Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Keberangkatan menuju Gua Batu


__ADS_3

Pada hari yang telah ditentukan, Jaka dan Nyi Dewi dengan didampingi Laras berangkat melakukan perjalanan mereka menuju Gua Batu yang terletak di atas Bukit Tinggling guna menemui seseorang.


Segala perbekalan sudah dipersiapkan dengan matang agar cukup untuk beberapa hari perjalanan. Kendaraan yang menunjang perjalanan mereka pun telah sedia. Jaka membawa kuda yang biasa ditungganginya, sedang Nyi Dewi menunggangi kuda milik Ki Pucung bersama Laras.


"Paman, Bibi! Kami berangkat!" Menaiki kuda dan bersiap-siap.


"Raden, berhati-hatilah dalam perjalanan!" pesan Ki Pucung. Jaka mengangguk.


"Ingatlah untuk tetap berwaspada setiap kalian melewati daerah yang rawan," ucap Nyi Pucung menambahi pesan suaminya.


Nyi Dewi menuntun Laras untuk menaiki kuda, barulah setelahnya ia ikut menaiki kuda.


"Bibi, kami serahkan padepokan kepada kalian selama kami pergi."


Nyi Pucung mengangguk tersenyum, pun dengan Ki Pucung.


"Laras, ingatlah untuk selalu mendengarkan perkataan Kakak dan juga Mbakyumu selama perjalanan!" pesan terakhir Nyi Pucung.


"Baik, Bibi," ucap Laras mengangguk paham.


"Kami berangkat dulu," pamit Jaka menarik kendali kudanya.


"Pergilah!"


Nyi Dewi turut menarik kendali kuda dan mengikuti Jaka yang telah memacu kuda di depannya.


Ki Pucung dan Nyi Pucung melepas kepergian mereka, berdiri di depan padepokan hingga bayangan mereka lenyap dalam pandangan keduanya.


...***...


Dalam perjalanan..


"Mbakyu, lihatlah itu!" seru Laras penuh antusias saat ia melihat hamparan sawah yang begitu luas. Decak kagum menghiasi wajahnya. Pemandangan itu terlihat amat berkesan baginya.


Hamparan sawah itu terlihat bak sebuah anak tangga raksasa yang terbuat secara alami.


Semenjak kecil, Laras memang tidak pernah melihat pemandangan yang seindah itu baginya.


"Laras, jangan banyak bergerak! Jangan sampai menyusahkan Mbakyumu!"


Laras sedikitpun tidak menggubris ucapan Jaka. Jaka melirik Nyi Dewi. Nyi Dewi hanya memberikan sebuah senyuman kecil, seakan ia mengatakan pada Jaka, bahwa wajar saja bagi Laras yang tidak pernah keluar padepokan, merasa takjub akan pemandangan yang pertama kali dilihatnya.


...***...


Sudah tiga jam mereka menunggangi kuda dengan meraba arah yang harus ditempuh menuju Bukit Tinggling. Mereka tak tahu persis arah mana yang seharusnya mereka lewati.


Jaka dan Nyi Dewi memacu kudanya dengan pelan. Laras tertidur menyandar pada Nyi Dewi.


"Kangmas!"


"Hmm!"


"Ke arah mana kiranya kita pergi? Apakah Kangmas mengetahui ke mana arah menuju Gua Batu?"


"Aku tidak begitu yakin, Nyimas. Aku sudah menanyakannya kepada Kakek, tetapi Kakek bilang tidak tahu dimana keberadaannya."


"Lantas, arah mana yang akan kita tuju?"


Jaka tiba-tiba mengingat sesuatu dalam pikirannya.


"Nyimas, bagaimana jika kita pergi mengunjungi Paman Suwira dan Bibi Lasmi," usul Jaka pada Nyi Dewi.


"Bukankah mereka sering bepergian ke berbagai tempat untuk mencari atau mengantarkan bahan obat-obatan? Barangkali saja mereka tahu atau pernah mendengar tempat itu."


Nyi Dewi membenarkan usul Jaka itu. Ia juga membatin heran. Kenapa tidak terpikirkan olehnya tentang Suwira dan Lasmi.


Keduanya pun segera menuju ke Desa Runggal untuk menemui Suwira dan juga Lasmi.


...***...


