
Pagi hari. Di pinggir danau kecil..
Suasana yang asri dan nyaman. Harum dari semerbaknya tanaman yang mekar diselimuti embun pagi turut menghiasi, bersama hembusan udara pagi yang masih segar.
Dewi Mayasari berjalan-jalan di samping danau kecil yang ditumbuhi oleh beberapa macam bunga.
Terdapat sederet bunga mawar putih yang diapit beberapa tanaman bunga yang lain. Tak jauh dari situ, dua baris bunga Sulang ikut tumbuh dengan subur.
Di sisi lain, tumbuh pula bunga Meniran, Sampu Angin dan Anting-anting. Meski terlihat seperti tanaman liar, mungkin saja tanaman-tanaman tersebut memiliki khasiat herbalisme, sehingga ditanam di tempat tersebut.
Saat tengah asyik memandangi sekitaran sembari menghirup udara segar, tiba-tiba Baginda Raja menghampirinya.
"Nduk, apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Baginda Raja.
"Padu.. mm, Kakek," ucapnya gugup.
"Aku sedang mencari angin segar sembari melihat bunga-bunga." terangnya.
"Di mana Suamimu?" Kembali melempar pertanyaan.
"Kangmas bukan.." Tertunduk malu. Tak mampu untuk menjelaskan. Rona merah di wajahnya tiba-tiba terlihat jelas.
"Apa dia masih belum bangun?"
Mengangguk pelan. "Sepertinya begitu.."
"Bocah ini! Apa yang slalu dipikirkannya?" Menggelengkan kepala.
Dari arah belakang Baginda Raja, Jaka Umbara berjalan dengan terengah-engah.
"Kakek, aku ingin membicarakan sesuatu dengan Kakek. Ada suatu hal yang ingin kutanyakan pada Kakek" Mengendalikan deru napasnya yang naik turun.
"Dasar! Kenapa kau baru terbangun saat siang hampir datang?"
Terkejut. "Tidak! Aku tidak bangun.."
"Dan lihat yang kau lakukan? Bagaimana bisa kau membiarkan Istrimu sendirian?"
"Istri.." ujar Jaka lirih. Berpikir ada apa dengan kata tersebut. Lalu teringat akan sosok yang dikenalnya.
"Kakek, Nyimas hanya.." Berniat hendak menampik ucapan Baginda Raja. Tetapi, matanya menangkap sosok yang amat dikenalnya itu, sehingga mengurungkan niatnya.
"Apa kau ingin menyangkalnya? Haihh! Sikapmu sama saja seperti Ayahmu dulu."
"Tidak, Kek." Menjawab spontan. Sedikit gugup mendengar ucapan Baginda Raja.
"Ya sudah, Kau temanilah Istrimu! Jangan biarkan dia sendirian lagi," pinta Baginda Raja berbalik dan bersiap meninggalkan keduanya.
"Nduk, teruskanlah jika kau masih ingin berkeliling, ya!"
"Ba, baik, Kek." Jawab Dewi Mayasari.
"Kalau bocah ini meninggalkanmu lagi, katakan saja! Aku akan menghukumnya nanti."
Dewi Mayasari tidak membalas ucapan Baginda Raja, hanya mengangguk pelan.
Setelah Baginda Raja pergi, rasa canggung menyelimuti keduanya.
Keduanya terdiam cukup lama tanpa kata.
"Nyi, Nyimas.. Maafkanlah sikap Kakek," ucap Jaka malu.
"Ti, tidak apa, Kangmas. Aku mengerti."
Keduanya kembali terdiam.
"I, itu.. Nyimas.."
"Ya?!"
"Aku ... akan menemanimu berkeliling." Membuang pandangannya.
"Hmm!" Mengangguk pelan, membuang pandangannya ke arah lain.
Selama beberapa hari ini Jaka dan Dewi Mayasari tinggal di istana kerajaan atas permintaan Baginda Raja.
Keduanya sudah tinggal hampir seminggu lebih.
Tak banyak yang bisa mereka lakukan di sekitaran istana kerajaan. Paling-paling hanya berkeliling memandangi taman bunga atau sekadar berbincang dengan Baginda Raja.
"Kakek, apakah di sekitar sini ada tempat untuk berlatih?" tanya Jaka saat ia dan Dewi Mayasari menemani Baginda Raja berkeliling suatu pagi.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu?" tanya Baginda Raja.
