Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Menunda Perjalanan


__ADS_3

"Keributan apa yang kalian perbuat di pagi hari begini?" tanya Suwira saat Lembing Wuluh hadir di hadapannya.


"Aku hanya membangunkan Angge (panggilan Waluh Kuning sewaktu masih kecil. Suwira masih memanggilnya dengan panggilan itu meskipun putranya telah beranjak usia) yang terus bermalas-malasan saja sejak ia kembali dari bermabuk-mabukan," balas Lembing Wuluh sembari mengamati bahan obat-obatan yang tengah dikemasi oleh ayahnya, Suwira.


"Angge itu belum begitu dewasa. Janganlah kau bersikap terlalu keras kepadanya."


"Aku tahu, Yah. Hanya saja, setiap kali aku menasihatinya, pasti selalu tak didengarnya."


"Janganlah kau berkecil hati," ucap Suwira. Suwira terdiam sejenak. Kemudian mengangkat pandangannya ke arah langit sembari menghela napas. "Sebelum kita menuai hasil dari pada sesuatu, ada proses yang mesti kita tunggu meskipun hal itu perlu waktu yang cukup lama," ucapnya lagi, lalu kembali meneruskan mengecek bahan obat-obatan yang belum selesai.


Lembing Wuluh ikut menghela napas. Sedikit dipenuhi oleh tekanan. Bukan karena ia tidak sependapat dengan pemikiran ayahnya, tetapi karena ia terus memikirkan kapan kiranya Waluh Kuning akan meninggalkan kebiasaan buruk yang selalu dilakukannya. "Aku hanya tidak ingin dia terus menerus melakukan kebiasaan buruknya itu, Yah, hanya itu," ucapnya masih memandangi bahan obat-obatan yang belum selesai Suwira cek seluruhnya.


"Niat baikmu itu pasti akan memberikan bekas pada sikapnya di kemudian hari. Akan tetapi, ingatlah untuk tetap menjaga persaudaraan kalian. Walau bagaimanapun kalian berdua itu tetaplah bersaudara sampai kapanpun." Suwira memandangi wajah putranya. Anggukan kecil Lembing Wuluh bisa diterima oleh Suwira bahwa perkataannya itu dapat dipahami dengan jelas oleh putra sulungnya. "baiklah, tolong kau ambilkan seikat daun Theutheuk dan Panglai yang sudah kukemas dari dalam gudang, kemudian kau pisahkan antara yang kecil-kecil dalam wadah yang lainnya," pinta Suwira.


"Baik, Yah. Aku akan segera mengambilkannya." Lembing Wuluh segera berbalik menuju gudang penyimpanan yang berada di samping rumah untuk mengambilkan bahan obat-obatan yang dimintakan Suwira. Sementara Suwira masih sibuk mengecek kembali seluruh bahan obat-obatan yang sudah berada di sekelilingnya.


...***...


Siang hampir berlalu saat Jaka kembali masuk ke dalam ruangan kamar. Nyi Dewi sudah terbangun dan tengah duduk bersila di samping Laras yang masih meringkuk dan tertidur pulas. Jaka membawakan beberapa makanan untuk menu makan siang mereka yang diletakkan di atas meja begitu memasuki ruangan. Suara gemericik air hujan masih terdengar jelas di luar jendela yang setengah terbuka.


"Kangmas.."


"Nyimas, sepertinya hujan masih belum mereda," ucap Jaka memandang ke luar jendela. "apakah sebaiknya kita teruskan perjalanan kita esok hari lagi?" tanyanya, kemudian duduk di atas dipan memandangi Laras yang masih tertidur. "aku juga tidak tega membangunkan Laras untuk melanjutkan perjalanan kita."


Nyi Dewi sedikit beringsut dan menggeser posisi duduknya saat Jaka duduk di dekatnya. "A, aku akan ikut bagaimana baiknya saja, Kangmas," balasnya ikut memandangi Laras.


Jaka menghela napasnya sejenak. "Dan aku juga telah menyewa dua bilik kamar di sebelah bilik kamar kita," ucapnya kemudian.


"Apakah karena itu?.." tanya Nyi Dewi lirih dengan pandangannya memandang ke arah lain. Teringat akan kejadian yang terjadi di ruangan sebelah. Ia tidak berani menerangkan perihal apa yang ingin diucapkannya itu. Wajahnya sedikit malu untuk menerangkannya lebih jelas kepada Jaka.

__ADS_1


"Iya, termasuk hal itu juga.." ucap Jaka membalas dengan pandangan yang tak menentu. "lagi pula tidak nyaman bagi kita untuk berada dalam suatu ruangan yang sedangkan orang lain bisa mendengarkan percakapan kita."


"Apa yang Kangmas katakan memang benar. Setidaknya kita menjadi tidak leluasa untuk berbicara banyak jika hal itu terjadi."


Suasana ruangan kamar seketika berubah hening. Keduanya masih terduduk berdekatan. Terdiam tanpa sebuah kata. Hanya saling membisu dalam diam selama beberapa waktu. Kecanggungan kian menyelimuti seisi ruangan. Baik Jaka maupun Nyi Dewi masih belum berani untuk bersuara. Hanya sama-sama memandangi Laras yang masih tertidur pulas atau sesekali memandang tak tentu arah yang bisa keduanya lakukan.


"Ka, Kangmas.."


Nyi Dewi tiba-tiba membuka suaranya untuk mencairkan keheningan. Jaka pun melirik ke arah Nyi Dewi sekilas dan kembali membuang pandangannya ke arah lain. Sementara Nyi Dewi memilih untuk tetap memandangi wajah Laras yang tertidur di sampingnya.


