Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 61 Perasaan yang Keliru


__ADS_3

Sambil menunggu pesawatnya, Fendi mengirimkan foto-foto Alvian dan Cleantha kepada Zevira.


Selang beberapa menit, kekasihnya itu langsung menghubunginya.


"Bagaimana, Sayang? Apa kamu puas dengan hasil pekerjaanku?" tanya Fendi dengan suara bangga.


"Foto-foto ini cukup bagus. Kapan kamu mengambilnya? Apakah sebelum Alvian meniduri Cleantha atau sesudahnya?" tanya Zevira penuh selidik.


"Ehmmm...sebelumnya, Sayang. Alvian mabuk jadi dia tertidur sebentar. Dan aku menggunakan kesempatan itu untuk memotret mereka. Setelah itu, aku cepat-cepat keluar dari kamar karena takut obat perangsangnya sudah bekerja," ucap Fendi berbohong.


Fendi takut jika Zevira mengetahui fakta yang sebenarnya, maka dia akan mengamuk.


"Kamu pintar sekali, Sayang. Dimana kamu bersembunyi sekarang?" tanya Zevira mengecilkan suaranya.


"Aku masih di bandara. Setengah jam lagi pesawatku berangkat ke Singapura. Raja dan Alvian tidak akan bisa menemukanku. Kapan kamu akan menyusulku, Sayang?"


"Tenang saja, besok aku sudah kembali ke Jakarta sekitar jam empat sore. Aku akan menunggu sampai Cleantha diceraikan Raja. Sesudah itu, aku akan pura-pura menjalani terapi di Singapura supaya bisa menemuimu."


"Idemu brilian sekali, Sayang. Lalu kapan aku harus mengirimkan foto-foto ini kepada Raja? Aku sudah membeli beberapa nomor baru yang siap digunakan," tanya Fendi.


"Kamu bisa mengirimnya besok malam sekitar pukul tujuh waktu Jakarta. Saat Cleantha pulang dari kantor, Raja pasti akan melepas rindu pada istri mudanya itu. Tepat saat mereka bermesraan, semuanya akan kacau karena foto-foto itu. Drama menyedihkan akan berlangsung dan aku tinggal menontonnya saja."


"Tapi bagaimana kalau Alvian dan Cleantha mengadukan perbuatanku pada Raja?" tanya Fendi cemas.


"Biarkan saja mereka mengadu, toh itu tidak akan ada gunanya. Alvian dan Cleantha sudah terlanjur tidur bersama. Artinya Cleantha sudah dijamah oleh lelaki lain. Raja tidak akan terima jika apa yang menjadi miliknya disentuh orang lain, apalagi adiknya sendiri. Harga dirinya sebagai pria sudah terinjak-injak dan sikapnya pada Cleantha akan berubah. Karenanya cepat atau lambat, Raja akan membuang Cleantha."


"Semoga saja begitu. Sayang, aku tutup dulu telponnya. Aku akan menghubungimu lagi saat aku tiba di Singapura."


"Okey, be careful, Honey," ucap Zevira menutup telponnya sambil tersenyum puas.


...****************...


Ana tak berhenti membuntuti Keyla begitu gadis itu pulang ke rumah.


"Key, kenapa kamu tidak menjawab dengan jujur pertanyaan Tante? Semalam Tante sampai tidak bisa tidur karena memikirkan kalian berdua. Kamu dan Cleantha itu gadis perawan, tapi kalian menghilang dan tidak pulang ke rumah. Tante sempat berpikir kalian diculik atau dilecehkan oleh pria," cerocos Ana terus menerus.


Keyla berdesah kesal.


"Tante, sudah kubilang aku dan Clea menginap di rumah Tuan Raja. Kenapa Tante masih tidak percaya. Sudahlah, aku harus berangkat kerja sekarang. Aku sudah terlambat hampir 2 jam," tukas Keyla seraya berjalan ke depan rumah.


"Hey, tunggu, Key. Lalu dimana Cleantha sekarang?" seru Ana.


Keyla tidak menghiraukan teriakan ibu tirinya. Ia lebih memilih menaiki ojek motor yang telah menunggunya sejak tadi.


"Anak zaman sekarang memang susah diatur. Ditanya baik-baik malah pergi seenaknya. Sama sekali tidak menghargai orangtua. Aku curiga kedua anak itu berbuat sesuatu yang tidak benar,"


kecam Ana di dalam hati.


