Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Desas-desus adanya pemberontakan 3


__ADS_3

Baginda Raja terlihat berpikir sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. Seperti sedikit ragu untuk membahas tentang apa yang ingin diucapkannya kepada Patih Laya.


"Apakah Paduka masih terpikirkan oleh desas-desus pemberontakan terhadap kerajaan kita?" tanya Patih Laya.


"Ya. Aku memang tengah memikirkan hal itu. Meskipun pemberontakan adalah hal yang lumrah terjadi pada suatu bentuk kekuasaan ataupun pemerintahan. Akan tetapi, hal itu tidak bisa begitu saja untuk kita abaikan. Cepat atau lambat pemberontakan itu akan marak terjadi di sebagian wilayah kerajaan Suryalaya ini," ucap Baginda Raja sembari merapikan surat-surat yang telah dibacanya.


Patih Laya mengangguk-angguk, paham akan apa yang tersirat dibalik perkataan Baginda Raja. Patih Laya juga bisa memahami bahwa desas-desus tentang adanya pemberontakan terhadap kerajaan Suryalaya lambat laun mungkin pasti akan terjadi.


"Bagaimana dengan laporan dari Raden Galuh, Paduka? Apakah ada kabar baik yang juga datang bersamanya?"


"Untuk saat ini kita masihlah meraba angin," terang Baginda Raja. Patih Laya mengangguk paham. Patih Laya dapat menyimpulkan bahwa kabar desas-desus itu belum sepenuhnya terverifikasi dengan jelas. Masih simpang siur


Baginda Raja bangkit. Kedua tangannya tersimpan di belakang pinggang. Berjalan mondar mandir sebentar. Kemudian membelakangi Patih Laya dengan berdiri memandang ke luar jendela. "Kita tidak bisa menyentuh hati dengan darah. Tetapi darah mampu menyatukan setiap hati."


"Apakah maksud Paduka, Raden Galuh berkemungkinan besar juga terlibat di dalamnya?"


"Kemungkinan itu pasti selalu ada. Akan tetapi, bukti itu belum terlihat untuk kita saat ini." Baginda Raja berbalik dan kembali ke tempat duduk. Helaan napas Baginda Raja terdengar berat dan juga panjang. Seolah beban di atas pundaknya terus bertambah.


"Semenjak kecil ia memang memiliki ambisi besar."


Patih Laya kembali mengangguk-angguk. "Lalu bagaimana sebaiknya kita menyikapi hal ini kedepannya?"


Baginda Raja kembali menghela napasnya. Lebih panjang dari sebelumnya. "Sejak Ki Dalem telah tiada, aku selalu berpikir.." Ucapan Baginda Raja terhenti sejenak. Ada sekelumit beban pikiran yang tak mampu diungkapkannya. "kenapa Sang Hyang Widhi memanggilnya begitu cepat. Kenapa ia meninggalkanku secepat ini? Ia berjanji untuk menua bersamaku.." Ucapan Baginda Raja terhenti lagi.


"Sakit yang diderita Ki Dalem telah mendarah daging. Mungkin karena itulah Sang Hyang Widhi memanggilnya untuk mengurangi beban penderitaannya. Mohon Paduka agar tidak bersusah hati," potong Patih Laya menghibur Baginda Raja yang terlihat sedikit bersedih.

__ADS_1


"Kau benar, Patih! Meski dengan ada atau tanpa adanya Ki Dalem di sisi kita, hal-hal seperti pemberontakan akan tetap terjadi cepat atau lambat. Aku tidak semestinya begitu terpuruk atas kepergiannya," hibur Baginda Raja pada dirinya sendiri.


Baginda Raja menghela napasnya lagi. Kini beban berat di pundaknya terlihat seolah sedikit berkurang. "Kita harus tetap menyisir wilayah-wilayah dari kerajaan yang berkemungkinan rawan menjadi pusat terbentuknya gerakan-gerakan pemberontakan terhadap kerajaan kita. Wilayah Tumenggung, Bale Kambang, sebagian wilayah hutan Salatiga dan juga desa-desa besar lainnya harus tetap kita pantau sesering mungkin. Berjaga-jaga bila di kemudian hari gerakan-gerakan itu akan tumbuh lebih cepat seperti yang telah kita bahas tempo hari."


"Hamba mengerti, Paduka!" Bangkit dan mengangguk.


Baginda Raja kembali bangkit dan memandang ke arah luar jendela. "Baiklah. Pergilah dan perintahkan beberapa orang prajurit agar berjaga di sebagian daerah tersebut!" perintah Baginda Raja.


"Baik, Paduka! Hamba akan laksanakan dengan segera!"


Patih Laya bergegas keluar dari ruangan guna melakukan perintah Baginda Raja. Baginda Raja terlihat masih berdiri dan memandangi luar jendela meskipun Patih Laya telah pergi.


Di tempat lain..


