Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 95 Tuduhan Beruntun


__ADS_3

Daripada berdiam diri tanpa melakukan kegiatan, Cleantha memutuskan untuk membuat makan siangnya sendiri. Terlebih ia sedang merindukan masakan rumah yang sederhana seperti sup ayam.


Beruntung ada Bu Nur yang membantunya membelanjakan bahan makanan. Jadi ia bisa segera mewujudkan keinginannya itu.


Karena hidungnya sensitif terhadap bau-bauan, Cleantha tidak menyentuh bagian bumbu dapur. Ia lebih suka memotong sayuran lalu merebusnya.


"Non, pinter masak ya. Biasanya gadis zaman sekarang paling malas disuruh ke dapur," ucap Bu Nur mengagumi gerakan handal tangan Cleantha.


"Saya memang hobi memasak, Bu," jawab Cleantha sembari tersenyum.


"Kalau begitu Non sudah siap jadi istrinya Tuan Alvian," ucap Bu Nur menjurus ke arah pernikahan.


Cleantha tahu benar apa yang dimaksudkan Bu Nur. Wanita itu pasti berpikir bahwa dirinya dan Alvian menjalani hubungan tanpa status. Wajar saja bila sebagai orang yang lebih tua ia mencoba memberikan nasehat.


"Non, ada yang mengetuk pintu," kata Bu Nur mengelap tangannya yang basah.


"Biar saya saja yang membuka pintunya, Bi," jawab Cleantha.


Tanpa curiga siapa yang datang bertamu, Cleantha bergegas membukakan pintu.


Wajah Cleantha berubah pucat ketika melihat wanita berpenampilan ningrat yang berdiri di hadapannya. Meskipun baru berjumpa satu kali, sosok wanita itu sangat melekat di ingatan Cleantha.


Yah, kecantikan khasnya yang tidak lekang oleh usia sulit untuk dilupakan begitu saja. Siapa lagi selain Marina Adhiyaksa, ibu tiri Raja sekaligus ibu kandung Alvian.


Bulu kuduk Cleantha meremang saat tatapan sedingin es dari netra wanita itu menghujam ke arahnya. Seolah ingin menelannya hidup-hidup lalu mengoyaknya menjadi serpihan yang tidak terlihat.


"Nyonya Marina, silakan masuk," sapa Cleantha tergagap.


Ny. Marina mengangkat dagunya ke atas. Sudut bibirnya miring ke kanan, menunjukkan ekspresi tidak suka sekaligus meremehkan.


"Kamu tidak perlu mempersilakan aku masuk, karena apartemen ini milik putraku. Kamu hanya menumpang disini tapi berlagak seperti pemilik apartemen," jawab Ny. Marina melangkahkan kakinya ke ruang tamu.


Dengan cara duduknya yang mirip seorang ratu, ia menegakkan tubuhnya di atas sofa.


Ny. Marina meletakkan tas mahalnya lalu melemparkan pandangan menghakimi.


Cleantha duduk berhadapan dengan Ny. Marina dalam keadaan gundah. Intuisinya mengatakan bahwa wanita ini akan segera meluapkan kemarahannya. Dan ini semua pasti ada kaitannya dengan Alvian.


"Terus terang, aku tidak suka berbasa basi, Cleantha. Aku tahu wanita seperti apa kamu ini. Kamu bisa menghalalkan segala cara demi mendapatkan pria kaya. Dulu kamu pernah berhasil menaklukkan Raja dan merebut posisi Zevira. Tapi entah apa alasanmu hingga akhirnya kamu bercerai dari Raja. Yang jelas sekarang kamu berubah haluan dan mengejar putra kandungku. Tapi aku tidak akan membiarkan Alvian jatuh ke tanganmu," tukas Ny. Marina.


Tanpa menunggu pembelaan dari Cleantha, Nyonya Marina merogoh tasnya.


Ia mengeluarkan kertas berbentuk persegi panjang dengan sebuah logo bank.


