Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Ancaman yang datang mendekat


__ADS_3

Malam hari. Di ruang kamar..


Jaka dan Dewi Mayasari telah kembali berada di dalam kamar membahas tentang peristiwa penemuan dua mayat yang ditemukan mati terbunuh.


“Dewi, apakah kau masih merasa takut setelah melihat dua mayat yang ditemukan mati secara mengerikan siang tadi?”


Dewi Mayasari mengangguk. Ia merasa sedikit ketakutan membayangkan jika hal itu harus terjadi pada Jaka dan dirinya.


“Apakah kita akan mengalami hal yang sama seperti mereka? Aku takut sekali!” Gemetaran memegangi tubuhnya.


“Jangan takut. Aku akan berjaga semalaman. Semoga saja kita tidak mengalami kejadian mengerikan seperti mereka,” ucap Jaka berharap takkan ada bahaya apa pun yang akan mendekati mereka berdua.


Dewi Mayasari bisa sedikit merasa tenang saat mendengar ucapan Jaka barusan. Ia merebahkan diri di atas tempat tidur. Kemudian ia melirik Jaka dengan tatapan tajam.


“Ada apa? Apakah kau sedang mencurigaiku akan sesuatu?”


“Ya. Aku curiga kau akan mengulangi perbuatanmu kemarin.”

__ADS_1


Jaka tersentak mendengar ucapan Dewi Mayasari. “Kenapa kau masih saja membahas hal itu?”


“Tentu saja. Aku takut kau akan mengulanginya lagi. Aku akan memukulmu sebanyak hitungan bintang jika kau berani melakukan perbuatan seperti kemarin malam lagi.”


“Bukankah aku sudah meminta maaf dengan tulus. Apalagi yang harus kulakukan agar kau benar-benar memaafkanku?” Menatap lekat ke arah Dewi Mayasari.


“Siapa suruh kau menutupi mulutku. Selain itu ... kau, kau juga berani mencium bibirku..”


“Kapan aku pernah menciummu?” Tiba-tiba merasa kesal.


“Kau.. Apa kau melupakan perbuatan yang telah kau lakukan begitu saja? Huh!” Ikut merasa kesal.


Wajahnya menjadi merah seketika. “Kau.. Siapa yang mau dicium olehmu!”


Dewi Mayasari memalingkan wajahnya yang memerah. Ia tak tahu kenapa tiba-tiba dirinya membahas tentang kejadian kemarin malam. Ia sudah berusaha ingin melupakannya. Tapi entah kenapa tiba-tiba mulutnya mengeluarkan kata-kata seperti itu. Ia sungguh tak ingin masalah ini menjadi berlarut-larut.


“Sudahlah, sebaiknya kau segera tidur. Biarkan aku terjaga sepanjang malam untuk berjaga kalau-kalau ada sesuatu yang akan mengancam keselamatan kita.”

__ADS_1


“Hmm!”


Dewi Mayasari lagi-lagi tak bisa mengontrol ucapannya. Ia tak berpikir sedikit pun untuk membalas ucapan Jaka. Ucapan itu seolah keluar begitu saja dari mulutnya dengan sendirinya.


“Ada apa denganku hari ini. Kenapa ucapanku tak bisa kukendalikan?” Membatin seraya memejamkan matanya hingga mulai tertidur.


Malam makin larut. Jaka berjaga-jaga sembari duduk di kursi seperti yang dilakukannya kemarin malam. Sesuatu seakan tengah mengintai ruang kamarnya. Jaka menyadari ada sesuatu yang datang mendekat. Ia lalu berpura-pura menguap, berjalan perlahan dan berbaring di samping Dewi Mayasari yang telah tertidur, memposisikan tubuhnya dengan mata terpejam, seolah menandakan bahwa dirinya sudah tertidur lelap.


Suaranya makin terdengar jelas, seperti langkah kaki seseorang. Ia bisa mendengar suara pintu dibuka perlahan. Tiba-tiba saja ia merasakan sosok seseorang tengah berdiri di hadapannya, berdiam diri di samping Dewi Mayasari dan menatapnya sambil menyeringai.


Sosok itu terlihat mengambil ancang-ancang untuk menusukkan pisau yang dipegangnya. Pisau itu mengarah ke tubuh Dewi Mayasari.


Dengan cepat Jaka menahan pisau yang hendak ditusukkan pada tubuh Dewi Mayasari.


Darah menetes dari balik tangan Jaka yang berusaha menahan pisau tajam itu kuat-kuat.


Darah di tangannya menetes mengenai Dewi Mayasari, sehingga membuat Dewi Mayasari terjaga.

__ADS_1


Sesaat, tiba-tiba Dewi Mayasari menjerit keras saat melihat tetesan darah yang bercucuran mengenainya.


__ADS_2