Pagi sudah berlalu saat Jaka dan Nyi Dewi tiba di Desa Runggal.


Keduanya hampir sampai di kediaman Suwira dan Lasmi setelah menempuh perjalanan sehari semalam dengan beristirahat beberapa kali.


Laras tiba-tiba terbangun dari tidurnya karena merasakan sinar matahari yang menerpa wajahnya.


"Mbakyu, kita ada dimana?" tanya Laras mengucek matanya.


"Kita berada di Desa Runggal, kita akan beristirahat sebentar. Apakah Diajeng masih mengantuk? Tidurlah kembali jika Diajeng masih mengantuk!"

__ADS_1


Laras menggeleng dan menutup mulutnya yang menguap.


"Nyimas, kalian tunggulah di sini," ucap Jaka turun dari kudanya mencari Suwira atau Lasmi begitu sampai, sedang Nyi Dewi masih terduduk di atas punggung kuda bersama Laras.


Ketika itu Jaka hanya menemukan Lasmi yang tengah menjemur bahan obat-obatan di samping tempat tinggalnya.


"Bibi.." sapa Jaka mendekati Lasmi.


"Ah, Raden!" Sahut Lasmi terkejut akan kedatangan Jaka yang tiba-tiba. Ia pun segera memberikan penghormatan yang selalu ia lakukan saat Jaka mengunjungi kediamannya.


"Apa yang membawa Raden kemari?"


"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada Paman dan Bibi, sehingga aku datang berkunjung kemari. Aku tidak memberitahu terlebih dahulu saat akan berkunjung. Mohon Bibi memakluminya."


"Ah, tidak apa, Raden! Jangan sungkan! Kami akan selalu menyambut Raden walau bagaimanapun juga."


Merapikan wadah tempat menjemur obat. "Mari, Raden! Kita masuk!" ajak Lasmi pada Jaka.


"Apakah Raden hanya seorang diri?" tanyanya lagi.


Mengikuti Lasmi. "Tidak! Aku datang bersama Dewi Mayasari."


Lasmi dan Jaka kembali ke depan. Tepat di depan kediamannya, Lasmi melihat Nyi Dewi dan Laras yang sudah turun dari kudanya.


Nyi Dewi menyapa Lasmi saat keduanya bertemu. Begitu juga dengan Laras.


"Mari, mari! Kita berbicara di dalam saja." Mengajak Nyi Dewi dan Laras agar ikut memasuki kediamannya.


Lasmi membawakan air minum dan beberapa buah-buahan yang dimilikinya untuk dihidangkan.


"Bibi, ke mana Paman dan Lembing Wuluh? Apakah mereka tidak di rumah?"


"Suami hamba belum pulang dari mengantarkan bahan obat-obatan, Raden. Sebentar lagi seharusnya sudah kembali. Sedangkan Wuluh, dia tidak berada di sini. Dia hanya mengatakan ingin pergi mencari saudaranya."


Saat tengah berbincang, tiba-tiba dari luar terdengar suara Suwira yang datang.


"Lasmi, aku sudah pulang! Apakah kita kedatangan tamu lagi?" Bergegas masuk.


"Kakang!" Lasmi berdiri saat Suwira masuk. Jaka dan Nyi Dewi sama ikut berdiri, begitupun dengan Laras.


Suwira yang telah masuk dan menemukan Jaka dalam pandangannya menjadi terkejut seketika.


"Paman," sapa Jaka.


"Apakah Raden sudah lama sampai?"


"Tidak! Aku tiba tidak lama sebelum Paman datang."


Suwira mengangguk. Memandangi orang yang bersamanya. "Ah, ini pastilah Dewi Mayasari!" sambutnya mengenali wajah Nyi Dewi. Nyi Dewi tersenyum saat Suwira masih mengenalinya. "dan juga.." Suwira kebingungan menebak seseorang yang terasa asing dalam ingatannya.


"Paman, ini Adik perempuanku, Laras," ucap Jaka mengenalkan Laras.


Suwira mengerutkan keningnya. "Bukankah Adik perempuan Raden itu Dewi Mayasari?" Melirik istrinya. Keduanya saling pandang. Lasmi pun merasa terkejut dengan ucapan Jaka.


