
Padepokan..
Jaka Umbara tengah mempelajari gerakan-gerakan dasar dari ajian Kayu Mas Jati yang diajarkan oleh Ki Pucung sejak seminggu lalu. Ia mulai mengingat-ingat gerakannya tersebut dengan teratur. Ki Pucung mengamatinya dari dekat sembari membetulkan tiap gerakannya yang dinilai salah atau kurang kuat.
Pada saat itu, Laras tidak nampak, begitupun dengan Nyi Pucung, hanya ada Nyi Dewi yang terduduk sembari memperhatikan pelatihan Jaka Umbara dan Ki Pucung.
Nyi Dewi terlihat duduk seorang diri di pinggir beranda padepokan. Tak ada kesibukan yang tengah dilakukannya saat itu. Ia hanya duduk terdiam sembari melihat Jaka dan Ki Pucung yang tengah berlatih.
Tak lama kemudian, Nyi Pucung menghampiri Nyi Dewi dengan sebuah nampan berisi kendi air dan wadah minum di tangannya.
Nyi Dewi mengetahui kehadiran Nyi Pucung, namun ia hanya memandang sekilas saja dan kembali memperhatikan pelatihan Jaka.
"Nyi.."
"Iya, Bi?"
"Apakah kau melihat keberadaan Laras?"
"Tidak! Sedari tadi aku hanya sendirian saja di sini."
Mendesah heran. "Kemana perginya anak itu? Bukankah aku menyuruhnya membawa buah-buahan barusan. Kenapa buah-buahannya itu masih berada dibelakang." Menggelengkan kepala.
"Mungkin Laras berada di kamarnya."
Keduanya terdiam tanpa berkata apapun.
"Nyi.." Nyi Pucung kembali bersuara.
"Hmm.."
"Apakah kau belum berpikiran untuk mencari pendamping hidup? Bukankah sendirian tidak baik juga? Selain itu, bukankah usiamu sudah tak lagi muda." Bertanya sembari mengambil tempat duduk di sebelah Nyi Dewi.
"Aku belum menemukan saja seseorang yang kupikir cocok denganku, Bi," jawab Nyi Dewi dengan pandangannya tetap memperhatikan pelatihan Jaka.
Nyi Pucung tersenyum mendengar tanggapan Nyi Dewi. ia mengamati Nyi Dewi yang tengah berfokus memperhatikan Jaka.
Berbisik pelan. "Bukankah Den Jaka bisa juga kau jadikan sebagai pilihan?"
Nyi Dewi sadar kemana arah pembicaraannya dengan Nyi Pucung. Ia juga tidak mengira jika dirinya diperhatikan oleh Nyi Pucung ketika ia tengah memandangi Jaka yang berlatih. Amat malu. Itulah yang dirasakannya saat itu.
"Bi, Bibi.. Aku tidak ada pikiran tentang hal itu. Aku.." Menundukkan pandangannya. Nyi Dewi menggerakkan jemarinya dengan rona merah yang terlukis di wajahnya. Pikirannya dipenuhi perasaan yang tak menentu saat itu.
Nyi Pucung kembali tersenyum dan menghela napas, kemudian bangkit dan berdiri sejenak. "Semoga saja kau dapat segera menemukan seorang pendamping yang cocok denganmu." Menepuk pelan pundak Nyi Dewi.
"Jika kau melihat Laras, katakan bahwa sedari tadi aku mencarinya," pungkasnya beranjak pergi meninggalkan Nyi Dewi.
Nyi Dewi tidak menjawab, hanya mengangguk pelan.
Nyi Dewi kembali terduduk seorang diri tanpa ditemani oleh siapapun sembari memikirkan ucapan Nyi Pucung padanya. Sesekali ia juga mencuri pandang ke arah Jaka.
Beberapa saat kemudian, Laras menghampiri Nyi Dewi dengan membawa wadah buahan di tangannya. Namun sepertinya Nyi Dewi tidak merasakan akan kehadiran Laras di dekatnya.
“Mbakyu..”
