
“Ah, aku ingat! Dia adalah putra murid satu perguruanku saat aku masih muda dulu. Dia sering dipanggil Anggar Maya. Rupanya kau putri dari Anggar Maya,” ucap Baginda Raja.
Baginda raja manggut-manggut. “Tidak kusangka kini aku bisa bertemu putrinya,” ucap Baginda Raja lagi.
“Bagaimana kabar Ayahmu sekarang?”
“Mohon ampun, Paduka. Ayahanda telah wafat setengah bulan lalu, karena sakit,” jawab Dewi Mayasari dengan wajah sedih.
“Aku turut berduka atas kepergiannya. Aku tidak menyangka dia akan dipanggil lebih dulu sebelum aku.” Baginda Raja terlihat bersedih seolah begitu kehilangan akan seseorang yang berarti.
Dewi Mayasari mengangguk pelan. Ia tak pernah menyangka bahwa Baginda Raja juga merupakan murid satu perguruan dengan kakeknya, sama seperti Jaka dan dirinya.
“Baiklah, kalau begitu mari kita sejenak menghadiri perjamuan makan dulu. Aku akan menyiapkan jamuan makan untuk menyambut kalian berdua.”
“Mohon ampun, Paduka. Tapi kami..”
Ucapan Dewi Mayasari keburu dipotong oleh Baginda Raja.
“Nduk, sudah aku bilang padamu barusan. Panggil Kakek saja. Toh, lambat laun kita akan menjadi satu keluarga nantinya.”
Dewi Mayasari tersipu. “Ba, baik, Kek.”
“Dayang, persiapkan jamuan makan untuk cucuku dan istrinya ! Persiapkan pula sebuah kamar dan beberapa pakaian yang baru,” titah Baginda Raja pada para dayang yang sudah hadir sedari tadi.
“Sendiko Gusti Prabu,” jawab para dayang dengan serentak. Para dayang bersegera menghamburkan diri masing-masing, dan dengan cepat melaksanakan titah Baginda Raja.
Dewi Mayasari makin tersipu mendengar ucapan Baginda Raja.
“Ka, Kakek! Aku dan Nyimas hanya murid seperguruan, bukannya..” sahut Jaka merasa malu.
“Sudah, sudah! Mari kita menuju tempat perjamuan kita,” ajak Baginda Raja. “tidak usah kau pikirkan lagi.” Memandang Jaka dengan pandangan bahagia.
Baginda Raja mengalihkan pandangannya ke arah Dewi Mayasari. “Mari, Nduk, kita berangkat!”
Dewi Mayasari semakin merasa sungkan.
Ketiganya segera berangkat ke ruangan perjamuan yang telah disiapkan Baginda Raja. Patih Laya turut berjalan mengikuti langkah ketiganya.
Di Tempat Perjamuan makan..
Setelah perjamuan makan selesai, Baginda Raja mencoba membincangkan beberapa topik dengan Jaka serta Dewi Mayasari, sekaligus meluangkan waktunya sedikit lebih banyak sebagai rasa suka citanya atas kedatangan cucunya, Jaka Umbara.
Pembicaraan yang mereka bahas akhirnya mengungkapkan siapa identitas orang yang menolong Jaka tempo hari saat Jaka menerima tuduhan atas meninggalnya ibu angkatnya.
“Kakek, bagaimana Kakek tahu bahwa aku adalah cucu Kakek?” tanya Jaka.
Kini akhirnya ia tahu, bahwa sosok Kakek yang pernah berbicara dan membantunya serta menyelamatkan hidupnya adalah seseorang yang kini tengah berbincang dengannya.
Ia juga akhirnya tahu, bahwa seseorang yang dulu pernah menolongnya keluar dari ruang tahanan adalah adik ayahnya, pamannya sendiri.
__ADS_1
“Pada awalnya aku pun tak menyadari hal itu. Aku hampir saja kehilanganmu jika saja saat itu aku sedikit gegabah,” kenang Baginda Raja.
“Saat itu juga aku sempat merasakan ada suatu keterikatan yang tidak mampu aku jelaskan saat pertama kali melihatmu."
"Tapi untungnya seseorang mengingatkan akan hal itu, sehingga aku bisa menebus kesalahan yang dulu pernah kulakukan”
“Siapa yang mengingatkan kepada Kakek soal itu?” tanya Jaka sedikit penasaran mendengar ungkapan kakeknya itu.
“Dia adalah orang kepercayaanku, sebagai penasihat kerajaan. Namanya Patih Laya. Kau bisa memanggilnya Paman Laya," terang Baginda Raja sembari melirik orang yang dimaksud.
Patih Laya tersenyum dan mengangguk hormat pada Baginda Raja, begitu pula kepada Jaka.
“Paman Laya, aku berucap terima kasih sedalam-dalamnya kepada Paman yang sudah memberitahukan Kakek tentang hal itu,” ucap Jaka dengan segan.
“Raden, itu sudah menjadi kewajibanku.” balas Patih Laya. “Raden tak perlu merasa sungkan,” tambahnya lagi.
“Bagaimana denganmu, Nduk? Apa kau berkenan menceritakan sedikit tentang keluargamu?” tanya Baginda Raja tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan.
“Aku hanya tahu tentang Ayahanda saja. Sejak kecil aku tidak pernah mengetahui di mana keberadaan mereka.”
“Apakah kau tidak tahu siapa gerangan Kakekmu itu selama ini?” Memandang wajah Dewi Mayasari lekat.
Dewi Mayasari menggeleng. Ia penasaran akan sosok Kakek yang dikatakan oleh Baginda Raja. Seperti apa rupa wajahnya? Siapakah namanya? Serta di mana kini ia berada?
