Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Di Desa Runggal


__ADS_3

Lasmi pergi keluar ruangan meninggalkan Jaka sendirian.


Jaka melirik beberapa makanan yang ada di atas meja di dekatnya. Namun tidak ada selera sedikit pun yang menggugah nafsu makannya untuk menyantap makanan itu.


Kembali merebahkan tubuh. Memejamkan mata. Sebentar kemudian membuka mata. Lalu terpejam lagi.


Berkata dalam hati, "Mungkin sebaiknya aku kembali tidur saja."


Jaka memejamkan mata lebih lama hingga benar-benar tertidur pulas.


...###...


Esoknya..


Udara masih terasa agak dingin menusuk meskipun butiran-butiran embun hampir menghilang. Jaka berdiam di muka pintu.


Dalam pandangannya, terlihatlah Suwira tengah memetik sisa-sisa tanaman obat yang masih bisa diambil, sedangkan Lasmi duduk di sampingnya sembari memilah-milah tanaman yang telah dipetik Suwira dan memisahkan antara yang bagus dan yang buruk agar tidak bercampur aduk.


"Raden.." sapa Suwira tatkala menyadari keberadaan Jaka.


"Apakah kondisi Raden sudah membaik?" tanya Lasmi bangkit. Menghampiri Jaka karena merasa khawatir Jaka belum pulih sepenuhnya.


"Aku tidak apa. Lanjutkan saja pekerjaan kalian. Aku hanya ingin menghirup udara segar saja. Kalian tidak perlu berhenti dan menungguiku."


"Baik, Raden." Menjawab bersamaan.


Suwira maupun Lasmi berpaling, kembali melanjutkan aktivitasnya masing-masing sembari sesekali melirik ke arah Jaka yang berdiri di muka pintu.


Jaka terdiam lama sembari berdiri di muka pintu. Termenung dengan pandangannya yang terlihat sedikit kosong. Mungkin ada beberapa hal yang tengah dipikirkannya.


"Paman, Bibi.."


Suwira dan Lasmi menoleh bersamaan.


"Di mana seseorang yang kemarin kubawa kemari berada?"


"Dia ada di ruang sebelah ruangan Raden. Biarkan Raden kuantar menemuinya."


Lasmi menatap Suwira. Suwira mengerti akan tatapan Lasmi kepadanya. "Biarkan aku menggantikan pekerjaanmu. Antarlah Raden untuk menemuinya," ucap Suwira.


"Raden, mari!" Menunjukkan jalan ke arah yang dimaksud. Lasmi memandu Jaka ke tempat seseorang yang tengah dicarinya.


...###...


Di depan ruangan pasien yang lain..


“Raden, orang yang Raden bawa kemarin berada di dalam. Mungkin saat ini tengah beristirahat.”


"Baik, aku akan masuk dan menemuinya. Bibi lanjutkanlah membantu Paman."


"Baik, Raden." Menundukkan kepala. "aku undur diri. Permisi, Raden." Melangkah mundur dan berbalik meninggalkan Jaka.


Lasmi berlalu. Jaka segera masuk ke dalam sebuah ruangan yang memang benar apa yang dikatakan Lasmi. Ia berdiri di depan sebuah ruangan yang terletak tak jauh di sebelah ruangannya.


"Permisi.." Membuka pintu dengan pelan.


Seseorang yang memang dicarinya berada dalam ruangan tersebut. Terduduk diam, menyandarkan diri sembari memandang ke arah luar jendela.


"Apakah kau baik-baik saja?"


Orang yang ditemuinya menoleh. Merasa sedikit terkejut dengan kedatangan Jaka yang tiba-tiba.


"Ah, rupanya Raden."


Bagaimana dengan kondisimu sekarang?" Mendekati perlahan.

__ADS_1


"Terasa lebih baik dari kemarin. Ibu sudah menceritakan yang telah terjadi denganku kemarin. Terima kasih, atas pertolongan Raden yang bersedia menolong ketika aku tengah dikejar-kejar seseorang kemarin."


"Ibu? Oh, rupanya Paman dan Bibi adalah kedua orang tuamu."


"Apakah Raden mengenal Ayah dan Ibu?"


"Ya. Aku pernah berkunjung kemari. Dan, sebaiknya kau berhentilah memanggilku dengan sebutan Raden tadi. Namaku Jaka Umbara. Kau bisa memanggilku dengan nama itu."