“Hmm..”
__ADS_1
“Apa yang sedang Mbakyu lihat?”
Nyi Dewi tidak menanggapi pertanyaan Laras. Pandangannya masih tetap berfokus kepada Jaka yang berlatih. Laras memperhatikan Nyi Dewi yang terus memandangi kakaknya, Jaka. Laras melemparkan pandangan ke arah Jaka, lalu melirik Nyi Dewi, kemudian memandangi Jaka, setelah itu ia memandang Nyi Dewi lagi.
“Apakah Mbakyu melihat Kanda?” tanya Laras penasaran.
“Hmm..”
Duduk mendekati Nyi Dewi pelan. "Bagaimana pendapat Mbakyu tentang Kanda?”
Tidak ada tanggapan apapun dari Nyi Dewi. Ia menjadi semakin penasaran akan bagaimana pandangan Nyi Dewi terhadap kakaknya itu.
“Mbakyu, apakah Kanda terlihat tampan?"
“Iya.” Berkata tanpa sadar.
Laras makin merangsek mendekati Nyi Dewi. “Terus, terus..” pancing Laras lagi.
“Juga.. terlihat gagah..” bergumam lirih.
“Dia..” Ucapan Nyi Dewi terhenti. Nyi Dewi lalu menundukkan pandangan dan memejamkan matanya, seolah-olah ucapannya itu menolak untuk keluar dari mulutnya.
membuka mata dan terkejut akan keberadaan seseorang di dekatnya. "Diajeng! Sejak kapan Diajeng duduk di situ?"
"Sebelum Mbakyu mengatakan bahwa Kanda itu gagah atau apalah," ucap Laras berusaha mengingat-ingat kapan ia terduduk di sebelah Nyi Dewi.
"Ah, itu.." Nyi Dewi kaget bukan kepalang.
"Mbakyu, tadi selanjutnya bagaimana? Kanda itu apa?" tanyanya penasaran dengan ucapan Nyi Dewi yang belum tuntas.
"Bagaimana, Mbakyu?" Masih menantikan apa yang akan dikatakan Nyi Dewi.
"Itu.. Ah, Paman, Kangmas!" Bangkit seketika. Mengalihkan pembicaraannya dengan Laras.
Saat itu Ki Pucung dan Jaka berjalan bersama menuju beranda padepokan seusai pelatihan.
"Benar. Apakah ada yang salah? Ataukah ada sesuatu yang penting?" tanya Ki Pucung.
"Ah, tidak! Tidak! Aku akan segera memanggil Bibi untuk menyiapkan makanannya. Diajeng, nanti kita berbicara lagi, ya." Buru-buru pergi meninggalkan Laras.
Laras hanya bisa mematung melihat tingkah Nyi Dewi yang seakan dikejar-kejar sesuatu.
"Laras, ada apa dengan Mbakyumu itu?" tanya Jaka keheranan.
Laras juga tak kalah herannya seperti Jaka. Ia sungguh tidak bisa berkomentar apa-apa atas pertanyaan kakaknya itu. "Entah.." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.
###
Setelah pelatihan Jaka dan Ki Pucung selesai, seluruhnya berkumpul di beranda padepokan untuk menyantap sajian makan siang mereka.
Nyi Pucung membawakan beberapa makanan yang telah dimasaknya. Nyi Dewi pun cekatan membantunya membawakan wewadahan dan lauk pauk lainnya.
Dalam sekejap, tak ada suara yang terdengar selain kunyahan makanan serta semilir angin sejuk yang menerpa mereka dengan lembut.
Seluruhnya terlihat begitu khidmat menyantap makanan masing-masing.
__ADS_1
Setelahnya, seperti biasa, mereka senantiasa memakan buah-buahan sebagai penutupnya. Terkadang diiringi dengan perbincangan soal pelatihan, bertukar pendapat dan sebagainya.
Pada saat itu, tidak ada perbincangan apapun yang terucap. Suasana cukup hening sesaat.
Tiba-tiba saja Laras membuka pembicaraan.
