
"Guru!" Menoleh dan terkejut.
"Hal apa yang tengah kau lamunkan?"
"Tidak ada!" Menjawab sembari menutupi kegundahannya.
Mpu Anggar Maya tertawa ringan.
"Apa yang Guru tertawakan? Apakah Ada sesuatu yang salah pada diriku?" Bertanya sembari menunduk sedikit penasaran, mencari-cari sesuatu yang salah pada dirinya.
"Kau ini!" Menepuk-nepuk bahu Jaka. "aku mengenalmu bukan sehari atau dua hari. Tentu saja aku tahu kalau kau sedang merasa gundah ataupun sedang gelisah."
"Apakah Guru bisa membaca pikiranku?" Memandang heran.
Mpu Anggar Maya merasa sedikit geli saat mendengar pertanyaan Jaka. Kemudian duduk di samping Jaka.
"Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu. Coba kau ceritakan apa yang menjadi beban pikiranmu saat ini. Mungkin saja kau bisa mendapatkan solusinya atau barangkali beban pikiranmu sedikit berkurang."
"Aku sedang meeasa bingung, Guru."
"Apa yang membuatmu kebingungan? Apakah kau mengalami kesulitan saat menjalani pertapaanmu? Atau barangkali ada ganjalan di hatimu tentang jurus-jurus yang belum kau kuasai?"
Jaka menggeleng. Pandangannya tertuju akan sesuatu, hanya saja pandangannya terasa kosong.
"Lalu hal apa yang membuatmu bingung?"
"Aku masih belum tahu pasti, sebenarnya aku ini siapa? dan dari mana asal keluargaku?"
"Apa kau menganggap aku atau Dewi bukanlah keluargamu?"
"Bukan begitu, Guru."
__ADS_1
"Lantas, keluarga seperti apa yang kau maksudkan itu?"
"Aku hanya ingin tahu, sebenarnya di mana keluargaku berada kini." Menatap langit dan menghela napas. "apakah kedua orang tuaku masih hidup? Jika tidak, apakah aku masih bisa bertemu dengan nisannya?" Memejamkan mata seolah sedang merasakan sesuatu.
Mpu Anggar Maya tertegun mendengar perkataan Jaka. Ia turut menghela napas, terasa sedikit lebih berat dari Jaka.
"Aku tidak bisa berbuat banyak." ucapnya kemudian.
"Tak apa, Guru. Terima kasih, Guru sudah bersedia mendengarkan keluh kesahku." Masih memandang tanpa tujuan. Kembali menghela napas panjang. "mungkin saja suatu hari nanti aku akan bertemu dengan mereka.”
"Guru, aku ingin meminta izin kepada Guru besok."
"Apakah kau hendak pergi ke suatu tempat?"
"Ya. Aku ingin mengunjungi pusara Ibu angkat. Sudah lama aku tidak datang untuk mengunjunginya."
"Kalau begitu, ajaklah Dewi pergi bersamamu."
"Kalau dia berkenan, aku tak apa untuk mengajaknya pergi."
"Baik, Guru. Aku akan bertanya padanya nanti."
Keduanya terdiam cukup lama tanpa percakapan. Setelahnya Jaka undur diri untuk menanyakan pada Dewi Mayasari mengenai saran gurunya.
Di luar pintu kamar Dewi Mayasari..
Jaka mengetuk-ngetuk pintu kamar sembari memanggil Dewi Mayasari keluar. Kemudian pintu sedikit terbuka dan Dewi Mayasari keluar, namun langkahnya berhenti tepat di pintu kamarnya.
"Ada perlu apa kau memanggilku."
"Aku berencana hendak pergi ke suatu tempat, dan Guru menyarankan agar aku mengajakmu untuk ikut serta. Apakah kau berkenan bila kuajak pergi."
__ADS_1
"Ke mana?"
"Ke Desa Kadipaten yang berada di ujung bukit Darmalaya."
"Untuk apa?"
"Aku ingin mengunjungi pusara Ibu angkatku."
"Kapan?"
"Aku pikir besok pagi, aku akan berangkat ke sana sebelum siang tiba."
"Lalu?"
"Guru menyarankanku agar mengajakmu. Apa kau berkenan untuk ikut?" Menegaskan perkataan. Sedikit kesal dengan pertanyaan-pertanyaan Dewi Mayasari.
"Lalu, apa gunanya aku ikut pergi?"
"Apa kau tidak bisa jika mengatakan perkataan lebih banyak?" Mulai bertambah kesal.
"Kenapa kau menjadi marah dengan tiba-tiba? Aku kan hanya bertanya saja! Kalau kau tidak mau menjawabnya, maka tak perlu kau jawab juga," Berkata datar.
Jaka mulai naik pitam, kepalanya serasa hendak pecah menghadapi sikap Dewi Mayasari terhadapnya.
"Sebenarnya kau mau ikut atau tidak?" Bertanya dengan kekesalan yang memuncak. "kalau kau tidak berkenan, aku akan pergi sendirian besok pagi." Pasrah dan tak bisa mendominasi keadaan.
Dewi Mayasari tetap bergeming. Ia masih berdiri di pintu kamarnya tanpa menjawab apa pun.
"Apa hanya itu saja yang ingin kau sampaikan?"
"Ya." Tak tahu harus berbuat apa lagi.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan ikut pergi besok pagi." Berbalik dan menutup pintu kamar tanpa menghiraukan keberadaan Jaka.
Jaka sudah melewati batas kesabarannya. Ia hampir saja mendobrak pintu kamar Dewi Mayasari jika saja ia tak segera menahan rasa kekesalannya yang telah memuncak.