
Jaka Umbara, Nyi Dewi dan juga Laras sudah meninggalkan tempat penginapan setelah menunggu satu malam serta semua persiapannya telah selesai. Mereka berangkat ketika waktu pagi mulai beranjak siang, melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Gua Batu yang terletak di Bukit Tinggling, sembari melewati pasar Banggolan untuk mencari barang milik majikan Barjo yang dirampas oleh para perampok ketika Barjo hendak mengirimkannya ke gudang penyimpanan di pasar Banggolan. Jaka dan juga Nyi Dewi memakai tudung kepala seperti cetok untuk menutupi sebagian wajahnya. Hanya Laras yang enggan untuk memakainya dan membiarkan wajahnya terlihat seluruhnya.
Ketiganya pun tiba di pasar Banggolan setelah berjalan sekitar lima belas menit lebih. Pasar Banggolan terbilang cukup besar, tetapi tak sepanjang pasar Rawu. Lapak-lapak para pedagangnya juga tidak jauh berbeda, masihlah sama. Mungkin karena kebanyakan tempat tidak menjual sesuatu yang berbeda. Hanya berbeda dalam jumlah sedikit atau banyaknya saja, barangkali.
Ketiganya melewati sebuah kedai makan kecil yang berada di muka pasar Banggolan.
“Nyimas, Laras, bagaimana jika kita beristirahat sebentar?” usul Jaka kepada Nyi Dewi dan Laras ketika berada tepat di samping kedai makan kecil tersebut. Keduanya menanggapi dengan sebuah anggukan lirih. Jaka lalu berjalan menuju kedai tersebut diikuti oleh Nyi Dewi dan juga Laras di belakangnya.
Kedai kecil tersebut tidaklah begitu besar. Akan tetapi, kedai tersebut hampir selalu ramai pada setiap harinya, mungkin karena tempatnya yang strategis dan terletak di muka pasar Banggolan. Beberapa bangku duduk dan mejanya ada pula yang terletak di samping luar kedainya. Meja makannya pun hanyalah seukuran meja satu kali tiga meter dengan bangku duduk yang memanjang sebagai pelengkapnya. Terkadang pelanggan yang satu dengan yang lainnya saling berbagi meja makan. Mereka saling berbagi meja makan lantaran tidak mendapatkan tempat duduk lain yang masih kosong.
Ruangan di dalam kedainya cukup luas, cukup untuk menampung sekitar dua puluh orang lebih. Pintu ruangannya pun tidaklah berdaun, dengan dinding bilik yang terawat baik. Atapnya terbuat dari genteng tanah yang disangga oleh beberapa tiang kayu. Jendela ruangannya terlihat seperti pagar kayu yang tak berpintu serta tingginya hanya sebatas perut, sehingga bisa membuat para pelanggannya bisa memandang ke arah luar atau sebaliknya.
“Selamat datang, Tuan-tuan! Silahkan, silahkan!”
Seorang pelayan menghampiri dengan sambutan yang sopan sembari mencarikan tempat duduk yang kosong begitu ketiganya memasuki kedai. Ketiganya kemudian mengambil tempat duduk masing-masing setelah mendapatkan tempat duduk yang masih kosong.
“Makanan apa kiranya yang ingin Tuan-tuan sekalian pesan?”
Jaka meletakkan lima koin perak di atas meja. “Tolong, bawakan saja menu makanan yang sesuai dengan ini! Bungkuskan pula sebagian makanannya,” ucap Jaka memandangi pelayan kedai yang menyambutnya.
“Ahh!.. Ini..” Sang pelayan sedikit kebingungan. Ia memberi isyarat kepada pelayan lainnya supaya pemilik kedai itu segera hadir dan membantunya.
Tak berselang lama, seorang pria tua pemilik kedai pun datang menghampiri dan bertanya, “Tuan, apa yang terjadi? Apakah ada sesuatu yang Tuan-tuan butuhkan?” tanyanya.
“Tolong, bawakan beberapa menu makanan yang sesuai dengan uang ini, dan bungkuskan pula sebagiannya untuk kami bawa!” pinta Jaka dengan menunjuk koin yang ia letakkan di atas meja.
Pemilik kedai pun tersenyum lebar melihat koin perak yang terserak di atas meja kedainya. Senyumnya mengembang sembari terus menerus menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya tiada henti karena kegirangan melihat keuntungan besar yang tengah menghampirinya.
__ADS_1
“Baiklah, Tuan! Segera! Kami akan bersegera menyediakannya untuk Tuan-tuan sekalian.” Undur diri dan menarik pelayan yang menyambut Jaka, kemudian memarahinya di sudut kedai.
“Ka, kanda.. mengapa pelayan itu dimarahi?” Laras yang melihat pelayan tadi dimarahi oleh si pemilik kedai bertanya kepada Jaka dengan wajah penuh keheranan. "apakah kita sudah membuatnya dimarahi?" tanya Laras lagi.
Jaka menanggapinya dengan nada sedikit acuh. “Biarkan saja! Itu bukanlah urusan kita!”
Laras melirik pada Nyi Dewi. Nyi Dewi lalu mengedipkan matanya disertai anggukan kecil sebagai isyarat agar Laras tidak lagi melanjutkan pertanyaannya itu. Laras pun akhirnya memilih untuk diam.
