
Hampir setiap hari Jaka dan Dewi Mayasari berlatih. Terkadang keduanya berlatih dibawah bimbingan Mpu Anggar Maya selaku guru mereka. Terkadang pula mereka berlatih tanpa ditemani oleh Mpu Anggar Maya saat melatih kembali ajian-ajian yang telah mereka kuasai.
"Jaka, Dewi, Kemarilah!" panggil Mpu Anggar Maya ketika suatu saat keduanya tengah berlatih bersama.
"Guru, ada apa tiba-tiba memanggil kami?" tanya Jaka merasa penasaran dengan panggilan Mpu Anggar Maya yang tidak seperti biasanya. Jarang sekali Mpu Anggar Maya menghentikan sesi latihan jika bukan waktu makan atau saatnya untuk beristirahat.
"Ayahanda, adakah sesuatu yang penting?" tanya Dewi Mayasari pula.
"Ada beberapa hal yang harus kukatakan pada kalian. Kalian ikutlah ke ruang baca!" pinta Mpu Anggar Maya seraya berbalik menuju ruangan tempat membaca.
Di ruangan tempat membaca..
Jaka dan Dewi Mayasari duduk bersila menantikan apa gerangan hal yang membuat latihan keduanya harus terhenti.
"Ekhm! Aku katakan intinya saja," ucap Mpu Anggar Maya membuka pembicaraan. Jaka dan Dewi Mayasari mendengarkan dengan seksama.
"Aku akan mewariskan suatu ajian yang pernah kudapatkan. Kalian akan kuberikan sebuah gulungan berisikan cara bagaimana mempelajarinya."
Jaka dan Dewi Mayasari saling pandang. Keduanya terlihat kebingungan mendengar ucapan Mpu Anggar Maya yang begitu tiba-tiba.
"Guru, apa yang sebenarnya tengah terjadi?"
Mpu Anggar Maya menggeleng. "Tidak apa-apa!"
"Apa Ayahanda tidak bisa memberitahukan hal itu pada kami?"
"Kalian tidak usah cemas. Tak ada apa pun yang terjadi. Aku hanya ingin mewariskan suatu ajian kepada kalian. Itu saja," pungkas Mpu Anggar Maya.
Jaka dan Dewi Mayasari kembali saling pandang. Ada perasaan gelisah bercampur heran yang menyelimuti keduanya. Namun keduanya enggan menyikapi perasaan itu.
"Kalian tunggulah di sini. Aku akan segera kembali," pinta Mpu Anggar Maya. Lantas bangkit dan pergi menuju ruang kamarnya.
"Apa kiranya yang akan Guru sampaikan?"
"Jangan bertanya padaku? Aku mana tahu soal itu!"
__ADS_1
"Kupikir Guru memberitahumu tentang hal itu."
"Aku jadi sedikit gelisah memikirkannya."
"Kau jangan berpikir yang tidak-tidak! Berdoa saja semoga tak ada hal buruk apa pun yang akan terjadi pada Guru."
"Kau benar! Semoga tak ada hal buruk apa pun yang akan terjadi."
Tak berselang lama, Mpu Anggar Maya kembali. Tangannya terlihat memegang dua buah gulungan yang terbuat dari untaian bilah bambu yang diruntutkan. Kemudian Mpu Anggar Maya kembali duduk menghadapi Jaka dan Dewi Mayasari.
"Guru, gulungan apa yang berada di tangan Guru itu?"
"Ini adalah dua gulungan yang berisi suatu ajian yang jarang diketahui oleh kebanyakan orang. Aku mendapatkannya dari seorang guru yang yang pernah mengajariku beberapa jurus ajian, dan salah satunya adalah ajian yang diwariskan oleh keturunan kerajaan di wilayah Gunung Chuda."
"Siapakah keturunan kerajaan itu, Ayahanda?" telisik Dewi Mayasari.
"Aku minta maaf! Aku tidak mendapatkan jawabannya saat kutanyakan hal itu padanya."
"Sepertinya dia orang yang cukup hebat pada masanya," komentar Dewi Mayasari. "tak heran ajian itu diwariskan hingga sampai ke keturunannya saat ini."
