
Tinggalkan jejak like, komen, dan votenya. Happy Reading.
"Akhirnya kalian berdua pulang juga," kata Ana membukakan pintu untuk kedua anak tirinya.
Ana memperhatikan raut wajah Cleantha yang pucat dan kuyu. Gadis itu juga masih memakai baju yang sama dengan yang dikenakannya kemarin.
Walaupun umurnya mencapai setengah abad, Ana masih memiliki daya ingat yang kuat. Tak heran bila ia menghafal baju, parfum, bahkan benda-benda yang dimiliki anak tirinya.
"Clea, kamu tidak ganti baju dari kemarin? Apa yang terjadi padamu? Kenapa wajahmu kusut sekali seperti orang yang baru terkena musibah," tanya Ana berusaha mengorek keterangan dari Cleantha.
"Tante, Clea sedang sakit. Jangan mengganggunya. Biarkan Clea istirahat," tegas Keyla menarik tangan adiknya ke dalam kamar.
"Key, Tante tidak bermaksud mengganggu. Seharusnya kamu berterima kasih karena Tante mau memperhatikan Clea," seru Ana jengkel.
Keyla membawa adiknya masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.
"Clea, kalau Tante Ana bertanya padamu tidak usah dijawab. Jangan sampai dia tahu semalam kamu tidur bersama Pak Alvian. Dan yang paling penting jangan keceplosan mengenai pernikahanmu dengan Tuan Raja. Mengerti?"
"Iya, Kak, aku mengerti."
"Sekarang cepat mandi dan ganti baju. Setelah itu langsung tidur. Besok kamu harus punya tenaga lebih untuk menghadapi perceraianmu dengan Tuan Raja. Persiapkan dirimu baik-baik," tandas Keyla lantas bergerak pergi.
Cleantha mengangguk dengan patuhnya.
Kendatipun dari luar ia tidak membantah perintah kakaknya, namun di dalam dadanya sedang bergemuruh hebat. Tak henti-hentinya ia mengalami pergolakan batin antara rasa bersalah, cinta, penyesalan, dan keinginan berpisah yang saling bertentangan.
Pernikahannya dengan Raja suatu hari memang harus berakhir, tapi ternyata jauh lebih cepat dari perkiraannya. Benih cinta yang baru saja tersemai di hatinya akan layu dan mati sebelum berkembang. Yah, semuanya akan selesai esok hari.
"Tuan Raja, maafkan saya tidak bisa membalas kebaikan Anda. Saya akan mencoba hidup tanpa Anda. Melupakan semua kenangan yang pernah kita lalui bersama. Kembalilah pada istri dan anak Anda. Jadilah keluarga yang utuh dan bahagia tanpa adanya gangguan dari saya,"
gumam Cleantha menyematkan harapannya.
...****************...
Cleantha menelan obatnya lalu meminum segelas air putih. Hari ini ia sengaja memakai kemeja berwarna merah cerah agar tampak segar. Memakai lipstik dan perona mata yang lebih tebal untuk menyamarkan gurat kepiluannya. Kemudian mengikat rambut panjangnya menjadi ekor kuda.
Tidak lama lagi, ia akan melakukan hal yang besar. Karena itu ia harus menjadi pribadi yang tangguh, tidak boleh cengeng. Tak ada lagi air mata yang boleh tertumpah keluar.
Sembari menatap refleksi dirinya di cermin, Cleantha melatih senyum terbaiknya.
Perjuangannya kali ini tidak akan mudah, tapi ia akan pantang menyerah. Dia memilih untuk bekerja daripada menangisi keadaannya di rumah.
"Cekrek."
Terdengar suara pintu terbuka dari luar.
Keyla masuk dengan tergesa-gesa sambil membawa tas kerjanya.
Sorot matanya penuh tanda tanya ketika menatap penampilan Cleantha yang tampak lebih berani.
__ADS_1
"Clea, kamu mau masuk kerja? Apa badanmu sudah kuat? Dokter menyarankan kamu untuk istirahat."
"Aku akan bekerja seperti biasa, Kak. Sesudah jam kantor selesai, aku akan kembali ke rumah Tuan Raja."
"Baiklah, aku akan memesan taksi sekarang."
Cleantha mengikuti Keyla keluar dari kamar. Entah mengapa cahaya matahari seakan redup pagi ini. Nampak malu-malu mengintip bumi di balik cakrawala.
Sambil menghirup udara pagi dalam-dalam, Cleantha masuk ke dalam taksi. Ini akan menjadi awal yang baru untuk mengubah arah hidupnya di masa depan.
...****************...
Ketika Cleantha menampakkan diri di kantor, Pak Setyo langsung memanggilnya.
"Silakan duduk, Clea. Kemarin Keyla mengatakan kamu izin tidak masuk karena sakit. Apa sekarang kamu sudah merasa sehat?"
"Sudah, Pak. Saya juga membawa surat keterangan dari dokter," kata Cleantha menyerahkan selembar surat kepada manajernya.
Pak Setyo membacanya sebentar lalu melipat kertas itu.
"Saya mengerti kesehatanmu agak terganggu akhir-akhir ini. Tapi saya minta tolong, mulai sekarang perhatikanlah dirimu dan kesehatanmu. Kamu karyawan baru disini dan masih dalam masa percobaan. Jika sering tidak masuk akan menimbulkan kesan yang kurang baik. Nurma juga dua minggu lagi akan dimutasi. Masih banyak yang harus kamu pelajari."
