Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Awal mula perselisihan Ledonggowo dan Nyai Gendhis


__ADS_3

Suara sepatu kuda yang tengah menarik sebuah dokar terdengar jelas dan melaju cukup cepat pada jalan setapak yang membelah sebuah jalanan panjang yang tak berpenduduk. Suaranya bahkan bisa terdengar dari jarak belasan meter. Segara Jati yang menjadi kusir dari dokar tersebut memegangi tali kekang untuk menuntun dua kuda yang menarik dokar yang tengah dikendalikannya. Ia terduduk di depan dan menuntun dua kudanya pada tempat yang ditujunya.


"Segara, berapa lama lagi kita sampai?" tanya seseorang dari arah dalam Dokar yang tertutupi oleh kain tirai. Suara itu adalah suara milik Nyai Gendhis yang meminta Segara Jati untuk menjadi penuntun jalan guna menemui Ledonggowo di suatu tempat.


"Sebentar lagi, Nyai," balas Segara Jati terus memandangi jalanan setapak di depannya. "memangnya kita akan menemui siapa Nyai? Bolehkah aku mengetahui siapa itu?" tanya Segera Jati ingin tahu.


"Kau cukup memperhatikan jalanan saja. Tak perlu kau ikut mengurusi siapa orang yang akan kita temui."


"Baik, Nyai!" Segara Jati menjawab dengan sunggingan bibir di wajahnya karena Nyai Gendhis tidak memberitahukan siapa yang akan mereka temui. Ia bahkan menjadi kusir atas perintah dari Mungsiya secara tiba-tiba, bukan karena keinginannya. Sebenarnya, ia ingin menolak jika memang bisa. Namun, karena ia menghormati kepemimpinan Mungsiya, maka itu, ia pun memutuskan untuk menerimanya.


Belasan menit kemudian, dokar yang dikendalikan oleh Sembara Jati akhirnya tiba di sebuah tempat yang menjadi tujuan pertemuan Nyai Gendhis dengan Ledonggowo. Tempat itu bukan sebuah daerah berpenduduk, melainkan hanyalah sebuah persimpangan jalan yang ditumbuhi beberapa pohon besar di sebagian sisi jalannya.


Benar saja, saat Segara Jati menghentikan laju dokarnya, ia melihat ada seseorang yang telah menunggu kedatangannya. Orang itu terduduk seorang diri di atas kudanya. Orang itu tak lain adalah Ledonggowo. Segara Jati menepikan dokarnya agak jauh dari posisi kuda Ledonggowo atas arahan dari Nyai Gendhis, sekitar lima puluh meter dari posisi keberadaan Ledonggowo.


"Nyai, kita telah sampai pada tempat pertemuan kita," ucap Segara Jati sembari menghadap ke arah kain tirai yang masih tertutup. Tak lama kemudian, keluarlah Nyai Gendhis beserta putrinya, Sekarwati, dari dalam dokar tersebut.


"Kau tetaplah di sini hingga aku kembali, jangan pergi kemanapun!" perintah Nyai Gendhis saat menginjakkan kedua kakinya di tanah.


"Baiklah, Nyai!"


Nyai Gendhis segera berjalan perlahan diikuti oleh Sekarwati di belakangnya. Setelah Nyai Gendhis dan Sekarwati berada di dekat Ledonggowo, Ledonggowo pun segera turun dari atas kudanya.


"Nyai, mengapa kau ingin menemuiku? Aku tidak terlalu punya banyak waktu untuk melakukan pertemuan apapun saat ini," ucap Ledonggowo dengan nada sedikit gelisah.


"Ada hal teramat penting yang harus kita bicarakan. Ini tentang tugas kita dalam menangani bocah perempuan itu."

__ADS_1


"Hal apa kiranya yang begitu penting untuk kita bicarakan? Katakanlah intinya saja!"


"Mengapa kau terlihat begitu terburu-buru?"


"Sudahlah, katakan saja intinya apa! Jangan mengalihkan pembicaraan kita! Sudah kukatakan tadi, aku tidak punya banyak waktu untuk saat ini."


