Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Pertarungan sengit


__ADS_3

Tanpa ba-bi-bu lagi keduanya langsung jual beli jurus andalan masing-masing.


Sementara itu, Nyi Dewi menghadapi Sri Ambarwati, pemimpin kelompok Lentera Malam.


Pertarungan sengit pun terjadi cukup lama. Jaka Umbara maupun Ledonggowo masih menggeluti panasnya pertarungan mereka. Begitu juga dengan Nyi Dewi dan Sri Ambarwati.


Di saat itu..


Ki Pucung dan Nyi Pucung yang mencari di mana keberadaan Laras ke arah yang berlawanan, sampai pada bangunan itu dalam perjalanannya.


Keduanya pun melihat Jaka dan Nyi Dewi tengah bertarung.


"Nyi, Bagaimana jika kita juga membantu mereka?"


"Kurasa tak perlu, Kakang. Biarlah mereka menyelesaikan urusan mereka. Bukankah ada hal yang harus kita lakukan?"


Ki Pucung mencari inti dari apa yang ingin diucapkan oleh istrinya. Ia mengangguk paham.


"Aku mengerti, Nyi! Kita serahkan urusan mereka pada mereka masing-masing."


Nyi Pucung mengangguk puas, seakan ia tidak perlu menjabarkan ucapannya lagi.


Keduanya mengamati sebentar dari jauh, lalu mulai menyelinap diam-diam masuk ke dalam bangunan tersebut, berharap akan menemukan apa yang mereka cari.


"Mari, Nyi. Kita bergegas," ajak Ki Pucung.


Nyi Pucung mengangguk, lantas segera mengikuti suaminya menyelinap masuk ke dalam bangunan itu.


Di dalam ruangan kecil nan gelap, seorang gadis terduduk tak berdaya dengan kedua mata tertutup dan tangannya terikat serta mulutnya tersumpal kain.


"Ingat! Jaga gadis itu! Jangan sampai ada seorang pun yang tahu keberadaannya,” pesan seorang penjaga pada dua orang temannya yang berdiri di depan ruangan itu lengkap dengan tombak di tangannya.


"Serahkan masalah di sini pada kami. Kau bantulah yang lain."


Penjaga yang berjaga di depan ruangan itu berjumlah dua orang. Ki Pucung dan Nyi Pucung segera membereskan kedua penjaga itu, lalu membebaskan seorang gadis di dalam ruangan tersebut.


“Siapa kalian?” tanya Laras saat penutup di matanya serta kain yang menyumpal mulutnya terlepas.


“Jangan takut! Apa kau kenal dengan Jaka Umbara?” tanya Ki Pucung menguji orang yang tengah dicarinya.


Mengerutkan keningnya sembari berucap lirih, "Kanda.."


Laras masih mewaspadai orang yang baru dilihatnya. "Apa hubungan kalian dengan Kanda?”


“Jadi kau kenal dengan Raden Jaka." Nyi Pucung memandang suaminya, memberi isyarat bahwa gadis ini memanglah orang yang mereka cari. Ki Pucung mengiyakan.


"Kami datang untuk menolongmu, Raden Jaka berada di luar bersama dengan murid seperguruannya sedang bertarung dengan orang-orang yang telah menculikmu,” Ki Pucung menimpali.


“Apakah kalian benar-benar datang untuk menolongku?" tanya Laras terharu.


Nyi Pucung mengangguk. Ki Pucung lalu memastikan keadaan benar-benar aman sebelum mereka keluar dari ruangan itu.


Setelah dirasanya aman, ketiganya segera keluar dari ruangan itu dengan cepat.


Sementara itu, di waktu yang sama..


Jaka mampu mengalahkan Ledonggowo. Memberinya sedikit luka dalam sehingga mulutnya mengeluarkan darah.

__ADS_1


Ledonggowo berusaha menahan luka yang diterimanya dengan tenaga dalamnya.


"Aku tidak ingin mengakuinya, tapi kau orang yang cukup hebat dari sekian orang yang pernah bertarung denganku."


"Jangan pikir aku akan bersimpati dengan ucapanmu itu!"


"Hahaha!" Ledonggowo tertawa kencang. Entah hal apa yang membuatnya tiba-tiba tertawa. Ia menyeka darah yang mengalir di mulutnya.


"Kali ini aku akan mulai serius. Kita lihat, siapa yang akhirnya akan tumbang," tegas Ledonggowo.


"Sudahi saja sesumbarmu itu. Buktikanlah jika kau memang tidak akan tumbang di tanganku."


"Kalau begitu, kita buktikan saja!" Segera memburu ke arah Jaka.


Di sisi lain bangunan..


Nyi Dewi juga mampu memukul mundur Sri Ambarwati, meskipun ia terkena ajian Waru Raja Sewidak milik Sri Ambarwati.


Nyi Dewi kembali melancarkan serangan-serangannya, tapi Sri Ambarwati berhasil menghindarinya. Ia berpindah tempat ke tempat sekutunya, Ledonggowo.


Ikut mengejar. "Jangan lari kau!"


Jaka menahan serangan Ledonggowo yang datang dengan cepat dan mencoba untuk membalikkan keadaan.


Jaka menyerang Ledonggowo beberapa kali dengan ajiannya, namun serangan itu berhasil dihindari Ledonggowo.


Sepertinya Ledonggowo tidak mengalami kesulitan menghadapi tiap serangan Jaka.


"Apa hanya ini kekuatan yang kau miliki? Sepertinya aku terlalu menganggap remeh diriku!"


Ledonggowo membelah dirinya menjadi tiga bagian, Menjadikan dirinya memiliki tiga tubuh. Ketiganya lantas menyerang Jaka bersamaan.