Beberapa orang berandalan berkumpul di sebuah rumah kecil. Mereka berbisik-bisik akan sesuatu. Mereka semua bukanlah dari satu kelompok. Melainkan beberapa kelompok yang bercampur menjadi satu. Hanya segelintir saja yang berteman dengan satu sama lain atau saling mengenal di antara mereka. Sebab setiap kelompok datang dari berbagai daerah dan terdiri dari satu orang, dan paling banyak berjumlah tiga orang dalam anggota kelompoknya.


"Tidak! Namaku Mungsiya. Aku berasal dari ujung timur. Bagaimana dengan asalmu?"


"Hahaha! Ada apa dengan namamu? Namamu terdengar seperti gurauan!" Sembara Jati tak mampu menahan tawa begitu mendengar Mungsiya mengenalkan namanya.


"Hei, jaga ucapanmu! Beraninya kau berkata seperti itu!"


Seseorang yang bersama Mungsiya mendadak marah begitu mendengar seseorang yang mengejek nama saudaranya itu. Tetapi Mungsiya segera mencegahnya agar tidak terjadi kericuhan.


"Ma.. af, maaf!" ucap Sembara Jati menekan tawanya agar segera berhenti. "aku, aku tidak bermaksud untuk mengejek.. atau mengolok-olok namamu. Hanya saja namamu terdengar sedikit lucu bagiku. Maafkan aku!" Sembara Jati mengatur napasnya sejenak. kemudian Sembara Jati melanjutkan ucapannya, "aku datang dari jauh. daerah itu bernama Kertasari. Aku pergi meninggalkan kampung halamanku merantau tak tentu arah karena orang tuaku sudah tiada sejak aku kecil."

__ADS_1


"Aku turut berdukacita atas kepergian mereka," ucap Mungsiya.


"Kenapa kau mau mengikuti perkumpulan ini? Apakah kau tergiur dengan bayarannya? Atau mungkin kau memang menekuni pekerjaan ini?"


"Aku tidak peduli dengan pekerjaannya! Selama aku mendapatkan bayaran yang sesuai, aku akan menjalankan tugas apapun!"


Sembara Jati tertegun mendengar ucapan Mungsiya. Ia tidak berani bertanya lagi. Hanya bisa merenungi untuk apa ia ikut berkumpul bersama beberapa berandalan di sekelilingnya.


Tak berselang lama, Nyai Gendhis tiba-tiba muncul bersama putrinya, Sekarwati, di hadapan sekumpulan berandalan yang berkumpul. Suara riuh bisik-bisik pun tiba-tiba menghilang seketika.


"Kalian semua akhirnya datang juga memenuhi panggilanku!" ucap Nyai Gendhis membuka suara. "kalian berkumpul di sini bukan tanpa alasan. Aku memanggil kalian untuk bertanya kepada kalian, siapa yang bersedia menjamin kesetiaan kalian terhadapku. Soal Bayaran, kalian semua tak perlu khawatir. Aku akan memenuhinya tanpa rasa ragu, asalkan kalian bersedia menjadi kaki tanganku yang bersedia mengabdikan dirinya sepenuh hati. Jika diantara kalian ada sebagian yang tidak mau mengikutiku, kalian boleh pergi secepatnya!"


Para berandalan yang berkumpul kembali berbisik-bisik. Belum ada satupun orang yang berani untuk meninggalkan tempat. Mereka kembali saling berbisik diantara mereka untuk menerima atau menolak perkataan Nyai Gendhis. Berandalan yang datang seorang diri ikut berbisik dengan berandalan lain. Adapula yang memilih merenunginya seorang diri.


Tiba-tiba Mungsiya mengangkat tangannya dan berteriak cukup keras, "Tugas seperti apa yang harus kami lakukan?!"


Nyai Gendhis tersenyum lebar. Senyumnya bahkan hampir-hampir memikat sebagian para berandalan yang berkumpul. "Aku suka dengan sikap tegasmu itu! Apa kau datang seorang diri ataukah kau bersama dengan temanmu?" tanya Nyai Gendhis.


"Aku datang bersama saudaraku!" Menuduhkan seseorang yang berdiri di sisinya.


"Baiklah. Kalian berdua, majulah ke hadapanku!" perintah Nyai Gendhis. Mungsiya segera beranjak menghampiri Nyai Gendhis diikuti oleh saudaranya.


"Berdirilah di sana!" Nyai Gendhis menunjuk sebuah tempat yang tak jauh di sampingnya. Mungsiya cepat bergerak ke tempat yang ditunjuk oleh Nyai Gendhis. "Kau akan menjadi ketua dari perkumpulan ini! Asalkan kau mau mengikuti semua perintahku, kau tidak usah memikirkan hal apapun lagi! Bagaimana?"


"Tidak masalah! Selama aku mendapatkan hasil bayaranku, tugas apapun akan aku lakukan!"

__ADS_1


Nyai Gendhis tersenyum lebar. Merasa senang dengan sikap tegas Mungsiya. Nyai Gendhis melemparkan pandangannya pada sekumpulan berandalan lainnya. "Siapa berikutnya?"


__ADS_2