Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Hukuman bersama


__ADS_3

“Ayahanda, lihatlah, ia sudah mau mengalah! Bukankah itu artinya dia sudah menerimanya bila dia harus mendapatkan hukuman?”



“Kau ini.” Menggelengkan kepala melihat kelakuan putrinya. “Apa kau tidak punya rasa malu sedikit pun?”



“Kenapa pula aku harus malu? Ia yang lebih dulu bersalah padaku, untuk apa aku merasa malu.”



“Kau seharusnya bercermin dari sikap bijak Jaka. Ia mau mengalah agar masalah ini tidak berkepanjangan. Mengalah bukan berarti pertanda rasa bersalah. Tapi dengan mengalah, mampu menyelesaikan satu masalah tanpa memperpanjang suatu masalah.”



Gadis itu tak bisa berbuat apa-apa lagi. Hatinya merasa kesal.



“Ayahanda, kenapa Ayahanda membelanya, bukannya membelaku?” Gadis itu masih menahan rasa kesalnya sambil membuang muka.



“Sudah, sudah. Aku takkan menghukum salah satu dari kalian. Aku akan memberikan hukuman itu untuk kalian berdua. Sebagai bagian dari mencari arti kerukunan, kalian harus saling membantu dan melengkapi dalam memecahkan setiap persoalan yang kalian hadapi.”



“Baik, Guru.” Jaka menanggapi dengan patuh dan penuh hormat.



Gadis itu terbelalak, merasa ada sesuatu yang salah dalam pendengarannya. “Hah!! Ayahanda, mengapa aku juga jadi ikut terkena hukuman? Bukankah seharusnya hanya dia yang mendapatkan hukuman!? Aku tidak mau menerima hukuman ini!” protesnya pada ucapan ayahnya yang terasa tidak adil menurutnya.



“Tak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Besok pagi, kalian berdua akan menjalani hukuman kalian. Aku menghukum kalian berdua untuk mencari tanaman obat Tempuyung, Landep, Panglai dan seikat daun Saga Rambat, serta beberapa daun dari pohon Theutheuk di atas bukit belakang padepokan.”



Jaka hanya terdiam. Gadis itu makin merasa kesal. “Ayahanda!”


__ADS_1


“Sudahlah! Sekarang lebih baik kalian tidur lebih awal, agar besok bisa berangkat lebih pagi. Kalian beristirahatlah!”



“Ini semua gara-gara kau, huh!” Gadis itu menunjuk dengan telunjuknya ke arah Jaka, melampiaskan kekesalannya yang meluap-luap, lantas berlalu dengan cepat meninggalkan ruangan.



Jaka masih terduduk diam. Mpu Anggar Maya melihat Jaka seakan tengah diliputi oleh sesuatu. “Kenapa? Adakah sesuatu yang tengah mengganggu pikiranmu?”



“Guru, sebaiknya aku saja yang menjalani hukumannya. Biarkanlah hukuman Dewi Mayasari juga aku saja yang mengerjakannya,” jawab Jaka dengan wajah tertunduk.



“Kau tidak usah terlalu memedulikan itu. Hal ini sudah aku tentukan. Terlebih agar putriku itu bisa menghargai dan menghormati orang lain dengan menjalani hukumannya. Sekalian, aku memberikan hukuman ini pada kalian berdua, untuk melihat langkah awal kerukunan kalian. Meningkat atau tidaknya langkah itu, tergantung bagaimana upaya kalian berdua. Kuharap, semuanya akan berjalan lancar.”



“Kuharap pun begitu,” timpal Jaka atas ucapan Mpu Anggar Maya. “Oh iya, guru!”



“Ada apa lagi?”




“Berharaplah kalian dapat menemukannya. Sekarang kau segeralah beristirahat!”



“Baik, Guru. kalau begitu aku pamit dulu.”



“Baiklah.”



Jaka bangkit, bersiap meninggalkan ruangan. Langkahnya kembali tertahan. “Guru, hukuman Dewi Mayasari..”

__ADS_1



“Sudahlah, kau tidak perlu terlalu banyak berpikir! Ini juga untuk kebaikannya.”



“Baik, Guru.”



Jaka berlalu meninggalkan ruangan menuju arah kamarnya. Langkahnya pelan. Ada beberapa pikiran yang masih mengganjal di pikirannya. Langkahnya kembali tertahan sesaat. Gadis itu, Dewi Mayasari, berdiri di depan pintu kamar, masih diliputi rasa kekesalan yang belum sepenuhnya sirna. Jaka melanjutkan langkahnya yang tertahan, mencoba menganggap tak ada apa pun yang akan terjadi.



“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Jaka datar. Dewi Mayasari tak bergeming. Ia masih merasakan rasa kesalnya yang meluap-luap.



“Kalau tak ada, aku akan masuk. Bergeserlah sedikit, kau menghalangi langkahku!”



“Kau..” Dewi Mayasari membuka mulutnya. “Gara-gara kau, aku jadi ikut menjalani hukuman dari Ayahanda.”



“Itu bukanlah salahku. Guru yang memberikan hukuman itu. Kau tidak bisa protes padaku.”



“Kau.. Kaulah yang salah! Kau yang salah karena sudah melihat..” Ucapannya tersendat. Mukanya tiba-tiba memerah mendengar ucapannya sendiri.



“Apa yang telah kulihat?” tanya Jaka heran.



“Kau..” Mukanya makin memerah dengan pertanyaan Jaka. "Pikirkan saja sendiri, huh!"



Dewi Mayasari berlalu meninggalkan Jaka dengan kekesalan yang memuncak.

__ADS_1



Jaka membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam. “Dasar, perempuan! Apa sih yang ada di pikirannya itu?”


__ADS_2