"Ah! Saat itu, ada alasan yang tidak dapat kukatakan pada kalian, ungkap Jaka. "kami ini sebenarnya bukanlah kakak beradik, hanya sama-sama dalam satu perguruan saja," tambahnya.


"Rupanya begitu," ucap Suwira manggut-manggut. "pantas saja, kami pun sempat mengira pada awalnya, bahwa Raden dan Dewi Mayasari adalah satu pasangan," kenang Suwira mengingat saat Jaka pertama kali datang. Jaka hanya tersenyum. Nyi Dewi terlihat malu mendengar perkataan Suwira.


"Laras, kau sapalah Paman Suwira!"


"Paman.." ucap Laras sungkan.


Suwira memberikan penghormatan yang sama seperti yang ia lakukan kepada Jaka. Lasmi pun turut memberikan penghormatannya. Hal itu membuat Laras merasa bingung, namun ia tidak berani bertanya.


Suwira maupun Lasmi berbincang dengan Jaka cukup lama demi melepas rasa kerinduannya terhadap Jaka.


Di sela-sela perbincangan mereka, Jaka mengutarakan maksud kedatangannya.


"Paman, Bibi, maksud tujuanku mengunjungi kalian adalah untuk menanyakan sesuatu," terangnya. Suwira dan Lasmi sama-sama mendengarkan dengan seksama.


"Hal apa yang ingin Raden tanyakan pada kami?"


"Apakah kalian pernah mendengar tentang suatu tempat bernama Gua Batu?" tanya Jaka.


"Gua Batu? Tempat apa itu, Raden?"


Suwira dan Lasmi pun saling pandang.


"Aku juga tidak tahu. Ada seseorang yang memintaku untuk pergi ke sana. Dia mengatakan tempat itu berada di atas Bukit Tinggling."

__ADS_1


"Aku belum pernah mendengarnya, Raden. Apakah kau pernah mendengarnya, Kakang?" tanya Lasmi pada suaminya.


Suwira berusaha berpikir dalam bilah-bilah ingatannya mengenai tempat yang Jaka tanyakan.


"Bukit Tinggling.." Bergumam lirih sembari memutar-mutar bola matanya, berusaha berpikir keras.


"Ahh! Aku ingat!" ucap Suwira kemudian. "aku pernah mendengarnya dari seorang pedagang yang tinggal di sekitar hutan Salatiga."


Saat mendengar perkataan Suwira, seketika Jaka menghela napas. Lega. Pikirannya seakan tiba-tiba menjadi terang. Setidaknya ia tak lagi buta arah, pikirnya.


"Ia mengatakan, bahwa Bukit Tinggling terletak hampir di ujung timur. Jarak tempuh perjalanannya pun cukup jauh. Setidaknya perlu waktu sebulan dengan mengendarai kuda untuk sampai ke tempat itu dari desa kita," terang Suwira.


"Apakah Paman tahu arah menuju ke sana?" tanya Jaka memandangi Suwira dengan penuh harap. Suwira pun balas mengangguk.


"Saat kita bertemu persimpangan di ujung jalan desa ini, ambillah arah yang menuju Bukit Darmalaya. Setelah itu, Raden akan menemukan sebuah sungai kecil yang di seberangnya terdapat jalan setapak. Jalan setapak itu adalah jalan yang berujung hingga samping Istana Kerajaan."


Jaka begitu fokus mendengarkan ucapan Suwira.


"Aku rasa Raden sudah menghafal jalan itu?"


Jaka mengangguk paham. Ia tahu betul arah yang dikatakan oleh Suwira, karena ia sering melewati jalan itu jika melintasi Desa Kadipaten. Suwira pun meneruskan ucapannya.


"Setelah melewati Istana Kerajaan, dalam jarak beberapa hari, Raden akan bertemu Desa Tumenggung. Lalu, teruslah lurus melewati beberapa perkampungan kecil hingga melewati hutan Salatiga, dan juga Desa Bale Kambang setelahnya. Setelah itu, Raden akan melihat kaki Bukit Tinggling tak jauh setelah Desa Bale Kambang. Itulah arah yang kutahu, Raden," jelas Suwira.


"Baiklah, aku akan mencoba mengikuti arah seperti yang Paman katakan tadi."


