Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Terjadinya insiden mengerikan


__ADS_3

Jaka menghela napas panjang, kemudian bangkit. “Aku sudah menyiapkan air di atas meja. Setelah kau membersihkan wajahmu, segeralah mengisi perutmu,” ucap Jaka melangkah pergi.


Untuk ketiga kalinya, Jaka lagi-lagi pergi keluar meninggalkan ruangan kamar meskipun saat itu Dewi Mayasari tak memintanya pergi.


Setelah siang berlalu, Jaka kembali ke kamarnya. Kali ini makanan yang dibawakannya untuk Dewi Mayasari telah habis sebagian dimakan oleh Dewi Mayasari.


“Apa yang membuatmu kemari?” Mendekapkan kedua tangan seraya membuang pandangannya dari Jaka.


“Kita menyewa kamar ini bersama-sama. Apakah hanya kau yang boleh memasukinya, sedangkan aku tidak?” Menjawab dengan penuh keheranan.


“Hngh!” Semakin berpaling muka.


“Apa yang harus aku lakukan hingga kau tidak lagi marah padaku?” Memaksakan diri duduk di samping Dewi Mayasari.


“Kau! Kenapa kau duduk di situ? Siapa yang mengizinkanmu untuk duduk sembarangan?” Terkejut dan hampir marah.


Dewi Mayasari baru saja merasa sedikit tenang ketika Jaka pergi sesaat setelah menatapnya kala ia terbangun dari tidurnya. Kini, saat Jaka tiba-tiba berada di sampingnya, ia kembali merasa tidak tenang, seakan ada suatu gejolak emosional yang meluap.


“Apakah aku tidak boleh duduk di sini?” tanya Jaka kebingungan.

__ADS_1


“Tidak boleh!” Tersipu malu dan sedikit berteriak.


“Lalu, di mana aku harus duduk?”


“Kau.. kau bisa duduk agak menjauh, kan..” ucapnya lirih.


“Baiklah, Aku akan mengambil tempat duduk seperti yang kau suruh.” Bergeser tempat, berpindah duduk di sebuah kursi. Berusaha mengalah agar tidak memperumit keadaan.


“Baik, apakah sekarang aku sudah boleh duduk?”


“Ya, tetaplah di situ, jangan mendekat kemari!”


“Baiklah. Sekarang dengarkan aku baik-baik. Kejadian semalam itu aku akui aku memang bersalah. Tapi itu tidak aku lakukan dengan sengaja. Aku melakukan hal itu bukan karena tanpa sebab yang jelas. Tak lain adalah karena aku takut kau sedang menjadi target korban dari seseorang,” terang Jaka berusaha memperjelas hal yang telah terjadi.


“Apa yang kau katakan? Apa kau pikir aku akan mempercayaimu begitu saja.”


Jaka menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar tanggapan Dewi Mayasari. Menghela napas sambil berkata pelan, “Dasar, keras kepala!”


“Apa yang kau katakan? Katakanlah dengan jelas, agar aku bisa mendengarnya.”

__ADS_1


Jaka tersentak. “Tidak ada!” Lalu, mencoba kembali pada titik persoalan. “Apa kau bisa melihat dengan jelas jarum di dinding itu?” Menunjuk sebuah jarum yang tertancap di dinding kamar.


Dewi Mayasari melirik tempat yang ditunjukkan oleh Jaka. Ia tidak bisa melihatnya dengan jelas. Kemudian Dewi Mayasari bangkit dan mendekat agar bisa melihatnya lebih jelas. Benar saja, ada sebuah jarum kecil yang tertancap di dinding kamar. Ia hampir saja menyentuh jarum tersebut karena rasa penasarannya.


“Apa yang kau lakukan? Apakah kau tidak tahu kalau jarum itu bisa saja beracun?” Menarik tangan Dewi Mayasari dengan cepat, hingga menyebabkan keduanya terjatuh duduk di tempat tidur.


Dewi Mayasari tersipu malu. “Kau, kau terlalu dekat!” Mendorong Jaka cukup keras.


“Ma, maaf. Aku hanya takut jika terjadi sesuatu padamu.” Kembali duduk di kursi.


“Apakah sekarang kau sudah percaya mengenai kejadian semalam?”


Dewi Mayasari mengangguk. “Ya,” ucapnya pelan.


“Lalu, bisakah kau memaafkanku tentang kejadian semalam?”


Dewi Mayasari tak segera menjawab. Ia masih mengingat kejadian semalam dengan jelas. “A, aku..”


“Tolong! tolong! Ada mayat, tolong!”

__ADS_1


__ADS_2