Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Ledonggowo berulah 2


__ADS_3

"Kalau kau tidak ingin terluka, lebih baik segeralah kau tarik mundur seluruh anak buahmu!"


"Bedebah!" Ledonggowo tersulut amarah. Tidak terima dengan perkataan Nyi Dewi kepadanya.


"Kalau kau ingin membawanya pergi, kau harus langkahi mayatku lebih dulu!" tegas Nyi Dewi.


Ledonggowo tertawa kencang. "Hahaha! Bagus! Bagus! Memang itu yang sedang kutunggu-tunggu!" Tertawa kegirangan. Kini Ledonggowo menjadi tambah berani untuk bertindak lebih jauh lagi.


"Serangg!!"


Ledonggowo mengibaskan tangannya ke depan, memerintahkan agar seluruh anak buahnya menyerang Nyi Dewi.


Seluruh anak buahnya pun langsung maju mengangkat senjata masing-masing dan mulai mengepung Nyi Dewi dari berbagai arah.


"Bibi, Paman, bantu akun menjaga Laras!"


Ki Pucung dan Nyi Pucung dengan sigap merapatkan diri dan membantu Nyi Dewi menghalau kepungan dan serangan dari para anak buah ledonggowo disekitarnya.


Meskipun mereka menang jumlah, namun tak ada satu pun dari mereka yang mampu bertahan memberikan serangan mereka.


Mereka tidak berdaya di bawah tangan Ki Pucung dan Nyi Pucung.


Ledonggowo merasa geram melihat anak buahnya tidak berdaya dalam menghadapi ketiganya.


Ledonggowo kemudian melompat turun dari kuda, melangkah perlahan mendekati pertarungan para anak buahnya. Seorang anak buahnya terhempas ke arahnya. Ia menangkap anak buahnya dengan keras.


"Dasar, tak berguna!" Melemparkan anak buahnya dengan kasar.


Melihat Ledonggowo yang kian mendekat, Nyi Dewi pun bergegas menghadangnya.


"Paman, Bibi, aku akan pergi menghadang Ledonggowo. Aku serahkan Laras kepada kalian." Nyi Dewi langsung menghadapi Ledonggowo yang telah mendekat.


Blarr! Blarr!


Suara adu kekuatan terdengar cukup jelas serta memekakkan telinga bagi sebagian orang yang mendengarnya.


Sebahagian anak buah Ledonggowo sudah terkapar tak berdaya. Tinggal dirinya yang tersisa, kini.


Dengan berbekal persiapan yang matang, Ledonggowo dengan leluasa melakukan serangkaian serangan-serangannya. Ia tak sedikit pun menahan dirinya menghadapi Nyi Dewi.


Nyi Dewi pun dengan cepat menghindari setiap serangan-serangan Ledonggowo. Ia pasti kan menghentikan Ledonggowo! Begitulah yang terpatri di dalam tekadnya kala itu.


"Takkan kubiarkan kau bertindak sesuka hatimu!"

__ADS_1


"Haha! Kau pikir kali ini kau bisa dengan mudah menghentikanku? Mimpi saja!"


"Kita lihat saja, siapa yang akan kalah di antara kita!"


Keduanya kembali beradu jurus masing-masing. Nyi Dewi saat itu sedikit merasa kewalahan menghadapi Ledonggowo. Ia tak mengira bahwa Ledonggowo memiliki beberapa ajian yang mampu membuatnya harus lebih serius menghadapi serangan-serangannya.


Sesaat tiba-tiba, Nyi Dewi tak sempat tuk menghindar. Posisinya saat itu merupakan titik butanya yang tak bisa diprediksinya.


Ledonggowo pun seketika melompat ke atas. Ajian yang hendak dikeluarkannya ibarat berada diujung tanduk. Dan tanpa ampun Ledonggowo mengarahkan ajian itu tepat ke wajah Nyi Dewi. Jika saja saat itu Nyi Pucung tak segera menolongnya, mungkin ia sudah tumbang akibat ajian milik Ledonggowo tersebut.


"Terima kasih banyak, Bibi," sambut Nyi Dewi yang mengetahui Nyi Pucung datang membantunya.


"Kenapa kau ikut campur dengan urusan kami?" Tidak senang dengan kedatangan Nyi Pucung yang menyela pertarungannya dengan Nyi Dewi. "enyahlah! Aku tak ada urusan sedikit pun denganmu!"


"Aku takkan membiarkanmu melakukan kekacauan di padepokan kami," tegas Nyi Pucung.


"Baiklah, kalau begitu aku akan meladeni kalian berdua."


Kembali bersiap. "Jangan kalian pikir aku akan takut untuk menghadapi kalian!"


"Buktikan saja ucapanmu, jangan bertele-tele!"


"Baiklah. Kalian yang memintanya. Jangan salahkan aku jika aku melukai kalian."


