
Di suatu tempat dalam suatu ruangan.
Ruangan itu berada di sebuah bangunan yang merupakan tempat perkumpulan rahasia dari sebagian besar pendukung Patih Banaspati.
Lokasinya terletak di pinggiran wilayah Desa Tumenggung. Hal itu agar mempermudah bagi Patih Banaspati untuk pulang-pergi dari Istana Kerajaan ke tempat tersebut atau pun sebaliknya.
Beberapa orang tengah berkumpul bersama-sama Patih Banaspati yang merupakan Paman dari pada Jaka Umbara dan bernama lengkap Raden Galuh Banaspati. Didalamnya ikut pula Ledonggowo yang menghadirinya.
Mereka tengah membahas tentang apa yang mereka rencanakan untuk menggulingkan kekuasaan dari Baginda Raja Baskara Nara Diningrat.
"Ledonggowo, bagaimana dengan tugas yang aku berikan kepadamu? Apakah kau berhasil melakukannya?"
"Mohon ampun, Paduka! Hamba belum bisa membawa Adik perempuannya, ia berada dalam pengawasan Ki Pucung dan juga Nyi Pucung. Namun, Hamba berhasil membuat Dewi Mayasari terluka," papar Ledonggowo pada Patih Banaspati.
"Bodoh! Membawa seorang bocah saja kau tidak becus! Apa gunanya aku memberikan tugas ini kepadamu?" Memegangi kepalanya saat mendengar perkataan Ledonggowo.
Patih Banaspati serasa pusing tujuh keliling. Tak habis pikir, bagaimana Ledonggowo menjalankan tugasnya.
"Ampun, Paduka! Biarkan hamba sekali lagi melakukan tugas hamba," pinta Ledonggowo dengan sangat. "hamba yakin, hamba bisa membawakan gadis itu," ucapnya dengan penuh keyakinan.
Tiba-tiba saja seorang perempuan berdiri di tengah orang yang berkumpul. Seseorang ikut pula berdiri di sampingnya. Dia adalah Nyai Gendhis dan putrinya, Sekarwati.
"Paduka, izinkan aku dan Putriku, Sekar, untuk menggantikan tugas Ledonggowo untuk menangkap gadis itu. Kami juga akan membawakan Jaka Umbara bersamanya," ucap perempuan itu.
Ledonggowo bangkit. Merasa tidak senang pada perempuan yang turut mencampuri urusannya. "Nyai Gendhis, mengapa barusan kau berkata seperti itu? Ini adalah tugas yang diberikan oleh Paduka kepadaku. Untuk apa pula kau ikut mencampurinya?"
"Hei, Ledonggowo! Ibu pasti bisa melakukan tugas ini dengan baik ketimbang kau. Ibu juga ..."
"Sekar, kau tidak usah banyak sesumbar! Aku masih sanggup mengurusi urusanku!" potong Ledonggowo.
"Kau.." Sekarwati merasa tersinggung oleh perkataan Ledonggowo kepadanya.
Suasana di dalam ruangan seketika menjadi gaduh. Orang-orang yang ikut hadir saling berbisik satu sama lain melihat perseteruan Ledonggowo dan Sekarwati.
"Diam! Semuanya harap tenang!"
__ADS_1
Seseorang yang terlihat lebih tua bangkit dan segera melerai perseteruan yang terjadi.
"Paduka! Mohon ampuni Hamba! Bagaimana sebaiknya kita menengahi perihal tugas dari Ledonggowo ini?" tanyanya kepada Patih Banaspati.
Patih Banaspati pun menarik napasnya cukup panjang, kemudian mengeluarkannya seakan tengah menimbang pilihan terbaiknya untuk mencarikan jalan keluar.
"Biarlah Nyai Gendhis dan juga Sekarwati ikut membantu tugas Ledonggowo," titahnya.
"Tapi, Paduka.." Ledonggowo merasa sedikit keberatan dengan keputusan Patih Banaspati. Kendati ia tidak bisa merubah keputusan itu.
"Terima kasih banyak, Paduka! Aku dan juga Putriku akan melakukannya dengan baik. Kalau begitu, aku akan undur diri," pamitnya mengibaskan selendangnya dan menghilang dari pandangan semua orang.
Ledonggowo juga ikut meninggalkan ruangan tersebut dengan dipenuhi rasa kekesalan.
Beberapa orang yang telah mendapatkan tugasnya masing-masing pun turut beranjak meninggalkan seisi ruangan. Menyisakan beberapa orang penting yang tetap berdiam diri dalam ruangan tersebut.
"Paduka, apakah kita akan tetap membiarkan Ledonggowo mengemban tugas ini? Selama ini ia terlalu terobsesi pada musuh bebuyutannya itu."
