
"Siapa itu yang berani-beraninya menghalangi jalanku!" racau Waluh Kuning dalam keadaan tidak sadar karena mabuk. "jangan kau coba-coba untuk menghalangi jalanku! Aku akan memanggil Kakang Wuluh kemari jika kau berani!.."
"Aku, Lembing Wuluh! Orang yang akan menghakimi dirimu saat ini juga!" ujar Lembing Wuluh memandangi wajah saudaranya, Waluh Kuning, yang tengah berada dalam keadaan mabuk. Menyayangkan perilaku dari saudaranya itu dengan perasaan sedih. Kendatipun demikian, sebagai saudaranya yang tertua, Lembing Wuluh tahu batasan-batasannya untuk mendidik dan mengayomi saudaranya agar tidak melampaui batas.
"Hah?! Apa kau ini benar-benar Kakang Wuluh? Kakang Wuluh-ku tidak akan sudi untuk.. Hikk! datang ke tempat yang seperti ini.. kau jangan berbohong pada.." Sejurus kemudian Waluh Kuning ambruk dengan kepala menyandar pada tubuh Lembing Wuluh.
"Kalian, kemarilah! Cepat gotong dia!" panggil Lembing Wuluh pada beberapa orang yang menyertai saudaranya.
"Baik, Kakang Wuluh!" sahut beberapa orang mendekati lembing Wuluh. Beberapa orang yang menyertai Waluh Kuning dengan sigapnya menopang tubuh Waluh Kuning yang sudah tidak sadarkan diri lagi. Mengangkatnya dari pada tubuh Lembing Wuluh dengan cepat.
"Antarkan dia ke rumah dengan segera!"
"Baik, Kakang! Berhati-hatilah dalam perjalanan!" ucap salah seorang yang ikut memegangi tubuh Waluh Kuning tatkala melihat Lembing Wuluh sudah berada di atas kuda dan bersiap memacunya untuk kembali pulang mendahului. Beberapa orang itu langsung menggotong Waluh Kuning dan segera menyusul kepergian Lembing Wuluh.
...***...
Laras duduk di atas dipan. Dipan itu tidak berbunyi seperti suara dipan yang sudah usang atau lapuk. Hanya berderit saat tertekan beban berat saja. Alas tidurnya juga terbuat dari beberapa lapisan papan-papan tipis yang disusun berderet menjadi satu hamparan luas untuk tempat tidur seukuran dua tubuh orang dewasa dengan jarak lebih sekitar dua jengkalan tangan. Disediakan pula sebuah kain selimut yang tidak terlalu besar. Akan tetapi, bisa digunakan untuk menyelimuti dua orang dewasa bila tidur berdampingan.
Dari ruangan sebelah, bilik kamar yang paling ujung, terdengar suara dua orang yang berada di dalam ruangan itu. Suara dari seorang laki-laki dan perempuan. Keduanya saling bercakap-cakap. Meskipun apa yang tengah dibicarakan tak begitu terdengar dengan jelas, tetapi suaranya dapat terdengar oleh Jaka dan juga Nyi Dewi. Laras masih terduduk di atas dipan dan terus memandangi hamparan tikar yang telah digelar. Laras sepertinya tidak mendengar suara percakapan di ruangan sebelah. Hanya terus memandangi hamparan tempat tidur yang serasa memanggilnya agar segera merebahkan tubuh. Tak lama kemudian, Laras bangkit dan berjalan menghampiri Nyi Dewi.
Ngh!! Mmh!!
Sejurus kemudian, dari arah ruangan sebelah itu tiba-tiba saja terdengar sebuah suara yang membuat wajah Jaka dan juga Nyi Dewi terperanjat kaget saat mendengarnya. Suara yang lumrah bagi orang dewasa seusia keduanya. Suara itu adalah suara dari ******* seorang perempuan. Suaranya cukup jelas walaupun suaranya tidaklah keras. Sepertinya dua orang yang berada di dalam ruangan sebelah itu tengah melakukan suatu hal yang bersifat intim.
"Mbakyu, suara apa itu?" tanya Laras pelan begitu berdiri tepat di samping Nyi Dewi dan mendengar sebuah suara yang menurutnya terbilang aneh. "mengapa suaranya seperti.."
__ADS_1
Spontan. Tanpa banyak kata lagi Nyi Dewi langsung menutupi telinga Laras dengan kedua telapak tangannya. Nyi Dewi berdiri menghadap Laras. Menurutnya, suara yang terdengar oleh telinga Laras bukanlah suatu hal yang baik untuk pertumbuhannya saat ini.
"Mbakyu?.." Laras memandang lurus ke arah Nyi Dewi dengan raut wajah keheranan atas perlakuan Nyi Dewi kepadanya.
Laras yang sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Nyi Dewi secara tiba-tiba, lantas memegangi pergelangan tangan Nyi Dewi dan berusaha untuk melepaskannya dari kedua telinganya. Tetapi Nyi Dewi menahan telapak tangannya pada kedua telinga Laras dengan sedikit tekanan tanpa mengatakan apapun.