Beberapa saat kemudian ketiganya mulai terlibat dalam pertarungan.


Ledonggowo mulai melancarkan jurusnya, namun dirinya kalah cepat dari serangan Nyi Pucung. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana cepatnya serangan yang tiba-tiba datang ke arahnya tanpa sanggup tuk menghindarinya.


Ledonggowo terhempas mundur menahan serangan Nyi Pucung.


"Sial, rupa-rupanya ucapan Si Tua Bangka itu memang bukan mengada-ada," batin Ledonggowo.


Bangkit dan berdiri. "Untunglah, aku telah mempersiapkan segalanya dari awal!"


"Tidak kusangka aku dapat melihat ajian Selendang Sutra yang sering dibicarakan oleh guruku. Terlebih sekarang aku malah berhadapan langsung dengan pemiliknya juga."


"Siapa gerangan gurumu itu?" tanya Nyi Pucung penasaran.


"Aku sedang tidak ingin membicarakan Si Tua Bangka itu sekarang ini." Ledonggowo menjawab acuh.


"Kau ini hanya tidak memiliki sikap sopan santun kepada orang lain, bahkan kepada gurumu sekali pun. Gurumu itu pasti akan memikirkan hal yang sama denganku atas sikap dan kelakuanmu ini."


"Banyak cincong! Bersiaplah kalian untuk merasakan ajian andalanku ini."

__ADS_1


Ledonggowo kembali bersiap, begitupun dengan Nyi Dewi dan Nyi Pucung.


Mereka pun mulai kembali beradu jurus ajian masing-masing. Ledonggowo lebih mendominasi pertarungan mereka, kini. kendatipun demikian, baik Nyi Dewi dan Nyi Pucung tetap tidak gentar sedikit pun menghadapi Ledonggowo.


Blarr! Blarr!


Suara benturan kembali terdengar. Lebih keras dari sebelumnya. Suara benturannya mengakibatkan pepohonan di sekitarnya ada yang tumbang atau cabang dahannya terpangkas, bahkan tanah serasa bergetar.


Ledonggowo menyerang dengan membabi buta. mencari cara sembari memutar akal agar bisa menang.


Meski cukup kesulitan, Nyi Dewi dan Nyi Pucung tetap gigih mempertahankan dan melebarkan area pertahanannya sembari mengakali cara agar Ledonggowo berada di titik butanya saat keduanya menyerang bersamaan.


"Paman, apa Mbakyu dan Bibi akan baik-baik saja?" tanya Laras cemas.


"Tenanglah! Mereka pasti baik-baik saja. Kau tidak perlu terlalu khawatir."


Nyi Pucung memberikan serangan dengan ajian Selendang Sutranya.


Ledonggowo seolah-olah melihat sebuah kilatan selendang yang datang kepadanya dengan amat cepat, namun ia pun segera menghindarinya secepat mungkin.


"Aku harus mencari cara untuk menyerang mereka, jika tidak, aku pasti takkan bisa mengalahkan mereka," batin Ledonggowo.


Keadaan kini agak sedikit renggang. Tidak ada satu pun dari mereka yang memulai gerakan ataupun melancarkan serangan. Ketiganya masih mencoba bertahan dalam pertarungan meski tenaga dalam mereka sudah banyak terkuras.


Hembusan dari napas mereka terdengar cukup jelas akibat sengitnya pertarungan mereka.


"Kalian lumayan juga!" ujar Ledonggowo mengatur ritme napasnya. Ia merasakan aliran tenaga dalamnya sedikit membuat tubuhnya kelelahan.


Nyi Dewi dan Nyi Pucung sedikit merapat. Keduanya berdiri cukup jauh dari posisi Ledonggowo.


"Bagaimana keadaanmu, Nyi?"


"Aku tidak apa. Akan tetapi sepertinya ia terlihat mulai sedikit kelelahan."


"Aku harus mencari cara supaya bisa lolos dari serangan mereka," ucap Ledonggowo dalam hati.


"Aku masih belum kalah! Majulah! Apakah hanya segitu saja kemampuan yang kalian miliki?" gertak Ledonggowo.


Ledonggowo berusaha mengulur sedikit waktu. Ia masih memikirkan bagaimana caranya untuk lolos. Jika tidak, tidak ada harapan apa pun baginya untuk menang mengingat tubuhnya hampir mencapai ambang batasnya.


"Jangan berpikir kau sudah berada di atas angin hanya karena kau mampu membuat kami sedikit terdesak," sergah Nyi Dewi.


Seketika marah. "Bedebah! Kurang ajar!"

__ADS_1


Namun, keadaan yang sedikit renggang itu tidak berlangsung lama. Ledonggowo kembali bersiap untuk menyerang seakan-akan hanya berhenti sesaat untuk sekadar menarik napas saja. Tak ayal, pertarungan pun kembali bergulir.


__ADS_2