
Ketua berandalan lantas membanting kendi arak yang sudah kosong dengan keras. Prakk! Pecahan kendinya berserakan di tanah. Berandalan itu menatapi wajah pemilik kedai dengan pandangan yang amat marah. "Bagaimana aku bisa terus mabuk jika araknya seteguk pun sudah tak ada lagi, hah?!"
"Am, ampun, Tuan.. ampun.." Pemilik kedai gemetaran dan kian merasa ketakutan sembari terus memberanikan dirinya meminta belas kasihan agar kedainya tak menjadi sasaran atas kemarahan ketua berandalan tersebut.
"Sikat saja sudah, Kakang!" teriak berandalan yang lain. Sebagian yang lainnya bahkan tertawa-tawa menyaksikan si pemilik kedai yang sudah ketakutan setengah mati, seperti seekor rusa kecil yang tengah dikelilingi oleh sekumpulan harimau buas yang kelaparan.
Suasana di dalam kedai pun kembali menegang. Laras yang sedari awal sudah merasa tak nyaman mulai menggeser posisi duduknya dan mendekati Nyi Dewi serta memeluk tangannya sembari gemetaran seraya membenamkan wajahnya pada lengan Nyi Dewi. "Mbakyu.."
"Kangmas.." Nyi Dewi melirik Jaka sekilas. Tetapi Jaka masih saja terlihat asyik menyantap makanannya tanpa memperdulikan hal apapun.
Ctakk! Suara keras sesuatu terbentur terdengar cukup jelas. Ternyata itu suara dari wajah ketua berandalan yang terkena sebuah biji yang entah dari mana datangnya, sehingga biji tersebut menyebabkan jidatnya sedikit memar dan membuat ketua berandalan itu meringis karena merasa kesakitan.
"Siapa itu yang melempariku?" Ketua berandalan bangkit seketika dan memandangi seluruh penjuru kedai dengan telapak tangannya terus mengusapi jidatnya lantaran menahan sakit. "katakan! Siapa yang telah melempariku barusan?" tanyanya lagi masih dengan mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Semua orang yang berada di dalam kedai terdiam, mereka tak berani melirik bahkan untuk saling bertukar pandangan dengan orang di dekat mereka. Pun dengan tempat duduk Jaka. Malahan Jaka tetap saja terlihat asyik menyantap makanannya seolah tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
Karena tidak ada seorangpun yang bersedia menanggapinya, ketua berandalan pun menjadi naik pitam. Marah dengan kekesalan yang memuncak, lantas menghampiri meja Jaka yang terletak lebih dekat dari mejanya. Ia menerka orang yang tadi melemparinya dengan biji buah pasti duduk tidak jauh dari posisi dirinya berada.
Menggebrak meja dan menaikkan satu kaki di atas bangku. "Hei, Kisanak! Apakah kalian yang telah melempariku barusan?" tanya ketua berandalan geram sembari memandangi wajah Jaka dan juga Nyi Dewi yang tertutupi tudung kepala secara bergantian. "apakah kita pernah mempunyai persoalan sebelumnya?"
Nyi Dewi hanya terdiam tanpa menanggapi. Karuan saja, Laras semakin gemetaran memeluk erat tangan Nyi Dewi. Jaka pun masih tak mau menanggapi pertanyaan ketua berandalan itu.
"Jika kalian berdua tidak ada yang mau menjawab pertanyaanku, akan ku anggap kalianlah yang telah melempariku barusan," sungut ketua berandalan.
Baik Jakia maupun Nyi Dewi masih tetap tidak ada yang mau menanggapi ucapan dari ketua berandalan. Ketua berandalan itu seketika menancapkan sebilah pedang di atas meja makan, lalu menyadari ada seorang gadis belia terduduk di sisi Nyi Dewi yang tak lain adalah Laras.
"Baiklah, begini saja.." Ketua berandalan tiba-tiba saja melunak ketika melihat seorang gadis belia yang terduduk di bangku meja Jaka. "aku akan membiarkan kalian pergi kali ini, asalkan gadis ini kalian tinggalkan saja bersama kami. Hahaha.. Bagaimana?" Memandangi Laras dengan wajah penuh kesenangan dan pandangan yang dipenuhi kepuasan.
Lagi. Baik Jaka maupun Nyi Dewi masih enggan untuk menanggapi perkataan ketua berandalan. Ketua berandalan itu pun hendak meraih paksa Laras, tetapi sesaat kemudian, jidatnya kembali terkena biji buah sehingga membuat memar lain di atas jidatnya. Tak ayal si ketua berandalan kembali meringis kesakitan sembari terus mengusap-usap jidatnya.
"Bengsat!! Rupanya kalianlah yang memang mencari-cari masalah denganku!"
