Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Musibah yang tiba-tiba muncul 3


__ADS_3

“Tidak ada.” Dewi Mayasari menjawab datar sambil meminum beberapa teguk air.


“Sepertinya kalian cukup rukun. Apakah ada sesuatu yang terjadi selama kalian menjalani hukuman kalian?"


Uhukk! Uhukk! Dewi Mayasari tersedak air yang diminumnya. "Ayahanda, apa yang Ayahanda katakan?"


“Bukankah sebelum menjalani hukumannya kau sangat menentang untuk rukun dengannya meskipun aku sudah memaksamu. Mengapa sekarang kau sangat peduli dengannya? Mungkinkah ada suatu kejadian yang kalian alami dan meningkatkan kerukunan kalian.”


“Tidak ada. semuanya berjalan lancar.”


“Kau bahkan bertanya padaku bagaimana keadaannya.”


“Ayahanda!” Berdiri hendak marah. “Aku sudah kenyang. Aku akan kembali ke kamar untuk beristirahat.”


“Ya sudah. Kau pasti lelah dan butuh istirahat. Kembalilah!”


“Baik, Ayahanda. Aku undur diri dulu.”


Dewi Mayasari berlalu. Mpu Anggar Maya masih duduk termenung. Menerawang setiap hal-hal yang tengah dipikirkannya.

__ADS_1


Dewi Mayasari sudah terbaring di tempat tidurnya. Ia masih merasa kesal atas ucapan ayahnya.


“Apa sih maksud Ayahanda itu?” ucapnya dengan nada kesal.


Dewi Mayasari memandangi langit-langit kamarnya. Pandangannya memandang tak menentu ke segala arah. Pikirannya masih melayang-layang menerawang setiap bayangan dalam ingatannya, merangkai kembali setiap kejadian yang terjadi di hari itu.


“Akhirnya aku tidak sempat menanyakan berapa lama dia akan terbangun.” Menghela napas dengan berat seakan menyesali perbuatannya sendiri.


Tiba-tiba ia tersentak mendengar ucapannya sendiri. “Hah! Untuk apa aku peduli tentangnya? Itu urusannya, bukan urusanku! Mengapa aku harus repot-repot memikirkannya?”


Memutar-mutar jari telunjuknya di atas tempat tidur sambil bergumam, “Kenapa aku merasa sedikit gelisah? Untuk apa juga aku harus khawatir padanya? Tapi.. Dia sudah berjanji akan menebus permintaan maafnya setelah kita sampai di padepokan. Awas saja, kalau sampai dia mengingkarinya, aku takkan pernah memaafkannya!” Memejamkan matanya hingga akhirnya tertidur pulas.


Selama itu pula Dewi Mayasari yang merapikan kamar Jaka, termasuk mengganti kain yang baru untuk menutupi luka bekas gigitan di lengan Jaka.


Di dalamnya terdapat sebuah racikan obat bubuk basah yang telah dibuat sebelumnya oleh Mpu Anggar Maya.


“Dewi..” panggil Mpu Anggar Maya tatkala Dewi Mayasari tengah mengganti kain di lengan Jaka dengan kain yang baru.


“Iya, Ayahanda,” balas Dewi Mayasari menjawab panggilan dari ayahnya.

__ADS_1


“Beristirahatlah! Ini sudah malam.”


“Baik, Ayahanda. Sebentar lagi aku selesai menggantikan kain baru. Setelah itu, aku akan segera beristirahat.”


Mpu Anggar Maya berlalu. Dewi Mayasari ikut meninggalkan kamar Jaka setelah pekerjaannya selesai.


Siang hari. Mpu Anggar Maya dan Dewi Mayasari tengah makan bersama di beranda depan padepokan.


Dewi Mayasari bertanya pada ayahnya tentang khasiat obat yang diracik oleh ayahnya di sela-sela makan siangnya.


“Ayahanda, apa obat yang ayahanda buat itu membutuhkan waktu yang lama untuk mengobati bekas gigitan ular Trolong itu?” Mengambil lauk di depannya, kemudian melahapnya sedikit-sedikit.


Mpu Anggar Maya menjawabnya setelah meneguk beberapa teguk air. "Biasanya itu akan bekerja dua sampai tiga hari."


“Tapi ini sudah hampir memasuki hari ke lima.”


“Berdoalah, semoga saja akan ada keajaiban yang akan datang!”


Keduanya kembali melahap makanannya tanpa ada sepatah kata pun yang terucap.

__ADS_1


Malam telah menjelang, seperti biasanya Dewi Mayasari akan menggantikan kain penutup luka di lengan Jaka dengan kain yang baru, sekaligus mengecek perkembangan kondisi Jaka. Ayahnya sudah mengatakan kepadanya, bahwa dirinya tidak perlu melakukan tugas itu. Hanya saja Dewi Mayasari bersikeras untuk melakukannya, karena ia berpikir Jaka yang terluka adalah akibat menolong dirinya tempo hari. Oleh sebab itu, Dewi Mayasari berusaha membalasnya dengan tugas itu.


__ADS_2