
Melihat Dewi Mayasari yang terbangun tiba-tiba, sosok seseorang yang berniat menusukkan pisau itu menjadi terkejut dibuatnya. Ia bergegas hendak pergi, tapi Jaka keburu mencegah langkahnya. Ia ingin tahu siapa sosok yang berniat hendak mencelakai Dewi Mayasari.
Demi melihat siapa sosok itu, Jaka tercengang serasa tak percaya atas apa yang telah dilihatnya.
“Kasim..”
Orang yang sudah dikenalinya itu tak bisa berkutik lagi.
“Ja, Jaka..” ucapnya dengan gugup.
“Kasim, kenapa kau melakukan hal ini? Kenapa kau ingin melukainya?” tanya Jaka penasaran.
Kasim tak menjawab. Ia terlihat panik namun tidak berusaha untuk lari.
“Jaka, maafkan aku..” ucapnya lagi dengan wajah yang begitu menyesal.
Seketika itu juga ia menusukkan pisau yang dipegangnya ke perutnya. Tak berselang lama ia menghembuskan napas terakhirnya.
“Kasim, Kasim..” Jaka mendekati orang yang dikenalnya itu. Namun, nyawanya sudah tiada.
“Tolong! Tolong!”
__ADS_1
Jaka berteriak dengan panik mencari pertolongan di sekitarnya. Beberapa orang datang menghampirinya untuk melihat apa yang telah terjadi. Sementara itu, Dewi Mayasari menjerit ketakutan melihat apa yang terjadi di depannya.
Malam itu menjadi sebuah malam yang begitu misterius bagi Jaka. Ia hampir tak bisa menemukan kesimpulan yang mengarah pada apa yang terjadi sebenarnya di tempat penginapan.
Pertama, sebuah jarum kecil yang ditujukan entah kepadanya atau Dewi Mayasari kemarin malam, kemudian pada siang harinya ditemukan dua mayat laki-laki dan perempuan yang salah satunya adalah saudara dari Kasim, sekarang Kasim sendiri datang ke kamarnya dan berniat hendak melukai Dewi Mayasari.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apa hubungan semua peristiwa yang telah terlewati itu? Mengapa tidak ada bukti satu pun yang bisa mengungkapkan motif maupun identitas si pelaku pembunuhan?
Beberapa pertanyaan memenuhi kepalanya. Jaka masih saja memikirkan hal itu dengan rasa penasaran yang begitu kuat.
“Jaka.. Jaka..”
“Aduh, kenapa sakit sekali?!” Jaka tiba-tiba mengaduh, merasakan sakit di tangannya. “apa yang kau lakukan?” Bertanya sembari melihat apa yang terjadi pada tangannya.
Dewi Mayasari terlihat tengah membalut luka akibat sayatan pisau di tangan Jaka sembari duduk di hadapannya. Jaka menatap Dewi Mayasari dengan lekat.
“Ke, kenapa kau melihatku dengan tatapan seperti itu?” tanya Dewi Mayasari. Kemudian pandangannya agak tertunduk.
“Dewi, kenapa kau membalut tanganku?” Balas bertanya.
“Bukankah semalam tanganmu terluka karena kau memegangi pisau dengan begitu kuat,” jawab Dewi Mayasari.
__ADS_1
Jaka mengingat kembali akan kejadian yang terjadi semalam, saat ia menahan pisau dengan tangannya hingga membuat tangannya terluka.
“Ah, karena memikirkan begitu banyak pertanyaan yang bermunculan di pikiranku, aku sampai lupa apa yang telah terjadi pada diriku,” batinnya. Kemudian menghela napas dan berucap lirih, “Ternyata hari sudah tidak pagi lagi..” Sesaat suasana menjadi hening.
“Ja, Jaka..”
“Ada apa?”
“Kenapa kau melukai tanganmu menahan pisau dan memeganginya dengan begitu kuat?”
Jaka tak segera menjawab. Ia hanya memandangi luka di tangannya yang sedang dibalut, seakan sedang menimang kata yang hendak diucapkannya.
“Aku.. Aku hanya mencoba untuk melindungimu. Keselamatanmu itu adalah tanggung jawabku." Memandang Dewi Mayasari. "bagaimana nanti aku akan menjelaskan kepada Guru jika kau terluka, sedangkan aku tidak berusaha melindungimu sedikit pun,” ucapnya kemudian.
Dewi Mayasari tersipu malu. “Te, terima kasih karena sudah menjagaku..” ucapnya lirih. Tangannya masih membalut luka di tangan Jaka
“Apa kini kau sudah tidak marah lagi kepadaku?” Memandang tangan Dewi Mayasari yang hampir selesai membalut luka. Lalu menatap wajah Dewi Mayasari. Dewi Mayasari hanya menggeleng pelan.
“Terima kasih kau sudah mau membalut luka di tanganku,” ucap Jaka saat Dewi Mayasari selesai membalut luka di tangannya.
Dewi Mayasari hanya mengangguk tersenyum sambil tersipu.
__ADS_1