
Alvian melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi di tengah derasnya air hujan.
"Pakailah tissue untuk mengeringkan rambutmu," kata Alvian menatap lurus ke depan.
Cleantha merasa tidak enak hati karena merepotkan Alvian untuk kesekian kalinya. Apalagi baju Alvian jadi basah terkena air hujan, gara-gara menariknya masuk ke dalam mobil.
"Kenapa kamu tidak naik taksi online atau menelpon supir Kak Raja untuk menjemputmu?" tanya Alvian.
"Ponsel saya mati, Pak. Saya juga lupa membawa charger," jawab Cleantha jujur.
Alvian hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela nafas. Percuma saja ia menasehati gadis ini panjang lebar. Toh, Cleantha tidak pernah bosan mengulangi perbuatan teledornya.
"Mulai besok mintalah supir Kak Raja untuk mengantar dan menjemputmu ke kantor. Atau aku juga yang harus menelpon untukmu?"
"Jangan, Pak. Biar saya saja," kata Cleantha mencegah Alvian.
"Nanti setelah pulang ke rumah, cepat nyalakan ponsel. Kak Raja pasti akan menghubungimu. Kalau ponselmu mati, mungkin aku yang akan terkena getahnya," sindir Alvian kesal.
"Iya, Pak."
Sebenarnya Cleantha merasa inilah kesempatan terbaik untuk bicara pada Alvian. Sekedar meminta bantuannya untuk mengklarifikasi gosip yang beredar. Namun melihat suasana hati Alvian yang buruk, Cleantha tidak berani angkat bicara.
Lidahnya terasa kelu. Apalagi jika harus mengatakan bahwa orang-orang menganggapnya sebagai pacar Alvian. Kalimat itu sungguh tidak pantas diucapkan.
"Kamu akan pulang kemana? Ke rumahmu atau rumah Kak Raja?" tanya Alvian.
"Ke rumah saya, Pak."
Tanpa bicara lagi, Alvian terus melaju hingga akhirnya sampai di rumah Cleantha.
"Aku tidak membawa payung di dalam mobil. Kalau kamu turun pasti akan basah kuyup."
Alvian mengambil ponselnya dan menyerahkan kepada Cleantha.
"Hubungi salah satu anggota keluargamu supaya membawakan payung untuk menjemputmu."
Dengan ragu-ragu, Cleantha menerima ponsel Alvian. Ia terpaksa menelpon Ana, karena Keyla pasti belum pulang ke rumah.
"Halo, siapa ini?" tanya Ana melihat nomor yang belum dikenalnya.
"Tante, ini aku, Clea. Aku ada di depan rumah. Bisa Tante bawakan payung untukku? Di luar hujan deras," kata Cleantha.
"Iya, tunggu sebentar."
Sambil mendesah, Ana membawa dua buah payung besar. Satu untuknya dan satu untuk Cleantha.
Ana membuka pintu dan melihat sebuah mobil sport merah terparkir di pekarangan rumah. Ia ingat bahwa mobil itu sama dengan mobil yang dulu pernah mengantar Cleantha.
"Itu pasti Tuan Raja. Tapi kata Cleantha dia sedang berlibur ke luar negri,"
gumam Ana dalam hati.
Kemalasannya mendadak berubah menjadi semangat yang menyala-nyala. Siapa tahu di kemudian hari dia bisa mendapat keuntungan dari bos Cleantha itu.
"Ini payungnya," ucap Ana menyodorkan payung berwarna abu-abu ke tangan Cleantha.
"Terima kasih, Tante."
Cleantha membuka payung itu lalu keluar dari mobil Alvian.
"Terima kasih, Pak, sudah mengantar saya."
Ana ikut-ikutan membungkukkan badannya sambil tersenyum kepada Alvian.
__ADS_1
"Tuan, saya senang bisa bertemu dengan Anda lagi. Terima kasih sudah mengantarkan Cleantha pulang," kata Ana mencari muka.
"Sama-sama Tante. Saya pamit pulang," kata Alvian menutup jendela mobilnya.
Setelah mobil Alvian berlalu, Ana bergegas mencegat Cleantha.
"Clea, kenapa kamu bohong? Katamu Tuan Raja pergi ke luar negri. Nyatanya dia ada disini dan mengantarmu pulang."
"Itu bukan Tuan Raja tapi Pak Alvian, atasanku di kantor, Tante. Dia adiknya Tuan Raja," jelas Cleantha.
Mata Ana langsung dipenuhi binar kebahagiaan.
"Oh, Tuan Raja punya adik. Apa adiknya itu masih lajang?"
"Iya, Tante," jawab Cleantha sambil melipat payungnya.
"Ah, bagus sekali. Sepertinya dia sangat perhatian padamu. Kamu harus dekat-dekat terus dengan Tuan Alvian. Buat dia jatuh cinta sampai dia menikahimu. Kalau kamu jadi istrinya, kondisi keuangan keluarga kita akan membaik," bujuk Ana pada Cleantha.
Cleantha enggan menanggapi Ana. Ia sangat hafal tujuan Ana yang hanya berfokus pada uang dan kekayaan.
"Tante, aku mau mandi dulu," ucap Cleantha meninggalkan Ana.
"Dasar anak ini! Aku menasehatinya supaya mendapatkan suami kaya raya, tapi dia tidak mau mendengarkan aku,"
gerutu Ana merasa diabaikan.
...****************...
Selesai mandi, Cleantha buru-buru mengambil chargernya. Ia menunggu sekitar sepuluh menit lalu menyalakan ponselnya.
Benar saja sudah ada panggilan tak terjawab dari Raja. Tak berselang lama, suaminya itu kembali menelpon dengan menggunakan panggilan video call.
