Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Keluarga baru


__ADS_3

"Kanda, sejak kapan Kanda serakus ini?"


"Sudahlah! Makan saja makananmu!"


Laras tersenyum. Ia tahu kakaknya tidak pernah bisa menutupi rasa malunya dari siapa pun.


"Baik, Kanda."


Ki Pucung dan Nyi Pucung ikut tertawa mendengar tanggapan Jaka atas ucapan Laras.


"Paman, Bibi, apa kalian juga tidak ingin makan?" tanya Jaka sambil meneguk air minum di dekatnya.


Ki Pucung tersentak. "Baik, kami makan, kami makan." Nyi Pucung mengangguk mengiyakan.


"Ka, kangmas.." Tertunduk. Agak malu.


"Apa lagi!?" Masih menyembunyikan rasa malunya.


"I, itu.. kangmas salah mengambil wadah air. Wadah itu telah kuteguk tadi."


Jaka pun bertambah malu. Salah mengira wadah air yang diraihnya adalah miliknya.


Jaka hanya bisa tertunduk. Malu. "Maaf.."


"Ti, tidak apa.." Ikut merasa malu.


Masing-masing mereka akhirnya terdiam menyantap bagian makanannya masing-masing


Suatu siang..


Jaka tengah melatih ajiannya ditemani Ki Pucung. Nyi Pucung tengah menyiapkan makan siang bersama Laras di ruangan belakang. Sementara itu, Nyi Dewi terlihat duduk di beranda padepokan seorang diri melihat Jaka dan Ki Pucung yang tengah berlatih.


Di ruangan belakang..


“Bibi, apakah Mbakyu tidak ada memiliki saudara kandung satu orang pun,” tanya Laras sembari menyiapkan wadah minum.


“Tidak ada, setahuku. Mbakyumu tidak pernah sekali pun membicarakan hal itu,” jawab Nyi Pucung. “kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?” Balik bertanya. Merasa heran atas pertanyaan Laras.


“Tidak ada! Hanya ingin menanyakannya saja. Bukankah Ayahanda Mbakyu Dewi dan Bibi serta Paman adalah murid satu perguruan?"


“Benar.”


“Aku ingin sekali mendengarkannya. Bibi, tolong ceritakan padaku bagaimana kisah perjalanan kalian?”


“Lain kali aku akan menceritakan tentang hal itu kepadamu, ya.”


“Ah, Bibi. Aku sangat ingin mendengarnya sekarang.” Cemberut dan tidak puas.


Keduanya terdiam sejenak.


“Bibi, aku sudah selesai dengan tugasku. Adakah hal lain yang harus kulakukan?”


“Sebentar lagi nasinya masak. Bawakanlah wadah-wadah minum itu ke depan,” ucap Nyi Pucung. “lebih baik kau temani saja Mbakyumu! Ia pasti tengah sendirian saat ini.”


“Baik, Bibi.” Berlalu membawa wadah air menuju beranda depan.


Setelah sampai di beranda, Laras melihat Nyi Dewi tengah fokus melihat Jaka dan Ki Pucung yang tengah berlatih bersama. Bahkan, panggilan Laras tak didengarnya. Laras kemudian mengambil tempat duduk agak jauh di samping Nyi Dewi.


“Mbakyu, apa yang sedang Mbakyu lihat?”


“Sepertinya dia cukup gagah juga,” ucap Nyi Dewi tak menyadari kehadiran Laras di sampingnya.

__ADS_1


Laras menggelengkan kepalanya. Jawaban dari Nyi Dewi terasa jauh melenceng atas pertanyaan yang diajukannya.


“Apakah Mbakyu sedang memperhatikan Kanda?” Mencoba mengikuti pemikiran Nyi Dewi.


“Iya.” Menjawab dengan spontan.


“Bagaimana pendapat Mbakyu mengenai Kanda?”


“Dia lumayan juga. Dia..”


“Kenapa dengan Kanda?” Penasaran.


Menghela napas. Tertunduk. Kemudian ia memejamkan matanya cukup lama.


“Dia..” Tiba-tiba merasakan ada seseorang yang berada di sampingnya.


“Diajeng, sejak kapan kau berada di situ?” Terkejut akan keberadaan Laras.


"Dinda sudah sejak tadi berada di sini dan memanggil-manggil Mbakyu, tapi Mbakyu terus berkata tidak jelas sampai-sampai tak mendengarkan panggilanku."


"A, apa yang telah kukatakan?"


"Hmm.." Berpikir sejenak. "seperti ucapan gagah atau apalah itu."


"I, itu ... Diajeng, bisakah kau melupakan apa yang sudah kukatakan?"


"Kenapa, Mbakyu?" Sedikit heran dengan permintaan Nyi Dewi.


Nyi Dewi tidak menanggapi pertanyaan yang Laras ajukan. Ia hanya terdiam tanpa mengatakan apa pun.


Jaka dan Ki Pucung datang menghampiri keduanya setelah sesi latihannya dirasa cukup.


"Nyimas, Laras, kenapa kalian berada di sini? Di mana Bibi?" Mencari orang yang dimaksud dengan pandangannya.


Tak lama orang yang dibicarakan muncul.