Sementara di kantor, kedatangan Keyla membuat heboh teman-teman kerjanya.


"Key, aku kira kamu tidak masuk?" tanya Irna.


"Aku sudah izin terlambat pada Pak Setyo. Kepalaku tadi pusing," jawab Keyla sembari menghempaskan diri di kursi.


"Kalau Mbak Clea kenapa tidak masuk kerja? Apa dia sakit juga?" sambung Galih mencari tahu.


"Iya, Clea tidak enak badan," jawab Keyla singkat.


Suara decit pintu ruang finance membuat mereka berhenti bicara.


Pak Setyo berjalan lurus ke dalam ruangan dengan raut wajah cemberut. Ia menghampiri Galih dan menyerahkan setumpuk dokumen.

__ADS_1


"Galih, besok saja lapor SPTnya, Pak Alvian tidak masuk hari ini. Tidak ada yang bisa dimintai tanda tangan," ujar Pak Setyo menghela nafas.


Mendengar kabar dari Pak Setyo, para staf finance bak mendapat update gosip terbaru. Mereka saling mengerlingkan mata satu sama lain.


Setelah Pak Setyo pergi ke ruangannya, mereka mengungkapkan isi pikiran masing-masing.


"Cleantha tidak masuk, Pak Alvian juga. Mereka tidak masuk kantor bersamaan. Wah, jangan-jangan ini pertanda..." celetuk Anya.


"Pertanda apa, Mbak?" tanya Galih sok polos.


"Tanya saja sama Keyla, mungkin dia tahu," sahut Irna.


Wajah Keyla memerah karena malu. Ia menggeser kursinya dengan kasar lalu pergi menuju ke pantry.


"Kenapa ya Mbak Keyla ngambek begitu? Harusnya dia kan senang adiknya berpacaran dengan bos kita. Pak Alvian itu ganteng dan tajir melintir. Kurang apa lagi coba?" tanya Galih meminta pendapat Irna.


Irna mengangkat bahunya.


"Entahlah. Mungkin ada alasan tertentu yang disembunyikan Keyla dari kita," jawab Irna.


Di pantry, Keyla membuat kopi untuk menenangkan diri.


Sekarang saja ia sudah menjadi bahan olok-olokan teman kantornya. Apalagi jika mereka sampai tahu bahwa Cleantha adalah istri muda CEO Adhiyaksa Group. Mungkin ia tidak akan punya muka lagi untuk menampakkan diri di kantor.


Dalam hati Keyla bersumpah akan memaksa adiknya itu untuk bercerai dari Raja bagaimanapun caranya.


...****************...


Alvian menggendong Cleantha hingga sampai di lobi. Dengan dibantu salah seorang pegawai hotel dan security, ia berhasil membawa Cleantha masuk ke dalam mobilnya.


Dengan hati-hati, ia mengenakan safety belt pada Cleantha lalu duduk di kursi kemudi.


"Terima kasih, Pak," ucap Alvian sebelum melaju pergi.


"Cleantha masih belum sadar dari pingsannya. Apa aku harus menelpon Kak Raja? Tapi ini hari terakhir Kak Raja di Jepang, aku tidak ingin merusak liburannya. Akan kucoba mengurus Cleantha semampuku."


Alvian menaikkan kecepatan mobilnya hingga tiba di rumah sakit terdekat.


Ia memanggil perawat agar membantunya membawa Cleantha ke UGD.


Selang infus pun dipasangkan ke tangan Cleantha. Sementara dokter yang bertugas segera memerika Cleantha dengan seksama.


"Bagaimana keadaan Cleantha dokter? Kenapa dia pingsan?" tanya Alvian khawatir.


"Tekanan darah Nona Cleantha rendah dan dia mengalami demam. Karena itu Nona Cleantha pingsan. Tapi sebentar lagi dia akan sadar," kata dokter menjelaskan.


"Nanti akan kami lakukan pemeriksaan darah untuk memastikan kondisi kesehatannya. Kami sarankan Nona Cleantha menginap satu malam disini agar kami bisa memantau kondisinya," terang dokter kepada Alvian.


"Baik, dokter. Terima kasih."


Setelah dokter pergi, Alvian menatap Cleantha yang terbaring tak berdaya.


"Kasihan Clea, sepertinya dia sangat tertekan. Aku akan menelpon ke kantor untuk memberitahu Keyla. Setelah Keyla datang kesini, aku akan membuat perhitungan dengan Fendi."