"Apakah kau masih menunggui Gadis-mu itu terbangun kembali? Apa kau tidak ada menyukai gadis lain selain dia? Bukankah masih banyak gadis-gadis lain yang lebih cantik darinya? Aku yakin dengan tampang mu itu, akan ada banyak gadis-gadis yang menyukaimu. Lagi pula, dia belum tentu bisa terbangun kembali, terkecuali jika keberuntungan hidupnya cukup besar."


"Jangan mencelanya!" sergah Ledonggowo merasa marah. "Ambarwati tidaklah selemah itu!" tegas Ledonggowo agar Nyai Gendhis meralat ucapannya barusan. "ia pasti akan kembali terbangun secepatnya. Aku yakin itu."


"Baiklah, terserah kau saja! Lantas, bagaimana hasil yang kau dapatkan? Apa kau mengetahui di mana keberadaannya saat ini? Aku tidak peduli mengenai perseteruanmu dengan Lembing Wuluh. Tetapi, tugas kita adalah sama-sama menangkap gadis itu. Jika hal itu mempengaruhi tugas kita dan kau tidak bisa mendapatkan hasil apapun, sebaiknya kau mundur saja, aku masih mampu menangkapnya bersama dengan putriku, Sekar."


"Aku yakin aku akan berhasil mendapatkan bocah perempuan itu meskipun hanya seorang diri. Jika aku telah menemukannya, aku juga akan segera memberitahukan hal itu kepada Nyai."


"Nyai, mengapa ucapanmu terdengar begitu sinis, seakan-akan aku tak pernah menjalankan tugas yang diberikan oleh Paduka sama sekali."


"Aku tidak ingin kau menghambat tugas yang diberikan oleh Paduka kepada kita. Jika kau tak berniat untuk melakukan tugas itu, lebih baik kau mundur saja, biarlah kami berdua saja yang akan melanjutkannya."


"Bagaimana bisa Nyai berkata seperti itu? Tugas itu awalnya memanglah diberikan kepadaku. Dan bahkan tugas dalam menangkap Jaka Umbara. Nyai hanya ikut membantuku saja. Jadi, apa maksud Nyai berkata demikian?"


Pandangan Ledonggowo tertuju pada Nyai Gendhis. Amat lekat. Menatapinya dengan sorot pandangan yang dipenuhi oleh berbagai pertanyaan-pertanyaan yang tiada berujung. Nyai Gendhis merasa tertegun mendengar ucapan Ledonggowo barusan. Namun, bukanlah Nyai Gendhis namanya apabila tidak mampu membalikkan ucapan dari lawan bicaranya.


"Aku tidak bermaksud memojokkan dirimu. Aku hanya tidak ingin tugas yang diberikan kepada kita sedikit terhambat. Kita berdua seharusnya bergerak bersama-sama dan bukannya malah saling bersaing antara satu sama lain."


"Betul!" Sekarwati yang sedari tadi hanya diam ikut menimpali ucapan ibunya. "kau selalu saja tidak sehaluan dengan kami. Memangnya, kau tidak menganggap bahwa kami juga berada dalam satu kubu denganmu?" ucapnya lagi dengan wajah tidak senang atas setiap sikap yang ditunjukkan oleh Ledonggowo.

__ADS_1


Nyai Gendhis seketika menghardik Sekarwati dengan pandangan menelisik tajam sehingga Sekarwati pun terdiam seketika Menurutnya, Ledonggowo bukanlah seseorang yang dapat diprovokasi begitu saja. Nyai Gendhis tahu betul bagaimana watak asli Ledonggowo jika sudah terprovokasi.


Wajah Ledonggowo mulai berubah ekspresi. Ia adalah orang yang tidak suka jika ada orang lain yang menyinggung tentang sikapnya. "Kau tidak usah ikut-ikutan mengatakan hal apapun. Aku tahu apa yang kulakukan tanpa harus kau ingatkan!" ucap Ledonggowo dengan nada yang meninggi. Suasana pun seketika berubah menegang. Setegang benang yang kedua ujungnya ditarik sekencang mungkin.