Sebagai staf keuangan, Cleantha sangat mengenali kertas tersebut. Itu adalah lembaran cek, dimana hampir setiap hari ia menerima dan menyimpannya di brankas kantor.

__ADS_1


Tak lama berselang, Ny. Marina mengeluarkan pena berwarna hitam. Jemarinya nampak bersiap menulis sesuatu di atas lembaran cek itu.


"Cek ini masih dalam keadaan kosong. Katakan berapa yang kamu inginkan? Aku akan berbaik hati memberikannya padamu, asalkan kamu meninggalkan Alvian dan angkat kaki dari apartemen ini," tandas Ny. Marina.


Bibir Cleantha bergetar hebat. Tak disangka ibu kandung Alvian itu menganggapnya sebagai wanita yang menjual harga diri demi uang.


"Maaf, Nyonya, tapi saya tidak menginginkan uang dari Anda. Saya merasa cukup dengan pekerjaan yang saya punya," jawab Cleantha menolak.


Dengan kasar, Ny. Marina meletakkan pena yang dipegangngnya ke atas meja.


"Oh, begitu. Kamu tidak mau menerima uangku, tapi kamu membidik target yang lebih besar, yaitu harta warisan putraku. Cerdik sekali kamu, Cleantha. Usiamu masih muda tapi pikiranmu sangat licik. Kamu tidak berhasil mendapatkan kekayaan Raja lalu beralih menjerat Alvian dengan tubuhmu. Memangnya Raja tidak memberikan sepeserpun hartanya untukmu saat kalian bercerai?" tanya Ny. Marina melemparkan tuduhan.


"Nyonya, Anda sudah salah sangka. Saya tidak pernah mengincar harta Pak Alvian maupun Tuan Raja. Saya berpisah dari Tuan Raja karena itu yang terbaik untuk kami berdua. Dan saya tidak pernah menjerat siapapun dengan tubuh saya," bantah Cleantha.


Ny. Marina bertepuk tangan saat mendengar penjelasan Cleantha.


"Tidak kusangka kamu juga pintar bermain drama, Cleantha. Pantas saja putraku yang belum berpengalaman itu mudah sekali terjebak oleh kata-katamu. Sayang sekali kamu tidak bisa membodohi aku. Mana mungkin ada gadis muda yang mau menikahi pria beristri jika bukan karena mengejar hartanya."


"Kalau aku menanyakan apa alasanmu bersama Alvian, aku yakin kamu akan mengatakan karena cinta. Iya, kan? Anggap saja itu benar bahwa kalian saling mencintai. Tapi apa kamu tidak merasa malu?" tanya Nyonya Marina melancarkan aksinya untuk menjatuhkan mental Cleantha.


"Pertama kamu seorang janda, sudah pernah menikah sebagai istri kedua lalu diceraikan. Sedangkan Alvian masih lajang. Yang kedua kamu miskin, tidak punya apa-apa. Status sosialmu berbeda jauh dengan Alvian yang merupakan pewaris Adhiyaksa Group. Coba bayangkan semua perbedaan itu, Cleantha."


Sambil menyilangkan kedua kakinya, Ny. Marina menatap Cleantha.


"Barangkali sekarang ini Alvian sedang dibutakan cinta, tapi perasaannya tidak mungkin bertahan lama. Putraku itu tampan dan bergelimang harta, akan ada banyak gadis yang mengejarnya. Cepat atau lambat, Alvian akan bosan padamu lalu meninggalkanmu seperti barang yang sudah usang. Apa itu tidak terlalu menyedihkan bagimu? Dibuang oleh Raja lalu dicampakkan lagi oleh Alvian?"


Sambil menahan air matanya yang akan tertumpah, Cleantha berusaha membela diri.


"Nyonya, maafkan saya. Saya memang tidak pantas untuk Pak Alvian. Tapi Anda tidak berhak menghina dan menuduh saya, karena Anda tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."


