
Setelah memuntahkan makan siangnya, Cleantha merasa perutnya mulai lega.
Ia keluar dari toilet lalu mencuci wajah serta tangannya di wastafel.
"Kondisiku sudah membaik, aku akan kembali ke ruang meeting,"
batin Cleantha.
Ia berjalan keluar dari lorong toilet. Namun di tengah jalan, ia berpapasan dengan Alvian.
"Pak, kenapa ada disini?" tanya Cleantha terkejut.
"Apa kamu barusan muntah?" tanya Alvian mengamati wajah Cleantha.
"Iya, tapi saya masih bisa melanjutkan meeting. Saya akan kembali sekarang. Bapak tidak perlu khawatir, saya tidak akan melalaikan pekerjaan," ucap Cleantha.
"Tidak ada meeting lagi untuk hari ini karena aku membatalkannya. Sekarang ikut ke ruanganku, aku ingin bertanya sesuatu yang penting padamu."
Ucapan Alvian tersebut mengejutkan Cleantha.
"Maaf, Pak, jika meeting dibatalkan, saya akan kembali ke ruang finance. Masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan," bantah Cleantha.
"Ini perintahku sebagai atasanmu. Ayo ikut aku," kata Alvian menarik tangan Cleantha.
Alvian membawa Cleantha masuk ke dalam lift dan menekan tombol angka sembilan.
Alvian baru melepaskan tangannya saat mereka sudah tiba di ruang direktur.
"Apa mau Bapak sebenarnya?" tanya Cleantha tidak mengerti.
"Duduklah. Jangan berpikir aku akan berbuat macam-macam padamu. Sebagai atasanmu, aku hanya ingin memastikan apakah kamu hamil atau tidak?" tanya Alvian duduk di kursinya.
"Saya hamil atau tidak, apa pentingnya untuk Bapak?" ucap Cleantha balas bertanya.
"Tentu saja penting. Jika kamu hamil maka kondisimu akan melemah. Contohnya saja seperti tadi, kamu tiba-tiba mual saat meeting. Kamu tidak akan kuat bekerja seharian dengan banyaknya pekerjaan yang harus kamu lakukan ," jelas Alvian.
"Saya memang sedang hamil. Tapi saya masih kuat bekerja. Saya mual hanya sesekali saja," sangkal Cleantha.
Alvian menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Clea, kamu sudah rujuk dengan Kak Raja. Untuk apa lagi memaksakan diri bekerja di masa kehamilanmu. Kakakku seorang CEO, dia bisa memenuhi semua kebutuhanmu. Lebih baik kamu beristirahat saja di rumah. Aku akan bicara pada kakakku agar melarangmu bekerja lagi. Dia pasti tidak mau jika istrinya yang sedang hamil kelelahan."
Ekspresi Cleantha berubah dingin. Ia merasa harus memberitahu Alvian bahwa tebakannya tentang Raja sangat keliru.
"Maaf, Pak Alvian, tapi saya tidak rujuk dengan Tuan Raja. Kami sudah sepakat untuk berpisah. Jadi saya harus bekerja untuk diri saya dan calon anak saya," ucap Cleantha datar.
"Kamu tidak jadi rujuk dengan Kak Raja? Tapi kenapa?" tanya Alvian terperanjat.
"Itu karena Tuan Raja tidak mau mengakui bayi dalam kandungan saya sebagai anaknya. Dia mengira saya telah melakukan perbuatan terlarang dengan Bapak di malam penjebakan itu. Tuan Raja menganggap saya sebagai istri yang telah ternoda. Apa penjelasan saya sudah cukup bagi Bapak? Kalau sudah saya mohon diri kembali ke ruang finance," ujar Cleantha berdiri dari kursinya.
Alvian melihat kilatan kekecewaan di mata Cleantha. Betapapun gadis itu berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik topeng ketegaran. Terlebih ia harus menjalani kehamilan seorang diri.
Alvian juga terkejut melihat perubahan sikap Cleantha yang ketus dan dingin. Mungkinkah penderitaan telah mengubah kepribadiannya yang semula lembut dan polos menjadi setegar batu karang.
"Clea, maafkan aku. Aku tidak menyangka keadaannya jadi runyam seperti ini. Aku kira kamu sudah berbahagia bersama Kak Raja. Tapi jangan khawatir. Aku akan menemui Kak Raja untuk menjelaskan semuanya. Dia pasti mengerti dan menerimamu kembali sebagai istrinya," kata Alvian meyakinkan Cleantha.
Cleantha memandang Alvian dengan penuh kehampaan.
"Bapak tidak perlu minta maaf. Dan yang paling penting, saya melarang Bapak untuk memberi penjelasan kepada Tuan Raja. Itu tidak ada gunanya. Tuan Raja tidak mencintai saya dan tidak percaya dengan kata-kata saya."
"Seandainya dia menerima saya karena ucapan Bapak, suatu hari nanti dia bisa mencampakkan saya lagi karena ucapan orang lain. Saya harap Bapak bisa mengerti. Saya mohon diri, Pak," kata Cleantha melangkah pergi.