"Jaka Umbara. Jaka, Jaka, Jaka.. Nama itu seperti pernah kudengar di suatu tempat. Namun.." Mengingat-ingat. "apa mungkin kita pernah bertemu sebelumnya? Aku ini pribadi yang mudah lupa. Maaf, Raden."


"Sepertinya begitu. Wajahmu sedikit tidak asing bagiku. Siapa gerangan namamu? Mungkin saja aku bisa mengingat sesuatu dengan namamu."


"Lembing Wuluh."


"Lembing Wuluh, ya." Mengambil tempat duduk. Lembing Wuluh pun membetulkan posisinya, menjadikan tubuhnya seakan ia berdiri tegak di hadapan Jaka.


"Tidak perlu kau paksakan dirimu," ucap Jaka menyarankan agar tetap di posisinya.


"Tak apa. Aku sudah cukup pulih," balas Lembing Wuluh sungkan.


Lembing Wuluh masih mengingat-ingat akan nama Jaka. nampaknya bayang dari ingatannya mulai menemui titik terang.


"Ya, kini aku tahu. Bukankah kita pernah bertemu saat kau memasuki hutan. Saat itu kau sedang bersama dengan seorang wanita, saat itu ia terkena ajian Kembang Seroja yang ditebarkan anak buahku."


Saat itu? Hutan? Ajian Kembang Seroja? Jaka sama-sama mengingat kembali soal kejadian yang pernah dialaminya itu dan membenarkan ingatan Lembing Wuluh tentangnya.


"Tiada kusangka kita akan bertemu lagi." Senyum Lembing Wuluh melebar.


"Benar. Bukankah saat itu kau pun sempat menawariku bantuan? Namun aku tolak." Tertawa renyah.


Keduanya terdiam sejenak, menatap satu sama lain, dan sesaat setelahnya tertawa bersamaan.


"Betapa kecilnya dunia ini," seloroh Jaka.


"Ya, Kau benar."


"Raden.."


"Sudah kukatakan untuk tidak memanggil namaku dengan sebutan Raden. Aku akan mengabaikanmu jika memanggilku Raden lagi."


"Ja, Jaka.." Mengucapkan dengan sungkan. "bukankah pada saat itu kau mengatakan bahwa kau tengah mencari di mana Adik perempuanmu berada? Bagaimana dengan kabarnya?"


"Dia sudah kutemukan. Tak ada apa pun yang terjadi padanya. Aku bersyukur, saat itu aku menemukannya kembali," kenang Jaka.


"Aku turut senang kau akhirnya bertemu kembali dengan Adik perempuanmu. Lalu, siapakah wanita yang bersamamu saat kau memasuki hutan? Apakah dia Istrimu?"


"Kau pun berpikiran seperti itu rupanya."


"Berpikiran? Apakah aku ada salah ucap?" Merasa kebingungan dengan ucapan Jaka.


"Tidak. Tidak usah terlalu dipikirkan."


Keduanya terlibat percakapan cukup lama. Hingga tak terasa senja hampir menutup waktu sore.


...###...


Ruang makan..


Suwira dan Lasmi tengah menghidangkan


lauk pauk. Jaka dan Lembing Wuluh pun ikut hadir menemani di tengah-tengah mereka.


Tiba-tiba Lembing Wuluh bertanya pada Jaka.


"Jaka, apa benar kau putra dari Puteri Sri Ratih dan Raden Aji Shaka?"

__ADS_1


"Kau benar. Dari mana kau tahu soal itu?"


"Ayah dan Ibuku sering menceritakannya. Aku mengetahui hal itu dari semua cerita mereka. Aku hanya ingin memastikannya langsung darimu."


"Wuluh! Jaga sopan santunmu di hadapan Raden Jaka!" bentak Lasmi pada Lembing Wuluh.


"Baik, Bu." Menjawab dengan amat patuh sembari tertunduk.


"Bibi, aku yang memintanya memanggilku dengan namaku. Tak perlu memarahinya seperti itu."


Lasmi terkejut mendengar apa yang telah Jaka ucapkan, begitu pun halnya dengan Suwira. Tidak menyangka jika Jaka akan mengatakan hal mengejutkan seperti itu.


