Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Ledonggowo berulah


__ADS_3

“Di seluruh wilayah, baik dari arah Timur hingga ke arah Barat, maupun ujung Utara hingga Selatan, ada dua macam golongan yang terus berseteru sejak zaman dahulu. Mereka juga terbagi dalam dua Golongan, golongan Putih dan Golongan Hitam. Kita sebagai Golongan Putih senantiasa terus menjaga keutuhan dan keselarasan setiap masyarakat di setiap wilayah kerajaan ini. Sebaliknya, Golongan Hitam cenderung lebih sering menindas dan mementingkan kepentingan mereka sendiri tanpa pernah memikirkan dampak dari setiap tindakan-tindakan yang mereka lakukan terhadap orang lain.”


“Ada beberapa ajian yang menjadi tanda apakah mereka termasuk Golongan Putih atau Golongan Hitam. Seperti ajian Seribu Gledekan, Trolong Sakti, Angkara Murka Durjana, Alam Segara serta Sejarit Langit yang merupakan beberapa ilmu ajian yang dipakai oleh Golongan Hitam. Sedangkan Golongan Putih memiliki ajian Selendang Sutra, Rajah Warna Kemuning Mas, Rajah Tujuh Saketip, Batu Aji Laksa serta Pring Kasyaf sebagai penangkal dari ajian-ajian tersebut. Selain itu, ada pula beberapa ajian yang juga dipelajari oleh Golongan Putih maupun Golongan Hitam, seperti Serat Putih, Serat Jiwa atau Harum Seni.”


“Disamping itu masih banyak jenis ajian yang lainnya yang tidak banyak diketahui oleh kedua golongan tersebut. Terutama bagi mereka yang tidak ikut termasuk ke dalam Golongan putih maupun Golongan Hitam. Hal inilah yang akan menjadikan sebagian dari orang yang memiliki jurus-jurus ajian yang tertentu sebagai sebuah sasaran yang sangat empuk bagi Golongan Hitam. Entah itu untuk dijadikan sebagai pengikut golongan mereka atau sekadar untuk menyingkirkannya saja.”


“Oleh sebab itu, kau harus berhati-hati. Ajian yang kau kuasai tidaklah termasuk ke dalam ajian Golongan Putih maupun termasuk Golongan Hitam. Mereka pasti akan terus melakukan segala daya upaya mereka agar kau bisa disingkirkan hingga kau ikut golongan mereka.


“Baik, Kek. Aku akan mengingatnya.”


Baginda Raja manggut-manggut.


"Aku memohon do'a restu dari Kakek. Aku akan berangkat lusa menemuinya ke Gua Batu."


"Apa kau akan pergi ke sana seorang diri?"


"Tidak, aku tidak akan berangkat seorang diri. Aku meminta Dewi Mayasari untuk menemaniku. Mungkin juga Adikku ingin ikut serta nantinya."


"Baiklah, restuku mengiringimu. Ingatlah, jagalah Cucu menantuku! Aku akan tetap menunggu Cicitku lahir dari kalian."


"Kakek.. Apa yang Kakek bicarakan.. Aku, Aku dan Nyimas.." Wajah Jaka pun sedikit memerah.


"Sudah, sudah. Kau pergilah beristirahat!" Mencoba untuk mengalihkan ucapannya. "ngomong-ngomong, kapan kiranya kau akan kembali ke padepokanmu?"


"Aku akan berangkat besok pagi, Kek. Aku pamit undur diri dan beristirahat." Bersiap bangkit dan berdiri.


Baginda Raja turut bangkit. "Ya, pergilah beristirahat."


...###...


Keesokan harinya..


Pagi hari. Jaka Umbara ditemani Lembing Wuluh telah bersiap dengan kuda mereka untuk kembali..

__ADS_1


"Kakek, kami berangkat.." Menarik kendali dan mulai memacu kudanya dengan cepat.


"Ya, berhati-hatilah dengan perjalanan kalian."


"Paduka, Hamba mohon pamit."


Lembing Wuluh berusaha membungkuk memberikan penghormatannya. Beberapa saat kemudian, ia ikut memacu kudanya menyusul Jaka Umbara.


Baginda Raja mengangguk pelan. Melepas kepergian sang Cucu, Jaka Umbara, yang kembali ditemani oleh Lembing Wuluh.


...###...


Padepokan, di mana tempat Jaka Umbara tinggal. Siang Hari. Di saat itu Laras yang ingin mempelajari ilmu Kanuragan tengah melatih dasar-dasarnya dengan ditemani Nyi Dewi, di bawah bimbingan langsung Ki Pucung dan Nyi Pucung yang duduk di beranda padepokan mengamati pelatihan Laras.


