Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Berandalan pasar Banggolan 3


__ADS_3

Ketua berandalan memandangi rekan-rekannya yang telah terkapar dengan pandangan penuh kekesalan. Ia bersegera keluar dari dalam ruangan kedai untuk mengejar Jaka Umbara diikuti oleh rekan-rekan lainnya yang belum tumbang.


Nyi Dewi dan Laras turut pula beranjak keluar dari dalam ruangan kedai. Pun dengan pemilik kedai dan para pelayannya yang merasa penasaran dengan pertarungan yang tengah terjadi.


Di halaman luar kedai. Jalanan setapak yang membelah pasar Banggolan. Jaka telah berdiri dan bersiap. Ia langsung dikelilingi oleh berandalan yang tersisa, termasuk ketua berandalan. Ia sudah siap sedia untuk menghalau serangan manapun yang akan datang kepadanya.


"Serang dia!!"


Ketua berandalan memberikan aba-abanya agar seluruh rekan-rekannya yang sudah mengelilingi Jaka segera maju menyerang. Tanpa membuang waktu lagi, berandalan-berandalan itu langsung maju menyerang. Dengan lihai dan tanpa kesulitan yang berarti, Jaka mampu menumbangkan berandalan-berandalan yang datang menyerangnya. Mereka tumbang sembari memegangi anggota tubuh mereka yang kesakitan akibat dari serangan Jaka. Ada yang memegangi kepalanya, kakinya dan juga punggungnya, menggeliat-geliat di atas tanah seperti cacing yang kepanasan.


Kini, tinggallah ketua berandalan seorang diri menyaksikan bagaimana rekan-rekannya telah tumbang di tangan Jaka. Hal itu membuat kekesalan ketua berandalan seketika memuncak. Ia mengucapkan serapahnya dengan nada yang agak tinggi. "Dasar tidak berguna!" teriaknya kepada rekan-rekannya yang meringis menahan rasa sakit pada bagian tubuhnya.


Dengan rasa kekesalan yang memuncak, ketua berandalan menghunuskan pedangnya seketika dan langsung menyerang Jaka. Hyatt!! Hyatt!! Hyatt!! Layangan pedang yang dihunuskan oleh ketua berandalan tak satu pun yang dapat mengenai tubuh Jaka. Jaka menghindar ke arah kanan dan kirinya sembari memberikan serangan balasan. Ketua berandalan itu mampu menangkis serangan balik Jaka. Sepertinya ketua berandalan itu terlihat sedikit bisa bertarung dibandingkan dengan rekan-rekan berandalan yang lainnya.

__ADS_1


Ketua berandalan masih melayangkan pedangnya tanpa ampun. Ia melayangkannya ke arah tubuh Jaka di bagian manapun yang mampu dijangkaunya. Jaka melangkahkan kedua kakinya, mundur bergantian ketika ketua berandalan itu mengincar kedua kakinya dengan tebasan pedangnya. Tebasannya tiba-tiba berganti pada tubuh Jaka dengan cepat. Jaka secepat kilat kembali menghindarinya dan langsung menjauh, melompat ke belakang beberapa langkah dan membuat sedikit jarak antara dirinya dan ketua berandalan.


"Bedebah! Mengapa kau terus saja menghindariku? Apa kau takut tidak dapat menang melawanku?" sungut ketua berandalan. Kemudian ketua berandalan terbang menapaki angin sembari menghunuskan pedang di tangannya kepada Jaka. Jaka pun segera menghindarkan tubuhnya ke arah kanan dan kirinya, mengelak dari hunusan pedang ketua berandalan.


Jaka tak menggubris sedikitpun perkataan dari ketua berandalan kepadanya, seakan ucapan dari ketua berandalan hanyalah sekedar sebuah ocehan yang tidak penting. Ia hanya terus menghindar dari setiap serangan ketua berandalan untuk mencari-cari celah yang dapat dimanfaatkannya.


"Hahaha! Cecunguk sepertimu, yang hanya tahu menghindar tanpa mau menyerang, tak patut untuk aku lawan," ucap ketua berandalan meremehkan. Ketua berandalan berancang-ancang untuk kembali menghunuskan pedangnya. "lihat saja bagaimana kau akan kukalahkkan!" ucap ketua berandalan lagi memburu Jaka dengan pedang terhunus lurus mengarah ke depan.