Sri Ambarwati dan Nyi Dewi muncul dari sisi lain, bercampur dengan pertarungan Jaka Umbara dan Ledonggowo.


Untuk sementara Jaka bisa lepas dari tiap serangan yang Ledonggowo lancarkan.


"Kangmas, bagaimana pertarungannya?"


"Dia cukup kuat. Aku hampir saja tidak berdaya jika kalian tidak datang kemari."


"Ambarwati, kenapa kau datang kemari!? Lihatlah! Dia jadi punya banyak waktu!" Memarahi Sri Ambarwati yang tiba-tiba muncul.


"Ledonggowo, kau juga jangan lupa. Aku sedang dipihakmu. Wanita yang kuhadapi juga cukup tangguh. Jika aku tidak pergi kemari, aku mungkin sudah tak berdaya."


"Baiklah, mari hadapi mereka bersama!"


Ledonggowo dan Sri Ambarwati menyerbu ke arah Jaka dan Nyi Dewi. Jaka dan Nyi Dewi pun segera bersiap.


Pertarungan kembali terjadi. Kini mereka bertarung bersama. Sri Ambarwati turut membantu Ledonggowo, sedang Nyi Dewi ikut membantu Jaka Umbara.


Mereka saling membantu sekutu mereka dan menyerang musuh masing-masing.


Ledonggowo dan Sri Ambarwati terpisah akibat serangan yang dilancarkan oleh Nyi Dewi.


Jaka mengejar ke arahnya. Ia melayangkan jurus ajiannya dan membuat Ledonggowo terpental jauh.


Sementara itu, Sri Ambarwati membalik keadaan. Kini, Nyi Dewi sedikit kewalahan menghadapi Sri Ambarwati. Ia bahkan tak mampu membuat Sri Ambarwati terdesak dan malah mendapat serangan darinya.

__ADS_1


"Kali ini, kau takkan bisa menghindar dari seranganku." Merasa puas.


"Lihat saja, apa kau mampu membuatku tak bisa bangkit lagi."


Melihat Ledonggowo yang terkapar lemah dan rasa amarah yang begitu kuat, Jaka kembali melayangkan serangannya pada Ledonggowo.


Alih-alih serangannya itu akan mengenai Ledonggowo, Sri Ambarwati melompat cepat, menjadikan dirinya sebagai tameng untuk menolong Ledonggowo, sehingga dirinyalah yang terkena serangan dari Jaka Umbara.


Sri Ambarwati tumbang, jatuh bersimbah darah. Ledonggowo memburu ke arah Sri Ambarwati yang terluka akibat serangan Jaka.


“Ambarwati, apa yang telah kau lakukan? Kenapa kau membahayakan nyawamu?”


“Dulu kau menolong dan membahayakan dirimu untukku. Aku sudah membalasnya kepadamu. Kini, hutang diantara kita tak ada yang perlu dibalas lagi. Aku sudah tak punya hutang apa pun lagi padamu. Aku tidak akan pernah menyesalinya..”


"Tidak.. Ambarwati!"


"Ledonggowo, jika kau tak juga mengubah cara bicaramu itu, takkan ada seorang pun yang mau menjadi temanmu.."


Sri Ambarwati mati seketika di hadapan Ledongggowo. Ledonggowo kembali larut dalam amarahnya. Tangannya mengepal erat. Namun, melihat kondisinya saat itu, Ledonggowo kembali berpikir. Kondisinya tidak memungkinkan untuk melanjutkan pertarungannya. Ia hanya bisa menyingkir untuk sementara memikirkan rencananya yang lain.


"Kali ini aku mengaku kalah. Tapi, ingat, aku akan menuntut balas untuk apa yang terjadi pada hari ini!” ucap Ledonggowo melarikan diri.


Jaka membiarkan Ledonggowo melarikan diri membawa pergi sekutunya, kemudian ia segera memburu Nyi Dewi yang terkena ajian Waru Raja Sewidak saat menghadapi Sri Ambarwati.


“Nyimas, bagaimana keadaanmu?" tanya Jaka khawatir dengan keadaannya.


“Aku sedikit terluka, tetapi aku baik-baik saja. Tidak ada yang terluka parah. Nanti cukup aku mengobatinya dengan bantuan Bibi,” balas Nyi Dewi.


Jaka menarik napas dalam-dalam, merasa lega, "Syukurlah jika tak ada yang parah!”


“Ke mana perginya Ledonggowo?”


“Dia melarikan diri membawa sekutunya.”


“Apakah ia mati akibat terkena serangan Kangmas barusan?”


Jaka berpikir sejenak, seolah-olah sangat menyayangkan sesuatu yang telah terjadi. “Sepertinya begitu. Kupikir Ledonggowo benar-benar beruntung. Sekutunya rela memberikan nyawanya begitu saja untuk menolongnya.”


“Sayang sekali.” Nyi Dewi menggelengkan kepalanya.


Di tempat lain..


"Hamba melapor pada Paduka." Seseorang berlutut dihadapan Paduka Raja.


"Apa yang ingin kau sampaikan?"


"Ampun, Paduka. Hamba mendapat kabar bahwa, Ledonggowo kalah dalam sebuah pertarungan."


"Apakah ia dikalahkan olehnya?"


"Begitulah kabar yang hamba dapatkan."


"Begitu rupanya.."


"Apakah kita akan menyingkirkannya?"


"Biarkan saja untuk sementara. Dia masih menjadi pion penting yang berguna untuk membantu kita."

__ADS_1


"Hamba mengerti, Paduka."


__ADS_2