"Laras, perhatikan kuda-kudamu! Kakimu terlalu melebar!" teriak Nyi Pucung yang melihat Laras begitu kaku.


"Bibi, aku sudah merapatkannya. Kakiku terasa seperti mati rasa," keluh Laras akan teriakan Nyi Pucung kepadanya.


Nyi Dewi menyemangati Laras. "Diajeng, bersabarlah sebentar. Bukankah Diajeng ingin memperlihatkan hasil latihanmu ini kepada Kakakmu saat dia sudah kembali."


Tak lama kemudian, dari sisi padepokan Ledonggowo datang membawa beberapa anak buahnya dan berteriak memanggil-manggil Jaka Umbara.


"Jaka Umbara! Sialan! Keluar kau!"


Laras yang tengah fokus berlatih kembali, sontak saja berlari ke belakang Nyi Dewi seraya menyembunyikan diri.


Ledonggowo duduk dengan angkuhnya di atas kuda dan mendekati padepokan. Ia berhenti tepat di tengah-tengah halaman padepokan.


Seluruh anak buahnya yang mengikutinya langsung melebar membentuk barisan di sekelilingnya.


Laras semakin merasa ketakutan tatkala melihat seluruh anak buah Ledonggowo yang sudah mengangkat senjata mereka dan bersiap menyerang.


Nyi Dewi bertanya sembari menenangkan Laras yang ketakutan. "Ledonggowo, apa yang kau inginkan?"

__ADS_1


"Cepat, Katakan! Di mana Jaka Umbara?"


"Untuk apa kau mencarinya?"


"Itu tak ada urusannya denganmu. Cepat, katakan saja, di mana ia berada?!" sergah Ledonggowo dengan nada tinggi.


"Orang yang kau cari tak ada di sini. Lebih baik kau segera pergi dari tempat ini," usir Nyi Dewi Agar Ledonggowo segera pergi.


Nyi Dewi merasa kedatangan Ledonggowo hanya akan mengingatkan Laras pada apa yang pernah menimpanya disaat ia pernah diculik oleh kelompok Kuda Hitam.


"Mbakyu..." Memegangi tangan Nyi Dewi erat. "Dinda takut!.." Khawatir dan merasa tidak nyaman.


"Jangan takut! Mbakyu di sini! Ada Paman dan juga Bibi di sini." Sekali lagi Nyi Dewi menenangkan Laras supaya tidak teringat akan kejadian yang pernah dialaminya itu.


Ki Pucung dan Nyi Pucung mendekati Nyi Dewi untuk mengetahui apa yang terjadi.


Ada apa ini?" tanya Ki Pucung mencairkan suasana.


"Ya, mari, kita bicara baik-baik," sambung Nyi Pucung.


"Aku tidak ada urusannya dengan kalian. Lebih baik kalian menyingkir saja," sungut Ledonggowo masih dengan nada yang tak merendah sedikit pun.


"Anak muda! Bukanlah begitu seharusnya kau berbicara dengan orang tua," ucap Ki Pucung masih memberikan rasa toleransi atas ucapan Ledonggowo. "apakah tidak ada seorang pun yang mengajarimu sopan santun?"


"Aku sedang tidak ingin mendengar soal ceramah apa pun. Ada hal yang penting bagiku hingga aku sampai datang kemari," ucap Ledonggowo acuh.


"Lagi pula orang yang kau cari tidak ada di dalam. Berarti kau juga tidak ada urusan datang kemari."


Ledonggowo menatap tajam ke arah Nyi Dewi, ia tidak bisa membalas perkataan Nyi Dewi. Tapi, Ledonggowo tetap teguh dalam pendiriannya untuk mendapatkan apa yang dicarinya.


"Kalau begitu, aku akan menjadikan dia sebagai jaminannya." Menunjuk ke arah Nyi Dewi. Memberikan tatapan yang amat menyeramkan.


Nyi Dewi tahu siapa orang yang dimaksud oleh Ledonggowo. Tidak lain, Laras yang bersembunyi dibalik punggungnya. Laras semakin merasa ketakutan sembari terus memegangi tangan Nyi Dewi.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau lakukan padanya? Aku takkan membiarkan kau menyentuh atau pun membawanya!"


Ledonggowo terbahak-bahak. "Hahaha! Itu, aku yang putuskan! Terkecuali kau bisa mendatangkan Jaka Umbara sebagai gantinya."


__ADS_2