Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Berkumpul kembali


__ADS_3

Jaka segera membantu Nyi Dewi bangkit.


Tiba-tiba saja Ki Pucung dan Nyi Pucung datang menghampiri Jaka dan Nyi Dewi membawa serta Laras.


Akhirnya Laras terbebas dari siksaan akan ruangan yang sempit nan gelap. Ia keluar dari markas kelompok Kuda Hitam dengan bantuan Ki Pucung dan Nyi Pucung.


Setelah melihat kakaknya, Jaka, ia segera memburu ke arahnya.


“Ka, Kanda..” Laras berlari cepat menuju ke tempat Jaka berdiri, matanya berbinar dengan seribu ketakutan yang tersirat di wajahnya.


“Kanda, Dinda takut..” Laras terisak dan memeluk kakaknya, Jaka.


“Sekarang sudah aman. Apakah kau ada yang terluka?”


Laras menggeleng pelan, membenamkan wajahnya di pelukan kakak yang selama ini selalu menjaganya.


“Kanda...” Laras mengangkat wajahnya setelah beberapa saat ia memeluk Jaka.


Hmm! Jaka bergumam.


“Mereka ini siapa? Apa mereka keluarga Kanda?” tanya Laras.


“Ahh, benar, mereka adalah keluarga baru kita!”


“Apakah mereka ini orang tua Kanda?”


“Bukan, tapi bisa juga dikatakan seperti itu. Pokoknya nanti kita akan bicarakan di padepokan saja. Sekarang kita kembali dulu ke padepokan, ya.”


Laras mengangguk pelan. "Hm!"


“Mari, kita pulang, Nyimas!” Mengajak Nyi Dewi.


"Paman, Bibi, mari kita kembali juga!"


Ki Pucung dan Nyi Pucung mengangguk menyambut tawaran Nyi Dewi.


Mereka kembali menuju padepokan dan meninggalkan markas kelompok Kuda Hitam.


Sesampainya di padepokan, Jaka lantas menceritakan semuanya kepada Laras, tentang bagaimana ia bertemu dengan Nyi Dewi untuk pertama kalinya, tentang kesehariannya berlatih bersama-sama di padepokan yang ia anggap sebagai satu-satunya rumah yang ia miliki, dan hal lain yang belum pernah ia ceritakan kepada Laras.


Jaka bercerita panjang lebar tentang masa lalunya yang kelam.

__ADS_1


“Bukankah begitu, Nyimas?” tanya Jaka pada Nyi Dewi tentang masa-masa yang ia lewati saat berlatih bersama dengan Nyi Dewi.


Nyi Dewi hanya mengangguk mengiyakan.


“Nah, kira-kira begitulah pertemuanku dengan Nyi Dewi hingga sekarang."


"Sedangkan untuk Paman dan Bibi, aku baru mengenal mereka saat Nyi Dewi tiba beberapa hari yang lalu."


"Jadi, mulai sekarang, kita adalah keluarga mereka dan mereka adalah keluarga baru kita. Kau pun harus menghormati mereka seperti kau menghormatiku, dan mintalah bantuan mereka jika kau membutuhkan sesuatu,” pesan Jaka pada Laras.


“Baik, Kanda." Membalas dengan patuh. "jika begitu, apa Dinda ini seperti adik Nyi Dewi juga, sama seperti Kanda?”


Jaka hanya tersenyum. Ia tak menggubris perkataan Laras.


“Ah! Kalau begitu..” Laras terlihat tengah memikirkan suatu hal dengan serius. Bola matanya berputar ke segala arah sembari memegangi dagunya.


“Mulai hari ini, Dinda akan panggil Nyi Dewi, Mbakyu saja.” Antusias.


Nyi Dewi tersentak seketika. Wadah air yang hendak diminumnya terlihat sedikit bergetar. Nyi Dewi melirik pelan ke arah Laras, wajahnya memerah.


“Laras!” Jaka memandangi Laras seakan berkata kepadanya untuk lebih menjaga kesopanan di hadapan orang yang lebih tua darinya, terutama kepada orang yang baru dikenalnya.


Wajah Laras berubah muram. Kesal akan kakaknya, Jaka, yang selalu menghalangi keinginannya.


Jaka tidak menanggapi. Untuk beberapa alasan ia memilih diam.


Ki Pucung dan Nyi Pucung hanya mampu tersenyum renyah melihat tingkah Laras. Bagi mereka yang sudah berumur, masa-masa seperti ini sudah sering mereka temui.