"Kanda!" Memilah buah-buahan yang hendak dimakannya.
"Hmm.." Menguyah buah dalam mulutnya.
"Bagaimana menurut Kanda mengenai sosok Mbakyu?" tanya Laras.
"Apa maksud dengan bagaimana?" melahap buah di tangannya hingga sisa sebagian.
"Maksud Dinda mengenai pandangan Kanda kepada Mbakyu." Mengambil buah yang telah dipilihnya.
"Mbakyumu itu.." Jaka berpikir sejenak untuk mencari gambaran dari sosok Nyi Dewi dalam pandangannya. "orang yang sangat baik serta suka membantu orang. Ia juga memiliki tekad yang kuat dan seseorang yang berhati mulia."
Ki Pucung dan Nyi Pucung menganggukkan kepala. Seakan sependapat dengan perkataan Jaka mengenai sosok Nyi Dewi yang dikenali keduanya. Nyi Dewi tertunduk mendengarkan bagaimana pandangan Jaka mengenai sosok dirinya. Tidak berani beradu pandang dengan yang lainnya atau sekedar untuk mengatakan sepatah dua patah kata.
"Apakah Mbakyu juga cantik?"
Jaka tersentak oleh pertanyaan Laras. Ia pun tersipu malu.
"Setiap perempuan pastilah berparas cantik," ucapnya memandang tak tentu arah.
"Lantas, apa Kanda menyukai Mbakyu? Dinda pikir Mbakyu dan Kanda terlihat cocok."
Jaka melirik Nyi Dewi. Terlihat wajah Nyi Dewi yang sedikit memerah sembari tertunduk. Ia tidak berani untuk menjawab pertanyaan dari Laras. Tidak! Lebih tepatnya tak bisa memberi jawaban yang pasti kepada Laras. Akhirnya ia memilih diam seribu bahasa. Seperti halnya Nyi Dewi yang tidak bersuara sedari tadi.
"Paman, apakah Paman juga berpikir begitu?"
"Ya, kupikir keduanya cukup cocok satu sama lain," ucap Ki Pucung dengan enteng sembari mengupas kulit pisang.
"Kakang!" Nyi Pucung memberi isyarat pada suaminya itu dengan teguran halus agar tidak membuat suasananya berubah menjadi lebih canggung. Ki Pucung pun menyadarinya. Lalu berdiam diri tanpa suara.
"Bibi, apakah menurut Bibi, Mbakyu dan juga Kanda terlihat cocok?"
Nyi Pucung tersenyum mendengar perkataan Laras yang ditanyakan kepadanya.
Mengusap rambut Laras lembut. "Apakah kau sayang kepada Kakak dan Mbakyumu?"
Hmm! Laras menjawab dengan mantap tanpa ragu.
"Kau tak bisa memaksakan kehendakmu pada setiap orang yang kau inginkan. Segalanya itu bukanlah berjalan sesuai kehendak kita. Telah ada yang mengatur atas segala sesuatu. Kau boleh menginginkan tiap hal apapun yang kau ingini, tetapi jika kau memaksakan kehendak padanya, hal itu tidak akan pernah tercapai."
Seolah mendapatkan pencerahan, Laras tidak melanjutkan pembicaraannya. "Baik, Bibi. Aku akan selalu mengingatnya," tekadnya dengan nada penuh keyakinan.
"Baguslah jika kau sudah mengerti. Mari kita biarkan segalanya berjalan sesuai kehendak dari Sang Hyang Widhi," tambahnya lagi.
Laras mengangguk dengan mantap seperti ia telah tercerahkan dari hatinya.
"Mbakyu, apakah Mbakyu tidak mau makan buah-buahan?"
Nyi Dewi tidak menjawab. Ia masih terlihat menundukkan pandangan.
__ADS_1
"Kalau Mbakyu tidak mau memakan buahnya. Biar Dinda habiskan semua buahnya," seloroh Laras. Yang lain tertawa renyah mendengar ucapan Laras tersebut..