"A, aku ingin meminta maaf atas apa yang telah kulakukan pagi tadi. Aku sungguh tidak menyadarinya. Aku tidak tahu bagaimana tanganku bisa.."


"Tidak apa, Nyimas," potong Jaka seraya menutupi wajahnya dengan salah satu tangannya. "seharusnya akulah yang meminta maaf kepada Nyimas. Aku tidak bermaksud untuk ikut tertidur bersama dengan kalian. Semalam aku jelas-jelas ingat masih duduk bersila setelah aku melakukan pelatihan yang biasanya aku lakukan bersama Paman. Lalu, tiba-tiba saja kantukku terasa begitu berat dan tidak ada yang kuingat lagi hingga aku terbangun dengan keadaan terbaring di samping Nyimas."


"Apakah Kangmas sudah bisa melakukannya tanpa bantuan Paman lagi?" Wajah Nyi Dewi terlihat lebih relaks seketika. Perasaan canggung yang dirasakannya sedikit sirna perlahan-lahan. Paling tidak, tak ada percakapan yang akan mengarah pada apa yang terjadi di pagi hari tadi lagi, pikirnya.


"Iya, hanya saja aku masih belum leluasa. Mungkin karena pelatihanku belumlah sempurna hingga hanya mampu bertahan kurang dari waktu setengah jam saja."


Laras yang telah lama tertidur pulas tiba-tiba terjaga dari tidurnya. Mungkin lantaran suara percakapan yang tak sengaja terdengar olehnya membuatnya harus terjaga.


"Mbakyu, mengapa Mbakyu duduk berdua-duaan dengan Kanda? Apa yang tengah kalian berdua bicarakan?"


Nyi Dewi tersentak kaget. "Ah!.. Diajeng sudah bangun?" sapanya. Laras mengucek kedua matanya agar pandangannya sedikit lebih jelas, tetapi ia masih meringkuk di samping Nyi Dewi.


"Apakah Diajeng merasa lapar? Ataukah haus barangkali?"


Laras menggeleng pelan sembari memandang ke arah Jaka. "Kanda, mengapa Kanda baru kembali? Bukankah Kanda berkata tidak akan pergi lama saat semalam?"


"Ah.. semalam aku hanya pergi untuk mencari angin saja. Dan kau sudah terlelap saat aku kembali," terang Jaka menjelaskan pada Laras. "aku tidak ingin membangunkanmu karena kau terlihat begitu pulas saat tertidu. Maafkan aku karena tidak bisa menemanimu hingga tertidur," tambah Jaka.

__ADS_1


"Iya, mungkin karena Mbakyu menemani dan juga memeluk Dinda sampai Dinda tertidur pulas. Pelukan tangan Mbakyu terasa begitu hangat."


Sontak saja, Jaka dan Nyi Dewi saling pandang. Bayangan tentang apa yang terjadi pada keduanya di pagi hari pun seketika itu terlintas dalam benak keduanya hingga keduanya terlihat sedikit salah tingkah.


Laras merangsek perlahan dan menarik tubuhnya, lalu merebahkan wajahnya di pangkuan Nyi Dewi. "Mbakyu, terima kasih sudah menemani Dinda hingga Dinda tertidur pulas semalam," ucap Laras membenamkan wajahnya di pangkuan Nyi Dewi.


Nyi Dewi membelai lembut rambut Laras penuh kasih diiringi seuntai senyuman. "Syukurlah, bila begitu!"


"Nyimas, kau pergilah temani Laras untuk membersihkan diri!" Aku akan segera menyiapkan beberapa makanan yang telah kubawakan untuk kita makan."


Nyi Dewi mengangguk paham dan segera bangkit mengajak Laras pergi. Akan tetapi, Laras merasa enggan untuk bangkit karena suasana dingin yang dirasakannya begitu terasa menusuk.


"Kanda, Dinda tidak ingin!" protes Laras. "Apakah Kanda tidak melihat kalau di luar hujannya masih belum mereda? Airnya pasti akan terasa lebih dingin."


"Kau harus mengganti pakaianmu! Bagaimana bisa kau tidak membersihkan dirimu saat kau berganti pakaian?"


"Mbakyu.." Laras merengek meminta bantuan kepada Nyi Dewi guna membantunya agar Jaka bisa memberinya sebuah pilihan.


"Yang dikatakan oleh Kakanda Jaka benar. Bila kita tidak membersihkan diri saat kita berganti pakaian, pastilah akan terasa tidak nyaman pada tubuh kita. Bukankah begitu?"


"Tapi.. airnya pasti akan terasa dingin, Mbakyu.."


"Tidak apa-apa. Diajeng juga bisa melapnya saja dengan kain tanpa harus membasuh tubuh. Paling tidak, Diajeng hanya harus membasuh wajah saja. Hm?"


"Baiklah.. tetapi Mbakyu temani Dinda juga.."


"Baik, mari, kita pergi bersama-sama!" ajak Nyi Dewi seraya bangkit. Laras pun ikut bangkit dan bersiap untuk meninggalkan ruangan kamar.


"Kangmas, kami pergi dulu untuk membersihkan diri sebentar."

__ADS_1


"Pergilah! Jangan lupa untuk membawa pakaian lain kalian."


Nyi Dewi mengangguk lirih dan segera berjalan keluar ruangan kamar mengiringi langkah Laras. Beberapa detik kemudian, suasana ruangan kamar terasa hening. Hanya Jaka saja yang berada di dalam ruangan sembari menyiapkan beberapa makanan yang dibawanya.


__ADS_2