
Pagi-pagi sekali Jaka dan Dewi Mayasari sudah berangkat menuju tempat biasa Jaka mencari beberapa bahan untuk racikan obat Mpu Anggar Maya di sekitaran Desa Wangun.
Saat sore menjelang pada keesokan harinya, keduanya telah sampai di tempat yang dituju.
“Jaka, sudah lama aku tidak pernah melihatmu datang kemari. Ke mana saja kau?” sapa seseorang yang sudah akrab mengenalinya.
“Aku sedang melatih ajian yang sedang kupelajari dari Guru belakangan ini. Jadi, aku hampir tak pernah punya banyak waktu untuk berkunjung kemari. Apalagi beberapa hari terakhir ini, aku sempat sakit,” jawab Jaka menjelaskan kondisinya.
Orang itu tiba-tiba terkejut mendengar penuturan Jaka. “Hah! Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa sakit? Apakah kau masih merasakan sakitnya sampai sekarang?”
Jaka terlihat enggan untuk berkomentar lebih jauh. “Tidak, tidak. Itu hanya luka kecil. Sudah sembuh setelah aku meminum obat dari Guru.” Sedikit berbohong, berusaha menghindari pertanyaan lain yang akan dilontarkan kepadanya. Jaka memandang Dewi Mayasari, berharap Dewi Mayasari akan membantunya keluar dari situasinya saat itu.
Dewi Mayasari terlihat acuh dan memalingkan wajahnya. Ia berkata dalam hati, “Huh! Apanya yang luka kecil. Apa dia tidak tahu kalau aku menghabiskan waktuku beberapa hari yang lalu hanya untuk merawatnya. Apa dia melupakan kebaikanku begitu saja.”
Jaka melihat aura kekesalan pada wajah Dewi Mayasari. Ia ragu Dewi Mayasari akan membantunya keluar dari situasinya saat itu.
“Apakah Paman Datuk ada di dalam?” tanya Jaka mencoba berganti topik pembicaraan agar terlepas dari situasinya.
“Beliau belum kembali. Tapi sepertinya baru akan kembali besok pagi.”
__ADS_1
“Ke mana perginya Paman? Apakah kau tahu sesuatu?”
“Tidak. Tapi, aku sarankan sebaiknya kau tunggu saja di penginapan seperti biasa. Kedatangan beliau besok pagi belum tentu menjadi berita yang tetap dan terjamin.”
“Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu.”
Jaka pamit undur diri dan mengajak Dewi Mayasari pergi, meninggalkan seseorang yang dikenalnya menuju ke tempat penginapan.
Di depan tempat penginapan. Beberapa orang tengah berbaris menunggu giliran untuk memesan kamar yang akan disewanya. Jaka dan Dewi Mayasari turut berbaris menunggu giliran setelah menitipkan kuda mereka.
“Kenapa kita ke tempat seperti ini?” tanya Dewi Mayasari penasaran.
“Kenapa kita harus bermalam di sini? Bukankah kita bisa kembali ke padepokan?”
“Orang yang kita cari kebetulan belum datang. Ia akan hadir besok pagi. Karena itulah kita akan bermalam di sini.”
“Apakah kita..” Dewi Mayasari berisyarat dengan matanya menunjuk ke arah penginapan.
Jaka mengangguk. “Ingat ucapan Guru kemarin. Kau harus berpura-pura menjadi Adikku.”
__ADS_1
Hah! Dewi Mayasari mengerutkan kening. “Aku tidak mau! Siapa yang mau menjadi Adikmu. Kalau kau tetap memaksaku.. mmm... mmm...”
Jaka menutup mulut Dewi Mayasari dengan terpaksa. “Sihh! Jangan berkata terlalu keras, nanti kalau terdengar oleh kepala penginapan bisa gawat?” ucap Jaka pelan.
Dewi Mayasari berusaha berontak. “Mmm, mmm.. mmm..”
“Apa yang kau katakan? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.” Jaka tak sadar tangannya masih menutup mulut Dewi Mayasari hingga ia tak dapat mendengarkan ucapan Dewi Mayasari.
Dewi Mayasari lantas menarik tangan Jaka dengan paksa. “Apa yang sedang kau lakukan? Apa kau sedang mencoba membunuhku?”
“Ah, maaf! Aku lupa kalau tanganku menutupi mulutmu.”
“Kau..” Merasa kesal dan hendak marah.
“Maaf, maaf. Untuk sekarang, ikuti saja saran dari Guru. setelah kita mendapatkan kamar, aku akan menjelaskan situasi di sini kepadamu, ya,” pinta Jaka memohon.
“Baiklah. Kali ini aku akan mendengarkanmu. Jika saja bukan karena Ayahanda yang menyuruhku, aku pasti takkan mau mengikuti ucapanmu.”
Jaka tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya, merasa sedikit kesal dengan sikap Dewi Mayasari.
__ADS_1
“Kenapa sifat keras kepalanya itu tak juga menghilang,” batin Jaka.