"Walaupun Cleantha melarangku, aku tetap harus bicara dengan Kak Raja. Dia tidak boleh membiarkan istrinya terlantar dalam keadaan hamil. Entah siapa lagi yang memfitnah aku dan Cleantha, sehingga kesalahpahaman ini terus berlanjut,"
pikir Alvian mengepalkan tangannya.
...****************...
Dion terkejut dengan kedatangan Alvian yang tiba-tiba ke ruangan Raja.
"Dion, apa kakakku ada di dalam?" tanya Alvian terlihat tidak sabar.
"Iya, Tuan Alvian. Tapi, tiga puluh menit lagi Tuan Raja ada janji meeting di luar bersama Mr. Zhang," jelas Dion.
"Tidak masalah. Aku akan bicara dengannya sekarang," kata Alvian membuka pintu ruangan Raja.
Di dalam, Raja sedang menandatangani beberapa dokumen.
Alisnya terangkat ke atas, ketika melihat Alvian masuk ke ruangannya tanpa permisi.
__ADS_1
"Selamat sore, Kak. Maaf aku datang tiba-tiba. Aku perlu meluruskan kesalahpahaman mengenai Cleantha," kata Alvian duduk di hadapan Raja.
"Aku tidak berminat membahas urusan pribadi di jam kantor," jawab Raja kembali memusatkan perhatian pada dokumen yang dipegangnya.
"Kak, aku tidak mengerti kenapa Kakak batal rujuk dengan Cleantha. Apalagi dia sedang hamil. Apa Kakak tidak kasihan melihatnya menderita seorang diri? Anak yang di dalam kandungannya adalah anakmu. Aku tidak menyentuh Cleantha sama sekali. Aku kira Kakak sudah memahami hal ini, kenapa sekarang mengungkitnya lagi?" terang Alvian berusaha memberi penjelasan.
"Oh, jadi kamu sudah tahu kalau Cleantha hamil. Apa Cleantha mengadu padamu? Aku tidak heran karena kalian memang akrab satu sama lain," sindir Raja.
"Cleantha muntah sewaktu meeting, karena itu semua orang menebak dia sedang hamil. Dia menjadi bahan pergunjingan para staf. Cleantha disangka hamil di luar nikah. Kakak harus menyelamatkan reputasinya dan mengumumkan bahwa dia adalah istri Kakak."
Raja meletakkan penanya dengan keras di atas meja. Wajahnya mengetat saat mendengar ucapan Alvian.
"Sejak kapan kamu berani mengaturku, Al? Kamu sudah tidur dengan istriku, tapi sekarang kamu malah bersikap kurang ajar. Kamu belum pernah berumah tangga. Kamu tidak memahami bagaimana sakitnya perasaan seorang suami jika istrinya disentuh pria lain. Dan aku sudah mengalami pengkhianatan itu dua kali."
"Kak, aku tertidur pulas malam itu. Berapa kali aku harus mengulangnya. Aku tidak menyentuh istrimu," ulang Alvian mulai tersulut emosi.
"Aku punya tiga orang saksi. Vira, Fendi, dan Keyla. Fendi sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu. Mungkin kamu tidak mau mengakuinya di hadapanku, tapi aku tidak peduli soal itu. Dan mengenai Cleantha, aku akan mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya untuk mencukupi kebutuhannya. Jadi dia tidak perlu bekerja lagi. Sekarang keluarlah dari ruanganku. Aku tidak punya waktu untuk mendengarkanmu," kata Raja dingin.
"Kakak lebih percaya pada tiga orang munafik itu daripada aku dan Cleantha? Selama ini aku sangat mengagumi Kakak sebagai pria yang cerdas, bijaksana, dan berwibawa. Tapi aku tidak menyangka Kakak jadi selemah ini ketika menghadapi persoalan cinta."
Alvian berdiri dari kursinya dengan rasa kecewa yang mendalam.
"Aku memang belum pernah berumah tangga. Tapi setidaknya aku mengerti bahwa wanita membutuhkan perhatian dari suaminya, bukan hanya uangnya. Cleantha sedang rapuh dan membutuhkan perlindungan seorang suami, tapi Kakak tega mengabaikannya. Dimana hati nuranimu, Kak? Bukankah Cleantha itu wanita yang kau cintai?"
"Cukup, Al! Tidak usah mengajariku tentang cinta. Kamu tidak tahu apa-apa mengenai hubunganku dan Cleantha. Cepat pergi dari ruanganku!" titah Raja.
"Baiklah, Kak. Aku akan pergi. Tapi jangan menyesal jika nanti aku yang akan menggantikan posisimu untuk melindungi Cleantha."
Raja membelalakkan matanya mendengar ancaman dari Alvian.
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah berusaha berkali-kali untuk menyatukanmu dengan Cleantha. Tapi Kakak sendiri yang menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku akan memberi Kakak satu kesempatan lagi. Jika dalam tiga hari ke depan, Kakak tetap melanjutkan proses perceraian, maka aku akan bertindak," tegas Alvian.
"Dan perlu Kakak tahu, aku berbeda denganmu. Sekali aku memutuskan untuk mencintai seorang wanita, aku tidak akan melepaskannya lagi," sambung Alvian sambil melangkah pergi meninggalkan Raja.
**Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak comment, like dan votenya ya**.
__ADS_1