"Bagus, kalau kamu sadar," sahut Ny. Marina


Wanita itu menuliskan angka pada cek yang dipegangnya lalu berdiri dengan angkuh.


"Terima ini! Sekarang juga tinggalkan Alvian dan pergi dari apartemen ini!" ucap Ny. Marina melemparkan cek itu kepada Cleantha.


Ny. Marina hendak melangkah pergi, tapi Cleantha berlari menyusulnya.


Cleantha memegang lengan wanita itu untuk mengembalikan cek yang diberikannya.


"Tunggu, Nyonya, saya berjanji akan pergi dari kehidupan Pak Alvian. Tapi saya tidak bisa menerima ini," pinta Cleantha.


Melihat kelakuan Cleantha, Ny. Marina semakin geram. Ia merasa Cleantha adalah gadis munafik yang berpura-pura tidak membutuhkan uang demi menarik simpatinya.


Karena merasa muak, Ny. Marina mendorong tubuh Cleantha agar menjauh darinya.

__ADS_1


Dalam posisi yang tidak siap, Cleantha jatuh terduduk di lantai. Detik berikutnya, ia merasakan nyeri di bagian perutnya.


Cleantha meringis kesakitan sambil berdesis.


"Non, kenapa?" tanya Bu Nur buru-buru menghampiri Cleantha.


"Bu, perut saya sakit sekali. Saya takut terjadi sesuatu pada bayi saya," ucap Cleantha terisak.


Bu Nur membantu Cleantha berdiri lalu membawanya ke sofa.


"Duduk dulu, Non. Saya akan menelpon Tuan Alvian supaya membawa Non ke rumah sakit," ucap Bu Nur panik.


Mendengar ucapan dan rintihan kesakitan Cleantha, Ny. Marina terkesiap. Rasanya bagai terjatuh dari puncak ketinggian, ketika ia mengetahui kenyataan bahwa Cleantha tengah mengandung.


"Cleantha, apa kamu hamil?" tanya Ny. Marina membelalakkan matanya.


"Iya, Nyonya. Non Cleantha sedang hamil muda. Kasihan dia, jangan dimarahi lagi. Saya permisi, mau telpon Tuan Alvian," sahut Bu Nur menengahi.


"Tunggu, biar aku yang menelpon Alvian. Aku harus memastikan anak siapa yang ada dalam kandungan Cleantha," tegas Ny. Marina.


...****************...


Raja dan Alvian duduk di ruang meeting bersama para manajer dan kepala cabang. Hari ini mereka akan mengadakan persiapan penting menjelang rapat dewan direksi besok.


Ketika sedang mendengarkan laporan dari divisi business development, ponsel Alvian tiba-tiba bergetar.


Alvian melirik ponselnya dan terkejut melihat nama mamanya muncul di layar panggilan.


"Kak, maaf aku keluar sebentar," ucap Alvian meminta izin pada Raja.


Dari ekspresi gelisah di raut wajah adiknya, Raja merasa ada yang tidak beres. Ia tergerak untuk mengikuti Alvian keluar dari ruang meeting.


"Halo, Ma, ada apa?" tanya Alvian.


"Mama sekarang ada di apartemenmu. Mama baru tahu kalau Cleantha sedang hamil. Tadi Mama bertengkar dengannya dan dia tiba-tiba meringis kesakitan. Cepat kesini, Mama butuh penjelasan darimu."


Mata Alvian terbelalak lebar.


"Apa Mama berbuat kasar pada Cleantha? Bagaimana kalau dia sampai mengalami keguguran, Ma?.Aku akan pulang sekarang juga," tegas Alvian menutup telponnya.


Mendengar Alvian menyebut tentang keguguran, Raja terperanjat. Ia mencengkeram tangan Alvian dan menahan kepergian adiknya itu.


"Ada apa dengan Cleantha dan anakku, Al? Apa terjadi sesuatu yang buruk pada mereka?"


"Kalau Kakak ingin tahu, ayo ikut aku," jawab Alvian melepaskan tangan Raja.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2