Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Musibah yang tiba-tiba muncul 4


__ADS_3

Setelah menggantikan kain baru untuk menutupi bekas luka di lengan Jaka. Dewi Mayasari terduduk diam. Sejenak ia memandangi Jaka yang terbaring.


“Sampai kapan kau akan terus terbaring seperti ini?” Merasa kesal sendiri.


“Aku akan menunggumu bangun, dan menagih janjimu. Awas saja, kalau kau berani menolaknya.” Menusuk-nusuk pelan dada Jaka dengan telunjuknya.


Dewi Mayasari menguap. Entah mengapa rasa kantuknya datang begitu saja.


“Mengapa tiba-tiba saja aku mengantuk sekali.” Menutup mulutnya yang terbuka dengan tangannya. Tak lama akhirnya Dewi Mayasari tertidur sambil duduk di samping Jaka.


Pertengahan malam menjelang pagi. Desir angin tak begitu kencang walau udara dingin masih terasa menusuk kulit. Suasana padepokan cukup hening. Tak begitu banyak suara-suara binatang malam yang bersahutan. Mpu Anggar Maya dan Dewi Mayasari sudah tertidur pulas sebelum malam larut.


Jaka tiba-tiba membuka matanya. Ia merasakan sesuatu memegangi tangannya. Ia melirikkan pandangannya, ternyata Dewi Mayasari tengah tertidur pulas di sampingnya sambil memegangi tangan kanannya.


Ia berusaha menggerakkan satu tangan lainnya. Sedikit terasa berat. Ia melihat sebuah kain membalut lengannya disertai aroma obat yang dapat diciumnya. Terlebih tidak ada pakaian yang menutupi badannya barang selembar pun.


“Apakah Dewi yang membalut lenganku?” Jaka membatin kebingungan. "tapi kenapa tanganku dibalut dengan kain begini? Lalu kenapa aku tidak mengenakan sehelai pakaian pun di badanku?"


Jaka masih belum beradaptasi dengan kondisinya saat ini. Ia masih menerka tentang apa yang sudah terjadi pada dirinya.


Ia kembali mengingat setiap kejadian yang telah berlalu di pikirannya. Kini ia dapat mengingatnya dengan jelas. Lengannya terkena gigitan seekor ular besar sewaktu ia menolong Dewi Mayasari dalam perjalanannya saat mencari tanaman obat.


“Mungkin saja Dewi berbaik hati sudah merawatku,” gumam Jaka.

__ADS_1


Jaka kemudian duduk. Melepaskan pegangan tangan Dewi Mayasari yang memegang tangannya. Beristirahat sebentar sembari menyandar pada sandaran tempat tidurnya. Tak lama bergegas bangkit keluar kamar.


“Jaka!”


Panggilan suara yang dikenalnya menghentikan langkahnya tatkala ia melewati ruang tempat membaca. Jaka menoleh ke arah asal suara yang memanggilnya.


Dilihatnya sang guru, Mpu Anggar Maya, tengah bergegas menghampirinya.


“Jaka, kau akhirnya bangun juga!” Memeluk Jaka penuh haru.


“Gu, Guru.. sakit sekali,” ucap Jaka meringis kesakitan.


Mpu Anggar Maya langsung melepaskan pelukannya. “Ah, maaf. Aku lupa kalau tanganmu masih sakit.”


Jaka memaklumi apa yang dirasakan oleh Mpu Anggar Maya. Ia tahu bahwa sang guru pasti sangat mengkhawatirkannya, apalagi beberapa hari terakhir dirinya terbaring tak sadarkan diri.


“Tentu saja. Kau juga harus berterima kasih kepada Dewi Mayasari. Selama kau terbaring, dialah yang paling sering menjagamu.”


“Baik, Guru. Oh, iya. mengapa Guru masih ada di sini? Apakah Guru tidak tidur?”


“Aku tiba-tiba saja terjaga, entah apa penyebabnya. Mungkin saja aku mempunyai firasat kau akan segera terbangun.”


Jaka manggut-manggut mendengar keterangan dari sang guru.

__ADS_1


“Lantas, hendak ke mana kau malam-malam begini sampai keluar dari kamarmu?” tanya sang guru dengan rasa penasaran.


“Aku hendak ke belakang, Guru. Ada sesuatu yang perlu kulakukan.” terang Jaka.


“Baiklah, kalau begitu. Ingatlah untuk kembali ke kamarmu sesegera mungkin. Dia pasti akan merasa sangat cemas bila kau tiba-tiba menghilang begitu saja.”


“Baik, Guru. Aku akan cepat kembali. Aku undur diri dulu, Guru.”


“Ya, ya. Pergilah!”


Jaka pergi memenuhi keperluannya, lalu segera kembali ke kamarnya.


Dewi Mayasari masih tertidur pulas ketika Jaka kembali. Jaka kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sesekali Jaka melirik Dewi Mayasari yang tertidur pulas di sampingnya. Jaka tidak tidur semenjak terbangun, ia hanya memejamkan matanya saja.


Dewi Mayasari terbangun ketika pagi telah tiba. Ia mengusap-usap matanya sejenak. Memandang Jaka yang masih terpejam dan terbaring.


“Hei, kapan kau akan bangun? Aku mau menagih janjimu! cepatlah, bangun!” Berucap sembari menusuk-nusuk dada Jaka dengan lembut.


“Aku sudah bangun.”


Dewi Mayasari terperanjat, kaget mendengar suara Jaka yang membalas ucapannya. Ia pun menjadi malu karenanya.


“Ka, kau.. sejak kapan kau terbangun?” tanya Dewi Mayasari dengan gugup.

__ADS_1


“Aku sudah terbangun sejak malam.”


“A, aku ... Aku akan pergi dulu.” Terburu-buru bangkit dan berlari meninggalkan kamar Jaka.


__ADS_2