
"Tak apa, Bibi! Aku berterima kasih pada kalian. Aku sungguh merasa terbantu dengan adanya pertolongan dari kalian," ucap Jaka sembari tersenyum. Jaka lalu memberikan hormat sebagai ucapan rasa terima kasihnya di hadapan Suwira dan Lasmi.
"Raden.. Jangan seperti itu! Itu membuat kami merasa sungkan terhadap Raden," ucap Suwira canggung.
"Benar, Raden! Raden tidak perlu sampai seperti itu pada kami," sambung Lasmi.
"Sekali lagi aku berterima kasih kepada Paman dan Bibi yang telah membantuku."
"Ra, Raden.. Ini hanyalah hal kecil saja. Raden tidak perlu merasa sesungkan itu saat meminta bantuan kami." Suwira dan Lasmi semakin merasa segan akan tingkah Jaka. "Kami akan senantiasa bersedia untuk membantu Raden," tambahnya.
"Raden, Kami akan senantiasa bersedia dengan segenap hati kami membantu Raden," Menegaskan ucapan suaminya, Suwira.
Jaka tersenyum penuh haru. Memandang Suwira serta Lasmi dengan pandangan bahagia. Ia bersyukur bisa mendapatkan orang yang bisa membantunya disaat ia tengah mengalami kesulitan seperti sekarang ini.
"Baiklah! Kalau begitu aku akan undur diri kembali ke padepokan dulu. Lain kali aku akan kembali untuk mengunjungi kalian." pamit Jaka sembari bangkit dan bersiap hendak melangkah ke luar.
Suwira dan Lasmi mengangguk. Keduanya mengiringi langkah Jaka hingga sampai di luar gubuk mereka.
"Paman, Bibi, aku pergi dulu," pamit Jaka lagi sebelum benar-benar berpisah dengan keduanya.
"Raden, berhati-hatilah dalam perjalanan Raden," pesan Lasmi mengiringi kepergian Jaka.
Jaka mengangguk. Ia langsung menarik kendali kudanya meninggalkan Suwira dan Lasmi yang mematung memandangi kepergiannya.
__ADS_1
Di saat itu tidak ada perasaan berat hati seperti yang mereka rasakan sebelumnya.
"Kakang, semoga saja tak terjadi apa pun dalam perjalanan Raden," ucap Lasmi penuh harap. Memandang Suwira dengan cemas.
"Ya, kuharap pun begitu," balas Suwira.
Keduanya masih mematung hingga sosok Jaka benar-benar lenyap di pandangan keduanya.
"Kakang, bukankah kau sedang merebus bahan-bahan obat?" Tiba-tiba mengingat sesuatu.
Tersentak akan ucapan Lasmi. "Kau benar! Bagaimana hasilnya? Ini sudah melebihi waktunya cukup lama?" tanya Suwira panik.
"Mari kita coba lihat bagaimana hasilnya!" ajak Lasmi. Lantas bergegas masuk diikuti oleh Suwira.
Di padepokan tempat Jaka tinggal..
"Guru, aku sudah kembali," ucap Jaka begitu tiba di depan pintu kamar gurunya. Ia melihat Dewi Mayasari tengah duduk di samping sang guru yang tengah terlelap.
"Kangmas, kau sudah kembali," sambut Dewi Mayasari, bangkit dari duduknya menyambut kedatangan Jaka.
"Ya, aku baru saja kembali. Apakah Guru sudah terlelap cukup lama?"
"Mungkin sudah sekitaran dua jam lebih. Apa yang berada di tangan Kangmas itu?"
__ADS_1
"Ini bahan yang biasa Guru pakai untuk meracik obat yang biasa digunakannya."
"Mari kita bicarakan itu di luar saja," ajak Dewi Mayasari.
"Ya, sepertinya begitu lebih baik. Mari kita biarkan Guru terlelap sejenak," sahut Jaka membalas ajakan Dewi Mayasari.
Mereka segera meninggalkan ruang kamar dan beralih ke beranda depan padepokan untuk melanjutkan percakapan mereka.
"Apa Kangmas bertemu dengan Paman Datuk di Desa Wangun kemarin?"
"Ya, aku bertemu dengannya, hanya saja aku tidak mendapatkan apa yang kucari," ucap Jaka sedih.
"Apa Kangmas tidak mencarinya di tempat Paman Suwira dan Bibi Lasmi?"
"Aku juga mengunjungi tempat mereka, tapi tak ada hasil yang memuaskan," ucap Jaka dengan wajah yang lesu. Desahannya saat itu bahkan bisa terdengar oleh Dewi Mayasari.
"Kangmas, jangan bersedih! Kau sudah berusaha dengan keras! Bersyukurlah atas semua yang sudah diberikan untuk kita saat ini," hibur Dewi Mayasari, mencoba mengurangi kesedihan Jaka.
Jaka tersenyum pahit. Ia berusaha tegar agar tidak terlarut dalam kesedihan. "Kau benar, Nyimas! Tak ada gunanya kita terus bersedih. Lebih baik kita memikirkan kesembuhan Guru."
Dewi Mayasari melemparkan senyumnya saat mendengar ucapan Jaka. Setidaknya ia bisa menghibur dan mengurangi rasa kesedihan yang terlukis di wajah Jaka.
"Apa Kangmas sudah makan? Kalau mau aku akan bersiap untuk menyiapkannya. Kebetulan aku belum mengisi perutku sejak pagi tadi. Aku akan .."
__ADS_1
"Nyimas, aku belum merasa lapar," tolak Jaka dengan halus. Ia mengisyaratkan gerakan telapak tangannya menampik tawaran Dewi Mayasari.
Krruukkk! Sejurus kemudian suara yang begitu familiar membuat Jaka tidak bisa berkutik. Ia seolah melahap ucapannya sendiri.