"Kita biarkan saja dulu sampai situasinya terkendali. Saat ini, ia masih berguna untuk membantu menjalankan rencana kita. Saat kita tidak lagi membutuhkannya, kita biarkan ibu dan anak itu yang akan menyingkirkannya."
Dua orang berpakaian serba hitam tiba-tiba muncul di hadapan Patih Banaspati. Berlutut menundukkan kepala mereka.
"Apakah kalian membawakan suatu kabar besar dari Istana?"
Keduanya mengangguk bersamaan.
"Bagaimana dengan situasinya? Apakah dari kalian ada yang menemukan kabar baru?"
"Ampun, Paduka! Menurut kabar yang tersiar, Istana tengah mengadakan perjamuan besar dalam beberapa hari untuk menyambut Adik dari Jaka Umbara yang tiba di Istana," jawab dua orang yang bertugas memata-matai situasi istana kerajaan tersebut.
"Sialan! Kita kecolongan lagi!" Patih Banaspati begitu marah sehingga ia menggebrak meja.
"Apakah kalian sudah memeriksakan tentang kebenarannya?"
"Ampun, Paduka. Kami tidak mendapatkan lebih banyak informasi. Penjagaan Istana dijaga ketat sehingga kami perlu berhati-hati."
__ADS_1
"Kami juga mendengar percakapan dari para penjaga di Istana. Sepertinya beberapa hari yang lalu Jaka Umbara dan Dewi Mayasari telah tiba di Istana Kerajaan, Paduka. Hanya itu saja yang kami ketahui sejauh ini."
"Baik. Kembalilah! Ingatlah untuk melaporkan setiap kabar penting dari Istana!"
Kedua orang itu pun mengangguk, kemudian menghilang.
"Paduka, bagaimana dengan rencana kita?" tanya seseorang yang masih hadir dengan raut wajah sedikit panik.
"Kalian tenanglah! Aku akan pergi ke Istana agar aku tidak dicurigai. Beberapa waktu ini, Baginda Raja sepertinya sedang menyelidiki tentang kabar adanya pemberontakan kita. Jika aku sampai dicurigai, semua rencana yang telah kita susun akan berantakan."
Orang-orang yang hadir sedikit merasa lega mendengar ucapan Patih Banaspati. Mereka setidaknya bisa sedikit merasa tenang karena rencana yang telah mereka susun rapi tetap berjalan.
"Baiklah. Runggawang dan juga Aji Lempung akan tetap menjalankan tugasnya."
Memandang Runggawang dan Aji Lempung. "Kalian selidikilah situasi Desa Tumenggung! Saat situasinya telah memungkinkan, pergilah untuk menemui Arya Wangsa!" Keduanya pun mengangguk bersamaan.
"Arya Wangsa akan memulai pemberontakan dari Desa Tumenggung bersama kalian saat waktu fajar datang," tambah Patih Banaspati.
"Baik, Paduka!"
Tak lama keduanya pamit dan menghilang dari pandangan Patih Banaspati.
"Paduka! Bagaimana dengan hamba? Apakah hamba perlu membuat keributan dengan mengerahkan beberapa berandalan itu?" tanya seseorang yang bernama Aji Seni.
"Tidak perlu! Kita akan bicarakan hal itu nanti! Sebaiknya kau pergilah mencari keberadaan Jaka Umbara dan melaporkannya padaku!"
"Apakah Hamba perlu menangkapnya pula?"
"Kau laporkanlah mengenai keberadaannya setiap waktu! Aku berpikir Nyai Gendhis itu memiliki pemikiran yang tidak kita ketahui. Entah apa yang tengah ia sembunyikan dalam benaknya. Selama ia tidak mengganggu pada rencana yang telah kita susun bersama, kita akan membiarkannya untuk sementara dan membantu berjalannya rencana kita."
"Hamba mengerti, Paduka!" ucap Aji Seni.
"Yang lainnya tetaplah pada rencana yang telah kita tentukan. Kalian bisa melanjutkan tugas kalian masing-masing," pungkas Patih Banaspati menutup percakapan.
Semua yang hadir mengangguk paham, lalu berangsur-angsur membubarkan diri masing-masing. Hanya Patih Banaspati yang tersisa di ruangan tersebut. Duduk di sebuah kursi sembari memikirkan rencananya yang sudah berjalan.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Patih Banaspati duduk merenung, barulah ia bangkit meninggalkan ruangan itu.
Patih Banaspati berjalan menuju pintu masuk bangunan tersebut. Ia segera meminta agar dipersiapkan sebuah kuda untuk kembali ke Istana Kerajaan.