"Tapi, Raden, itu.. itu tidak sesuai dengan kedudukan kami. Tidak sepatutnya kami memanggil nama Raden begitu saja," ujar Lasmi merasa ada sesuatu yang salah. Tak percaya dengan perkataan Jaka barusan. Seolah-oleh apa yang didengarnya seperti hal yang tabu bagi seluruh keluarganya.


Merasa gelisah dan tertekan. "I, itu, sama saja seperti kami menabur pasir di kepala Tuan dan Puteri. Bahkan seolah-olah kami membelakangi mereka ketika berbicara."


"Benar, Raden, kami tidak sepantasnya.." Mencoba menegaskan prasangka istrinya.


"Paman, Bibi, aku tak pernah menganggap kalian sebagai orang lain sejak aku datang terakhir kali." Memotong ucapan Suwira.


"Tapi, Raden, bagaimana kami nanti bisa berdiri dihadapan Tuan dan Puteri sebagai orang tua Raden?" Bersikeras menampik.


"Bukankah kalian masih ingin mengabdi kepada Ayahanda dan Ibunda?"


"Benar, Raden," sambut Lasmi penuh rasa harap. Seakan apa yang diinginkannya itu datang tiba-tiba. Ia sangat berharap bisa terus mengabdi pada orang tua Jaka meski keduanya telah tiada.


"Biarkanlah kami mengabdikan diri kami kepada Raden," pinta Lasmi penuh harap.


"Aku pun demikian Raden.." Suwira turut menimpali ucapan istrinya, Lasmi.


"Jika seperti itu, aku tidak akan keberatan Lembing Wuluh memanggil namaku. Aku sudah mengizinkannya. Dan, jika Paman atau Bibi menolaknya, berarti kalian tidak pantas untuk mengabdi kepada Ayahanda dan Ibunda lagi."


"Mohon ampun, Raden. Kami tidak berani. Mohon, ampunilah kebodohan diri kami!"


Suwira dan Lasmi pun sama-sama merasa malu atas pemikirannya masing-masing.


"Kami tidak akan membantah Raden lagi," ucap Suwira.


Terima kasih. Raden sudah merestuinya," sambung Lasmi penuh suka cita.


"Wuluh! Sampaikanlah rasa terima kasih kita kepada Raden Jaka," perintah Lasmi. Lembing Wuluh pun lantas menurutinya.


"Te, terima kasih atas kemurahan Raden."


"Jangan memanggilku Raden! Panggil saja aku dengan namaku. Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu ketika kita berada di ruanganmu untuk tidak memanggilku Raden lagi?"


"Baiklah, Jaka. Terima kasih, karena telah mengizinkanku memanggil namamu."


"Nah, dengan begitu kita telah sama-sama menjadi kawan bagi satu sama lain. Tidak ada masalah yang terasa berat selama kita saling membantu satu sama lain. Sewaktu kau kesulitan mintalah bantuanku. Ketika aku sedang kesusahan, aku pun tak akan sungkan untuk meminta pertolonganmu."


Lembing Wuluh tertegun saat mendengar ucapan Jaka. Merasa kagum dengan cara pandang Jaka.


"Baiklah, mari kita bersegera makan. Bibi, masakan Bibi terlihat menggugah selera! Bukankah sepertinya ini terlihat nikmat?" Memandangi seluruh hidangan yang ada di hadapannya satu persatu.


"Ini bukanlah apa-apa, Raden. Kami tidak mampu menjamu Raden dengan makanan yang terlihat lebih pantas untuk Raden."


"Bibi." Memandangi Lasmi. Lasmi merasa tatapan Jaka seolah mengatakan bahwa perkataannya tidak bisa dicerna oleh Jaka.


"Aku bukanlah orang yang pemilih untuk soal makanan. Tidak peduli mewah atau tidak. Yang kita perlukan hanya apa yang bisa memberikan manfaat dan tenaga bagi tubuh kita. Selama tidak membahayakan nyawaku, aku tidak pernah menolaknya."


Lembing wuluh semakin merasa kagum.


"Bagi sebagian orang-orang, cukup hanya dengan makanan yang biasa saja, asalkan bisa membuat perut kita merasa kenyang. Yang terpenting adalah.."


Lasmi berurai air mata. Memandangi Jaka dengan senyum manis.

__ADS_1


Jaka yang melihat hal itu merasa heran.


"Bibi, kenapa air mata Bibi tumpah? Apa ada yang membuat Bibi begitu bersedih?"


__ADS_2