Tiba-tiba saja suara perempuan yang berada di ruangan sebelah menghilang sesaat. Suara percakapan pun tidak terdengar lagi. Namun, ternyata hal itu tidaklah berlangsung lama. Suara-suara itu seketika kembali terdengar. Kali ini sedikit lebih keras.
Suara ******* dari seorang perempuan itu kian bertambah jelas. Nyi Dewi masih menekan kuat telapak tangannya pada kedua telinga Laras walaupun Laras terus berusaha untuk melepaskannya. Sementara Jaka hanya mampu terdiam dan membisu, berdiri mematung di belakang Laras dengan pandangan yang tak tentu arah.
"Ngh! Kakang?.."
"Aku sudah tidak sabar, Lastri! Aku ingin segera memilikimu!"
"Tenanglah, Lastri! Pelankan suaramu! Bagaimana jika suaramu terdengar oleh penghuni ruangan yang lain?"
Suara penuh keintiman yang terdengar tak bisa dibendung lagi. Nyi Dewi ingin menegur dua orang di dalam ruangan sebelah. Tetapi ia takut jika suara itu akan terdengar oleh telinga Laras. Lagi pula, saat ini bukan hanya perkara soal menegur seseorang yang lebih penting, batin Nyi Dewi. Hal yang terpenting saat ini adalah menjauhkan Laras dari suara-suara yang menurutnya akan memengaruhi masa pertumbuhan Laras. Terlebih, hal yang terjadi belum sepatutnya diketahui lebih dalam oleh Laras.
Nyi Dewi melirik ke arah Jaka yang berdiri tak jauh di belakang laras. Wajah Nyi Dewi pun memerah karena mendengar suara dari ruangan sebelah. Nyi Dewi juga dapat melihat jelas wajah Jaka yang juga memerah seperti wajahnya. Karena Jaka dan Nyi Dewi tahu betul apa yang tengah dilakukan oleh dua orang itu. Dan saat pandangan keduanya bertautan selama beberapa detik, keduanya pun saling membuang pandangannya seketika.
"Ngh! Ngh! Ngh! Kakang! Ka.. kang!.."
"Lastri!.."
Suara-suara itu meredup. Suasana ruangan pun seketika menjadi hening. Suara dari arah ruangan sebelah benar-benar telah menghilang sepenuhnya. Suara ******* perempuan itu pun tak lagi terdengar. Sepertinya kedua orang itu telah usai atau mungkin saja keduanya langsung tertidur.
__ADS_1
Telapak tangan Nyi Dewi masih belum terlepas dari kedua telinga Laras. Nyi Dewi ingin memastikan bahwa suara dari perempuan itu benar-benar tak akan terdengar lagi sebelum ia melepas kedua telapak tangannya dari telinga Laras.
Dua orang yang berada di dalam ruangan sebelah akhirnya pergi meninggalkan ruangannya. Keduanya berlalu melewati ruangan kamar yang Jaka sewa, dan percakapan mereka sedikit terdengar dari arah luar ruangan mengiringi langkah kaki keduanya.
"Lastri, bagaimana jika besok malam kita kemari lagi?"
"Tidak bisa, Kakang! Besok aku.."
Nyi Dewi menghela napas lega karena Laras takkan mendengar suara apapun lagi. Sebab, dua orang itu telah pergi meninggalkan ruangannya. Ia perlahan mulai melepaskan telapak tangannya yang menutupi telinga Laras.
"Mbakyu, mengapa Mbakyu menutupi telinga Dinda tadi? Memangnya suara barusan itu suara apa? Mengapa Dinda tidak boleh mendengarkannya?"
"Bukan apa-apa! Itu hanyalah suara seseorang yang tengah mabuk saja. Suaranya pun tidak terlalu pantas untuk didengarkan. Jadi, Mbakyu menutupi telinga Diajeng agar Diajeng tidak akan mendengarnya," ucap Nyi Dewi dengan wajah kembali memerah.
"Hm!.. Apakah sekarang orang itu sudah tersadar, Mbakyu?"
"Hmm?.. Sepertinya.. begitu! Iya, sepertinya begitu!" ucap Nyi Dewi tersenyum canggung dan berkata gelagapan.
"Kalian beristirahatlah dulu! Aku akan pergi keluar sebentar untuk mengeceknya!" ucap Jaka hendak beranjak keluar ruangan dengan pandangan yang tak tenang.
"Apakah Kanda akan cepat kembali?" Laras hendak menahan langkah Jaka agar tidak pergi.
Jaka mengusap lembut rambut Laras dan melirik ke arah Nyi Dewi sesaat sebelum keluar dari ruangan. "Aku akan kembali secepatnya! Kau tidurlah dulu bersama dengan Mbakyumu, ya? Aku hanya akan pergi barang sebentar saja. Takkan lama!"
"Baiklah!" Laras mengangguk dan memandangi Jaka yang sudah bersiap untuk pergi. Nyi Dewi turut mengangguk lirih diiringi tatapan canggung saat ia tahu bahwa Jaka sempat meliriknya sekilas.
__ADS_1