"Aku sudah lama tidak melatih ajian yang diwariskan oleh Guru kepadaku," jawab Jaka.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan membawamu ke sana."
Baginda Raja lalu mengajak Jaka Umbara dan Dewi Mayasari menuju tempat yang dimaksud.
Tempat yang mereka tuju berada di bagian selatan istana kerajaan. Luasnya sekitar 100 tumbak.
Di sepanjang sisinya terdapat beberapa alat latihan fisik lengkap dengan beberapa macam senjata untuk berlatih.
Setengah bagiannya tertutupi tumbuhan yang rindang. Di ujungnya ada sebuah ruang tanpa dinding dan hanya memiliki beberapa tiang sebagai penyangga atap.
"Apakah ini tempat untuk berlatih, Kek?" Bertanya dengan ragu.
"Ya. Ini tempat yang dikhususkan untuk melatih kekuatan fisik atau melatih jurus yang ringan," terang Baginda Raja. "dulu, sewaktu aku masih muda, aku memakai tempat ini untuk berlatih. Beberapa tahun ini aku sudah jarang menggunakannya lagi."
"Apa aku boleh menggunakannya?"
"Ya, kau boleh menggunakannya jika kau suka! Aku akan bersama Istrimu di tempat istirahat."
"Kakek, aku dan Nyimas.." Melemparkan pandangan ke arah Dewi Mayasari.
Berharap Dewi Mayasari membantunya menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.
Dewi Mayasari tak bisa berbuat banyak. Wajahnya tiba-tiba memerah mendengar ucapan Baginda Raja.
Ia juga ingin menampik ucapan Baginda Raja barusan. Hanya saja merasa sungkan.
"Sudah, sudah! Tak perlu memperhatikan kata-kataku. Pergilah berlatih! Kami akan menemanimu."
"Baiklah!" ucap Jaka pasrah.
"Jaka berlatih seorang diri. Sedang Dewi Mayasari dan Baginda Raja menemaninya di tempat istirahat.
"Padu.. Kakek, silahkan duduk!"
"Baiklah." Mengambil tempat duduk. "kau duduklah di sampingku," pinta Baginda Raja.
"Baik, Kek." Mengambil tempat duduk.
"Bagaimana kau bisa mengenal Jaka?"
"Mm, Ayahandalah yang mengenalkanku padanya."
"Berapa lama kalian saling mengenal?"
"Mungkin.. sepuluh tahun atau lebih."
"Ibunya adalah wanita yang tidak pernah membedakan kedudukan seseorang. Tapi tidak pandai menyembunyikan sesuatu," kenang Baginda Raja.
Dewi Mayasari tertegun mendengarkan ucapan Baginda Raja.
"Apakah Ibunda Kangmas Jaka sudah..?"
Baginda Raja mengangguk pelan. Hampir saja pertanyaan Dewi Mayasari memicu rasa sedihnya.
"Maaf, Kek, jika pertanyaanku membuat Kakek sedikit merasa sedih."
"Apa yang kau bicarakan? Itu sudah lama berlalu! Tidak perlu kita bahas lagi," ucap Baginda Raja.
"Ia pasti sangat senang melihat putranya tumbuh besar. Ia juga pasti akan senang bisa bertemu dengan menantunya."
"Kakek, aku dan Kangmas..." Berisyarat dengan kedua tangan menampik sangkaan Baginda Raja.
"Ya, ya. Aku tahu! Setidaknya aku hanya ingin mewujudkannya saja."
Kembali menarik napas panjang. "Kuharap kau bersedia memenuhinya."
Dewi Mayasari kesulitan untuk menjawab. Disisi lain ia tidak ingin menanggapinya lebih awal. Tapi di satu sisi, ia juga tidak ingin membuat Baginda Raja merasakan kecewa jika ia langsung menyangkalnya.
"Mm, bagaimana dengan sikapnya selama kau mengenal Jaka?" Mengubah topik pembicaraan.
"Dia memiliki sikap seperti Ibundanya. Dia juga tidak sabaran." Memandang Jaka yang tengah berlatih.
"Ya, ya. Apa lagi yang kau tahu tentang sikapnya?" Sedikit antusias dengan topik pembicaraan.
"Dia.." Dewi Mayasari menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan Jaka.
Jaka melihat Dewi Mayasari dan Baginda Raja saling tertawa dalam percakapan.