Nyi Pucung datang membawa nasi yang telah masak serta beberapa lauk pauknya dalam bakul yang berukuran sedang.


"Bibi, biarkan aku ikut membantu Bibi." Meraih sesuatu agar meringankan barang bawaannya.


"Kau memanglah gadis yang baik, Laras."


Laras tersipu atas pujian Nyi Pucung.


"Hehe.. Bibi tidak perlu sungkan begitu. Aku sangat senang bisa membantu Bibi."


"Nyi, alangkah bahagianya kita memiliki Putri sepertinya. Lihatlah, betapa cerianya Laras!" seloroh Ki Pucung.


"Kau benar, Kakang. Alangkah bahagianya kita," balas Nyi Pucung menanggapi.


Laras kebingungan dengan alur ucapan Ki Pucung dan Nyi Pucung.


"Bibi, apakah aku tidak bisa menjadi Putri Bibi?"


Tertawa geli. "Kau ini!"


Laras masih tetap tak bisa menangkap arti yang sebenarnya.


"Apa masih tidak bisa juga? Atau mungkin saja aku bisa menjadi Putri dari Kanda dan Mbakyu?"


"Kau salah paham, Laras. Bukan itu yang dimaksudkan Paman dan Bibi," ucap Jaka.

__ADS_1


"Apakah masih tidak bisa juga?" Semakin keheranan.


"Kau itu sudah kuanggap sebagai Adikku. Bagaimana bisa aku menjadi Ayahmu."


"Benar juga," ucap Laras lirih. "Bagaimana dengan Mbakyu?"


Nyi Dewi hanya tersenyum tak membalas.


"Laras.." Jaka menutupi wajahnya dengan telapak tangan. "berhentilah menambah kesalahpahaman."


"Raden, biarkanlah Laras menyampaikan apa yang berada di pikirannya. Lagi pula Laras masih anak-anak," ucap Nyi Pucung memaklumi.


Tidak senang. "Bibi, aku bukanlah anak-anak lagi, aku sudah tumbuh besar. Benar, kan, Kanda?" Melirik ke arah Jaka. Namun, Jaka hanya tersenyum.


Masih kurang senang. Laras melemparkan pilihan terakhir pada Nyi Dewi. "Mbakyu.. apakah Dinda masih anak-anak?"


"Tidak." Mendekati dan mengusap rambut Laras. "kau sudah tumbuh besar."


Memeluk Nyi Dewi. "Hanya Mbakyu yang sayang pada Dinda." Nyi Dewi tersenyum renyah.


"Hah.." Menghela napas. "Nyimas, jangan terlalu memanjakannya,"


"Bilang saja Kanda cemburu.." ucap Laras dengan nada mengejek.


Jaka menghela napas pasrah. Yang lainnya tertawa renyah mendengar ucapan Laras.


"Apakah kita akan terus membahas hal ini dan membiarkan makanan yang Bibi buat sampai dingin?"


"Apa yang dikatakan oleh Nyi Dewi benar. Sebaiknya kita segera makan makanannya sebelum makanannya menjadi dingin," Ki Pucung ikut menimpali.


"Mari, kita makan!" ajak Nyi Pucung.


"Ya, ya. Mari kita makan!" sambung Laras senang dan langsung mengambil bagian.


"Laras, pelan-pelan saja. Takkan ada yang merebut bagianmu," ucap Jaka melihat tingkah Laras.


Hngh! Laras merengut. Lagi-lagi Jaka tak mampu berbuat apa-apa, hanya menghela napas. Yang lain kembali tertawa renyah dibuatnya.


Beberapa bulan selepas keberadaan Laras ditemukan serta kembali berkumpul lagi dengan Jaka. Jaka berencana pergi menuju istana kerajaan untuk menemui kakeknya, Baginda Raja Baskara Nara Diningrat.


"Kanda, apa Dinda juga boleh ikut pergi." Tiba-tiba mendekati Jaka yang bersiap-siap.


Mengusap rambut Laras. "Kita akan pergi bersama-sama suatu saat nanti. Sekarang ini, biarkanlah aku pergi sendirian. Aku cuma akan tinggal selama satu minggu di sana. Kau tidak perlu cemas."


"Tapi, Kanda.." Merasa enggan Jaka pergi dan meninggalkannya.


"Diajeng, tak apa." Tiba-tiba hadir. "nanti kita akan sering pergi ke sana bersama-sama."


"Benarkah itu, Mbakyu?" Berharap penuh. Nyi Dewi mengangguk dan tersenyum.


"Lihatlah! Mbakyumu akan menemanimu selama aku tidak ada."


"Benar, aku akan menemanimu, Diajeng," ucap Nyi Dewi menenangkan Laras.


"Baik, Dinda akan bersama Mbakyu selagi Kanda pergi."


Segera menaiki kuda. "Kalau begitu, aku berangkat dulu. Hyaat!" Menarik kendali kuda dan memacu kudanya dengan cepat.


"Mbakyu, apa Kanda akan cepat kembali dengan cepat?"


"Tenang saja! Kakakmu pasti akan cepat kembali. Bukankah dia bilang hanya pergi selama satu minggu? Itu pasti 'kan berlalu dengan cepat. Tak perlu kau risaukan, ya."

__ADS_1


"Baik, Mbakyu."


__ADS_2