
Meski sudah berangkat lebih awal, ojek yang dinaiki Cleantha terjebak kemacetan. Akhirnya ia baru tiba di kantor pukul setengah delapan pagi.
"Mbak Cleantha sudah masuk," seru Galih ketika melihat Cleantha memasuki ruangan.
"Clea, kamu sudah sehat?" tanya Keyla menghampiri adiknya.
"Sudah, Kak."
"Kebetulan hari ini ada acara di divisi kita. Kamu bisa ikut, kan?"
"Acara apa, Kak?" tanya Cleantha penasaran.
"Pak Alvian akan mentraktir kita semua makan malam bersama sepulang kantor. Sepertinya dia ingin lebih akrab dengan semua stafnya. Kamu harus ikut serta, kalau tidak Pak Setyo akan marah."
"Iya Kak, aku akan ikut," jawab Cleantha sambil duduk di samping Nurma.
"Oke, selamat bekerja. Aku juga harus menyelesaikan tutup buku hari ini," kata Keyla berjalan meninggalkan Cleantha.
"Kamu sakit apa kemarin, Clea?" tanya Nurma sambil menyalakan komputernya.
"Cuma masuk angin, Mbak. Maaf ya, pekerjaan Mbak Nurma jadi menumpuk karena aku absen kemarin," ucap Cleantha merasa bersalah.
"Aku sudah biasa melakukan banyak pekerjaan sekaligus. Sekarang kamu ambil saja cash box di ruang brankas. Lalu aku akan mengajarimu cara melakukan pembayaran lewat internet banking."
"Iya, Mbak," jawab Cleantha lekas berdiri dari kursinya.
Ketika Cleantha berjalan menuju ruang brankas, ia berpapasan dengan Pak Setyo.
"Selamat pagi Pak," sapa Cleantha kepada atasannya itu.
"Cleantha, kamu sudah masuk kerja?" tanya Pak Setyo terkejut.
"Iya, Pak."
"Hari ini kita ada acara makan malam bersama. Apa kamu bisa ikut?"
"Bisa, Pak," jawab Cleantha menyanggupi.
Bagi Cleantha lebih baik berkumpul bersama teman-teman sekantornya daripada berkutat semalaman dengan Raja.
"Bagus, saya senang kalau kita semua bisa berkumpul."
"Saya permisi ke ruang brankas dulu, Pak."
"Silakan," jawab Pak Setyo berjalan berlawanan arah dengan Cleantha.
...****************...
Sepanjang hari itu Cleantha disibukkan oleh pekerjaan, hingga tak terasa waktu bergulir dengan cepat.
Menjelang jam makan siang, Cleantha baru bisa rehat sejenak dari aktivitas padatnya.
"Clea, Tante Ana menelponku. Jangan-jangan terjadi sesuatu pada Ayah," kata Keyla sambil meletakkan nampan makanannya.
"Ada apa, Tante?"
"Key, apa kamu sedang bersama Cleantha di kantor?" tanya Ana mencari tahu.
"Iya, kenapa Tante?"
"Tanyakan padanya apa benar bosnya yang bernama Tuan Raja mengirimkan perawat ke rumah kita."
"Perawat?"
"Iya. Ada seorang perawat dari rumah sakit datang. Dia bilang akan merawat ayahmu untuk seterusnya. Lalu Tante tanya siapa yang menyuruhnya dan membayar gajinya. Dia mengatakan Tuan Raja Adhiyaksa."
__ADS_1
Cleantha tidak dapat mendengar dengan jelas perkataan ibu tirinya. Namun melihat Keyla mengerutkan kedua alisnya, Cleantha dirundung kecemasan.
"Kak, Ayah kenapa?"
"Tidak ada hubungannya dengan Ayah. Tante Ana menelpon karena seorang perawat tiba-tiba mendatangi rumah kita. Perawat itu mengatakan bahwa Tuan Raja yang mengirimnya."
"Uhuukkk, uuhuuukkk."
Cleantha tersedak minumannya saat mendengar nama Raja disebut-sebut oleh Keyla.
"Clea, kamu tidak apa-apa?"
"Tidak, Kak," ucap Cleantha sembari mengusap dada dan lehernya sendiri.
Ia menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan rasa gatal dalam tenggorokannya.