Alvian menelpon asistennya di kantor agar disambungkan ke pesawat telpon divisi finance.


"Kenapa Keyla lama sekali mengangkat telponnya?"


gumam Alvian mendengar nada tunggu di ponselnya.


"Selamat pagi, divisi finance. Dengan Keyla, ada yang bisa dibantu," sapa Keyla dari balik telpon.

__ADS_1


"Pagi, Keyla, ini aku Alvian. Kenapa kamu tidak segera menerima panggilanku?"


"Saya dari pantry, Pak. Ada keperluan apa Bapak menghubungi saya?" tanya Keyla dingin.


"Adikmu Cleantha jatuh pingsan. Aku membawanya ke Rumah Sakit Husada dan sekarang dia sedang dirawat. Bisakah kamu datang kesini untuk menjaganya?" tanya Alvian.


"Maaf, Pak, ini jam kerja dan pekerjaan saya sangat banyak. Saya tidak bisa datang ke rumah sakit sekarang. Nanti saya akan menjenguk Clea sepulang kantor," tolak Keyla.


"Kamu lebih mementingkan pekerjaan daripada adikmu? Dia sedang sakit," ucap Alvian terkejut.


"Saya sudah terlambat masuk kantor gara-gara Bapak. Jadi lebih baik Bapak yang menunggui Clea, karena adik saya pingsan juga akibat kesalahan Bapak. Selamat pagi," jawab Keyla ketus sambil menutup telponnya.


Alvian mendesis panjang. Baru kali ini ia mendapati seorang kakak yang begitu tak peduli pada adik kandungnya sendiri. Sungguh keterlaluan!


"Lebih baik aku menelpon Fendi untuk melacak keberadaannya sambil menunggu Cleantha sadar."


Alvian menekan nomor Fendi beberapa kali, namun nomor tersebut tidak aktif. Dengan kesal, ia merutuk di dalam hati.


"Kurang ajar, Fendi! Rupanya dia sengaja mematikan ponselnya. Pasti saat ini dia bersembunyi atau kabur ke suatu tempat. Sebenarnya apa tujuannya memfitnah aku dan Clea? Dia bahkan tidak mengenal Cleantha. Atau jangan-jangan ada orang lain yang menyuruhnya?"


pikir Alvian menebak-nebak.


Dengan geram, Alvian mengepalkan tangannya.


Perhatiannya teralihkan ketika melihat Cleantha mulai menggerakkan tangan dan menggeliat.


"Clea, kamu sudah sadar?"


Cleantha tidak membuka matanya, namun ia mengeluarkan suara lirih seperti orang yang sedang mengigau.


"Bunda, tolong aku. Aku membutuhkan Bunda," gumam Cleantha meracau.


"Bunda? Apa dia memimpikan ibunya,"


pikir Alvian.


Alvian memegang dahi Cleantha, ternyata demamnya belum kunjung turun.


Cleantha masih terus bergerak gelisah sambil mengigau.


"Bunda, tolong aku. Peluk aku, Bunda," gumam Cleantha dengan nada memohon.


Air mata menetes dari sudut matanya yang masih terpejam.


"Clea, tenanglah," ucap Alvian bingung apa yang harus dilakukannya.


Melihat Cleantha tak henti bergerak gelisah sambil mengigau, Alvian tidak tega. Ia khawatir kesehatan Cleantha akan semakin memburuk.


"Apa aku harus memeluknya sebentar supaya dia tenang? Tapi ini tidak pantas dilakukan,"


pikir Alvian kebingungan.


"Bunda," rintih Cleantha makin keras.


Alvian akhirnya mendekat ke ranjang pasien. Dengan ragu-ragu, ia mengulurkan tangannya dan memeluk Cleantha.


"Tenanglah, Clea, dan cepatlah sadar," ucap Alvian dengan lembut.


Tanpa sadar, ia membelai rambut Cleantha hingga gadis itu menjadi tenang dan tidak bergerak lagi.


Anehnya, Alvian merasakan desir tak biasa di hatinya saat memeluk Cleantha. Muncul keinginan dalam dirinya untuk melindungi gadis yang lemah dan teraniaya ini. Sontak, ia melepaskan pelukannya dan menjauh dari Cleantha.

__ADS_1


"Ada apa dengan diriku? Kenapa perasaanku mendadak jadi begini? Cleantha adalah istri Kak Raja, aku tidak boleh memikirkan hal yang bukan-bukan."


BERSAMBUNG


__ADS_2