Beberapa saat kemudian, berbagai makanan segera dihidangkan oleh tiga orang pelayan kedai. Makanan yang dihidangkan hampir memenuhi meja makan saking banyaknya. Nasi satu bakul dengan lauk pauk beserta lalapannya, dan juga buah-buahan dalam wadah, ikan serta daging, dan beberapa menu makanan lainnya. Dua kendi kecil berisi air minum beserta lima gelas bambu turut melengkapi meja makan.
“Wahh!..” seru Laras hampir-hampir mengeluarkan liurnya demi melihat berbagai makanan yang tersaji di atas meja makan. “Kanda.. Mbakyu.. apakah Dinda boleh.." tanyanya malu-malu dengan pandangan sedikit tertunduk.
“Makanlah!”
Laras langsung mengambil porsinya penuh gairah begitu mendengar ucapan kakaknya, Jaka, seakan ia takut akan kehabisan makanan yang telah disuguhkan para pelayan kedai.
“Nyimas, kau juga, makanlah!”
Jaka mengambil seporsi makanan dan langsung melahapnya. Nyi Dewi mengangguk dan ikut serta mengambil makanan yang berada di hadapannya.
Di saat ketiganya tengah asyik makan. Tiba-tiba saja sekumpulan orang berandalan masuk ke dalam kedai itu dan langsung mengganggu suasana orang-orang yang tengah bersantai menyantap hidangan dengan kehadiran mereka. Beberapa orang yang merasa ketakutan mengetahui siapa yang datang segera menghamburkan dirinya. Sebagian yang lain memilih tetap berdiam diri di tempat duduknya masing-masing demi keselamatan mereka tanpa berani melirik sedikitpun. Bahkan, orang yang duduk di dekat mereka lebih memilih menggeser tempat duduk atau buru-buru keluar dari kedai ketimbang harus bersinggungan dengan mereka.
“Hei, Pak Tua! Bawakan satu kendi arak dan juga beberapa makanan kemari!” ujar salah seorang berandalan yang datang, berteriak dengan suara keras.
“Cepat, cepat! Jangan biarkan kami menunggu!” timpal yang lainnya dengan suara yang tak kalah kerasnya.
"Iya. Perut kami sudah meronta ingin segera diisi. Cepat, cepat!" Berandalan lain ikut pula berkata dengan nada tidak sabaran.
__ADS_1
Nyi Dewi memandangi Jaka. Jaka sedikitpun tak terpengaruh oleh kehadiran orang-orang itu. Ia masih terlihat asyik menikmati makanannya. Hanya Laras yang terlihat gusar akan kehadiran mereka. Nyi Dewi mencoba memegangi satu tangan Laras supaya Laras bisa merasa tenang sembari menyantap makanannya.
Suasana di dalam kedai mulai kembali tenang meskipun ada sedikit ketegangan yang masih terasa. Para pelayan kedai menyuguhkan menu makanan dengan setitik ketakutan yang jelas tergambar di wajah mereka. Mereka takberani berkata tidak demi keselamatan diri mereka.
Para berandalan menyantap hidangan yang telah disuguhkan sambil sesekali diiringi canda gurauan diantara mereka tanpa memperdulikan perasaan takut yang dirasakan oleh para pelayan kedai dan pelanggan-pelanggan yang lainnya.
“Pelayan, tambahkan lagi makanannya!” teriak salah seorang berandalan yang lain sembari menggebrak meja.
Para pelayan yang ketakutan buru-buru memenuhi permintaan mereka secepatnya. Pemilik kedai pun tak mampu berbuat banyak, karena ini bukanlah kali pertama sekumpulan berandalan itu datang menyatroni kedainya.
“Hei, Pak Tua! Bawakan lagi araknya kemari! Kami masih belum puas mabuknya. Hahaha..” Salah seorang yang dianggap sebagai ketua berandalan berteriak dan memanggil-manggil pemilik kedai diiringi gelak tawa yang membuat beberapa berandalan lainnya ikut tertawa.
Pemilik kedai mendekati ketua berandalan dengan sedikit keberanian yang ia kumpulkan di hatinya. “Ma, maaf, Tuan!.. Kami sudah tidak memiliki arak lain lagi.” ucapnya dengan menunduk ketakutan.
Sontak saja, jawaban dari pemilik kedai tersebut membuat ketua berandalan menjadi amat marah saat mendengarkan ucapannya. “Hah!! Apa kau bilang?!”
W
“Ka, kami kehabisan araknya, Tuan. Su, sudah tidak ada lagi persediaan arak di kedai kami.”
Karuan, ketua berandalan itu bertambah marah. Ia menarik kerah pakaian si pemilik kedai dengan bringas. “Itu, bukanlah, urusanku!! Kalau kau tidak ingin kedaimu ini aku ratakan, cepat kau bawakan saja satu kendi araknya kemari! Hahaha.." Ketua berandalan emandangi rekan-rekannya yang lain. Berandalan lainnya pun seketika itu juga langsung bergelak tawa.
Memohon belas kasihan. “Tu, Tuan.. jangan.. ampun, Tuan! Kami hanyalah orang kecil. Kami tidak memiliki tempat tinggal lain selain tempat ini, Tuan. Mohon ampuni kami, Tuan!.."
“Memangnya apa hubungannya denganku kalau kau tidak punya tempat tinggal lagi, hah?! Apakah aku harus mencarikan tempat tinggal lain, begitu? Apa untungnya hal itu bagiku?!" bentak ketua berandalan menenggak sisa araknya dari dalam kendi yang masih dipeganginya.
Dari dalam kendi araknya hanya tersisa beberapa tetes saja yang semakin membuat wajah ketua berandalan itu terlihat merah padam.
__ADS_1