
Pagi sudah lama menampakkan dirinya. Sepertinya hampir beranjak siang. Suara burung-burung yang senantiasa menyambut pagi hari tak terdengar. Suaranya bak tertelan oleh suara gemercik air hujan yang masih mengguyur deras walau tak sederas semalam.
Suasana dingin yang masih menyelimuti membuat tubuh serasa enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Meskipun tanpa adanya embusan angin yang berarti, pagi itu seakan terasa sedikit lebih dingin dari pada biasanya.
Di dalam ruangan yang Jaka sewa masih hening tanpa adanya suara percakapan atau kata-kata yang terucap. Baik Jaka maupun Nyi Dewi masih terlelap, begitupun dengan Laras yang mengkerut dan beringsut dalam selimutnya karena merasakan dinginnya udara pagi.
Nyi Dewi merasa kesadarannya telah kembali hingga membuat tidurnya terjaga. Mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya sebelum ia membuka lebar kedua matanya. Sesaat Nyi Dewi merasakan tangannya bertumpu pada sesuatu yang terasa sedikit hangat. Bukan hangat yang dihasilkan dari sesuatu yang panas. Tetapi kehangatan yang terpancar dari pada suhu. Dan betapa terkejutnya Nyi Dewi begitu ia tahu dimana tangannya bertumpu. Tangannya itu berada di atas tubuh Jaka, sementara dirinya tertidur dengan posisi menghadap serta terbaring tepat di sebelah Jaka yang tertidur dengan posisi telentang.
Nyi Dewi terlihat panik bukan kepalang. Tangannya bersentuhan langsung dengan kulit tubuh Jaka yang berbalut pakaian mirip rompi yang selalu dikenakannya sehari-hari, yang hanya menutupi punggung dan sebagian tubuh bagian depan saja . Berbarengan dengan itu, Jaka pun ikut terjaga dari tidurnya. Sebelum Nyi Dewi sempat menarik tangannya yang menyentuh tubuh Jaka.
"Nyimas, ada apa?" tanya Jaka memupuk kesadarannya yang belum hadir sepenuhnya.
"A, ah, tidak ada apa-apa, Kangmas," balas Nyi Dewi gelagapan seraya menarik tangannya dengan amat cepat. Wajah Nyi Dewi sedikit memerah karena terbangun dengan tangannya yang berada di atas tubuh Jaka. Sepertinya hal itu disadari pula oleh Jaka, pikirnya. Lalu Nyi Dewi membuang pandangannya seketika karena merasa malu.
"Apakah aku menyempitkan tempat tidurnya?" tanya Jaka memandangi Nyi Dewi yang terbaring menghadap ke arahnya dengan pandangan yang masih tertunduk. Nyi Dewi tak berani bersuara. Hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan sebagai balasan.
"Bukankah tadi malam aku tertidur dalam dudukku?" ucap Jaka pelan seakan-akan tengah bertanya kepada dirinya sendiri. "bagaimana bisa aku terbangun dengan posisi berbaring seperti ini?" Bangkit sembari mengucek mata.
Nyi Dewi terlihat gelisah. Ia ingin mencoba untuk mengganti posisi tubuhnya agar ia tidak menghadap ke arah Jaka lebih lama. Tetapi alasan apa yang ia punya untuk itu? Kapan kiranya waktu yang tepat untuk dapat berpaling dari hadapan Jaka? Nyi Dewi tidak tahu bagaimana awalnya ia bisa tertidur pulas dengan menghadap ke arah Jaka. Seingatnya ia dan Laras tertidur dengan posisi berhadapan saat semalam. Apabila ia terjaga atau terusik dari tidur, ia tentu akan menyadarinya. Namun, hal yang dialaminya itu sungguh tidak dapat disadarinya sama sekali.
"Mbakyu! Mbakyu!"
Igauan keras Laras tiba-tiba saja mengagetkan Jaka dan juga Nyi Dewi. Kedua tangan Laras terlihat tengah meraba-raba angin, berusaha untuk meraih-raih sesuatu. Seperti ingin mencoba menggapai akan sesuatu itu.
__ADS_1
Pada saat itu, Nyi Dewi cepat membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Laras. Kemudian memegangi tangan Laras yang masih menggapai-gapai. Merapatkan tubuhnya mendekati Laras yang menghadapnya. Saat-saat itu menurutnya adalah waktu yang amat tepat untuk mengalihkan pandangannya dari hadapan Jaka tanpa membuatnya merasa canggung.
"Mbakyu! Mbak.. yu.."
Suara igauan Laras pun akhirnya terhenti setelah Nyi Dewi meletakkan kedua tangan Laras di depannya. Laras kembali tenang dalam tidurnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Kembali terlelap dalam posisi sedikit meringkuk menghadap Nyi Dewi.
"Nyimas, aku akan pergi sebentar. Kau temanilah Laras hingga aku kembali," ucap Jaka yang sudah bangkit dan menginjakkan satu kakinya di tanah. Bersiap untuk meninggalkan ruangan.
