Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 79 Cinta Tanpa Rasa Percaya (Part 3)


__ADS_3

Cleantha berjalan menuju ruang kerja Raja. Ia terkejut melihat pintu ruangan itu setengah terbuka. Apalagi terlihat beberapa barang jatuh terserak di lantai. Meja kerja Raja juga berantakan seolah baru saja terjadi perkelahian di ruangan itu.


Perlahan, Cleantha masuk ke dalam. Ia melihat Raja sedang duduk sambil menundukkan kepalanya. Satu tangannya memegang ponsel, sementara tangan yang lain tampak memerah.


Cleantha mendekat, memicingkan mata agar bisa melihat lebih jelas. Ia baru menyadari bahwa ada luka yang berdarah di punggung tangan Raja.


"Tuan, kenapa tangan Anda sampai terluka seperti ini? Tunggu saja disini, saya akan mengambilkan kotak obat untuk Tuan," kata Cleantha hendak berjalan pergi.


"Tidak usah, Clea. Duduklah disini, aku ingin bicara denganmu," cegah Raja.


Cleantha melihat wajah Raja mengeras. Sangat berbeda dengan ekspresi bahagia yang dilihatnya ketika mereka pulang dari rumah sakit.


Cleantha pun menunda niatnya untuk bertanya tentang kepergian Zevira dari rumah itu.


"Ada apa, Tuan?"


"Clea, apa kamu mengingat sesuatu tentang malam di hotel itu? Apa kamu merasa Alvian melakukan sesuatu padamu?"


Pertanyaan Raja yang tiba-tiba itu membuat Cleantha terkejut. Entah mengapa ia kembali membahas soal tragedi yang memalukan itu.


Apabila mereka telah sepakat untuk rujuk, Raja seharusnya tidak mengungkit lagi persoalan tersebut.


"Saya tidak ingat apa-apa, Tuan. Tapi saya yakin Pak Alvian tidak melakukan apa-apa pada saya. Memangnya kenapa, Tuan?" tanya Cleantha tidak mengerti.


"Bukankah waktu itu ada Keyla yang menginap di kamar bersama kalian? Bisakah kamu menelponnya sekarang? Aku ingin bicara dengannya," ucap Raja seraya menyerahkan ponselnya kepada Cleantha.


"Iya, Tuan. Akan saya coba menghubungi kakak saya," jawab Cleantha menekan nomor ponsel Keyla.


"Tuuuttt, tuuutttt." Terdengar nada sambung dari ponsel Keyla.


Tak lama berselang, Keyla menerima panggilan dari Cleantha.


"Halo, maaf siapa ini?" tanya Keyla tidak mengenali nomor ponsel Raja.

__ADS_1


"Kak, ini aku, Clea. Aku memakai nomor telpon Tuan Raja. Tuan Raja ingin bicara dengan Kakak sebentar."


"Halo, Keyla," sapa Raja mengambil alih ponselnya.


Dari suaranya, Keyla terdengar enggan menerima panggilan dari Raja.


"Apa yang ingin Tuan bicarakan? Apa Tuan mau memaksa saya supaya merestui hubungan Tuan dengan adik saya?" tanya Keyla dingin.


"Bukan, aku mau menanyakan perihal malam dimana Cleantha dan Alvian dijebak oleh Fendi. Saat itu kamu yang menemukan mereka di kamar hotel. Apa kamu melihat Alvian berbuat sesuatu pada Cleantha?"


Keyla terdiam sejenak, mencoba mencerna kata-kata Raja.


"Kenapa Tuan menanyakan hal itu? Peristiwa itu sudah terjadi lebih dari dua minggu yang lalu," tanya Keyla curiga.


"Karena Cleantha...sedang hamil," jawab Raja jujur.


"Hamil??? Ini tidak mungkin. Adik saya masih muda. Dia belum siap memiliki anak," seru Keyla dari balik telpon.


"Tolong, Keyla. Aku butuh penjelasanmu sekarang. Aku harus memastikan bahwa aku adalah ayah dari anak yang dikandung Cleantha," desak Raja tidak sabar.


Bak mendengar suara guntur di sore hari, Cleantha terhenyak. Rasa dingin mendadak menjalar di sekujur tubuhnya. Terkuak sudah apa maksud Raja memintanya menghubungi Keyla.


Perasaan Cleantha terkoyak-koyak dalam waktu sekejap. Ternyata Raja belum berubah. Ia masih saja suka berprasangka buruk. Lebih parahnya lagi, suaminya itu kini meragukan identitas bayi dalam kandungannya. Bahkan menuduhnya telah hamil akibat hubungan terlarangnya dengan Alvian.


Di satu sisi, Keyla merasa ini adalah kesempatan terbaiknya untuk memisahkan Cleantha dari Raja.


