
Sambil menunggu Alvian di kasir, Cleantha berpamitan pada Pak Setyo dan teman-temannya.
"Pak, maaf saya harus pulang lebih dulu."
"Oh ya, silakan Cleantha," jawab Pak Setyo sembari meneguk minumannya.
Bagian atas bibirnya berkeringat, begitu pula dengan dahinya. Nampaknya Pak Setyo kepedasan karena melahap terlalu banyak sambal.
Cleantha menyalami temannya satu per satu, lalu terakhir berpamitan pada Keyla.
Melihat adiknya akan pergi, Keyla menarik tangan Cleantha.
"Aku mau bicara sebentar," ucap Keyla membawa Cleantha menjauh dari meja teman-temannya.
"Kemana Pak Alvian akan mengajakmu berkencan?"
"Cuma mengantarku pulang ke rumah Tuan Raja, Kak," ungkap Cleantha jujur.
"Kamu harus berhati-hati. Jangan mau diajak kencan ke tempat yang berbahaya, seperti hotel atau apartemen. Pria kaya mudah sekali bosan pada wanita. Mungkin sekarang Pak Alvian kelihatan suka padamu. Tapi bisa saja setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, kamu akan dicampakkan begitu saja."
"Jangan khawatir, Kak. Itu tidak akan terjadi," balas Cleantha.
Terus terang ia tidak habis pikir mengapa Keyla terlalu berlebihan menyikapi hubungannya dengan Alvian. Namun Cleantha merasa senang karena kakaknya itu kini memperhatikan dirinya. Berbeda dengan Keyla yang dulu bersikap masa bodoh padanya.
"Kak, Pak Alvian sudah selesai. Aku harus pulang, sampai jumpa besok," ucap Cleantha bergegas menghampiri Alvian. Semakin lama ia menunda kepulangannya, sudah pasti Raja akan semakin marah.
"Pak Setyo, saya ada urusan mendadak. Saya harus pulang lebih dulu. Silakan lanjutkan makan malamnya," kata Alvian sebelum pergi.
"Silakan, Pak. Terima kasih sudah mentraktir kami semua," jawab Pak Setyo mengucapkan rasa terima kasihnya.
Alvian bergegas keluar dari restoran, diikuti oleh Cleantha di belakangnya.
Sementara staf yang lain saling menyenggol lengan ketika menyaksikan Alvian pergi berdua dengan Cleantha.
"Ayo, lanjutkan makan, jangan bergosip terus. Kalian ini karyawan Adhiyaksa Multifinance, bukan wartawan infotainment," ujar Pak Setyo mengetahui anak buahnya berkasak kusuk.
"Mbak Keyla, boleh tanya sesuatu?" tanya Galih mencodongkan tubuhnya.
"Tanya apa?" jawab Keyla acuh tak acuh.
"Bagaimana perasaan Mbak Keyla melihat adiknya berpacaran dengan bos kita? Apalagi mereka lengket kayak perangko. Minta izin pulang duluan dari sini supaya bisa berdua-duaan," kata Galih sambil cengar-cengir.
"Aku tidak merasakan apapun. Lagipula itu urusan mereka berdua, tidak ada hubungannya denganku," balas Keyla sebal.
"Sabar, Mbak. Jangan marah-marah, saya kan cuma tanya," kata Galih mencebikkan bibirnya.
Dalam hati, Keyla merasa kesal menerima kenyataan ini.
Cleantha baru menjadi karyawan di kantornya dalam hitungan hari. Namun adiknya itu malah lebih populer daripada dirinya. Seumpama tidak ada Cleantha, barangkali Alvian akan melirik dirinya untuk dijadikan kekasih.
...****************...
"Lain kali cek ponselmu. Paling tidak jangan matikan getarannya," tegur Alvian.
"Maaf, Pak, saya hanya ingin pekerjaan saya tidak terganggu," jelas Cleantha membela diri.
"Tapi kamu sudah bersuami. Jangan mengabaikan suamimu, apalagi tidak mempedulikan telponnya. Dan sebelum menghadiri suatu acara, sebaiknya minta izin dulu pada Kak Raja," kata Alvian memperingatkan Cleantha.