Pertemuan keduanya berakhir alot. Ledonggowo merasa terhina karena Nyai Gendhis dan juga Sekarwati seperti memojokkan dirinya. Sementara Nyai Gendhis berpikiran Ledonggowo telah salah menangkap maksud dari pada perkataannya.


Entah siapa yang memulainya, Nyai Gendhis dan Ledonggowo telah terlibat dalam sebuah pertarungan. Mereka saling bertarung tanpa ba-bi-bu lagi. Sekarwati mundur ke belakang atas perintah dari Nyai Gendhis. Karena Nyai Gendhis tahu, putrinya itu tidak akan mengubah apapun, walaupun ikut membantunya dalam menghadapi Ledonggowo.


Sekarwati hanya mampu terdiam mematung. Ia hanya bisa memperhatikan bagaimana ibunya dan juga Ledonggowo saling beradu kekuatan dalam pertarungan sengit mereka. Segara Jati yang saat itu masih terduduk di kursi kusir pun mendadak panik karena melihat Nyai Gendhis yang tengah bertarung dengan seseorang yang masih tidak dikenalnya.


Nyai Gendhis dengan sigapnya menangkis setiap serangan Ledonggowo dengan tongkat kayunya. Sementara Ledonggowo membagi dirinya menjadi tiga, yang ketiganya sama-sama saling membantu dalam menghadapi Nyai Gendhis.


Blarr!! Blarr!!


Ledonggowo terus mendesak Nyai Gendhis dengan beberapa jurus andalannya. Nyai Gendhis tetap bersikap tenang meskipun ia menghadapi tiga orang Ledonggowo sekaligus. Biasanya Ledonggowo akan menggunakan pedang saat bertarung menghadapi lawannya. Tetapi saat ini, ia hanya bertangan kosong, hanya mengandalkan jurus andalannya saja ketika menghadapi Nyai Gendhis.


Gerakan-gerakan tubuh Ledonggowo sedikit menyulitkan Nyai Gendhis yang tetap bertahan. Nyai Gendhis hanya mampu terus bertahan sementara dirinya tidak leluasa bergerak lebih bebas.


Nyai Gendhis akhirnya mendapatkan kesempatan untuk meloloskan dirinya sementara waktu. Ia tak menyia-nyiakan peluang itu untuk balas memberi serangan-serangannya. Dan saat Ledonggowo akan kembali menyerang, Nyai Gendhis segera bersiap.


Nyai Gendhis menancapkan tongkat kayunya. Ia mundur beberapa langkah, dan tiba-tiba saja menghilang entah kemana. Sesaat kemudian, tongkat yang telah ditancapkannya itu berubah dan menjelma menjadi seekor ular besar raksasa. Ukuran tubuh ular itu begitu besar. Seperti sepuluh kali lipat tubuh manusia dewasa yang dijadikan satu. Kepalanya seperti ular sendok dan lehernya bercabang, sehingga membuatnya memiliki tiga kepala dalam satu tubuh. Satu kepala ular yang berada di tengah adalah kepala intinya, sedangkan kepala lainnya adalah cabang dari pada kepala inti. Sisiknya berwarna biru gelap dengan berlian berwarna merah di tengah-tengah kepala ular yang inti. Ular itu bagaikan jelmaan hewan purba yang masih hidup.


Ledonggowo menghadapi ular itu. Ia bersama dua tubuhnya yang lain bersatu padu menyerbu dan mengelak serangan-serangan dari tiga kepala ular bertubuh besar yang tengah ia hadapi. Ketika satu kepala ularnya mematuk tanah saat Ledonggowo mengelak darinya, tanah serasa bergetar hebat, seperti gemuruh guntur yang menggelegar dengan suara keras. Tanahnya pun serasa sedikit bergoyang-goyang.


Ledonggowo terus memberikan serangannya. Ia menapaki angin, terbang ke hadapan kepala ular dan memberikannya perlawanan. Kepala ular itu begitu lincah dengan lidahnya yang terus menjulur keluar diiringi suara mendesis.

__ADS_1


__ADS_2