"Tuan, saya memang menemukan mereka sedang tertidur lelap di kamar. Tapi saat saya masuk, pakaian Pak Alvian sudah terbuka. Begitu juga dengan Cleantha. Jadi, saya tidak tahu pasti apa yang terjadi pada mereka sebelumnya," terang Keyla sengaja memberikan cerita yang ambigu.


"Apa kamu mengatakan yang sejujurnya?" tanya Raja menekankan suaranya.


"Tentu saja, Tuan. Untuk apa saya berbohong mengenai adik saya. Bahkan saat itu saya meminta Pak Alvian untuk menikahi Cleantha. Saya pikir nama baik adik saya pasti akan hancur karena terlanjur bermesraan dengan Pak Alvian."


Mendengar apa yang diucapkan Keyla, hati Raja memanas. Ia mengakhiri telponnya dan menatap tajam pada Cleantha.

__ADS_1


Sementara Cleantha balas memandang Raja dengan mata berkabut karena genangan air mata.


"Tuan, sekarang saya tahu kenapa tangan Anda terluka. Ternyata Anda tidak percaya bila anak yang saya kandung adalah anak Tuan. Tuan meragukan kesetiaan saya," ujar Cleantha merasa kecewa.


"Clea, aku tidak menyalahkanmu. Saat itu kamu sedang tidak sadar. Tapi Vira tadi mengaku bahwa dia menyuruh Fendi memasukkan obat perangsang ke minuman Alvian. Itu artinya mungkin kalian sudah..." kata Raja tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.


Raja berdiri dari kursinya sambil menghela nafas panjang. Berusaha meredakan emosinya yang masih bergejolak.


"Jika dilihat dari usia kandunganmu, kemungkinan besar itu memang anakku. Tapi terus terang aku bukan pria yang bisa berbesar hati."


"A..apa maksud, Tuan?" tanya Cleantha terbata-bata.


"Maafkan aku, Clea. Aku tidak bisa menjalani rumah tangga bersama seorang istri yang sudah pernah dinodai pria lain. Apalagi pria itu adalah adikku sendiri. Jika aku memaksakan diri, maka setiap kali melihatmu, aku pasti akan mengingat saat-saat dimana kamu pernah bermesraan dengan adikku."


"Aku pernah merasakan hal menyakitkan seperti ini ketika memergoki Zevira berselingkuh dengan Fendi. Dan sejak itu, aku tidak sudi menyentuh Zevira lagi. Bagiku istriku hanyalah milikku sendiri. Aku tidak mau dia dimiliki juga oleh orang lain," tutur Raja dengan suara parau.


"Tu...an."


Bibir Cleantha bergetar. Ia tidak percaya mendengar apa yang terucap dari mulut Raja. Baru saja ia mengira Raja sangat mencintainya, tapi dugaannya meleset jauh.


Cinta Raja mudah sekali goyah. Entah apa yang dikatakan Zevira dan Keyla, sehingga suaminya itu langsung berubah pikiran. Bahkan mengatakan tidak ingin lagi menjalani rumah tangga bersamanya.


"Aku tetap akan merawatmu dan bayi dalam kandunganmu. Aku juga akan menanggung semua biaya persalinanmu, memberikan fasilitas apapun yang kamu butuhkan. Tapi kita tidak bisa lagi menjadi suami istri. Setelah bayi itu lahir aku akan melakukan tes DNA. Bila dia terbukti anak kandungku, maka aku akan membesarkannya dengan baik."


Kalimat demi kalimat yang diucapkan Raja, ibarat anak panah yang ditembakkan satu per satu ke hati Cleantha. Menimbulkan sayatan luka yang menganga lebar walalupun luka itu tidak mengeluarkan darah.


Cleantha berdiri dari duduknya dan menjatuhkan pandangan nanar kepada Raja.


"Tuan, sekarang saya mengerti. Anda tidak pernah benar-benar mencintai saya. Meskipun saya belum berpengalaman dalam hal cinta, tapi saya tahu bahwa kepercayaan dan ketulusan adalah dasar utama dari cinta."


"Tuan lebih mempercayai omongan orang lain daripada saya. Seandainya saya telah ternoda pun, Tuan seharusnya bisa bersikap tulus dan menerima saya apa adanya. Tapi Tuan tidak melakukan kedua hal itu. Karena itu lebih baik jika kita segera berpisah. Meskipun saya miskin, saya masih punya rumah dan pekerjaan. Saya pasti bisa membiayai semua kebutuhan saya sendiri. Saya mohon pamit, Tuan," jawab Cleantha dengan suara bergetar.


Tanpa menengok lagi kepada Raja, Cleantha melangkah pergi. Ia menyesal sudah berharap banyak pada lelaki yang selalu berubah-ubah pendirian seperti Raja Adhiyaksa.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2