Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Malam sebelum kematian Mpu Anggar Maya


__ADS_3

"Kangmas, sepertinya perutmu berkata lain. Apa sekarang Kangmas masih tidak merasa lapar?" Menggoda Jaka.


Jaka hanya bisa tertunduk malu. terdiam tak bisa mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas ucapan Dewi Mayasari.


"Bagaimana kalau Kangmas ikut aku pergi ke ruang makan?" ajak Dewi Mayasari. "lagi pula sebentar lagi hari mulai gelap. Sebaiknya kita bergegas masuk sebelum hari makin gelap."


"Ba, baiklah, Nyimas." Segera mengikuti langkah Dewi Mayasari sambil tertunduk malu.


Waktu silih berganti. Mpu Anggar Maya sudah terbaring sakit selama hampir satu bulan lamanya. Baik Jaka maupun Dewi Mayasari tetap setia membaktikan diri merawat dan menantikan kesembuhan Mpu Anggar Maya.


Suatu malam..


Mpu Anggar Maya terlelap dengan Dewi Mayasari yang berjaga di sampingnya.


Dewi Mayasari memaksakan diri berjaga meski rasa kantuk terus menyerangnya.


Jaka kembali setelah melakukan sesuatu dan melihat keadaan Dewi Mayasari. Hal itu membuatnya merasa kasihan kepada Dewi Mayasari bila membiarkannya terus berjaga.


Jaka menepuk pundak Dewi Mayasari dan berkata pelan, "Nyimas, beristirahatlah! Biarkan aku yang menunggu dan merawat Guru," pinta Jaka. Ia semakin merasa tak tega membiarkan Dewi Mayasari terus berjaga.


Dewi Mayasari tersentak dan membuka matanya, "Ah, tak apa! Biarlah aku yang menemani Ayahanda malam ini."


"Matamu sudah seperti itu. Tidak baik kau terlalu memaksakan dirimu," ucap Jaka mengingatkan. "sebaiknya kau pergilah beristirahat. Biarlah aku yang berjaga," ucap Jaka lagi.


Dewi Mayasari menurut, "Baiklah, aku akan kembali ke kamar dan beristirahat. Kangmas juga, ingatlah untuk beristirahat dan jangan memaksakan diri," pesannya pada Jaka sebelum bangkit dan bergegas meninggalkan ruang kamar ayahnya.


"Baik," balas Jaka.


Dipertengahan malam, Mpu Anggar Maya terjaga. Ia melihat Jaka yang terjaga di sampingnya.


"Guru, Guru sudah bangun. Apakah Guru membutuhkan sesuatu?" Mendekati Mpu Anggar Maya.


Mpu Anggar Maya menggeleng pelan.


"Atau barangkali Guru merasa sedikit haus?"


Mpu Anggar Maya terdiam sejenak, seolah sedang menyaring ucapan Jaka. Kemudian menggangguk merespon tawaran Jaka.


Jaka bersegera dengan sigap mengambil air yang telah dipersiapkan, kemudian memberikannya kepada gurunya dengan penuh bakti.


Mpu Anggar Maya Meraih air yang Jaka sodorkan, meneguknya perlahan hingga tersisa separuhnya.


"Ke mana perginya Dewi?" Bertanya pelan.


"Aku menyuruhnya beristirahat! Aku tak tega melihatnya memaksakan diri terus berjaga dengan kondisinya yang seperti itu."

__ADS_1


"Jaka.."


"Ada apa, Guru?"


"Aku ingin memberitahukanmu sesuatu. Hal ini tidak dapat terus menerus untuk aku tutup-tutupi."


"Kiranya apa yang ingin Guru sampaikan?"


"Sebelumnya aku sungguh mengharapkan kau tidak akan membenciku setelah aku mengatakan hal ini. Demi sebuah hal lain, aku terpaksa menutupinya darimu selama ini."


"Guru, apa yang sebenarnya ingin Guru sampaikan padaku?"


"Ini mengenai identitas dirimu yang selalu kau cari selama ini," ucap Mpu Anggar Maya. Jaka tertegun, ia tak bisa membalas apa pun. "sebelum aku menjelaskannya, aku benar-benar berharap kau memaafkan perbuatan yang telah kulakukan selama ini."


"Meskipun Guru menyembunyikan hal itu dari pandanganku selama ini, aku percaya Guru melakukannya demi kebaikanku."


"Itulah hal yang baik darimu. Tak peduli seberapa besar pun hal yang kau alami, kau tetap berlapang dada."


Mpu Anggar Maya terdiam sejenak dan menghela napas. Tarikannya terasa berat, kemudian mengeluarkannya sembari memejamkan matanya.


"Mengenai siapa dan di mana keluarga yang kau cari selama ini, aku hanya tahu akan sosok Kakekmu yang masih hidup, sedang kedua orang tuamu .." Mpu Anggar Maya menghentikan ucapannya.