__ADS_1
"Kenapa Pak Alvian memarahi aku? Aku hanya dibayar untuk menjadi istri sementara kakaknya, bukan istri sungguhan. Mungkin dia kesal karena merasa direpotkan olehku,"
gerutu Cleantha.
"Maafkan saya, Pak. Saya tidak akan mengulanginya," jawab Cleantha menundukkan kepala.
"Tidak ada gunanya minta maaf padaku. Sampaikan saja maafmu pada Kak Raja."
Mereka tidak saling bicara lagi, hingga tiba di depan gerbang megah yang mengelilingi kediaman Raja.
"Aku hanya mengantarmu sampai disini. Cepat temui Kak Raja."
"Pak, tunggu sebentar. Saya akan mengambilkan jaket Bapak," cegah Cleantha mengingat ia belum mengembalikan jaket yang dipinjamkan Alvian.
"Simpan saja dulu. Aku akan mengambilnya besok saat aku berkunjung kesini."
Alvian segera menutup jendela mobilnya lalu berbalik arah menuju jalan raya.
Selepas kepergian Alvian, Cleantha dirundung kecemasan. Perutnya mendadak terasa mulas. Terbayang bagaimana Raja telah menunggunya di rumah dengan raut wajah yang menakutkan.
Security yang menjaga gerbang langsung membukakan pintu untuk Cleantha.
"Nyonya, Tuan Raja meminta Anda segera ke kamar," kata Pak Darma menyambut Cleantha di pintu masuk.
"Iya, Pak."
Melihat Cleantha tergesa-gesa, Zevira mencoba menghalangi langkah gadis itu.
"Clea, kamu baru pulang? Boleh kita mengobrol sebentar?"
"Maaf, Kak, aku sedang terburu-buru," kata Cleantha meninggalkan Zevira.
"Sekarang dia sudah berani mengabaikan aku. Lihat saja nanti sampai kapan kamu akan bertahan disini, Cleantha,"
gumam Zevira merasa tersinggung.
Dengan ragu-ragu, Cleantha menyentuh handle pintu. Maju mundur, antara ingin membuka dan ingin melarikan diri saja. Namun tiba-tiba seseorang membuka pintu untuknya dari dalam.
"Tu..an," ucap Cleantha tergagap.
Melihat tatapan Raja yang sedingin bongkahan salju, Cleantha bergidik ngeri. Entah apa lagi yang akan dilakukan pria itu padanya. Yang pasti, ia akan berusaha keras untuk meminta maaf.
"Masuk," titah Raja melihat istrinya itu mematung di ambang pintu.
Walaupun takut, Cleantha melangkahkan kakinya ke dalam kamar.
"Kenapa tidak mengangkat panggilanku?" tanya Raja menuntut penjelasan.
"Sa...ya sedang banyak pekerjaan, Tuan. Saya tidak sempat memeriksa ponsel saya."
"Apa pekerjaanmu lebih penting dariku? Aku yang memberimu pekerjaan itu dan aku juga bisa mengambilnya kapan saja," ancam Raja tidak terima dengan penjelasan Cleantha.
Tadinya Cleantha bermaksud melawan Raja, tapi karena pria itu mengancamnya dengan pekerjaan, Cleantha tidak dapat berkutik. Pekerjaan merupakan hal terpenting yang harus dipertahankannya saat ini. Besar kemungkinan Raja telah mengetahui titik kelemahannya ini.
"Dan kesalahan terbesarmu adalah kamu mengikuti acara di luar kantor tanpa sepengetahuanku. Bila aku tidak menelpon Alvian, sampai sekarang aku tidak tahu kamu ada dimana," sambung Raja geram.
Dengan wajah memelas, Cleantha pun meminta maaf.
__ADS_1
"Saya minta maaf, Tuan. Tolong jangan pecat saya dari kantor Tuan. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Saya akan minta izin kepada Tuan bila ingin melakukan kegiatan di luar jam kerja," ucap Cleantha sungguh-sungguh.
Mendengar permohonan Cleantha, Raja mulai melunak.
