Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Perjalanan ke Desa Wangun 2


__ADS_3

“Selanjutnya..”


Suara panggilan seseorang menyadarkan Jaka akan tempatnya berdiri.


“Mari, kita ke sana,” ajak Jaka pada Dewi Mayasari. Keduanya sudah berada di hadapan kepala penginapan yang bertugas menerima setiap orang yang akan menyewa kamar penginapan, namun Dewi Mayasari berdiri agak jauh dari belakang Jaka.


“Berapa kamar yang akan kau ambil, dan untuk berapa orang?” tanya kepala penginapan.


“Ermm, aku mau menyewa sebuah kamar untuk dua orang,” jawab Jaka sedikit gugup.


“Dengan siapa kau mengambil kamar?”


“Itu.. aku bersama dengan Adikku, dia di sana.” Menunjuk ke arah Dewi Mayasari yang berdiri tak jauh darinya. Kepala pelayan menggerakkan beberapa jarinya memanggil Dewi Mayasari agar mendekat.


“Apakah dia Kakakmu? Kenapa wajah kalian tidak mempunyai kemiripan sama sekali?” tanya kepala penginapan dengan heran.


“Nyi, Nyimas, bukankah kita akan mengambil sebuah kamar penginapan?” tanya Jaka pada Dewi Mayasari. Jaka masih merasa gugup. Ia menunggu jawaban atas pertanyaannya dengan cemas. Apa yang akan Dewi Mayasari katakan kiranya.

__ADS_1


“Betul, Kangmas. Maaf, aku tadi ke belakang sebentar. Aku lupa memberitahu saat akan pergi. Apakah kita sudah mendapatkan sebuah kamar?” jawab Dewi Mayasari dengan tenang. Ia meyakinkan kepala penginapan, bahwa ia memang benar-benar adik Jaka.


“Itu..” Jaka menoleh ke arah kepala penginapan. Berharap kepura-puraannya tidak terlihat.


“Baiklah. Ini tanda kamar kalian. Jangan sampai hilang! Kau bisa menunjukkannya dan menanyakan berapa biayanya di dalam pada seseorang.” Menyerahkan sebuah barang sebagai tanda dari kamar penginapan yang telah dipesan.


“Ba, baik.” Jaka merasa lega. Ia merasakan kembali pijakan di kakinya yang sempat tak terasa karena tertutup oleh rasa gugupnya.


“Kangmas, mari kita segera mencari di mana letak kamarnya,” ajak Dewi Mayasari pada Jaka yang masih mematung.


“Ah, ah. Iya, Nyimas. Mari kita masuk.”


“Apa yang bisa kubantu untuk kalian?”


“Aku hendak menyewa sebuah kamar untukku dan Adikku.” Menunjukkan sebuah barang yang diberikan oleh kepala penginapan.


Orang itu melirik barang yang Jaka tunjukkan. "Ruangannya berada di ujung sana." Menunjuk arah kamar yang dimaksud. "biayanya lima keping perak untuk dua malam," ucapnya lagi.

__ADS_1


Jaka segera memberikan biaya sewa kamarnya. Namun, ia sedikit bingung dengan barang pemberian kepala penginapan.


“Maaf, bagaimana dengan barang ini?” Kembali menunjukkan barang di tangannya.


“Simpan saja. Jangan sampai kau hilangkan. Kau juga bisa memasangnya di depan pintu, agar tidak ada orang yang keliru masuk ke kamarmu.”


Jaka kini bisa memahami arti sebuah barang yang berada di tangannya. Ia segera mengajak Dewi Mayasari menuju sebuah kamar yang sudah ditentukan untuk mereka berdua.


Di dalam kamar..


Dewi Mayasari menghela napas panjang. Jaka mengitari bagian-bagian kamar dengan pandangannya.


“Aish, akhirnya aku sudah tidak perlu berpura-pura lagi menjadi seorang Adik.” Merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Jaka masih berdiri sambil mengedarkan pandangannya mengitari bagian-bagian kamar.


“Hei, kapan kau akan menjelaskan padaku kenapa aku harus bertingkah sebagai Adikmu,” tanya Dewi Mayasari bangkit.


Jaka masih fokus mengitari bagian-bagian kamar. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres di kamarnya. Jaka memancing dirinya sebagai umpan dan segera mendekati Dewi Mayasari.

__ADS_1


“Hei, kenapa kau diam saja? Apakah kau tidak mendengar ucapanku barusan?”


__ADS_2