Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Pertemuan sekelompok berandalan


__ADS_3

Suara riuh bisik-bisik terdengar semakin jelas di antara sekumpulan berandalan yang hadir.


"Tenanglah! Tenangkan diri kalian!" teriak Nyai Gendhis. Sesaat suasana riuh pun kembali menghilang. "Aku mengadakan pertemuan ini bukan tanpa adanya tujuan. Selama kalian mau mengikuti perintah yang aku berikan, kalian akan mendapatkan imbalan kalian. Aku tidak akan melarang kalian untuk melakukan setiap aktivitas kalian sepenuhnya. Tetapi, jika aku membutuhkan kinerja kalian, kalian harus siap sedia menjalaninya. Bagaimana?"


Sekumpulan berandalan yang berkumpul seketika saling pandang tanpa berbisik. Sebagian yang merasa tidak ingin menjadi seorang bawahan dari orang lain segera melangkah pergi tanpa berkata apapun. Sebagian lainnya yang tergiur melihat perlakuan Nyai Gendhis pada Mungsiya memutuskan untuk tetap tinggal. Dan sebagian yang lain tetap tinggal karena ini memang merupakan pekerjaan mereka.


"Bagus, bagus!" Nyai Gendhis memandangi sekumpulan berandalan yang tersisa. Hampir seperempatnya pergi meninggalkan tempat. "aku ingin kalian menjanjikan kesetiaan kalian terhadapku!" pinta Nyai Gendhis.


"Kami berjanji, akan setia kepada Nyai!" teriak sekumpulan berandalan dengan serempak.


"Baiklah, aku menerima pengakuan dari kalian semuanya. Jika di antara kalian ada yang berani membangkang, aku tidak akan pernah segan memberikan perhitungan kepadanya. Kalian mengerti?"


"Mengerti Nyai!" teriak sekumpulan berandalan lagi dengan suara serempak.


"Nyai?" teriak seseorang di antara sekumpulan berandalan. Nyai Gendhis menoleh pada seseorang yang berteriak. Orang itu cukup tinggi dengan kulit sedikit gelap dan berwajah sangar.


"Ada apa? Apakah perkataanku masih kurang jelas?"


"Apa kami juga akan diberikan kesenangan?"


"Tentu! Tentu saja! Aku akan mencarikan beberapa untuk kalian bersenang-senang setiap bulannya."


"Apakah Nyai berkenan ikut bersenang-senang juga bersama kami?"


"Oh?.. Kau berharap dapat bersenang-senang denganku rupanya?"


"Iya, Nyai!" Orang itu memandangi tubuh Nyai Gendhis dengan wajah kesenangan. Terpikir olehnya bagaimana rasanya ia bisa bersenang-senang dengan perempuan yang secantik Nyai Gendhis.


"Katakanlah! Siapa namamu?"


"Aku Gendra dari kaki Bukit Lor!"

__ADS_1


"Baiklah, Gendra! Aku akan mengabulkan permintaanmu jika kau bisa mengalahkanku."


"Benarkah, Nyai?" tanya Gendra tak percaya atas ucapan Nyai Gendhis.


"Majulah! Buktikan kau bisa mengalahkanku! Aku akan mengabulkan permintaanmu jika kau dapat mengalahkanku saat ini juga."


Tanpa ragu lagi, Gendra segera maju ke depan untuk menghadapi Nyai Gendhis. Nyai Gendhis ikut maju beberapa langkah. Para berandal lain menggeser posisi sedikit menjauh.


Gendra segera memasang kuda-kudanya. Dalam pikirannya, ia mampu untuk mengalahkan Nyai Gendhis dengan segenap kekuatannya. Sekarwati tersenyum meremehkan Gendra yang terlalu menganggap dirinya mampu mengalahkan ibunya.


Setelah Nyai Gendhis memintanya menyerang. Gendra tak membuang kesempatannya. Ia segera menyerang Nyai Gendhis dengan kekuatan yang dimilikinya.


Gendra menarik pedang dari sarungnya yang tersimpan di pinggangnya dan dengan cepat langsung melayangkan pedangnya ke arah Nyai Gendhis. Layangan dari pedang Gendra hanya mampu menebas angin. Nyai Gendhis dengan mudahnya mengelak setiap tebasan pedang yang datang ke arahnya. Tak jarang Nyai Gendhis menangkis dengan tongkat kayu di tangannya.


"Hanya itukah kemampuan yang kau miliki?"


"Tidak! Barusan itu hanya pemanasan saja bagiku!"


Gendra kembali menyerang. Kini Gendra menyerang lebih gencar. Perkataan Nyai Gendhis seketika menyulut ambisinya untuk mendapatkan tubuh Nyai Gendhis. Nyai Gendhis pun menghadapi Gendra sedikit serius, kini.