"Emm!" Nyi Dewi membalas tanpa memandang Jaka. Ia masih terlalu malu untuk bertatap muka dengan Jaka atas apa yang telah terjadi. Bahkan ia tidak melihat Jaka meninggalkan ruangan. Hanya mampu menerkanya saat suasana ruangan terasa hening tanpa suara.
...***...
Ahh!!! Suara teriakan terdengar begitu jelas. Lasmi yang tengah membantu Suwira memilih-milih bahan obat-obatan yang akan dikirimkan oleh Suwira pun tergesa-gesa memburu ke arah sumber suara teriakan yang membuatnya amat terkejut.
"Ibu, lihatlah apa yang diperbuat oleh Kakang Wuluh padaku," keluh Waluh Kuning kepada Lasmi sembari menunjuk Lembing Wuluh yang berdiri di dekatnya dengan memegangi timba air. Seluruh pakaiannya terlihat basah kuyup lantaran Lembing Wuluh menyiramnya dengan air sepenuh timba air.
"Jangan banyak mengeluh! Pagi sudah hampir berlalu. Sampai kapan kau akan terus tidur dan hanya bermalas-malasan saja?"
"Sudahlah, sudah!" lerai Lasmi atas permasalahan kedua putranya. Ia tahu maksud baik Lembing Wuluh dalam mendisiplinkan saudaranya itu. Tetapi, ia tidak ingin hanya karena hal kecil dapat mengakibatkan hubungan keduanya berubah menjadi renggang.
"Ibu.. Kakang Wuluh tidak mau membangunkan ku terlebih dahulu, Bu, malah langsung menyiramkan air hingga bajuku basah semua." Memandangi pakaiannya yang basah kuyup.
"Terus saja seperti itu. Kau ini hanya tahu mengadu dan mengadu saja." tegas Lembing Wuluh dengan wajah datar memandangi Waluh Kuning yang merengek seperti anak kecil.
__ADS_1
"Wuluh, jangan terlalu berlebihan terhadap saudaramu," tegur Lasmi atas sikap Lembing Wuluh.
"Percuma saja, Bu, aku menasihatinya. Perkataanku hanya sekedar angin lalu saja baginya. Dia sama sekali tidak akan mendengarnya sedikitpun. Hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri."
"Ibu mengerti. Kau bantulah Ayahmu mengangkat bahan obat-obatan yang akan dibawanya, biarlah Ibu yang akan menasihati Waluh. Ya?"
Lembing Wuluh menurut. Ia tidak ingin menyela ucapan ibunya. Tidak berani membantah akan perkataan Ibunya itu. Ia akhirnya keluar dari ruangan kamar dan pergi membawa timba air yang masih dipeganginya.
"Wuluh.." ucap Lasmi pelan sembari mendekati Waluh Kuning. "kau ini kan sudah besar. Tidak baik jika kau terus-menerus menuruti kebiasaanmu itu," nasihatnya.
Waluh Kuning tertunduk dan terdiam. Tak berapa lama, ia sedikit mengangkat pandangan dan menatap wajah ibunya, Lasmi. "Tapi, Bu. Aku kan.."
"Kakakmu itu begitu baik dan selalu memperhatikanmu setiap waktu. Tidakkah kau ingin merubah kebiasaan burukmu itu? Apakah kau ingin selamanya tetap begitu saja hingga kau tua nanti?"
Waluh Kuning menggeleng pelan. Perlahan ia memandangi wajah ibunya. Wajah dari sosok perempuan yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan sepenuh hati. Wajah itu kini mulai sedikit menua perlahan tanpa disadari. Wajah yang selalu memberikan seuntai senyuman hangat walau beban pikirannya tak pernah tergambarkan dibalik senyumannya.
"Kau ini sudah bukan anak kecil lagi. Sudah sepantasnya kau membedakan mana yang lebih penting untuk kau kerjakan dan mana yang harus kau tinggalkan," nasihat Lasmi lagi.
"Aku mengerti, Bu." Waluh Kuning seketika menundukkan kepalanya diiringi anggukan kecil.
"Ya sudah. Lekaslah bersihkan dirimu. Setelah itu, kau bantulah Ibu menjemur bahan obat-obatan yang belum kering di samping rumah."
"Baik, Bu!" ucap Waluh Kuning bangkit berdiri dan berjalan keluar ruangan kamar untuk membersihkan diri. Lasmi memandanginya dengan seuntai senyuman hangat. Lasmi tahu, putranya itu bukanlah orang yang tak terdidik. Hanya saja, putranya itu belum menemukan jati dirinya sendiri seperti putra sulungnya, Lembing Wuluh. Dan suatu hari nanti, putranya itu pasti akan menemukannya hingga mampu menuntun dirinya sendiri dalam melakukan hal-hal yang berguna untuknya serta meninggalkan kebiasaan buruknya selama ini.
__ADS_1