"Tapi kenapa Guru menyerahkan sesuatu sepenting itu kepada kami? Sedikit pun kami tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan antara kerajaan mana pun."
"Semuanya cukup rumit bila dijelaskan." Mpu Anggar Maya Menghela napas panjang. Terasa begitu dalam dan sedikit berat.
"Putranya tidak diketahui keberadaannya saat itu. Jadi gulungan ini berakhir di tanganku." Menunjukkan sebuah gulungan di tangannya. Menatapnya begitu lekat seolah merasa sedih dengan kenyataan yang terjadi.
"Lagipula gulungan ini memiliki kecocokan dengan elemen yang berada di tubuh Jaka," ucapnya lagi sembari memandang ke arah Jaka.
Jaka tiba-tiba mengerutkan kening. "Apakah ini hanya suatu kebetulan saja, Guru?" tanya Jaka dengan wajah penuh pertanyaan.
"Aku juga tidak tahu! Mungkin saja ini adalah suratan yang sudah digariskan oleh Sang Hyang Widhi."
Jaka tak menanggapinya. Ia masih merasa ada sesuatu yang sulit untuk dimengerti. "Kebetulan ini sedikit terasa aneh," pikirnya.
"Baiklah! Kalau begitu aku akan langsung menyerahkan gulungan ajian yang berada di tanganku ini pada kalian."
__ADS_1
Suasana menjadi hening seketika. Tak ada suara sedikit pun yang terucap.
"Pertama, aku akan memberikan sebuah gulungan pada Dewi. Gulungan ini berisikan beberapa cara untuk mempelajari ajian tersebut." Menyerahkan gulungan pada Dewi Mayasari.
"Ajian apa yang Ayahanda wariskan padaku?"
"Ajian itu adalah ajian Kemuning Surga. Ajian itu berguna untuk menghentikan luka dalam dan bisa juga digunakan untuk memulihkan tenaga dalam dengan cepat."
"Terima kasih, Ayahanda! Aku akan berusaha mempelajarinya." ucap Dewi Mayasari mengambil gulungan yang disodorkan Mpu Anggar Maya kepadanya.
Mpu Anggar Maya mengangguk pelan. "Dan untukmu, Jaka.." Mengalihkan pandangan ke arah Jaka. "aku akan mewariskan ajian ini padamu." Menyerahkan gulungan yang tersisa di tangannya.
Jaka segera meraih gulungan tersebut. "Terima kasih, Guru! Aku akan berusaha keras untuk menguasainya," tekad Jaka dengan sungguh-sungguh.
"Dulu, aku sempat mencoba menguasai jurus ajian itu. Hanya saja aku tidak menguasainya dengan baik. Hanya dasar-dasarnya saja yang bisa kupelajari. Kuharap, kau mampu untuk menguasainya lebih baik dariku."
"Baik, Guru! Aku akan berusaha yang terbaik."
Mpu Anggar Maya tersenyum mendengar ucapan Jaka.
"Guru.."
"Ada apa?"
"Apa nama ajian yang Guru wariskan untukku itu?" Menggaruk kepala, bertanya keheranan.
"Ah, aku lupa. Ajian itu bernama Angin Jiwa. Kau bisa membunuh seseorang dengan ajian itu dan membuat tubuhnya hancur berkeping-keping dengan menggepalkan tanganmu setelah merapalkan ajian itu di tanganmu."
"Rupanya begitu." Mengangguk puas.
"Tapi, hal itu hanya akan terjadi jika kau sudah menguasai ajian itu dengan sempurna."
"Baik, Guru. Aku akan mengingat hal itu."
"Baiklah, hanya itu yang ingin aku sampaikan. Aku akan pergi untuk beristirahat. Kalian bisa kembali ke kamar kalian atau melanjutkan kembali latihan kalian."
__ADS_1
"Baik." ucap Jaka dan Dewi Mayasari serentak.
Mpu Anggar Maya Bangkit dan meninggalkan keduanya yang masih duduk bersila. Keduanya saling pandang seolah masih ada beberapa hal yang menggangu pikiran mereka.