"Key, bagaimana? Cleantha sudah memberikan jawaban? Tante tidak berani membiarkan orang asing masuk begitu saja ke dalam rumah kita. Siapa tahu perawat ini seorang penipu," celoteh Ana.
"Sabar, Tante. Cleantha sedang tersedak."
Keyla kembali memusatkan perhatian pada adiknya.
"Tante Ana menunggu jawabanmu, Clea. Benarkah Tuan Raja yang mengutus perawat itu untuk menjaga Ayah?"
Bingung, itulah yang dirasakan Cleantha.
Sejujurnya dia tidak tahu harus memberikan jawaban apa atas pertanyaan Keyla dan ibu tirinya. Pasalnya, Raja tidak memberitahukan soal ini kepadanya.
Namun secara intuisi, ia cukup yakin bila perawat itu memang suruhan Raja.
Entah apa yang terjadi hingga Raja mendadak begitu perhatian pada ayahnya. Biasanya pria itu tidak mau ambil pusing dengan segala masalahnya. Bertanya tentang keluarganya pun tidak pernah.
Sebenarnya Cleantha ingin bertanya langsung pada Raja. Menghubungi suaminya itu lewat telpon untuk memastikan kebenaran praduganya. Namun hal itu batal dilakukannya karena takut akan memancing kecurigaan Keyla.
"Iya, Kak. Tuan Raja yang menyuruh perawat itu ke rumah kita."
"Tante, terima saja perawat itu. Dia datang atas perintah Tuan Raja."
"Ya sudah. Tante senang mulai sekarang ada yang meringankan penderitaan Tante. Ternyata Tuan Raja lebih peka dan lebih pengertian daripada Cleantha. Jangan lupa ingatkan Cleantha untuk mengucapkan terima kasih pada bosnya itu."
"Iya, Tante," desis Keyla malas mendengar ocehan Ana yang tak ada habisnya.
"Aku tutup dulu telponnya Tante. Aku mau makan."
Keyla menutup ponselnya lalu meletakkannya di atas meja.
Sambil memajukan bahunya ke depan, Keyla melayangkan tatapan menghujam pada adiknya.
"Cleantha, aku semakin bingung dengan kebaikan Tuan Raja yang terkesan berlebihan padamu."
"Apa maksud Kakak?" tanya Cleantha pura-pura bodoh.
"Kamu hanyalah pengasuh anaknya. Tapi Tuan Raja memberimu pekerjaan di kantornya. Lalu sekarang dia malah mengirimkan perawat untuk Ayah. Bukankah itu berlebihan sekali? Tidak ada majikan yang begitu perhatian pada pegawainya, kecuali dia..."
Keyla menekan nada suaranya sehingga terdengar menyeramkan.
"Kecuali dia memiliki perasaan khusus padamu. Jangan-jangan Tuan Raja menyukaimu, Cleantha," ucap Keyla mantap.
Sendoknya sampai berdenting keras, beradu dengan piring yang berisi makan siangnya.
Cleantha menelan salivanya sendiri. Entah darimana kakaknya bisa menarik kesimpulan seperti itu.
"Tidak mungkin, Kak. Tuan Raja sudah memiliki istri yang sangat cantik. Mustahil dia suka padaku," kilah Cleantha.
"Siapa bilang pria beristri tidak akan tertarik pada wanita lain? Apalagi pada gadis yang masih muda sepertimu. Coba saja kamu menonton serial drama Asia atau membaca novel-novel yang sedang trend. Semua ceritanya tentang perselingkuhan. Suami memiliki kekasih gelap lalu menceraikan istri sahnya. Atau suaminya terang-terangan menikah lagi, memiliki istri lebih dari satu. Pria zaman sekarang tidak lagi peduli dengan status pernikahannya."
__ADS_1
Keyla menyeruput tehnya lalu memberikan wejangan moral pada adiknya.
"Hati-hati, Clea! Jangan memberi kesempatan pada Tuan Raja untuk mendekatimu. Kamu masih muda, aku khawatir kamu mudah termakan oleh bujuk rayu lelaki. Aku ingatkan padamu, jangan sampai bermain api dengan suami orang. Walaupun keluarga kita miskin, kita masih punya harga diri," tegas Keyla.
