Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Setitik keraguan


__ADS_3

“Tidak! Itu tidak mungkin! Simbol yang disukai oleh Puteri Sri Ratih tidak ada yang berani memilikinya. Jika ada seseorang yang memilikinya, itu pasti pemberian Tuan atau Puteri, itu pun tidak boleh yang berwarna keemasan. Karena warna itu hanya khusus digunakan oleh keluarga Tuan dan Puteri.” Lasmi masih mempertahankan keyakinannya.



Suasana semakin tegang.



“Suwira, Lasmi, lebih baik kita bicarakan hal ini baik-baik. Kita luruskan dulu soal ini,” ucap Paman Datuk mencoba merenggangkan suasana agar terlihat nyaman. “dan kau, Jaka. Sebaiknya dengarkan dulu apa yang mereka pikirkan tentangmu. Mungkin saja ada sesuatu di balik kalung yang kau pakai itu.”



Jaka memandang Paman Datuk. Sesaat ia berpikir, mungkin perkataan Paman Datuk ada benarnya juga. “Baiklah, Paman. aku akan mendengarkannya.”



Suwira dan Lasmi menceritakan segala apa yang pernah terjadi pada mereka semenjak mereka berdua mulai mengabdi pada Tuan dan Puteri yang tak lain adalah orang tua Jaka, kemudian mereka akhirnya disatukan oleh ayah Jaka hingga sampai kedua orang tua Jaka meninggal dan mereka sudah tidak lagi menetap di istana kerajaan. Tak ada satu pun kejadian yang luput dari apa yang mereka ceritakan pada Jaka mengenai kedua orang tuanya.



“Raden, kenapa Raden menangis?” tanya Suwira ketika melihat Jaka tiba-tiba saja mengeluarkan air matanya saat tengah mendengarkan cerita kematian ayahnya dan ibunya yang sedikit murung karena kepergiannya.



“Ah, tidak apa. Aku tidak tahu. Barangkali saja mataku ini terkena debu hingga berair.”


__ADS_1


“Bilang saja jika Kangmas merasa terharu, lalu menangis karena Tuan meninggalkan Puteri seorang diri. Untuk apa harus malu dan menutupinya,” celoteh Dewi Mayasari yang ikut mendengarkan apa yang diceritakan oleh Suwira dan Lasmi.



“Mana ada! Siapa yang bilang aku terharu dan bersedih!?” Berusaha menutupi perasaannya.



“Lalu kenapa Kangmas mengeluarkan air mata jika bukan merasa bersedih?"



Jaka terdiam. Paman Datuk, Suwira dan Lasmi tertawa mendengar celotehan Dewi Mayasari.



Jaka tidak menampik ucapan Dewi Mayasari sedikit pun. Dalam hati kecilnya ia merasa apa yang dikatakan oleh Dewi Mayasari begitu mengena di benaknya.




Setelah menginap selama dua hari, tanaman obat yang dibutuhkan oleh Jaka akhirnya terkumpul sudah. Paman Datuk mengajak Jaka dan Dewi Mayasari untuk pamit kembali ke tempat penginapan.



“Raden.. izinkan kami untuk mengabdi kepada Raden,” pinta Lasmi bersungguh-sungguh. “Kami ingin terus mengabdi pada Tuan dan Puteri, bahkan walaupun Tuan dan Puteri sudah tiada.”

__ADS_1



“Benar, Raden,” sambung Suwira. “kami ingin meneruskan pengabdian kami. Mungkin hanya Raden satu-satunya keluarga Tuan dan Puteri yang masih bisa kami temui.”



Jaka menolak permintaan Suwira dan Lasmi dengan halus. “Maaf, Paman, Bibi. Aku bukannya menolak niatan baik kalian. Hanya saja aku belum mengetahui secara pasti siapa aku sebenarnya, dan dari mana asalku? Aku bahkan tak tahu keluargaku kini ada di mana?”



“Mungkin Raden memang benar-benar keturunan Tuan dan Puteri. Raden..”



“Sekali lagi maafkan aku, Paman, Bibi. Aku masih belum bisa mengabulkan permintaan kalian hingga aku memastikan siapa aku sebenarnya,” potong Jaka kembali menolak permohonan Suwira dan Lasmi.



Suwira dan Lasmi akhirnya menyerah.



“Kalau Raden berkata seperti itu, kami tidak akan memaksa Raden lagi,” ucap Suwira pasrah.



“Semoga Raden selamat di perjalanan,” tambah Lasmi dengan berat hati mengiringi kepergian Paman Datuk, Jaka dan Dewi Mayasari kembali menuju tempat penginapan.

__ADS_1



“Aku akan kembali dan berkunjung lagi lain waktu. Jagalah diri kalian. Kami berangkat dulu,” pamit Paman Datuk. Suwira dan Lasmi hanya mengangguk. Paman Datuk dan Jaka segera menarik kendali kuda dan pergi kembali pulang ke tempat penginapan, meninggalkan Suwira dan Lasmi yang mematung di depan rumah hingga kepergian ketiganya sudah tak tampak lagi dalam pandangan mereka.


__ADS_2