Cleantha merasa bahagia saat melihat wajah tampan Raja di layar ponselnya.
"Maaf, Tuan, baterai ponsel saya habis. Saya baru pulang dari kantor dan mengisi dayanya sekarang."
"Jam berapa disana? Kenapa kamu baru pulang?"
"Jam delapan, Tuan. Tadi sepulang kantor hujan deras, jadi saya menunggu sebentar. Untung ada Pak Alvian yang menolong saya. Saya diantar pulang sampai ke rumah."
Raja mengerutkan alisnya.
"Kamu diantar pulang Alvian? Kenapa tidak menyuruh Pak Ahmad yang mengantarmu pulang?"
"Iya, Tuan, itu salah saya. Lain kali saya akan minta tolong pada Pak Ahmad," jawab Cleantha tertunduk.
Melihat Cleantha terlihat takut padanya, Raja segera menenangkan istrinya itu.
"Sudahlah aku tidak marah padamu. Aku menelponmu untuk menunjukkan kamar hotelku."
Raja mengarahkan kamera ponselnya ke sekeliling kamar. Ia menunjukkan tempat tidur besar dan berbagai furniture bernuansa negeri sakura. Anehnya di kamar itu tidak ada tanda-tanda keberadaan Zevira.
"Apa Tuan Raja tidur sendirian? Dia tidak bersama istri pertamanya?"
batin Cleantha.
Entah mengapa fakta bahwa Raja tidur seorang diri membuat Cleantha begitu lega.
"Clea, kamu suka kamar hotelku?" tanya Raja.
"I...iya, bagus sekali, Tuan," jawab Cleantha tergagap.
"Kalau kamu suka, tahun depan aku akan mengajakmu kesini, berdua saja."
__ADS_1
Janji yang diucapkan Raja membuat Cleantha terkesiap.
Tahun depan perjanjian pernikahan mereka sudah berakhir. Mana mungkin ia bisa pergi bersama Raja untuk berlibur. Apa mungkin Raja telah melupakan hal itu?
Meski bimbang, Cleantha memilih diam. Tidak membantah ucapan Raja.
"Clea, kemungkinan lusa aku tidak bisa menghubungimu. Aku pergi ke daerah pegunungan yang bersalju bersama Ivyna. Aku akan menelponmu lagi saat aku kembali ke Tokyo," tutur Raja.
"Iya, Tuan. Nikmatilah liburan Anda bersama Ivyna."
"Istirahatlah dan jangan memikirkan apa-apa. Beberapa hari lagi kita akan bertemu."
Raja mengucapkan selamat malam pada istrinya lalu mengakhiri panggilan video call tersebut.
"Tuan, seandainya saya masih bisa menjadi istri Anda tahun depan, saya pasti bahagia sekali,"
gumam Cleantha sambil merebahkan dirinya di tempat tidur.
...****************...
Alvian sangat sibuk sepanjang hari. Dia harus menggantikan Raja mengikuti beberapa meeting maraton dengan investor dan lembaga pengawas keuangan. Bahkan ia hampir melewatkan jam makan siang.
Sambil menghempaskan diri di kursi, Alvian meneguk sebotol air mineral untuk memulihkan konsentrasinya.
"Drrrrtttt, drrrrttt,..."
Terdengar getaran ponselnya beberapa kali.
Alvian memicingkan matanya ketika melihat nama Fendi.
"Fendi? Kenapa dia menelponku,"
pikir Alvian terkejut.
Meski ia membenci kelakuan Fendi, bagaimanapun Fendi tetaplah saudara sepupunya. Tidak ada salahnya ia mengangkat telpon dari Fendi sebentar saja.
"Halo, Fendi, ada keperluan apa menelponku?" tanya Alvian dengan nada ketus.
"Al, apa kabar? Aku menelponmu karena ingin menanyakan keadaanmu. Kamu sudah lama pulang dari London, tapi tidak pernah mengabariku. Bukankah dulu kita bersahabat?" ucap Fendi berbasa basi.
"Kita dulu memang dekat, tapi sekarang tidak lagi. Semenjak kamu mengkhianati kakakku, aku sudah tidak menganggapmu sebagai sahabat," balas Alvian berterus terang.
Fendi mengecilkan suaranya dan membuatnya terdengar penuh penyesalan.
"Justru itu, Al. Aku ingin sekali memperbaiki kesalahanku pada Raja. Aku benar-benar menyesal dan malu pada diriku sendiri karena telah merusak pernikahan kakakmu. Waktu itu aku khilaf, tapi sekarang aku sudah sadar."
"Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Alvian curiga.
"Aku ingin berdiskusi dan meminta bantuanmu, bagaimana caranya agar Raja bersedia memaafkan aku. Selama ini kamulah yang paling memahami Raja. Kamu pasti bisa menjadi penengah dan mediator yang baik."
"Kamu yakin akan minta maaf pada Kak Raja?"
"Iya, Al. Kita semua anggota keluarga Adhiyaksa. Kita bersaudara. Tidak baik jika bermusuhan terus menerus. Karena itu tolonglah aku, Al. Buat aku berdamai dengan Raja."
Mendengar permohonan Fendi yang terdengar tulus, Alvian pun setuju.
"Baiklah, aku akan membantu semampuku."
"Terima kasih, Al. Kalau begitu besok sepulang kantor temui aku di bar hotel La Vierra. Kebetulan aku ada meeting bersama klienku disana. Sekalian saja kita bertemu dan mengobrol tentang masalah ini."
"Oke, aku akan kesana sekitar jam tujuh," kata Alvian menyanggupi.
BERSAMBUNG
__ADS_1