
Mpu Anggar Maya menarik napas dalam-dalam. "Apa yang ingin kau tahu tentang itu?" tanyanya dengan tenang.
"Aku masih belum menemukan jawaban yang bisa membuatku puas," ungkap Jaka.
"Jangan berputus asa! Suatu saat kau akan menemukan jawaban yang selama ini kau cari."
"Baik, Guru."
"Ada banyak pandangan tentang hal itu, tergantung bagaimana setiap orang menyikapinya."
"Bagaimana pandangan Guru tentang hal itu? Bagaimana Guru bisa mendapatkan jawabannya?" tanya Jaka penasaran.
"Aku memiliki lima pandangan dalam menyikapi hal itu."
"Apa itu, Guru? Bisakah Guru menjelaskan hal itu agar aku bisa memahaminya?"
"Apa kau sungguh ingin mengetahuinya?"
"Ya, aku ingin tahu bagaimana pandangan Guru tentang itu." Jaka begitu penuh harap, seakan menantikan jawaban gurunya itu.
"Baiklah, aku akan memberitahukanmu tentang bagaimana pandanganku itu."
Mpu Anggar Maya kembali menarik napas panjang. Jaka mendengarkan dengan seksama.
"Pertama, Di dunia ini derajat manusia tidak ada yang berbeda. Semuanya sama. Baik itu bangsawan maupun rakyat biasa, semua memiliki derajat dan kedudukan yang sama."
"Apakah itu termasuk juga dalam tatanan sosial dan martabat yang dimilikinya?"
"Ya, tentu saja! Terlepas dari semua itu, derajat setiap orang tidak ada perbedaan sama sekali. Hanya kemuliaan hatilah yang dapat membedakan apakah ia bisa dibilang memiliki derajat atau tidak."
"Apa maksudnya itu, Guru?"
__ADS_1
"Kemuliaan hati bisa membuat orang lain memandang dirimu seakan memiliki derajat meskipun kau berkedudukan sebagai budak. Sebaliknya, meskipun kau memiliki harta kekuasaan dan kedudukan yang tinggi, tapi tanpa kemuliaan hati di dalam dirimu, itu akan membuatmu menjadi seseorang yang tidak memiliki derajat sama sekali. Setiap orang akan cenderung merendahkan dan melihatmu dengan pandangan hina.
Jaka mengangguk seakan ia menemukan pemahaman yang dipikirkannya.
"Yang lebih parahnya lagi, setiap orang akan memandang dirimu lebih rendah dari hewan, bahkan mungkin lebih hina lagi.
Jaka kembali mengangguk.
"Kedua, Bijak dalam menentukan langkah hidup seperti yang dulu telah aku jelaskan sewaktu kau kuangkat menjadi muridku. Bukankah kau sudah mengetahuinya dengan jelas?" tanya Mpu Anggar Maya.
"Ya, aku masih mengingatnya" jawab Jaka. "aku selalu mengingatnya seperti janjiku pada Guru tempo hari," tambahnya lagi.
"Baguslah jika kau masih mengingatnya."
Jaka mengangguk lagi.
"Lalu, Bersikaplah adil dalam mengambil setiap keputusan."
"Setiap keputusan yang kau ambil, harus kau pikirkan dengan baik. Lebih dari itu kau juga harus memisahkan antara hal yang menyangkut urusan pribadimu serta urusan yang menyangkut orang lain."
"Apakah itu juga termasuk dengan diri sendiri, Guru?" tanya Jaka.
"Sepertinya pikiranmu agak sedikit lebih terbuka sekarang."
"Guru, jangan mengalihkan pembicaraan kita." Tersipu malu dan sedikit menunduk. "Lanjutkan saja pandangan Guru itu!"
"Baik, baik. Kau ini tidak sabaran seperti biasanya."
Mpu Anggar Maya kembali meneruskan ucapannya. "Kau tidak boleh memihak kepada seseorang hanya karena kau dan dia memiliki hubungan khusus atau dia adalah seseorang yang kau sukai. Apa kau paham dengan itu?"
Jaka mengangguk. "Aku mengerti, Guru!"
__ADS_1
"Kemudian, jangan pernah bermain-main dengan api yang dapat membakar dirimu sendiri."
"Jaka tertawa. "Guru, hanya orang bodoh yang melakukan hal itu?"
Mpu Anggar Maya tertegun melihat Jaka tertawa cukup keras.
"Apa maksudmu?" Bertanya penuh keheranan.
"Kalau aku adalah orang itu, aku akan menyiramkan air untuk memadamkan apinya. Apakah ia tidak tahu air bisa mengalahkan api."
Mpu Anggar Maya menarik napas lebih dalam saat mendengarkan ucapan yang Jaka lontarkan, lalu mengeluarkannya seolah tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan oleh Jaka.
"Ya, dan orang bodoh itu adalah kau."
"Guru, kenapa aku disamakan dengan orang bodoh?"
"Seperti biasanya, kau tidak menangkap inti dari apa yang kukatakan. Aku pikir pikiranmu sudah mulai terbuka, ternyata aku yang berpikir terlalu besar."
Jaka tertunduk dan merasa bersalah. "Maaf, Guru. Aku salah!"
Mpu Anggar Maya memaklumi hal itu, ia tidak berusaha untuk menyudutkan Jaka.
"Baik, Ingatlah untuk memahami setiap ucapan yang kau dengar dulu sebelum kau mengomentarinya," pesan Mpu Anggar Maya pada Jaka mengingatkan.
"Baik, Guru. Lain kali aku tidak akan melakukan hal itu lagi," ucap Jaka dengan pandangan masih tertunduk.
"Sudahlah. Aku akan melanjutkan ucapan tentang pembahasan tadi. Yang kumaksud adalah, jangan pernah menuai persoalan yang akan merugikan dirimu atau sesuatu yang dapat membuatmu menyesalinya suatu hari nanti."
"Aku mengerti, Guru!"
"Dan, yang terakhir.."
__ADS_1