"Apakah kedua orang tuaku masih bisa dikatakan memiliki kemungkinan hidup?"


Mpu Anggar Maya menggeleng pelan. Ia tak ingin terlalu dalam berkomentar tentang itu.


Mpu Anggar Maya tak menjawabnya. Jaka tahu dari respon gurunya itu, ia dapat menyimpulkan bahwa kedua orang tuanya sudah tiada.


Meski hatinya merasakan kesedihan, ia tetap berlapang dada. Berpikir dengan positif. Mungkin ini memang yang terbaik untuknya.


"Guru, terima kasih! Kini hatiku sedikit merasa tenang setelah mendengarnya."


Bulir air bening menitik pelan membasahi pipinya.


"Ah, Guru, Aku minta maaf! Tiba-tiba saja aku merasa sedih!" Berusaha mengusir kesedihan sembari mengusap bulir air yang membasahi pipinya.


"Aku tahu kau pasti bersedih mendengar kabar mereka. Setidaknya aku tidak perlu terus menerus menyembunyikan hal ini darimu."


Jaka masih merasakan kesedihannya. "Aku tidak menyalahkan Guru," ucap Jaka. "aku rasa mungkin inilah yang terbaik untukku. Terlepas dari Guru atau tidak diriku tahu akan kabar mereka. Aku pasti akan tetap merasakan kesedihan seperti ini."


"Aku berharap kau takkan membenciku atas hal ini."


"Guru, bagaimana bisa aku membenci Guru? Setelah hal yang kujalani selama ini, bagaimana mungkin aku melakukan itu."


"Ya, aku berucap terima kasih untuk itu."

__ADS_1


"Harusnya aku yang berterima kasih pada Guru, bukan Guru yang berterima kasih. Jika dulu Guru tak menolongku, mungkin aku takkan bisa menjalani hidupku lagi," ungkap Jaka mengenang kembali masa itu.


"Ah, aku masih memiliki hutang ucapan padamu tempo hari mengenai arti hidup. Apa kau ingin mendengarnya?"


Jaka mengangguk.


"Yang terakhir adalah bersedia berlapang dada atas semua yang kau alami dan kau jalani. Syukuri semua yang kau miliki, jalani ujian yang kau hadapi dengan sabar, serta memaafkan semua kesalahan orang yang menyakitimu. Dengan begitu kau akan selalu merasakan ketenangan dalam hidupmu."


"Aku akan mengingatnya, Guru!"


"Ah, aku lupa, Guru!"


"Apa masih ada yang ingin kau tanyakan?"


"Iya, Guru. Aku ingin tahu, siapa Kakekku dan di mana keberadaannya sekarang?"


"Baiklah, aku akan memberitahukannya. Dia adalah orang yang paling dihormati di kerajaan ini, Baginda Raja Baskara Nara Diningrat."


Jaka terkejut mendengar sosok kakeknya tersebut. Ia sedikit tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Jadi yang dikatakan oleh Paman Suwira dan Bibi Lasmi benar," batin Jaka.


"Sebenarnya Kakekmu tahu kau tinggal di tempatku, hanya saja ia tidak ingin aku mengatakan hal itu padamu. Biarlah kau tahu dikemudian hari saja, ucapnya."


Jaka terdiam. Tak ada satu kata pun yang ingin diucapkannya saat itu. Mematung dan menghela napas, hanya itu yang bisa dilakukannya.


"Kau, istirahatlah! Aku akan kembali tidur. Jangan sampai membuat tubuhmu kelelahan," pinta Mpu Anggar Maya pada Jaka.


"Baik, Guru," balasnya dengan patuh. "aku undur diri," tambahnya lagi.


Jaka bangkit, lantas meninggalkan ruang kamar, sementara itu Mpu Anggar Maya kembali memejamkan mata dan terlelap.


Pagi hari yang cerah..


Jaka masih tertidur pulas. Tidak biasanya ia terbangun ketika siang telah beranjak.


Ia pergi membersihkan diri, kemudian bersiap hendak melihat keadaan gurunya.


Sebelum ia keluar dari kamarnya, suara ketukan pintu yang cepat dan suara yang memanggil dirinya membuatnya dengan cepat menghamburkan diri.


"Nyimas, ada gerangan apa kau kemari?" Merasa heran dengan kedatangannya dan raut wajahnya yang terlihat sedih.


"Kangmas! A, Ayahanda.. Ayahanda.."


Jaka merasakan ada hal buruk yang telah terjadi. "Apa yang terjadi dengan Guru?" tanya Jaka cemas.

__ADS_1


"Ayahanda.. " Tak berani mengatakan apa yang terjadi. Hanya bisa terisak dan menangis.


__ADS_2