
“Lebih baik kau serahkan buah itu pada kami, lalu segeralah enyah dari sini.”
Tiba-tiba tangan seorang anak lain meraih wadah buah yang dipegang oleh Jaka. Keduanya saling tarik menarik wadah buah.
“Tidak! Ini milikku! Kalian tidak bisa merebutnya begitu saja,” sergah Jaka. Tangannya mendekap wadah buah yang dipegangnya dengan erat. Ia mencoba mempertahankan buah-buahan dalam wadah yang sudah susah payah dikumpulkannya.
Tak bisa merebut, anak itu lantas mendorong Jaka beserta wadah buah di tangan Jaka. Jaka terjatuh, sementara buah-buahan dalam wadah yang dipegangnya berserakan dimana-mana. Ia berusaha sekuat tenaga memungut beberapa buah-buahan didekatnya dengan payah. Buah-buahan yang terlempar jauh luput darinya. Buah-buah itu diinjak-injak oleh anak-anak yang mengelilinginya dengan sengaja. Mereka menginjak-injak buah tersebut dengan tertawa terbahak-bahak sambil merendahkan Jaka.
__ADS_1
“Inilah yang mestinya pantas kau dapatkan.” ucap anak yang lain menjejalkan buah yang hancur terinjak ke mulut Jaka. Jaka berusaha dengan sekuat tenaga menolak perbuatan yang mereka lakukan terhadapnya. Mulutnya ia tutup rapat sebagai perlawanan atas sikap intimidasme terhadapnya.
Hampir sebagian besar buah yang Jaka kumpulkan sudah hancur terinjak-injak. Hati Jaka yang biasanya begitu tabah tiba-tiba bergejolak. Ia bangkit mencoba melawan. Seluruh badannya gemetaran, kepalan tangannya begitu kuat, seakan ia ingin mengeluarkan seluruh beban yang sudah lama disimpannya.
Seketika hembusan angin begitu kencang, berkumpul menjadi satu titik pusaran yang berpusat di sekeliling Jaka. Sekumpulan anak-anak yang melihatnya menjadi ciut dibuatnya. Jaka menguatkan kakinya melangkah perlahan. Pandangannya begitu tajam dan menusuk. Hawa kemarahan seolah tergambar jelas di udara. Sekumpulan anak-anak itu saling memandang merasakan keganjilan.
“Hei, hei.. a, apakah kalian melihatnya juga,” ujar anak yang mendorong jatuh Jaka. Ia mengambil ancang-ancang langkah seribu sebelum akhirnya berlari meninggalkan teman-temannya sambil berteriak-teriak, “Tolong! Ada iblis, tolong!” Teman-temannya pun lari pontang panting mengikuti langkahnya.
__ADS_1
Jaka memandangi seluruh buah-buahan yang hancur terinjak-injak. Perasaannya begitu kalut, pilu, sedih dan bercampur aduk. Ia tertunduk berlutut di tanah, meratapi suratan takdir atas dirinya. Air matanya jatuh perlahan bersamaan dengan turunnya hujan, seakan langit ikut meratapi kesedihannya. Jaka tak segera bangkit. Ia membiarkan hujan membasahi sekujur tubuhnya, membiarkannya menutupi setiap tetes air matanya yang mengalir.
“Ibu.. Aku sudah tak kuat. Aku ingin bertemu dengan Ibu..” ucapnya menangis tertunduk.
Diantara derasnya hujan yang mengguyur tubuhnya Jaka berteriak kencang menatap langit. “Sang Hyang Widhi! Kenapa, kenapa kau tidak ambil saja hidupku!? Kenapa!? Kenapa kau memberikan kehidupan yang berat seperti ini?” Ucapannya tertahan. Sejenak ia kembali menundukkan wajahnya. Kemudian menengadahkan wajahnya lagi dan berkata dengan suara lantang, "Kalau kau tak ingin aku hidup, ambil saja nyawaku! Jika aku harus menderita seperti ini, lebih baik aku mati saja!"
Langkah seseorang mendekati Jaka yang tengah meratapi kesedihannya. Langkah itu sudah berada di hadapannya kini. "Anak muda, tak baik bagi seseorang mengutuk dirinya sendiri!"
__ADS_1
Jaka menengadahkan pandangannya memandang seseorang yang berdiri dihadapannya. Siapa kiranya yang tengah berbicara padanya? Apa yang membuatnya berkata demikian? Dan untuk apa ia membicarakan tentang itu?
Jaka menyapu guyuran air hujan yang mengalir di wajahnya. Kini ia tahu siapa sosok orang yang berdiri di hadapannya itu. Jaka memandang lekat wajahnya. Ternyata sosok itu adalah seorang kakek tua yang pernah singgah di gubuknya waktu itu.