"Aku sengaja pulang lebih awal dari kantor supaya bisa bicara denganmu. Ada hal penting yang mau aku tanyakan."
"Soal apa, Tuan?" tanya Cleantha penasaran.
"Besok aku akan berangkat ke Jepang untuk liburan bersama Ivyna. Aku pergi cukup lama, sekitar satu minggu. Apa kamu mau ikut denganku?"
Cleantha terkejut mendengar pertanyaan Raja. Ternyata Raja menghubunginya karena ingin mengajaknya pergi berlibur. Sayangnya ia tidak mungkin mengatakan 'iya', mengingat ia memiliki banyak tanggung jawab di kantor yang tidak bisa ditinggalkan.
"Maaf, Tuan saya tidak bisa menemani Anda. Saya tidak mungkin meninggalkan pekerjaan saya selama itu. Apalagi saya memegang kunci ruang brankas."
"Aku bisa menyuruh Dion mengaturnya jika kamu mau."
"Jangan, Tuan. Saya karyawan baru. Saya tidak ingin diperlakukan secara istimewa karena itu akan menimbulkan kecemburuan staf yang lain."
"Zevira juga ikut berlibur bersamaku. Apa kamu tidak cemburu kalau aku meninggalkanmu sendirian disini?" tanya Raja tiba-tiba merengkuh Cleantha ke dalam dekapannya.
Tindakan Raja membuat perasaan Cleantha berkecamuk. Ditambah lagi Raja melemparkan pertanyaan yang sulit untuk dijawabnya.
Seharusnya ia merasa senang karena akan terbebas dari Raja untuk sementara waktu. Namun entah mengapa ada sekelumit perasaan sedih di hatinya. Terlebih Raja akan pergi bersama istri pertamanya. Tentu akan ada banyak peluang bagi mereka untuk bermesraan selama masa liburan itu.
"Saya tidak apa-apa, Tuan," jawab Cleantha gugup.
"Apa benar begitu? Jadi kamu tidak akan merindukan aku?" tanya Raja menatap langsung ke mata Cleantha.
Cleantha tidak berani menjawab. Ia hanya memiringkan kepalanya ke kanan untuk menghindari tatapan Raja.
"Tidak masalah kalau kamu tidak mau menjawab pertanyaanku. Aku tidak akan memaksamu untuk ikut denganku."
"Tapi sebelum kita berpisah, aku akan meminta sesuatu darimu. Apalagi hari ini kamu sudah melakukan kesalahan besar. Sekarang sebagai gantinya kamu harus menebus kesalahanmu itu," sambung Raja sarat makna.
Yang terjadi saat ini sungguh di luar perkiraan Cleantha. Raja hanya marah untuk sesaat. Sekarang malah terjalin keintiman di antara mereka berdua.
"A..apa yang harus saya lakukan untuk menebus kesalahan saya, Tuan?"
Raja mengelus lembut pipi Cleantha lalu mendekat ke telinganya.
"Berikanlah kenangan yang indah padaku malam ini. Layanilah aku dengan tulus, seperti seorang istri yang mencintai suaminya."
Bisikan Raja yang menggoda itu, membangkitkan gejolak tak biasa dalam diri Cleantha. Rasanya ia tidak sanggup menolak keinginan suaminya kali ini.
"Mulai sekarang aku hanya akan melakukannya jika mendapat persetujuan darimu. Aku menunggu jawabanmu, Clea. Katakanlah iya padaku," sambung Raja sambil menyapukan bibirnya di bawah telinga Cleantha.
Godaan mematikan dari Raja membuat Cleantha tidak berdaya. Perlahan Cleantha menganggukkan kepalanya.
"I..iya, Tuan. Tapi...saya mau mandi dulu," kata Cleantha dengan suara serak.
"Baiklah, jangan lama-lama. Aku tidak mau kamu berubah pikiran."
Dengan enggan, Raja melepaskan pelukannya. Ia melihat Cleantha berjalan ke kamar mandi dengan langkah kikuk.
Raja tersenyum sendiri. Ia merasa bahagia karena berhasil merayu istrinya yang polos itu untuk memenuhi keinginannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan lewatkan episode selanjutnya nanti malam 🥰