Masih dengan sikap penuh ketenangan, Jaka telah bersiap akan hal itu. Jaka lalu melakukan gerakan tangan, dan saat hunusan pedang ketua berandalan tepat berada di depan tubuhnya, pedang itu seolah menabrak sebuah dinding kasat mata yang keras. Pedang itu tertancap, seperti melayang di udara dan tak mau lepas. Ketua berandalan terlihat kesulitan melihat pedangnya yang tak mau bergerak sedikitpun. Sedetik kemudian, Jaka melepaskan tenaga dalamnya yang ditekankan melalui gerakan tangannya sehingga membuat ketua berandalan terhempas ke belakang walaupun masih mampu menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


Hyatt!! Ketua berandalan melayangkan pedangnya lebih cepat, tetapi Jaka pun secepat kilat menghindar dan mengelak. Dan ketika serangan ketua berandalan memiliki sedikit celah, Jaka melakukan gerakan tangannya dengan memutarkan telapak tangannya diiringi sentilan jarinya tanpa disadari oleh ketua berandalan.


Ctakk! Langkah kaki ketua berandalan terhenti sejenak ketika hendak memberikan serangan. Ia merasakan ada suatu benda keras yang tiba-tiba menyentil jidatnya. Ketua berandalan pun termenung sesaat sembari menahan rasa sakit di jidatnya, seakan mengalami sesuatu yang tak asing terulang kembali.

__ADS_1


Setelah teringat akan kejadian yang sama dengan hal yang baru saja dialaminya, ketua berandalan pun bertambah marah dan menjadi murka. "Bangsat!!" teriaknya sambil mengayunkan pedang dan menghunuskannya ke arah tubuh Jaka. Jaka yang memang sedari awal tengah mencoba untuk memancing kemarahan dari ketua berandalan agar menyerangnya tanpa perhitungan, tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Jaka lantas melakukan gerakan tangannya dengan cepat, tetapi tidak sama dengan gerakan tangan sebelumnya. Ia melakukannya dengan kedua tangan. Gerakannya begitu cepat tanpa bisa diperhatikan oleh ketua berandalan.


Seketika angin seakan berhembus kencang, seperti deru kawanan hewan yang berlarian. Hembusannya bahkan terasa hingga ke dalam ruangan kedai. Pemilik kedai dan para pelayannya bersembunyi dibalik jendela kedai karena merasa takut melihat hembusan angin yang kencang. Nyi Dewi menenangkan Laras yang juga merasa ketakutan dengan hal yang disaksikannya. Para berandalan yang terkapar pun harap-harap cemas dengan keadaan diri mereka.


Ketua berandalan berusaha menahan dirinya agar tidak terhempas. Ia berniat hendak melawan hembusan angin. Tetapi dalam hitungan detik, entah bagaimana terjadi, ketua berandalan terhempas mundur saat mengarahkan pedangnya untuk mencoba menahan hembusan angin. Tubuhnya terlempar beberapa meter dengan tubuh menubruk tanah, persis seperti orang yang tengah bertiarap.


Jaka Umbara berjalan perlahan. Melangkah mendekati ketua berandalan yang saat itu sudah tak mampu lagi untuk memberikan perlawanannya.


"Am, ampun, Kisanak! Ampun! Aku mengaku kalah!" ucap ketua berandalan bersimpuh. Kedua tangannya saling menggenggam pertanda ia tak ingin meneruskan pertarungan dengan Jaka. Pandangannya tertunduk ke bawah, berharap Jaka akan memberikannya belas kasihan untuk menyudahi pertarungan yang terjadi.


Jaka berdiri di hadapan ketua berandalan. Pandangannya terlihat begitu tajam. Seakan Jaka ingin meluapkan amarahnya yang terpendam. Ia memandangi seluruh berandalan, termasuk ketua berandalan.


"Siapa di antara kalian yang telah merampas barang-barang milik seorang kusir di pertigaan jalan menuju arah pasar ini?" tanya Jaka memutar pandangannya ke arah sekelilingnya. Mengedarkan pandangannya pada setiap berandalan satu persatu.

__ADS_1


Ketua berandalan mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan Jaka. Ia pun buru-buru menjelaskan dan menyangsikan prasangka Jaka Umbara yang menurutnya hal itu tidaklah benar, "Kisanak, aku telah sudi untuk mengakui kehebatanmu. Lantas, apa maksud daripada perkataanmu itu? Kami bukanlah orang-orang yang suka merampas harta benda atau barang-barang milik orang lain seperti yang kau tuduhkan itu. Kami hanya mendatangi tempat-tempat makan atau minum saja untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Tidak lebih."


"Seseorang telah mengadu kepadaku bahwa semua barang-barangnya telah dirampok oleh beberapa orang berandalan saat tengah menuju kemari beberapa hari yang lalu, dan barang-barang itu adalah milik dari majikannya."


__ADS_2