"Apa yang sedang mereka bicarakan?" gumamnya.
Ia segera menghentikan latihannya dan menghampiri tempat istirahat.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"
Dewi Mayasari terkejut dengan kehadiran Jaka.
__ADS_1
"Tidak ada!" Menutupi percakapannya dengan Baginda Raja.
"Kakek, apa Nyimas mengatakan sesuatu yang buruk tentangku?"
"Bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu pada Istrimu?"
Jaka tidak bisa membalas apa pun. Ia tak bisa menemukan apa yang tengah mereka bicarakan barusan.
"Apa kau sudah selesai berlatih?"
"Ya, Kek."
Baginda Raja mengajak Jaka dan Dewi Mayasari menuju meja perjamuan makan setelah latihan Jaka selesai.
Setelah tinggal selama sepuluh hari Jaka dan Dewi Mayasari pamit undur diri.
"Apakah kau tidak ingin tinggal di istana menemani Kakekmu ini?" tanya Baginda Raja dengan wajah yang sedikit sedih.
"Guru menyuruhku menjaga padepokan agar tidak kosong," jawab Jaka. "suatu hari nanti aku akan tinggal untuk menemani Kakek lebih lama lagi."
"Bagaimana denganmu, Nduk?"
"Sepertinya aku juga akan ikut Kangmas Jaka. Tapi aku ingin mengembara untuk sementara waktu, Kek."
"Baiklah. Aku akan melepas kalian pergi. Ingatlah untuk berkunjung kemari saat kalian ada waktu."
"Baik, Kek," ucap Jaka dan Dewi Mayasari bersamaan.
"Jaka, ingatlah untuk menjaga Istrimu! Aku masih menunggu Cicitku lahir dari kalian."
Wajah Jaka seketika memerah. "Kakek!"
Wajah Dewi Mayasari pun turut memerah.
"Baiklah, jaga diri kalian baik-baik," pesan Baginda Raja pada keduanya.
Keduanya segera menaiki kuda. Kemudian menarik kendali kuda dan meninggalkan istana kerajaan.
Di luar istana kerajaan..
"Kangmas, apa kau sungguh tidak ingin tinggal di istana untuk menemani Kakek?"
"Aku belum memikirkannya untuk saat ini. Suatu saat mungkin aku akan tinggal di istana kerajaan menemani Kakek."
"Apa yang akan kau lakukan sekarang ini? Apa kau berniat kembali ke padepokan juga?"
"Tidak! Aku hendak pergi meninggalkan padepokan untuk sementara waktu dan mengembara melatih semua ajianku. Aku akan kembali suatu hari nanti."
"Nyimas.."
"Ah, Kangmas.." Memotong ucapan Jaka. "mulai sekarang aku akan memakai nama panggilanku?"
"Apa nama panggilanmu itu?"
"Panggillah aku Nyi Dewi mulai sekarang." Berucap dengan bangga.
"Dari mana kau mendapatkan nama itu?" Tertawa kecil.
Dewi Mayasari merengut. "Kenapa malah tertawa? Apa ada yang salah dengan nama panggilanku?"
"Tidak, tidak!" Menahan tawanya supaya tidak keluar.
"Sepertinya kau meragukan nama yang kubuat?" Merasa kesal.
"Baik, baik! Aku akan mendengarkan apa kata Istriku?" Menggoda Dewi Mayasari dengan candaan.
"Huh! Siapa yang ingin kau sebut Istriku?" Semakin kesal.
"Baik, aku akan mengingat nama itu mulai sekarang."
"Hngh! Awas saja jika kau melupakannya!"
"Baik, baik," ucap Jaka meyakinkan. "kita akan berpisah di persimpangan di depan."
"Ya, kita akan berpisah di sini. Entah kita bisa bertemu lagi atau tidak? tergantung pada takdir kita."
"Nyimas, jaga dirimu baik-baik. Ingatlah untuk tidak memaksakan diri," pesan Jaka.
"Ya. Kangmas juga. Aku akan pergi dulu." Segera memacu kudanya dengan cepat.
"Berhati-hatilah dalam perjalanan."
Dewi Mayasari pergi meninggalkan Jaka seorang diri.
"Selamat tinggal! Semoga kau baik-baik saja! Nyi Dewi!" ucap Jaka lirih.
__ADS_1
Jaka lantas memacu kudanya menuju arah padepokan.