“Dasar, Anggar Maya!” Menggelengkan kepala, lalu menghela napas. Kemudian kembali memandang Dewi Mayasari.
Baginda Raja menggambarkan bagaimana sosok kakek dari Dewi Mayasari seperti yang tergambar dalam setiap ingatannya.
Dewi Mayasari mendengarkannya dengan penuh perhatian. Kini akhirnya ia tahu tentang keluarganya meskipun ia tidak dapat bertemu dengannya lagi.
“Begitulah sosok Kakekmu. Aku takkan bisa melupakannya begitu saja,” pungkas Baginda Raja.
Keadaan menjadi hening seketika. Tak ada sepatah kata pun yang terucap.
“Jaka, kapan kalian akan memulai hidup berdampingan?” tanya Baginda Raja tiba-tiba dengan wajah penasaran, seolah-olah sedang menggoda Jaka. “kulihat kalian cukup serasi.”
“Kakek!..” Wajah Jaka seketika menjadi merah. Jaka sedikit merasa malu dengan pertanyaan Baginda Raja.
Dewi Mayasari yang sedari tadi hanya diam pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia juga tidak kalah malunya, sama seperti halnya Jaka.
“Nduk, bagaimana denganmu? Apa kau sudah memiliki pendamping hidup?”
Dewi Mayasari tidak menjawab. Ia hanya bisa tertunduk dan menggeleng pelan sambil menahan malu.
“Kakek, mengapa Kakek berbicara seperti itu kepadanya?”
“Kau ini!" Baginda Raja menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Jaka.
“Ayah dan ibumu sudah tiada. Tidak lama lagi Kakekmu ini pasti akan menyusul mereka juga. Apakah kau tidak melihat kalau aku ini sudah cukup tua. Aku sangat berharap, sebelum aku dipanggil nanti, aku masih bisa melihat cicitku darimu.”
__ADS_1
Wajah Jaka semakin memerah. “Mengapa Kakek berbicara seperti itu!? Aku yakin Kakek masih bisa hidup lebih lama lagi.”
“Sudahlah! Aku juga tidak akan terus-menerus memaksamu! Cepat atau lambat kau juga pasti akan menjadi pewarisku dan menggantikan kedudukanku saat ini."
"Aku harap kau mau mempertimbangkan keinginanku itu."
"Lagi pula Dewi Mayasari adalah putri dari Anggar Maya, putra dari murid satu perguruanku." Menghela napas panjang.
"Selain itu, Aku juga pernah menjanjikan kepadanya, jika aku punya seorang anak perempuan dan ia punya anak laki-laki, maka aku akan menyatukannya," terang Baginda Raja.
"Selang beberapa waktu, akhirnya aku memiliki seorang putri dan dia memiliki seorang putra. Aku berniat menyatukan keduanya, akan tetapi Ibumu memiliki seseorang di hatinya sebelum aku berhasil mewujudkan keinginanku itu. Begitu juga dengan Anggar Maya, dia keburu memiliki pendamping hidup sebelum itu."
"Kembali menghela napas. "Meskipun aku tidak menyetujui pilihan Ibumu, aku tidak bisa berbuat apa-apa hingga akhirnya kau terlahir."
"Sekarang, setelah anak-cucu kami sudah bertemu dan saling mengenal. Mengapa aku tidak wujudkan saja keinginanku itu saat ini?”
“Tapi, Kek? Aku..” Jaka mencoba protes mengenai keinginan kakeknya.
“Nduk, kau pikirkanlah baik-baik,” potong Baginda Raja menyela ucapan Jaka yang belum tuntas.
“Kalian berdua masih cukup muda, dan aku harap kau bisa menjadi pendamping hidup bagi Jaka kelak. Aku sudah tidak sabar menantikan cicitku akan segera lahir nantinya,” ucap Baginda Raja lagi.
Dewi Mayasari tak berani menjawab. Ia tak bisa menahan rona merah di wajahnya yang semakin terlihat jelas lebih lama. Ingin sekali rasanya ia mencoba berpaling atau meminta izin pergi ke suatu tempat untuk mengalihkan wajahnya yang terus memerah, hanya saja ia merasa sungkan kepada Baginda Raja.
“Kalau kau tidak bisa menentukannya sekarang, perlahan saja kau coba pikirkan kembali, ya, Nduk.”
Dewi Mayasari tak segera menjawab . Ia terdiam cukup lama.
“Ba, baik, Kek,” ucapnya, mengangguk pelan sembari tertunduk menahan malu.
Hanya itu satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk menghapuskan sedikit rasa malunya. Jaka hampir tak bisa membalas apa-apa begitu mendengar respon Dewi Mayasari yang menanggapi permintaan Baginda Raja.
“Aku akhirnya bisa tenang menunggu hari tuaku datang,” ucap Baginda Raja merasa lega. “kalau begitu, kalian beristirahatlah! Apakah kalian akan tinggal satu kamar?” tanya Baginda Raja masih menggoda Jaka.
“Kakek!!..”
“Baik, baik! Terserah kalian saja! Dayang, kemari!” Baginda Raja memanggil para dayang yang bediam diri di luar ruangan perjamuan.
“Sendiko Gusti Prabu.”
Dua orang dayang istana menghadap.
“Segera antar mereka untuk beristirahat!”
“Sendiko Gusti Prabu.”
Jaka Umbara dan Dewi Mayasari dituntun oleh dua dayang tersebut menuju kamar yang sudah dipersiapkan bagi keduanya.
Baginda Raja masih terlihat berbincang membahas sesuatu dengan Patih Laya.
__ADS_1