Jaka dan Nyi Dewi bermalam di kediaman Suwira dan Lasmi atas saran Lasmi yang merasa khawatir saat Jaka hendak melanjutkan perjalanannya malam itu.


Esoknya, setelah berpamitan pada Suwira dan Lasmi, perjalanan pun kembali dilanjutkan.


...***...


Setelah menempuh perjalanan selama dua hari, mereka pun sampai di perbatasan Desa Alas Sewu.


Desa Alas Sewu merupakan sebuah Desa besar dimana istana kerajaan Suryalaya berada. Luasnya lima kali lipat lebih luas daripada Desa Runggal.


Tempat mereka berada hanya berjarak sekitaran dua jam dari istana kerajaan.


"Kangmas, bisakah kita singgah di Istana Kerajaan sebentar sekalian mengunjungi Kakek? Kebetulan aku ingin menemui Patih Laya untuk menanyakan suatu hal."


"Baiklah! Aku juga telah berjanji kepada Kakek untuk membawa serta Laras saat akan mengunjunginya lagi."


"Kanda, apakah kita akan pergi ke Istana Kerajaan?" Mendengarkan pembicaraan Jaka dan Nyi Dewi.


"Iya, kita akan singgah sebentar untuk bertemu dengan Kakek."


"Apakah Istana Kerajaan itu besar seperti Padepokan kita? Ataukah lebih besar lagi, Kanda?"


Nyi Dewi hampir tertawa oleh pertanyaan Laras. Jaka mencubit pipi Laras gemas saat mendengar pertanyaan Laras yang menurutnya terasa lucu.


"Nanti kau juga akan melihatnya. Apakah kau belum pernah melihat atau mendengarnya sama sekali?" tanya Jaka. Laras menggeleng, kemudian terdiam dalam pelukan Jaka.


"Mbakyu.." Laras memandang Nyi Dewi dengan wajah memerah.


"Ada apa, Diajeng?"


"Din, Dinda ingin buang air," ucap Laras lirih.


Nyi Dewi hendak menanyakan apakah Ia masih bisa menahannya. Namun, setelah ia melihat wajah Laras, sepertinya hal itu tidak bisa ditundanya lagi. Nyi Dewi lalu melirik Jaka. Jaka yang tersipu malu atas ucapan Laras menangkap pandangan itu. Ia pun segera menepikan laju kudanya.


Nyi Dewi turun dan membantu Laras turun dari kuda yang dinaikinya bersama Jaka.


"Kangmas, tetaplah di sini!" ucap Nyi Dewi memandang Jaka. Jaka hanya bisa terdiam melihat tatapan tajam Nyi Dewi kepadanya. Kemudian Nyi Dewi menuntun Laras sedikit menjauh dari tempat Jaka untuk menuntaskan urusannya.


Beberapa saat kemudian, keduanya sudah kembali. Jaka dengan sigap membantu Laras menaiki kuda, lalu ikut menaiki kuda dan langsung memacunya. Nyi Dewi mengikutinya di belakang.


Mereka sebentar lagi sampai di gerbang istana kerajaan. Laju kuda yang dipacu masih relatif pelan.


Laras menangkap tangan Jaka agar kembali memeluknya sembari terus tersenyum. Jaka membiarkannya tanpa mengatakan apapun. Ia terlihat merasa lega setelah menunaikan urusannya.


Tak berselang lama, gerbang istana kerajaan Suryalaya pun sudah terlihat jelas.


"Salam, Raden!" sambut dua orang penjaga gerbang istana saat mengetahui siapa gerangan yang hendak memasuki istana kerajaan.


Keduanya lantas menangguhkan tombak yang dipegangnya agar Jaka beserta Nyi Dewi bisa melewati gerbang istana.


"Kangmas, sepertinya Kangmas tidak perlu menunjukkan benda yang diberikan oleh Ayahanda lagi?" tanya Nyi Dewi setelah melewati gerbang istana kerajaan.


"Benar! Benda itu tak perlu kutunjukkan lagi. Kakek yang menyuruh mereka untuk mengingat wajahku agar aku bisa segera masuk saat datang ke istana."

__ADS_1


Nyi Dewi manggut-manggut. "Sepertinya mereka sudah mengenali Kangmas dengan baik," seloroh Nyi Dewi sedikit tertawa. Jaka pun ikut tertawa mendengarnya.


__ADS_2