“Mbakyu.. boleh, kan?” Laras merengek mengalihkan pandangannya ke arah Nyi Dewi dengan raut wajah seperti anak kecil yang bersedih, berharap Nyi Dewi akan memenangkan argumennya atas sikap Jaka.


Nyi Dewi makin tersipu. Terlebih, ia tak mampu menahan aura wajah Laras yang terlihat polos saat itu, seperti anak kecil yang kehilangan sesuatu.


“Kangmas, aku pikir tidak apa. Biarkanlah Diajeng Laras memanggilku dengan nama panggilan yang disukainya” Nyi Dewi pun angkat bicara. Memandang ke arah Jaka, kemudian melemparkan pandangannya kepada Laras.


“Diajeng Laras ini sudah kuanggap seperti Adikku sendiri, sebagai bagian dari pada keluarga kita, benar, kan, Paman, Bibi?” Nyi Dewi menoleh ke arah Ki Pucung dan Nyi Pucung. Keduanya tersenyum sembari menganggukkan kepala.


“Diajeng boleh memanggilku dengan apa pun yang Diajeng Laras suka. Bukankah begitu, Kangmas?” Melirik Jaka.


Jaka tetap bertahan dalam diamnya.


“Kangmas, bukankah begitu?” Nyi Dewi semakin menatap lekat wajah Jaka.

__ADS_1


Lagi-lagi Jaka tak menggubris pertanyaan Nyi Dewi, ia tetap saja bergeming dalam sikap diamnya, hanya bisa memalingkan wajahnya yang mulai memerah.


Nyi Dewi membiarkan Jaka begitu saja.


“Aku akan merasa senang jika Diajeng pun tidak keberatan menganggap kami sebagai bagian keluarga,” tambahnya.


Laras memburu ke arah Nyi Dewi dengan perasaan senang. “Baik, Mbakyu..” Laras memeluk Nyi Dewi dengan manjanya. Nyi Dewi makin tersipu malu dibuatnya.


“Kami dengan senang hati menganggap kalian sebagai bagian keluarga kami juga,” sambut Ki Pucung.


“Kalaulah Nyi Dewi memiliki seorang Adik secantik Laras ini, tentunya Nyi Dewi juga akan merasa senang sekali.” Nyi Pucung ikut menimpali.


Laras tersenyum manis. “Wahh, baru kali ini aku dibilang cantik. Kanda saja tidak pernah bilang aku cantik barang satu kali pun,” ucap Laras dengan nada cemberut.


Laras melirik ke arah Jaka seolah mencari sesuatu. Jaka pun menangkap aura yang terpancar dari tatapan Laras itu.


“Ada apa, Laras? Mengapa kau melihatku seperti itu?”


“Menurut Kanda Dinda ini cantik tidak?” Jaka tak langsung menanggapi, ia berpikir sejenak.


“Apakah menurut Kanda, Dinda ini tidak cantik?” ucap Laras mengulang kembali ucapannya dengan berpura-pura sedih.


“baik, baik, kau cantik. Kau Adikku yang paling cantik sedunia, sudah, kan!” Jaka terpaksa harus membuka mulutnya.


Laras tersenyum amat puas. Kali ini dua pukulan telak. Laras berhasil mengelabui Jaka agar Jaka mengatakan dirinya cantik. Ia pun diperbolehkan untuk memanggil Nyi Dewi dengan panggilan yang sangat disukainya, yang awalnya dilarang Jaka.


“Jika dibandingkan dengan Mbakyu Dewi, lebih cantikan siapa?” Laras bertanya lagi dengan menunjukkan sifat polosnya.


Jaka maupun Nyi Dewi saling pandang. Seketika itu juga rona merah menghiasi wajah keduanya.


“Ten, tentu saja Diajeng Laras pasti lebih cantik. Be, benar, kan, Kangmas?”


“Ermm,.. ahh, ya, ya, aku juga sependapat denganmu, Nyimas.” Jaka menanggapinya dengan gelagapan.


Laras tersenyum lagi. Senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. Laras merasakan satu kemenangan ganda. Ibarat pepatah, “Sekali tepuk, dua lalat mati”.


Ki Pucung dan Nyi Pucung hanya tertawa ringan melihat tingkah laku Jaka dan Nyi Dewi.


“Agh! sudah, sudah, lebih baik kita segera makan saja,” ucap Jaka dengan raut wajah menahan malu.


"Jika kalian tidak segera makan, aku akan menghabiskannya," tambahnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2