__ADS_1
Ketua berandalan mencabut pedangnya yang tertancap, kemudian segera melayangkannya ke arah Jaka dengan cepat. Dengan santainya Jaka menghindari ayunan pedang yang mengarah kepadanya. Laras berteriak-teriak ketakutan, dan dengan sigap Nyi Dewi segera menarik Laras menghindar ke tempat yang lebih aman. Sedangkan orang-orang yang masih berada di dalam ruangan kedai seketika itu juga segera menghamburkan diri bergegas keluar dari dalam kedai.
Beberapa detik kemudian, suasana di dalam kedai bertambah menjadi penuh kepanikan. Para pelanggan saling berdesakan di antara sekumpulan berandalan untuk menyelamatkan diri mereka, bersegera keluar dari dalam kedai tanpa menunggu aba-aba lagi. Tak berselang lama, ruangan di dalam kedai seketika menjadi kosong. Hanya tersisa para berandalan dan Jaka Umbara yang masih terduduk, Nyi Dewi yang terus menenangkan Laras dalam pelukannya, serta pemilik kedai dan para pelayannya yang harap-harap cemas akan bagaimana nasib dari kedai kecil mereka.
Sabetan pedang ketua berandalan itu kembali mengarah kepada Jaka. Jaka mengelak dan menghindarkan tubuhnya ke belakang. Sabetan pedang pun hanya menyentuh angin. Lagi. Ketua berandalan masih melayangkan beberapa sabetan pedang yang mampu Jaka elak. Jaka mengangkat meja makannya, lalu mendorongnya dengan keras sehingga membuat ketua berandalan jatuh ke belakang terkena meja tersebut dan menimpa dua rekannya yang berdiri tepat di belakangnya.
"Bedebah!! Serang!!"
Ketua berandalan bangkit dan meminta seluruh berandalan yang lainnya untuk ikut menyerang Jaka. Satu persatu dari mereka mulai bergerak mendekati Jaka. Ada yang terlihat sedikit ragu-ragu untuk ikut menyerang Jaka setelah melihat ketua berandalan tidak mampu memberikan serangannya. Ada pula yang dengan wajah datarnya merasa dapat memberikan serangannya kepada Jaka.
Berandalan-berandalan itu langsung maju menyerang Jaka bersamaan. Jaka lalu bangkit dan bersiap-siap untuk menghadapi sekumpulan berandalan itu. Hyatt!! Dua tiga orang mencoba melancarkan serangannya. Kemudian lima tujuh orang sudah mengelilingi Jaka dan membuat Jaka seolah telah terkurung oleh para berandalan itu. Sebagian mereka memegangi senjata dan sebagian yang lain hanya bertangan kosong. Sedangkan berandalan yang tersisa bersiap dan menunggu giliran mereka untuk ikut menyerang.
Jaka menangkis dengan cepat setiap serangan yang mengarah kepadanya. Akhh! Salah satu dari berandalan yang menyerang Jaka terjungkir balik setelah terkena layangan tangan Jaka. Berandalan itu meringis memegangi lututnya. Tak lama kemudian, yang lain segera maju dan menyerang. Gubrakk!! Salah seorang berandalan lainnya ikut terjungkir balik dan menghantam meja makan sehingga menyebabkan mejanya ambruk. Berandalan itupun meringis kesakitan dan memegangi punggungnya yang kesakitan lantaran menimpa meja makan hingga rusak.
Hyatt!! Berandalan lain datang dengan hunusan pedang di tangannya. Dari arah belakang Jaka, dua orang datang ikut pula menyerang. Jaka menghindari hunusan pedang yang mengarah kepadanya. Ia mengelak dengan menggeser tubuhnya ke sisi kanannya, kemudian bersiap menghindari dua orang yang menyerangnya. Dua orang berandalan itu hanya bertangan kosong. Mungkin karena tidak memiliki senjata ataupun tidak terbiasa menggunakan senjata, barangkali. Dengan mudahnya dua orang berandalan itu tumbang oleh Jaka.
__ADS_1
Beberapa orang berandalan terkapar di tanah dengan memegangi anggota tubuh mereka yang terasa sakit. Sebagian yang lain masih mencoba untuk menyerang Jaka. Satu orang kembali tumbang menghantam tiang penyangga atap kedai. Yàng kedua pun sama-sama menghantam tiang yang lainnya. Kedua berandalan itu meringis uring-uringan menahan rasa sakit. Saat berandalan yang ketiga hendak menyerang, Jaka segera berpindah tempat ke halaman luar kedai agar tidak menimbulkan kerusakan yang lebih parah di dalam ruangan kedai.
"Dasar tidak berguna!!"