Pak Setyo mengelus rambutnya yang klimis sambil memberikan wejangan.
"Mungkin Pak Alvian dan saya tidak keberatan. Tapi berbeda dengan teman-teman satu divisimu yang lain. Saya tidak ingin timbul kecemburuan di antara anak buah saya. Apalagi sampai muncul desas desus yang meresahkan dan mengganggu kebersamaan kita sebagai team. Kamu pasti memahami apa yang saya maksudkan," ucap Pak Setyo menekankan suaranya.
"Iya, Pak, saya mengerti. Saya akan berusaha menjaga kesehatan agar tidak absen lagi," ucap Cleantha berjanji.
Cleantha keluar dari ruangan Pak Setyo dengan perasaan tidak menentu. Secara halus, Pak Setyo telah memberinya peringatan. Karenanya mulai detik ini juga ia harus memprioritaskan pekerjaan daripada mengurusi persoalan cintanya yang rumit.
...****************...
Melihat mobil Raja datang, para pelayan tergesa-gesa menyambutnya. Mereka membawakan koper dan barang bawaan majikan mereka ke dalam rumah.
Raja masuk lebih dulu bersama Ivyna diikuti oleh Zevira di belakang.
"Selamat datang, Tuan, Nyonya," sambut Pak Darma kepada Raja.
"Pak Darma, dimana Cleantha?" tanya Raja sambil melangkah menuju kamarnya.
"Nyonya belum kembali ke rumah, Tuan. Setelah Tuan berangkat, tidak lama Nyonya pergi ke rumah keluarganya sampai sekarang."
Raja melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul lima kurang dua puluh menit. Cleantha pasti masih ada di kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Aku akan mandi. Tolong siapkan makan malam," kata Raja sebelum masuk ke kamarnya.
Setelah Raja pergi, Zevira menyuruh Ningsih membawa Ivyna ke kamar.
"Ningsih, mandikan Ivyna lalu bawa makan malamnya ke kamar. Jangan sampai dia keluar dari kamar. Bila perlu suruh dia lekas tidur," ucap Zevira memelankan suaranya.
__ADS_1
"Baik, Nyonya."
Ningsih menggandeng tangan Ivyna dan mengajaknya naik ke lantai dua.
"Sebentar lagi akan berlangsung drama yang menghebohkan di rumah ini. Ivyna tidak boleh mendengarnya,"
batin Zevira sambil menggerakkan kursi rodanya.
Berada di kamar tanpa Cleantha, membuat Raja merasa sendirian. Sejujurnya, ia ingin menghubungi istrinya itu, namun ia tidak mau bersikap terlalu berlebihan. Toh, tidak kurang dari dua jam lagi mereka akan bertemu.
Raja memilih menelpon Dion untuk menanyakan masalah pekerjaannya di kantor.
"Selamat sore, Tuan. Anda sudah tiba di rumah?" sapa Dion dari balik telpon.
"Sudah, Dion. Apa ada masalah selama aku pergi?"
"Tidak ada, Tuan. Hanya saja penandatanganan kesepakatan kita dengan investor baru, Tuan Chang, tertunda dan diundur ke hari Senin depan."
"Kenapa? Bukankah aku sudah meminta Alvian mewakili aku?"
"Itu karena Tuan Alvian kemarin tidak masuk kerja. Makanya pertemuan tersebut diundur," jelas Dion.
"Apa Alvian sakit?" tanya Raja mencari tahu.
"Saya kurang tahu alasannya, Tuan. Saya dengar kemarin Nona Cleantha juga tidak masuk. Dan karena mereka berdua tidak masuk bersamaan telah menyebabkan..." ucap Dion menghentikan kata-katanya.
Raja mengerutkan alisnya.
"Menyebabkan apa? Apa sebenarnya yang mau kamu sampaikan?"
"Maafkan saya, Tuan. Lebih baik saya melaporkannya pada Tuan besok Senin saat di kantor," jawab Dion merasa waktunya belum tepat untuk melapor kepada Raja.
"Aku ingin mendengar laporan darimu sekarang. Aku tidak suka penundaan," tegas Raja.
Suara Dion terdengar ragu-ragu.
"Tuan, beberapa hari terakhir ini tersebar gosip di kantor. Bahkan para manajer sudah mengetahuinya. Gosip ini tentang Tuan Alvian dan Nona Cleantha."
"Gosip apa maksudmu?"
"Tuan Alvian dan Nona Cleantha dikabarkan berpacaran. Beberapa karyawan melihat mereka sering pulang bersama. Dan gosip ini makin berkembang karena kemarin mereka tidak masuk kantor secara bersamaan. Untuk hari ini mereka bekerja seperti biasa," terang Dion merasa was-was jika Raja akan marah.
Raja mencengkeram ponselnya dengan telapak tangan.
"Kenapa gosip murahan seperti ini bisa menyebar di kantor? Cleantha sudah mengatakan padaku kalau beberapa hari lalu Alvian mengantarnya pulang. Tapi dia tidak mengabariku soal kenapa dia tidak masuk kerja. Aku akan menanyakan langsung pada Cleantha dan Alvian nanti."
"Baik, Tuan."
Raja menutup telponnya dengan kesal. Saat masuk kantor nanti, ia harus meluruskan desas desus yang menyimpang ini. Sudah waktunya ia harus mengakui Cleantha sebagai istrinya di hadapan publik, agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berlarut-larut.
__ADS_1
**BERSAMBUNG
Nantikan episode serunya nanti malam, stay tune**