Gendra memegangi gagang pedangnya. menarik mundur sedikit, lalu melepaskannya ke arah Nyai Gendhis. Pedang itu datang begitu cepat. Nyai Gendhis menghadangnya dengan cepat. Pedang itu seakan melayang di hadapan Nyai Gendhis dengan ujung pedang yang siap bersarang di perutnya.


Demi melihat hal itu, Gendra mengerahkan tenaga dalamnya untuk mendorong pedangnya agar menembus pertahanan Nyai Gendhis. Tetapi bagi Nyai Gendhis, hal itu tidaklah sulit untuk dihadapinya. Seperti menarik jarum yang menancap pada tumpukan kapas.


Dengan sedikit gerakan tangannya, Nyai Gendhis berhasil mengembalikan pedang milik Gendra dan berbalik ke arah Gendra dengan amat cepat.


Gendra yang menyadari bahwa pedangnya mengarah ke arahnya, secepat kilat mengelak dan menghindarkan diri. Pedang Gendra mengarah pada berandalan lainnya dan bersarang pada tubuhnya hingga menghilangkan nyawanya seketika.


Gendra menghela napas lega. Hampir saja pedangnya berubah menjadi senjata makan tuan. "Aku mengaku kalah, Nyai! Aku siap menerima hukuman apapun!" ucap Gendra berlutut dan mengakui kekalahannya.


"Hahaha! Menarik! Aku suka dengan semangat yang kau tunjukkan!" ucap Nyai Gendhis memandangi Gendra. Nyai Gendhis tiba-tiba melemparkan sekantung uang ke hadapan Gendra. "ambillah sebagai hadiahmu karena telah membuatku senang!"

__ADS_1


"Terima kasih! Terima kasih, Nyai!"


"Siapa dari kalian yang kemari bersamanya?" Nyai Gendhis bertanya pada sekumpulan berandalan yang hadir akan seorang berandal yang terbunuh oleh pedang milik Gendra.


Tidak ada satupun suara yang terdengar oleh Nyai Gendhis. "Karena kalian tidak ada yang mengenalinya, berarti ia datang seorang diri. Kematiannya adalah sebuah pengorbanan besar dalam pandangan mataku. Gendra, kau bantu urusi mayatnya beserta yang lainnya! Kuburkan ia dengan layak! Biar bagaimanapun dia adalah salah satu bagian dari kita juga."


"Baik, Nyai!" Gendra bangkit dan menghampiri mayat yang terkena pedang miliknya. Orang itu terlihat masih muda. berusia dalam kisaran belasan tahun. Mungkin ini memang sudah menjadi suratan takdirnya, pikir Gendra. Gendra mencabut pedangnya yang tertancap dan memasukkannya ke dalam sarungnya. Kemudian meminta berandalan lain agar membantu mengurusi mayatnya.


"Mungsiya, kemarilah!"


"Nyai!" sahut Mungsiya berdiri di samping Nyai Gendhis.


"Di mana kalian biasa tinggal?"


"Kami berdua selalu berpindah-pindah tempat, Nyai! Tak ada tempat yang kami tinggali!"


"Baguslah! Mulai saat ini, aku memerintahkanmu untuk menempati rumah ini! Aku akan datang memanggilmu jika aku membutuhkanmu untuk melakukan tugas barumu."


Mungsiya mengangguk paham. Nyai Gendhis lalu melemparkan sekantung uang kepada Mungsiya. Sedikit lebih penuh dari pada yang Nyai Gendhis berikan kepada Gendra. "Itu sudah cukup untuk menghidupi kalian selama satu bulan kedepan. Yang lainnya boleh kembali ataupun ikut dengan Mungsiya jika kalian mau. Mungsiya, hari ini, kujadikan tempat ini sebagai markas kalian. Ingatlah untuk tetap menjaganya! Aku pergi dulu!"


"Terima kasih, Nyai!"


Nyai Gendhis mengibaskan selendangnya dan menghilang seketika bersama dengan putrinya, Sekarwati, dari pandangan Mungsiya dan juga berandalan-berandalan yang lainnya.


Sembara Jati memburu Mungsiya sesaat setelah Nyai Gendhis dan Sekarwati pergi. "Mungsiya, aku ingin ikut menempati rumah ini bersama kalian juga," ucap Sembara Jati.


"Jika itu memang keinginanmu, maka tinggallah!" balas Mungsiya beranjak hendak masuk ke dalam sebuah rumah yang disediakan oleh Nyai Gendhis sebagai markas.


"Jika ada yang ingin kembali, maka kembalilah! Jika ada yang berkenan tinggal bersamaku, maka tinggallah!" teriak Mungsiya sebelum memasuki markas.


Berandalan-berandalan lain yang memilih untuk tetap tinggal bersama Mungsiya segera mengikuti langkah Mungsiya. Sementara yang lainnya tidak ikut memasuki markas dan memilih untuk kembali ke tempat masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2