"I..iya, Kak," jawab Cleantha tertunduk.
Ucapan Keyla bagai tamparan keras di wajah Cleantha. Andaikata kakaknya tahu bahwa ia telah menjadi istri kedua Raja, mungkin dia tidak akan diakui lagi sebagai adik. Sudah pasti perbuatannya itu dianggap tercela dan mempermalukan nama baik keluarga.
Peringatan dari Keyla semakin memperkuat tekad Cleantha untuk menjauh dari kehidupan Raja secepatnya.
...****************...
"Ayo kita berangkat sekarang," seru Pak Setyo sambil bertepuk tangan. Ia tidak sabar mengingatkan anak buahnya agar segera berangkat ke restoran yang telah dipesan Alvian.
"Siapa yang mau ikut mobil saya?" tanya Pak Setyo.
"Saya Pak, saya," jawab para staf berebutan.
"Mobil saya hanya muat enam orang. Yang lain naik motor saja atau naik ojek."
Melihat rekan kerjanya berlomba ingin naik mobil Pak Setyo, Cleantha memilih diam. Dia sadar sebagai staf junior tentu harus mengalah pada seniornya.
Keyla termasuk karyawan yang beruntung karena bisa menumpang di mobil Pak Setyo. Sedangkan Nurma tidak ikut pada acara makan malam tersebut.
"Clea, kamu mau berangkat ke restoran naik apa?" tanya Keyla melihat adiknya termenung sendirian.
"Aku akan memesan ojek online, Kak."
Galih tiba-tiba maju ke depan dan menawarkan bantuannya pada Cleantha.
"Mbak Cleantha, nebeng motor saya aja daripada naik ojek. Gimana mau nggak? Dijamin aman kalau sama saya," ujar Galih meyakinkan Cleantha.
"Iya, Clea, lebih baik kamu berangkat dengan Galih," sahut Keyla mendukung usulan Galih.
Cleantha pun setuju untuk berangkat bersama teman kerjanya itu.
"Oke Mas Galih."
"Sip deh, ayo kita ke parkiran," kata Galih bersemangat.
Mereka turun bersamaan ke tempat parkir untuk menuju ke kendaraan masing-masing.
Setibanya di basement, mereka berpapasan dengan Alvian.
"Selamat sore Pak Alvian. Kami akan berangkat sekarang ke restoran Green Leaves," ucap Pak Setyo menyapa direkturnya.
"Silakan, Pak Setyo. Saya juga akan berangkat," jawab Alvian sambil menekan remote mobilnya.
Alvian memandang sebentar ke arah para staf finance yang sedang menaiki kendaraan mereka. Tanpa sengaja, mata Alvian tertuju pada Cleantha. Kakak iparnya itu tengah berjalan beriringan dengan salah satu staf pria.
Tak berselang lama, staf pria itu menyerahkan helm ke tangan Cleantha. Sementara Cleantha nampak bersiap-siap menaiki motor milik sang pria.
"Kalau Kak Raja melihat Cleantha berboncengan motor dengan pria lain, dia pasti akan marah. Aku harus mengambil tindakan."
Tanpa pikir panjang, Alvian berjalan cepat menuju ke motor Galih. Ia menarik tangan Cleantha sebelum gadis itu sempat naik ke atas motor.
"Pak Alvian?" ucap Cleantha terkejut melihat Alvian memegang tangannya.
"Ikut ke mobilku. Kamu akan berangkat ke restoran bersamaku," kata Alvian menarik Cleantha ke mobilnya.
Sontak Galih, Pak Setyo, dan para staf yang lain tercengang melihat sikap Alvian. Mulut mereka sampai menganga seolah melihat sebuah pertunjukan spektakuler.
Terlebih lagi yang dirasakan Keyla. Dengan terheran-heran, ia menyaksikan direkturnya yang rupawan itu menggandeng erat tangan adiknya.
"Ada apa ini? Pertama Tuan Raja yang tertarik pada Cleantha. Sekarang adiknya, Pak Alvian terang-terangan mengajak Cleantha naik mobilnya. Adikku itu benar-benar beruntung dikejar dua orang pria tampan dan kaya sekaligus,"
__ADS_1
gumam Keyla merasa iri.
BERSAMBUNG