedua anak tirinya, segera mengambil inisiatif.
"Aku yakin kedua anak itu menyembunyikan suatu rahasia besar. Aku harus menguping pembicaraan mereka,"
batin Ana ingin menguak rahasia anak tirinya.
Dengan berjingkat, Ana menuju ke kamar Cleantha yang terkunci. Ia menempelkan telinganya di daun pintu agar bisa mendengarkan pembicaraan antara Cleantha dan Keyla.
"Clea, kenapa kamu kembali kesini? Apa Tuan Raja sudah mengusirmu?" tanya Keyla ketus.
"Tuan Raja tidak mengusirku, tapi aku yang memutuskan pergi dari sisi Tuan Raja untuk selama-lamanya. Apa Kakak puas sekarang? Bukankah ini yang Kakak inginkan?" tanya Cleantha dingin.
"Kenapa kamu berkata begitu padaku?"
"Seharusnya Kakak tidak perlu bertanya. Hanya Kakak sendiri yang tahu apa yang Kakak katakan pada Tuan Raja. Tapi aku sudah tidak peduli dengan hal itu," balas Cleantha.
"Kamu sudah berani menyindirku sekarang. Aku cuma ingin memastikan satu hal. Apa benar kamu hamil? Dan berapa usia kehamilanmu?" tanya Keyla mencari tahu.
Keyla berdecih kesal.
"Aku tidak menyangka malapetaka ini akan terjadi."
"Segera gugurkan kandunganmu, Clea! Kalau tidak kamu akan menimbulkan aib bagi keluarga kita. Apalagi saat perutmu sudah membuncit. Ayah, Tante Ana, dan para tetangga akan melihatnya. Mereka akan mengetahui semua kelakuanmu," tandas Keyla.
Cleantha memandang Keyla dengan tatapan dingin dan hampa.
"Aku tidak akan menggugurkan bayiku apapun yang terjadi. Bayiku adalah satu-satunya harta milikku yang paling berharga. Aku akan merawat dan menjaganya sekuat tenaga."
"Apa kamu sudah gila, Clea? Kalau kamu mempertahankan kandunganmu, masa depanmu akan hancur. Tidak akan ada pria yang mau menikahimu lagi. Kamu juga akan menjadi bahan pergunjingan di lingkungan kita maupun di kantor. Mereka akan mengira kamu hamil di luar nikah," cetus Keyla.
"Aku sudah bilang, Kak. Aku tidak peduli," jawab Cleantha bersikeras.
"Lalu bagaimana dengan Ayah? Apa kamu tidak memikirkannya? Ayah akan syok bila melihatmu hamil tanpa suami. Dia bisa terkena serangan stroke untuk kesekian kalinya, bahkan bisa meninggal dunia. Kamu mau menjadi penyebab kematian ayah kita?" tukas Keyla menyudutkan Cleantha.
Wajah Cleantha berubah pucat. Yang diucapkan Keyla memang benar. Jika ayahnya sampai mengetahui kehamilannya dan perceraiannya dengan Raja, pasti ia sangat terpukul. Dan besar kemungkinan hal itu akan memperburuk kondisi kesehatannya.
Selama ini, ia menanggung beban penyesalan karena merasa sebagai penyebab kematian bundanya. Tidak mungkin ia menambah dosanya dengan menjadi penyebab meninggalnya sang ayah.
"Cepat putuskan Cleantha!" desak Keyla.
__ADS_1
Cleantha masih termenung, ketika Ana tiba-tiba menggedor pintu kamarnya dengan keras.
"Buka pintunya, Tante mau bicara!" teriak Ana.
Dengan sebal, Keyla melangkah ke pintu dan memutar kuncinya.
"Apa-apaan sih, Tante? Kenapa teriak-teriak? Tante bisa membangunkan Ayah," sembur Keyla.
"Tante yang seharusnya bertanya padamu, Key. Kenapa kamu menyembunyikan aib adikmu? Untung saja Tante mendengarkan pembicaraan kalian barusan. Tante baru tahu kalau Cleantha hamil."
Ana mencengkeram lengan Cleantha dengan keras sambil melotot.
"Pantas saja kamu sering tidak pulang, Clea. Ternyata kamu hamil. Katakan siapa ayah dari bayimu? Apa kamu menjual diri? Atau kamu berpacaran dengan seorang pria lalu menyerahkan dirimu secara suka rela padanya? Jangan-jangan pria itu Tuan Raja, majikanmu."
Kali ini Cleantha tidak mau tinggal diam. Tuduhan Ana sudah sangat keterlaluan dan ia harus membela diri.
Sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu. Karena itu ia harus mampu menghadapi ketidakadilan yang dialaminya. Ke depannya ia harus semakin tangguh agar bisa melindungi dirinya dan juga buah hatinya.
"Lepas, Tante! Jangan menuduh sembarangan kalau Tante tidak tahu yang sebenarnya. Anak yang kukandung bukan anak haram. Aku sudah menikah secara sah," tegas Cleantha.
Ana terperanjat mendengar pengakuan Cleantha.
"Dengan siapa dan kapan kamu menikah, Cleantha? Kenapa tidak memberitahuku dan ayahmu?"
"Tante, tidak perlu tahu siapa suami Cleantha. Lagipula sekarang ini Cleantha sedang dalam proses perceraian dengan suaminya," sahut Keyla enteng.
Iris mata Ana semakin membesar, tak percaya mendengar kejutan demi kejutan yang diterimanya.
"Menikah lalu bercerai? Kenapa itu bisa terjadi? Kalau adikmu hamil tanpa suami, bagaimana kita bisa menghadapi cibiran orang-orang? Keluarga kita akan terkena getahnya. Mungkin juga kita akan diusir oleh warga. Sedangkan ayahmu, dia bisa meninggal terkena serangan jantung. Aduh...bagaimana ini?" ucap Ana panik sambil memijat pelipisnya sendiri.
Keyla mencebikkan bibirnya.
"Aku juga tidak tahu. Tanyakan saja pada Cleantha, apa solusinya."
Ana memegang Cleantha dan mengguncangkan bahu gadis itu.
"Clea, kamu harus bertanggung-jawab sendiri atas perbuatanmu. Jangan melibatkan kami semua," ujar Ana geram.
Cleantha menghempaskan tangan Ana dari bahunya. Ia balas menatap Ana dengan tajam.
"Tidak usah khawatir, Tante. Aku akan pergi dari rumah ini sebelum perutku membesar. Aku hanya akan tinggal disini malam ini saja. Besok aku akan bekerja lalu mencari tempat tinggal. Sekarang tolong Tante dan Kak Keyla keluar dari kamarku, aku mau istirahat."
Keyla dan Ana sama-sama tercengang melihat perubahan drastis pada diri Cleantha.
"Apa aku perlu mengulangnya? Tolong tinggalkan aku sendiri," tegas Cleantha dengan nada meninggi.
Sambil beranjak dari kamar Cleantha, Ana berbisik pada Keyla.
"Key, apa pikiran Cleantha sedang terganggu karena kehamilannya? Tante takut melihat sorot matanya," ucap Ana bergidik ngeri.
__ADS_1
BERSAMBUNG